Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 98. (PoV Bu Windi) - Dia Datang Menyerang


__ADS_3

Rasanya aku senang sekali bisa berkumpul dengan orang-orang terdekat yang selama ini telah membantuku, yaitu Bi Utih, Imas anaknya, dan Toto keponakanku.


Kami santap bersama di ruang makan antara dapur dan ruang tengah malam ini. Masakan Bi Utih memang aku suka sekali karena enaknya. Kalau tak enak masakannya mana mungkin aku pertahankan dia menjadi ART-ku.


Sambil makan aku tanyai keponakanku, Toto, kapan pulang karena orangtuanya telah menanyakan kepadaku.


Namun Toto tampaknya tak senang ditanya olehku tentang kepulangannya meski sudah dijelaskan bahwa orangtuanyalah yang menyuruhnya segera pulang.


Toto berterus terang belum mau pulang karena ingin membantuku. Sehari-harinya memang dia rajin membantu mulai membersihkan rumput di halaman rumah, kebun di belakang , hingga membantu pekerjaan wanita.


Ini yang membuatnya betah barangkali. Ya, membantu Imas anaknya Bi Utih yang belakangan kuintai antara Toto dan Imas sepertinya ada rasa asmara.


Itu baru dugaan, belum kutanyai, baik Toto, Imas, maupun Bi Utih. Kapan-kapan pasti aku akan tanyai agar tidak menjadi fitnah di rumah ini.


Maksudku, jika aku dan Bi Utih lagi keluar rumah terus d rumah hanya ada Toto dan Imas, jelas ini akan mengundang fitnah dan tentu saja tidak baik.


Makanya, jika benar antara Toto dan Imas ada hubungan asmara, tak ada jalan lain kecuali harus segera menikah untuk mengenyahkan fitnah tersebut.


Sambil makan pun aku berpikir tentang banyak hal, mulai mengurus sawah dan ladang peninggalan almarhum suamiku yang kini tak ada yang mengurus sehingga aku berniat menawari Pak Muslih agar mengurus sawah dan ladangku lagi seperti dulu kalau dia bersedia.


Aku juga memikirkan pekerjaan di kantor desa dan ingin menebus kesalahan suamiku yang telah berkhianat teradap masyarakat. Kalau memungkinkan dan dipercaya aku ingin menggantikan posisi suamiku jadi Kades Mekarmulya ini.


Itulah beberapa poin pemikiranku sambil menikmati hidangan makan malam yang disajikan Bi Utih.


Tak lama kemudian aku sangat mengantuk mungkin pengaruh makan terlalu banyak. Tadinya masih mau menemani berbincang dengan Bi Utih, Imas, dan Toto.


Akan tetapi, kantuk yang begitu kuat dan udara terasa dingin serta di luar terdengar gelegar halilintar seperti akan hujan, aku pun segera memutuskan untuk tidur ke kamar.


Sambil merebahkan tubuh ke kasur dan bantal, biar lebih cepat bisa tidur, aku memandamkan lampu kamarku.


Sesudah itu aku pun telentang, menarik selimut dan memejamkan mata sekuat-kuatnya karena memang kantuk begitu kuat kurasakan.


Aku pun terlelap, tak sadarkan diri, hingga tiba di dunia lain. Kudengar suara gemuruh yang sangat bising, mulai suara perabotan rumah tangga yang ditabuh, gemuruh air hujan, dan gelegar halilintar berbaur menjadi satu hingga memekakkan telinga.


Aku terjaga di alam lain itu dengan perasaan tak menentu, udara dingin, jantung berdegup kencang. Aku bertanya-tanya sedang berada di mana aku ini?


Namun kemudian aku menyadari bahwa di alam lain itu aku tengah berada di pinggir sungai yang airnya mengalir begitu deras sepertinya sedang banjir.


Aku menatap gumpalan air di sungai itu dengan perasaan sangat takut.


Mengapa aku berada di tempat ini? Aku bangkit, maksudnya akan pulang ke rumah, namun tak tahu ke mana jalannya. Suasana siang namun cuaca redup tak ada sinar matahari, menambah kebingungan.


"Hai!" tiba-tiba bahuku ada yang menepuk dengan amat keras hingga aku terkejut.

__ADS_1


Seketika jantungku serasa meloncat terlepas dari tempatnya saking terkejut.


Kutoleh siapa yang menepuk atau bahkan memukul bahuku saking kerasnya dan menyebut 'hai'. Setelah kulihat, ya ampun wajahnya sangat mengerikan. Aku pun sontak menjerit ketakutan.


"Siapa kamu?" tanyaku kepada orang atau tepatnya makhluk itu.


Ya, dia lebih layak disebut makhluk gaib karena wujudnya yang tak menentu serta sosoknya yang menakutan.


Ada kaki, ada tangan, ada badan, ada kepala, ada mata, ada hidung, ada mulut, namun dalam bentuk yang mengerikan. Yang lebih menakutkan lagi dari kepala dan mulutnya keluar darah dan lendir.


Aku bergidik dan segera saja mundur menjauhi makhluk itu. Sial, dia malah mengangkat kedua tangannya seolah ingin mencekik leherku.


Keruan saja aku tambah takut, berusaha terus mundur menjauhinya. Sial, di belakangku bibir sungai dengan ketinggian bukan main karena kulihat cukup tinggi. Jika aku terjerembab atau terjatuh ke sungai itu pasti habis sudah riwayat hidupku.


Aku pun berputar ke samping menjauhi bibir sungai agar tidak terjerembab. Namun, sialnya dia pun malah terus mengikutiku.


Kulihat ada tanah datar dan dari kejauhan kulihat ada dangau. Aku segera lari menuju dangau itu, aku akan cari benda apa saja yang bisa menjadi senjata untuk melumpuhkan makhluk gaib ini.


Aku lari sekencang-kencangnya. Gila, begitu aku sampai di dalam dangau, makhuk gaib itu telah berada di sana dengan menampakkan seringai mulutnya yang berlendir dan berdarah-darah.


"Hahaaaa......mau lari ke mana kau cantik yayangku?" ujar si makhluk itu pakai menyebut yayangku segala macam.


"Tak sudi aku disebut yayangmu!" hardikku.


"Kau lupa yayangku, kau adalah istriku, aku ini suamimu," ujar si makhluk membuat aku terheran-heran.


Ya, heran saja mengapa dia mengaku-ngaku aku ini istrinya dan dia suamiku.


"Aku tidak punya suami, suamiku telah meninggal dunia!"


"Ya, ini suamimu yang telah meninggal dunia itu!" ujarnya.


Deg!


"Jadi ini Mas Danu?" tanyaku spontan.


"Ya ini penampakan suamimu, Windi. Bagaimana apakah kamu yakin bahwa aku ini suamimu?"


Aku tak menjawab. Bahkan untuk ke sekian kalinya aku mundur, keluar dari dangau lagi.


"Kenapa kamu diam, Windi? Bukankah ketika aku hidup kamu begitu mencintaiku? Kau telah banyak menikmati harta benda hasil jerih payahku. Bahkan kalau aku kemudian terjerumus ke lembah kehinaan dengan mengabdi kepada setan dan iblis, itu tak lain demi mengejar ambisiku demi kamu juga. Sayang para dedemit pimpinan si wanita iblis Mayanggeni telah menghancurkan semuanya!" ujar makhuk yang mengaku penampakan Mas Danu itu.


"Aku tidak percaya! Silakan kau pergi menjauh, jangan ganggu aku!" hardikku sambil terus mundur menghindari jangkauan tangannya yang terus direntangkan serta sesekali ditekuk seolah ingin mencekik leherku.

__ADS_1


"Bukan tanpa alasan aku datang kepadamu, sayang. Aku datang untuk menyerang!"


"Apa?"


"Ya, aku datang utuk menyerang kamu karena kamu mengusikku," ujarnya.


"Aku tidak mengusik kamu! Pergi sana!"


"Apa? Kau katakan tak mengusik aku? Kau kudengar mau menduduki singgasanaku sebagai kades, sebagai orang terpandang, kau juga akan mempekerjakan lagi si manusia tekutuk itu untuk mengolah sawah dan ladang yang telah kudapatkan. Tidak bisa! Aku tak rela jika kau mengambil alih singgasanaku. Ragaku boleh mati, ambisi dan jejak langkahku akan terus hidup, Windi!"


"Omong kosong! Pergi sana, kau iblis dari dunia lain, jangan haru-biru duniaku!" kataku kesal saja pakai ngancam-ngancam segala.


Kini aku sadar aku terbawa ke alam lain yang mencoba mengacaukan rencana baikku.


"Kurang ajar! Kau melawanku perempuan licik!" ujar makhluk iblis itu dengan menampakkan wajah mengerikan.


Mulutnya terbuka lebar, geliginya tampak runcing, air liur berupa lendir meleleh menjijikkan dan tercium bau menyengat.


Seketika dia meloncat menyerangku, aku tak bisa berkelit. Leherku berhasil digenggamnya keras-keras, aku kesulitan bernapas.


Saat ada kesempatan, aku pun berteriak dengan mejerit keras dan meminta tolong, siapa tahu ada yang mendengar.


"Toloooooong.........!!!!"


Aku terbangun dari tidur. Duduk sembari menarik napas dalam-dalam.


"Tok, tok, tok, tok......!" pintu kamarku diketuk. Entah siapa yang megetuknya.


"Tante? Ada apa? Kenapa menjerit?"


Kudenngar Toto keponakanku yang bicara. Lalu dia mengetuk lagi pintu karena aku belum membukanya.


Aku bangkit dan turun dari ranjang. Kunyalakan lampu, lalu membuka pintu kamar.


Benar saja yang mengetuk pintu Toto dan di sampingnya ada Imas. Tampaknya mereka belum tidur. Tapi tak kulihat Bi Utih, mungkin dia masih terlelap.


"Ada apa Tante?" tanya Toto.


"Enggak ada apa-apa To, cuma mimpi buruk," ujarku.


"Kirain ada apa. Ya sudah kalau begitu lanjutkan tidurnya Tante," kata Toto.


Aku pun kembali ke ranjang untuk meneruskan tidur karena masih malam. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2