
Bagaimana tidak terkejut karena yang datang adalah orang yang sedang dibicarakan, yaitu Kades Danu dan pamannya Tanu. Ada apa gerangan?
"Eh, Pak Kades Danu dan Paman Tanu. Mari masuk!" Rama menyambut Kades Danu dan Tanu dengan ramah.
"Terima kasih, Ram," timpal Kades Danu.
"Silakan duduk Pak, Paman," Rama mempersialakan kedua tamunya agar duduk di kursi ruang tamu.
"Ya, terima kasih Ram."
Lantas Kades Danu dan Paman Tanu duduk berdampingan di kursi yang tersedia, kursi sederhana terbuat dari plastik. Sementara Rama menghampiri Pak Muslih memberi kabar kedatangan keduanya.
Dengan berat hati Pak Muslih menemui keduanya. Bagaimanapun hati sangat pedih memikirkan anak yang baru saja meninggal dunia dengan cara tidak wajar ditambah dengan perilaku Kades Danu dan adiknya Tanu yang tak baik.
"Eh ada Pak Kades dan kamu Tanu?" tanya Pak Muslih sembari menyalami keduanya.
"Iya Pak kami sengaja menemui. Pertama-tama ingin mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Neng Wiwi," ujar Kades Danu dengan suara tersendat-sendat menandakan kesedihan. Entah ikhlas entah cuma sandiwara.
"Saya juga Kang, ikut berduka cita. Maaf waktu pemakaman hanya menyuruh si Inah, habisnya saya ikut Pak Kades melaksanakan tugas," kata Paman Tanu tak ada rasa malu, mementingkan Kades Danu daripada sang kakak.
"Terserah kamu, datang ataupun tidak kamu, tetep saja anakku mati dicelakai orang," kata Pak Muslih dalam hatinya. Adapun yang terlontar di mulutnya:
"Ya terima kasih sudah bersimpati Pak Kades, kamu Tanu. Alhamdulillah yang mengiringi ke permakaman begitu banyak."
"Benar, Pak RW dan Pak RT membantu kami sejak pencarian Wiwi hingga prosesi pemakaman," kata Rama sambil menyimpan tiga gelas kopi sebagai hidangan.
"Ayo Pak Kades, Paman, diminum kopinya. Maaf cuma kopi aja gak ada kuenya," kata Rama.
"Makasih Ram," kata Kades Danu, hatinya tersinggung ketika Rama menyebut-nyebut RW dan RT sebegitu besar bantuannya.
"Ya begitulah RW dan RT di Desa kita sudah diinstruksikan menjadi tangan panjang kades. Sebab apalah artinya RW dan RT kalau masih mengandalkan kades untuk urusan warga?" kata Kades Danu tak segan-segan menangkis serangan Rama.
"Pantas kalau pemikirannya seperti itu. Mentang-mentang sudah ada RT ada RW, tak mau menghadiri warga kesusahan. Giliran urusan duit, RW dan RT jangan tahu. Padahal bikin ini bikin itu yang pertama dikunjungi warga ya RT dan RW," balas Rama, namun cuma dalam hatinya.
"Ya gak apa-apa Pak kalau memang ada urusan penting, apa boleh buat," timpal Pak Muslih.
"Terus, ngomong-ngomong kedatangan Bapak dan Tanu ini selain yang dikatakan tadi, ada apa lagi ya?" tanya Pak Muslh selanjutnya.
"Ya kami juga ada hal penting yang ingin disampaikan Pak Muslih. Saya terima laporan dari Tanu ketika dia disuruh menagih utang, katanya Pak Muslih tak bersedia ngasih. Lalu saya juga pernah mengatakan, kalau tak bisa bayar utang Pak Muslih dan Bu Ratih takkan diperkenankan lagi bekerja di sawah dan ladang saya," kata Kades Danu.
__ADS_1
"Bukan tak mau ngasih Pak Kades dan bukan pula tak percaya kepada Tanu, dia kan adik saya. Tapi......"
"Ya udah Pak Muslih, saya udah tahu maksudnya..."
"Tahu gimana Pak?" Pak Muslih terheran-heran, wong belum bicara sudah mengatakan mengetahui.
"Ya tahu Pak Muslim gak punya uang lima juta kan? Makanya ketika ditagih tak memberi dengan mengait-ngaitkannya dengan peristiwa Neng Wiwi. Tapi biarlah saya ikhlaskan."
"Ikhlas bagaimana Pak?" tanya Pak Muslih mulai curiga. Sejak kapan Kades Danu murah hati berkaitan dengan duit. Jangankan sampai 5 juta, seribu dua ribu perak juga bisa jadi urusan panjang.
"Ya, ikhlas, saya relakan uang 5 juta utang Pak Muslih kepada saya enggak usah dibayar....gitu lho Pak. Sebagai pribadi dan kades saya punya tanggung jawab untuk mengayomi rakyat yang lagi kesusahan seperti Pak Muslih dan Ibu......." ujar Kades Danu begitu lancar.
"Terima kasih simpatinya Pak. Tapi
gimana ya saya jadi gak enak nih. Yang namanya utang ya tetep aja utang yang harus dibayar...."
"Lho, Akang ini gimana sih? Diberi keringanan, pertolongan, oleh Pak Kades malah ditolak?" Tanu baru bicara dengan nada tinggi.
"Yah kalau yang ngomongnya orang bener, orang yang sehari-harinya biasa ikhlas, jujur, dan bertanggung jawab, aku juga takkan menolak Tanu gendeng! Ini pasti ada apa-apanya, makanya aku tak mau!" koar Pak Muslih, tetapi hanya dalam hati.
"Bukannya nolak rezeki Tan. Akang malu saja sama Pak Kades, beliau sampai memberi ultimatum kalau Akang gak bisa bayar utang akan dipecat dari pekerjaan mengolah sawah dan ladang beliau. Itu menunjukkan bahwa Pak Kades Danu sangat butuh uang. Iya kan Pak?" kata Pak Muslih sembari tersenyum kecut.
"Benar Pak, benar. Hebat Bapakku," gumam Rama memuji kepiawaian bapaknya menangkis omongan Kades Danu dan Paman Tanu.
"Tuh...kan?" Pak Muslih lagi-lagi tersenyum kecut.
"Selain itu, saya juga ingin meralat ucapan saya tempo hari ke Rama jika Pak Muslih tak sanggup bayar utang tepat sesuai yang saya minta, Pak Muslih dan Bu Ratih udah saja tak usah bekerja lagi. Nah saya ralat ucapan saya itu, maklum saya sedang emosi malam-malam didatangi orang. Selanjutnya, ya silakan saja teruskan bekerja di sawah dan ladang saya," kata Kades Danu.
Pak Muslih terdiam. Ada keraguan dalam hatiya tentang ucapan Kades Danu, pasti ini ada apa-apanya. Biasanya juga dia egois, kalau 'a' ya 'a', tidak mungkin berubah jadi 'x'.
"Jadi singkatnya Pak Muslih, saya ingin membebaskan utang Pak Muslih dan silakan terus bekerja di sawah dan ladang saya," kata Kades Danu lagi.
Tampaknya ia belum punya kesimpulan pasti karena belum terdengar ucapan ya atau tidak dari Pak Muslih.
Karenanya ia belum menyampaikan maksud sesungguhnya dari ucapannya tersebut. Singkatnya, benar sangkaan Pak Muslih bahwa Kades Danu ada udang di balik batu.
"Lebih jelasnya kira-kira apa makudnya ya Pak?" kini gliran Rama yang memancing-mancing keterangan jelasnya dari Kades Danu. Rama pun sama dengan bapaknya, pasti ada sesuatu di balik "niat baik" Kades Danu tersebut.
"Kita saling tolong Ram," ujar Kades Danu membuat Rama dan Pak Muslih saling pandang, tanda tak mengerti maksud omongan Kades Danu.
__ADS_1
"Saling tolong?" tanya Rama.
"Iya. Saya menolong keluarga di sini untuk membebaskan utang lima juta dan juga tetap memberikan lapangan pekerjaan bagi Pak Muslih dan Ibumu...." jelas Kades Danu.
"Lalu kami memberikan pertolongan apa?'
"Cabut laporan ke polisi tentang peristiwa Wiwi," kata Kades Danu dengan tatapan mata penuh harap.
Deg!
"Sudah kuduga sebelumnya, pasti ada udang di balik batu!" ujar Pak Muslih lantang.
"Iya Kanglah, jangan banyak omong dan pikiran lagi. Terima uluran tangan Pak Kades. Bagaimanapun Akang pernah ditolong oleh beliau, ditambah lagi dibebaskan utang dan tetap mendapat pekerjaan. Jadi mau gimana lagi?" Giliran Tanu yang bicara membuat Pak Muslih amat emosi.
"Hai kacung! Jaga mulutmu. Sembarangan aja ngomong. Keponakanmu meninggal diperkosa dan dibunuh. Lalu dimaafkan dengan uang lima juta? Dipekerjakan dengan hati tetap terluka? Di mana otak warasmu?" hardik Pak Muslih kepada sang adik.
Kades Danu dan Tanu saling pandang.
"Emang kamu punya duit lima juta?" kini Kades Danu keluar watak aslinya, marah-marah.
"Saya sudah bilang ke si Tanu saat itu bahwa uang sudah ada dan detik ini juga akan diberikan kalau anakku Wiwi kembali dalam keadaan selamat. Nyatanya anakku mati disakiti bedebah-bedah brengsek itu. Namun walaupun begitu, utang tetap utang, tetap haus dibayar walau anak saya tak kembali!" kata Pak Muslih.
"Ya sudah, mana uangnya!" gertak Kades Danu.
"Ambil uangnya Ram!"
Rama pun mengambil uang lima juta yang telah dipersiapkan . Setelah kembali diserahkan kepada bapaknya.
"Nih uangnya, hitung dulu jangan-jangan kurang. Nanti saya dosa, mati membawa utang," tandas Pak Muslih
"Hitung Tan!" kata Kades Danu.
Lalu Tanu menghitung uang tersebut.
"Pas Pak."
"Ayo kita pergi." Ajak Kades Danu.
Keduanya lalu meninggalkan Pak Muslih dan Rama tanpa permisi. Yakin hati Kades Danu dan Tanu sangat kecewa karena tanpa ada pancabutan kasus, urusan si Darpin anaknya yang telah didengar sebagai DPO akan menyulitkan dirinya sebagai kades, bisa-bisa didemo warga.
__ADS_1
Keduanya pun lantas pulang berjalan kaki. Ketika Kades Danu dan Tanu berjalan melewati lokasi permakaman, tempat Wiwi dan Wati disergap Darpin cees, tiba-tiba ada suara wanita memanggilnya dari belakang.
"Mas, Mas, Mas......" (Bersambung)