Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 45. (PoV Wati) - Menjual Kalung


__ADS_3

Jam istirahat pabrik sudah tiba antara pukul 12:00 - 13:00. Para karyawan benar-benar memanfaatkan waktu isirahat ini, termasuk aku juga Kak Yati dan Imas.


Kak Yati dan Imas adalah teman karib Almarhumah Kak Wiwi. Semula aku biasa-biasa saja dengan Kak Yati.


Namun setelah tragedi Kak Wiwi, Kak Yati kerap mengunjungi dan menghiburku datang ke rumah atau mengajakku jalan-jalan. Kami pun kian akrab.


Keakraban itu pun kian lengket dan erat ketika aku 'mencium' jalinan kasih antara Kak Rama dengan Kak Yati. Aku pun bahagia, semoga keduanya berjodoh.


Apalagi kemudian Kak Yati mengajakku menggantikan posisi yang ditinggalkan Kak Wiwi. Maka selepas SMA aku pun menerima tawaran Kak Yati dan alhamdulillah pula diterima oleh pabrik.


Tak heran kalau kemudian aku menjadikan Kak Yati seperti saudara sendiri bahkan menggantikan kesepianku atas kehilangan kakak tercinta, Kak Wiwi.


"Kelihatannya mendung nih langit," kata Kak Yati menghapiriku saat beristirahat dan duduk-duduk di kusri tempat para karyawan istirahat bekerja.


Biasanya ramai oleh karyawan yang makan-makan. Namun kali ini tak ada karena bulan Puasa. Kalaupun ada yang makan-makan itu para karyawati yang tengah ada halangan. Itu pun di tempat khusus yang tersembunyi.


"Mungkin mau hujan," kata Imas.


"Padahal di luar langit terang benderang, tampak cahaya matahari pun begitu terang," kata Kak Yati. Lalu, sambungnya:


"Boleh deh diterangkan mengapa mendung padahal langit di luar terang benderang," seloroh Kak Yati.


Aku hanya tersenyum, senyuman kecil untuk sekadar menyambut selorohan dia. Sejatinya hatiku memang lagi mendung mengingat apa yang tengah terjadi di keluargaku.


"Tak cukup dengan senyuman. Apalagi itu senyuman berbau keterpaksaan." Imbuh Kak Yati, membuat aku tersipu malu.


"Udahlah Wat, berterus terang saja ada persoalan apa dikau? Yuk kita selesaikan bersama, kecuali persoalan dengan si dia, Kakang Anwarmu," kata Kak Yati lagi.


Aku menepuk bahu Kak Yati. Baper aja pakai bawa-bawa Anwar, pacarku.


"Ih, ngapain bawa-bawa dia segala Kak Yati?" akhirnya aku bersuara juga.


"Abisnya diem aja. Emang sih diem itu emas, tapi kalau emasnya Mas Anwar ya udah untuk kamu aja!" canda Kak Yati makin ngawur.


Kami pun tertawa. Kak Yati ini emang selalu ceria dan kerap melontarkan kata-kata candaan hingga nyaman untuk diajak ngobrol atau sekadar bersenda gurau.


"Iya deh aku ngaku saja lagi pusing mikirin yang di rumah," akhirnya aku buka kartu saja, siapa tahu di antara Imas dan Kak Yati bisa memberikan solusi.


"Pusing kenapa adikku sayang?"


Dan aku ceritakan semuanya tentang Warya yang masih tergila-gila oleh Kak Wiwi, tentang Bu Tita yang menyuruh Warya menjauhi keluargaku, dan dimintai uang lima juta rupiah bekas membayar utang Bapak ke Kades Danu.


"Aku lagi butuh uang lima juta rupiah. Keluargaku tak punya uang. Kemarin Kak Rama sudah pinjam ke paman Tanu, alih-alih dikasih malah dihina," ujarku bukan tak malu membuka rahasia rumahku.

__ADS_1


Biarlah hitung-hitung mengurangi beban pikiran.


"Masyaallah Wat. Tega-teganya itu Bu Tita. Trus emang kamu enggak punya sama sekali duit segitu Wat?" tanya Kak Yati.


"Kalau punya mana mungkin aku bercerita Kak. Aku sangat sakit, demikian pula keluargaku. Aku kepengen buru-buru mengembalikan uang itu kepada Bu Tita biar dia puas menghina dan menghancurkan keluargaku," kataku dengan penuh penekanan.


"Ya udah jangan jadi beban pikiranmu lagi Wat. Aku punya simpanan kalung, biar akan kujual. Ini demi menolong atas sesama, bukan semata-mata karena aku menjalin hubungan dengan kakakmu Wat," kata Kak Yati.


Aku sungguh terkejut mendengarnya, sekaligus terharu. Namun ada kebimbangan, apakah aku harus menerima tawaran ini atau menolaknya.


Bagaimanapun Kak Yati baru calon istri Kak Rama, bahkan belum sampai dilamar apalagi menikah, belum pasti jadi. Bagaimana kalau di kemudian hari ada masalah?


"Ah enggak usah Kak Yati. Kasihan harus menjual kalung 'kan itu investasi Kak Yati," kataku berusaha menolak dengan cara halus.


"Enggak usah dipikirin. Sekali lagi aku hanya ingin membantu atas kemanusiaan. Nanti sore pulang kerja aku akan ke toko mas di pasar kecamatan, kalau bisa sekalian diantar sama kamu Wat. Kalau enggak bisa, gak apa-apa, biar nanti aku antarkan uangnya ke rumahmu," kata Kak Yati, sepertinya dia serius.


"Duh gimana ya Kak Yati. Kalau aku sih sebenarnya setuju aja melihat niat tulus Kakak. Tapi....." ujarku tak melanjutkan omongan.


"Tapi kenapa lagi?" Kak Yati menatap lekat wajahku.


"Tapi entah Kak Rama. Bagaimanapun aku harus bilang dulu sama dia," kilahku.


"Jangan, jangan bilang sama Kak Rama, Wat. Biarlah hanya kita yang tahu soal uang ini. Yang penting kamu pegang uangnya dan langsung kasihkan kepada Bu Tita, beres!" ujar Kak Yati.


"Ya kalau begitu bagaimana baiknya aja Kak Yati. Aku siap mengantar Kak Yati ke toko mas kecamatan biar Kak Yati gak usah ke rumahku," ujarku.


"Oke kalau begitu. Nanti sore ya sepulang kerja," imbuh Kak Yati, aku pun mengangguk mengiyakan.


Tak terasa jam istirahat sudah selesai. Kami bertiga pun kembali memasuki ruang tempat bekerjaku di pabrik kain tersebut. Kami bekerja di bagian paking dengan ruangan yang sama.


Kami berdua pun sudah pulang kerja dan langsung menuju rumah Kak Yati mengambil kalung. Entah berapa gram aku tak tahu dan tak ingin menanyakannya.


Setelah itu menuju kota kecamatan menaiki ojek. Setibanya di kota kecamatan Kak Yati mengajakku ke toko mas dan menjual kalung. Uang pun sudah diterimanya.


Setelah itu Kak Yati mengajakku mampir ke kedai bakso.


"Wat, kita beli bakso dulu yuk nanti dimakan saat berbuka puasa," ajak Kak Yati.


"Duh, gimana ya?" aku pura-pura ragu padahal tentu saja senang.


"Jangan gimana-gimana ayo masuk biar aku yang bayar," kata Kak Yati.


Aku pun tak bisa menolaknya. Aku berjanji jika kelak punya rezeki takkan ragu-ragu membalas kebaikan calon kakak iparku ini.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan bakso, Kak Yati menyerahkan uang sejumlah lima juta rupiah. Dia masih memegang uang banyak selain yang diserahkan kepadaku.


Itu artinya Kak Yati menjual kalung bisa lebih dari lima gram beratnya. Jelas aku amat terharu atas kebaikannya.


"Nih uang yang kamu butuhkan Wat. Udah enggak perlu mikirin dikembalikan, bilang sama keluargamu."


"Terima kasih Kak Yati, mohon maaf telah merepotkan. Moga kakak diberi rezeki yang melimpah dan juga berkah, aamiin," kataku sambil menerima uang itu lalu kumasukkan ke dalam tas yang kubawa.


"Sama-sama, aamiin," kata Kak Yati.


Kulihat jam dinding di kedai bakso sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Kami pun lalu menerima dua kantong plastik bakso yang disimpan pula di dalam kantong kresek. Satu untuk Kak Yati satu untukku.


Kak Yati pun membayarnya. Udah beres beli bakso, kami berdua mencari-cari tukang ojek.


Entah mengapa tukang ojek mendadak sepi, mungkin mereka tengah sibuk mengantar penumpang. Maklum menjelang berbuka puasa. Orang pada ingin segera sampai ke rumah.


Ketika sedang menunggu, tiba-tiba ada seorang pria naik sepeda motor dan menghampiri kami. Mungkin dia juga tukang ojek meski tidak mangkal di pangkalan ojek yang tersedia.


"Ojek Mbak?" tanya pria penunggang sepeda motor itu.


"Iya Bang, ke Desa Mekarmulya," kata Kak Yati.


"Oke ayo naik!" timpal pria itu.


"Tapi kami berdua mau pulang bersama-sama. Gak ada lagi ojek yang lain?" tanya Kak Yati lagi.


"Oh berdua ya? Duh gimana ya? Tampaknya tukang ojek hanya ada Abang sekarang. Tuh di pangkalan juga kosong. Bagaimana kalau dibonceng berdua aja biar sekaligus terbawa?" tanya pria itu, seolah memaksa.


Aku dan Kak Yati saling pandang belum ada keputusan.


"Bagaimana Wat?" tanya Kak Yati.


"Apa tida sebaiknya kita tunggu aja ojek yang lain di pangkalan Kak. Rasanya gak nyaman harus dibonceng berdua," kataku.


"Tapi ini sudah hampir magrib Wat, takutnya kemalaman kita gak bisa segera buka puasa," timpal Kak Yati seperti tak sabar ingin segera pulang.


"Kalau begitu aku ngikut aja," akhirnya aku menyetujui ucapan Kak Yati.


"Ayo Bang. Tapi jalanin motornya jangan kenceng-kenceng ya?"


"Tadi katanya mau memburu buka puasa? Harus kenceng dong?" sahut pria itu.


"Ya, maksudnya sedang-sedang saja. Terlalu pelan jangan, kapan sampainya, terlalu kenceng juga jangan entar celaka," kata Kak Yati.

__ADS_1


"Siiip, Abang ngerti. Ayo padanaik," serunya. (Bersambung)


__ADS_2