Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 28. Perkelahian Empat Sekawan


__ADS_3

Darpin cees menghela napas panjang, berharap-harap cemas apa sesungguhnya yang akan diberikan Paman Sodom kepada mereka.


Paman Sodom membawa wadah sejenis cepuk berukuran sedang. Kemudian tangannya mengambil sesuatu dari dalam cepuk itu dan dikeluarkannya.


"Kalian akan menerima pemberian yang akan membantu ketika menunaikan tugas," ujar Paman Sodom dengan raut wajah serius. Boleh jadi agar Darpin cees benar-benar menyimak apa yang dikatakannya.


"Apa itu Paman?" tanya Darpin dengan mata berbinar-binar saking gembira.


"Beberapa buah benda keramat dengan maunat meyakinkan. Pertama kalung untaian tulang hewan dan liontin taring hewan. Kedua cincin batu, gelang, dan azimat genianggara. Kalian pakai benda-benda ini," ujar Paman Sodom.


Lalu menyerahkan kalung, cincin. gelang, dan azimat genianggara yang dibungkus kain kafan, kepada Darpin, Doma, Benco, dan Gonto.


"Jangan dulu dipakai. Pegang dulu aja!" Nasihat Paman Sodom.


Darpin cees pun menuruti. Padahal mereka saat itu juga ingin segera memakainya.


"Dengarkan baik-baik sebelum kalian memakai benda-benda tu. Pertama-tama kalian jangan heran kalau setelah memakai benda-benda itu tiba-tiba ada perubahan pada diri kalian. Bersama benda-benda itu kalian akan mengabdi kepada si Embah. Kalian akan menjadi budak benda-benda itu. Namun jangan takut karena justru kalian akan mendapatkan perlindungan dari benda-benda itu!" kata Paman Sodom panjang lebar.


"Perlindungan? Bukankah berlindung itu kepada Tuhan?" tanya Darpin mencoba menerka-nerka.


"Tutup mulutmu Darpin atau kau tak boleh menerima benda-benda itu! Benda-benda itu sangat peka dengan apa yang kau katakan barusan, bisa apes, dan pemiliknya akan menerima akibat fatal!" kata Sodom dengan amat murkanya.


Mengertilah sekarang Darpin dan juga teman-temannya bahwa benda-benda keramat itu memang antituhan, jangan didekatkan dengan hal-hal yang berbau religius tampaknya.


"Camkan! Jika kalian ingin benda-benda keramat ini sekaligus melindungi kalian, maka kalian harus menjauhi menyebut nama Tuhan. Jauhi ayat-ayat Suci, tinggalkan perkataan-perkataan yang berbau iman. Jauhi masjid, surau, dan sejenisnya. Tinggalkan pengabdian-pengabdian kepada Tuhan karena sekarang tempat mengabdi kalian adalah benda keramat dan Si Embah. Paham?"


ujar Paman Sodom lebih detail lagi menerangkan apa yang seyogianya dikerjakan Darpin cees.


"Iya, iya, kami mengerti sekarang. Mohon maaf kalau tadi kami lancang."


Darpin menangkupkan kedua telapak tangannya ke hadapan Sodom.

__ADS_1


"Iya, untuk kali ini dimaafkan. Tapi awas ya, jangan sampai lupa syarat-syarat yang harus kalian lakukan jika ingin maunat benda keramat ini. Bagaimana sudah siap menerima benda keramat ini?"


"Siap, siap, siap, Paman!" kata Darpin cees berbarengan.


Sejurus kemudian Paman Sodom menyuruh Darpin cees memakai benda-benda keramat itu, mulai kalung, cincin, gelang, hingga azimat genianggara dan menyimpannya di tempat yang aman di pakaian mereka agar tidak hilang.


Setelah mereka mengenakan benda-benda keramat, tiba-tiba tubuh mereka terasa panas, pegal-pegal sekujur tubuh, ada semacam gatal sehinga tangan mereka menggaruk-garuk tubuhnya.


Matanya pun membulat hingga melotot dan memandang benda-benda di sekitarnya seolah musuh yang siap menerkam dan mencelekai. Karena itu mereka sontak melawan untuk melindungi diri dari serangan musuh yang seolah ada di hadapannya padahal tidak ada apa-apa.


Yang lebih parah, ketika Doma melihat Darpin, yang dilihatnya bukan wujud Darpin asli namun seolah makhluk yang sangat menakutkan dan tampak akan menerjang kepadanya.


Tak ayal Doma pun menyerang Darpin membabi buta.


"An***g lho lihat-lhat gue," koar Doma sambil menonjok hidung Darpin.


Untung Darpin cepat menghindar. Melihat mau ditonjok Darpin pun berbalik melawan.


Perkelahian sesama teman pun tak bisa dihindari. Doma dan Darpin saling baku pukul.


Sementara Benco dan Gonto tak tinggal diam, keduanya menenangkan yang sedang berkelahi. Mungkin masih ada perasaan manusia normal pada keduanya.


Akan tetapi ketika Benco dan Gonto ikut terkena pukulan. Benco kena pukulan Darpin, sementara Gonto kena pukulan Doma. Keduanya pun tak tinggal diam, langsung mengadakan perlawanan.


Terjadilah pertarungan antara empat pemuda sekawan yang sudah dirasuki setan.


Si Paman Sodom cuma senyam-senyum melihat kesuksesan mengajari keempat pemuda itu untuk mengabdi kepada setan, iblis, jin jahat, dan Embah Sawi.


"Sukses, pasti berhasil," gumamnya dalam hati.


Lalu Sodom melerai perkelahian empat sekawan itu dengan jampi-jampi yang ia ucapkan, sembari meminum air putih, lalu air itu disemburkan ke tubuh empat anak muda itu.

__ADS_1


Seketika mereka menghentikan perkelahian. Lalu terduduk dengan menarik napas terengah-engah kecapaian usai saling baku pukul.


"Sudah-sudah. Apa yang barusan kalian lakukan itu sudah menjadi bukti bahwa benda-benda keramat yang dititipkan kepada kalian itu sudah cocok. Kalian bersih dari hal-hal yang berbau ketuhanan sehingga para penghuni benda keramat itu betah berada di tempat kalian!" kata Paman Sodom.


"Makanya sekali lagi saya katakan, setelah kalian pakai benda keramat itu jangan lupa pantangan-pantangan yang telah saya katakan tadi. Oke?"


"Siap Paman, siap," kata Darpin kini dengan ungkapan kata-kata normal seperti biasa.


"Ya, sudah sekarang istirahatlah!" ujar Paman Sodom.


***


Tersebutlah di negara Kerajaan Dedemit Sumur Tua. Para penghuninya sedang heboh karena tempat kerajaannya sekarang sudah dibumihanguskan oleh manusia.


Akan tetapi, tak jadi masalah sebenarnya karena mereka berada di dunia maya bukan di dunia nyata.


Kerajaan Dedemit Sumur Tua tetap berdiri dengan pimpinan Nyi Ratu Mayanggeni-nya.


Ya, setelah kejadian berandalan yang dipimpin Darpin memerkosa Wiwi, gadis buruh pabrik hingga tewas, beberapa bulan lalu. Sebulan setelah kejadian, warga atas inisiatif tokoh masyarakat yang dipimpin Haji Makmur dan Ustaz Hamid, keduanya meminta pemilik gudang untuk merubuhkan gudang sekaligus menutup sumur tua itu hingga rata dengan tanah.


Pemilik gudang dan sumur tua itu pun setuju dan kini di kawasan itu sudah tidak ada lagi gudang dan sumur tua.


Akan tetapi Kerajaan Dedemit Sumur Tua tak ikut tertutup karena seperti telah dikemukakan di atas bahwa mereka berada di dunia maya yang bisa berpindah-pindah tempat ke mana saja.


Itu tak lain karena Sang Ratu Mayanggeni belum tuntas balas dendam kepada para penjahat kelamin yang masih saja berkeliaran, termasuk musuh bebuyutan Sang Ratu yang masih enak-enak berkeliaran di dunia nyata. Kepada si musuh bebuyutan itulah sasaran utama Nyi Ratu Mayanggeni akan balas dendam pada suatu saat nanti.


"Rasain lu brengsek!" batin Nyi Ratu menyumpahi musuh bebuyutannya di dunia nyata dengan kehidupan bebas dan sewenang-wenangnya.


Lalu dia memberi kode dengan pukulan genta yang cukup memekakkan telinga para penghuni Kerajaan Dedemit Sumur Tua.


"Ada apa Ratu?" tanya Kentingmanik, patih kesayangan Nyi Ratu sekaligus kepercayaannya.

__ADS_1


"Kalian kumpul semua. Ada yang akan aku bicarakan," kata Nyi Ratu dengan suara nyalang. (Bersambung)


__ADS_2