Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 35. (PoV Warya) - Membicarakan Bulan Ramadan


__ADS_3

"Oya Kak, apakah sudah mendengar kabar keberadaan Si Darpin cees?" kataku mengalihkan pembicaraan.


"Belum, War. Entah kabur dan ngumpet di mana para cecunguk itu atau jangan-jangan sudah pada meninggal? Tapi pasti ada petunjuknya kalau sudah meninggal. Namun Kakak pernah dengar kabar dari Bi Utih," kata Kak Rama.


"Bi Utih?"


"Iya, ibunya si Imas teman Wiwi yang bekerja jadi ART di rumah Kades Danu, katanya si Darpin pernah datang ke rumah. Dia disuruh lapor ke aparat oleh ibunya Bu Windi, tapi tak mau malah kabur lagi dengan membawa uang ibunya. Oleh Bu Windi sudah dilaporkan ke polisi, dan menurut Bi Utih, sesekali di luar terlihat orang mondar-mandir kalau malam hari, pastinya itu intel yang mengintip si Darpin."


"Oh begitu. Ya semoga saja bisa segera tertangkap," kataku.


Aku membayangkan kalau kedatangan si Darpin ke rumahnya diketahuiku, pastinya dia sudah kuhajar. Sakit hatiku takkan terbalaskan atas kematian Wiwi jika belum menghajar bajingan itu.


"Aku sangat ingin menghajar bajingan itu Kak Rama," ujarku dengan suara nyaring terdorong emosi yang tiba-tiba memuncak.


"Ya, sama Kakak juga Ram. Tapi sudahlah kita percayakan saja kepada aparat berwajib. Bagaimanapun kita berada di negara hukum yang kita harus patuh meski hati kita sangat tersakiti oleh perbuatan si penjahat."


Aku mengangguk-anggukkan kepala menyimak omongan Kak Rama. Memang kalau ingin mengikuti hawa nafsu aku sangat ingin balas dendam. Namun benar pula apa yang dikatakan Kak Rama barusan.


"Kecuali kalau mereka kembali mengancam kita, ya Kak Rama?" kataku.


Aku ingat bagaimana membencinya orangtua si Darpin kepada kami saat malam-malam menyambangi rumahnya. Boleh jadi Kades Danu dan si Darpin serta kawan-kawannya masih berupaya mecelakakan kami.


"Ya tentu kita jangan tinggal diam. Kita harus tetap waspada dan butuh pertolongan. O, ya aku baru ingat, waktu mimpi diberi amanat oleh Almarhumah itu, dia sempat bilang, kita semua harus waspada karena ada rencana buruk dari orang jahat yang mengintai kita," kata Kak Rama lagi.


"O, ya?" aku terhenyak.


"Iya, War. Hanya saja Almarhumah tak menyebutkan siapa dan di mana orang jahat yang mengintai kita."


"Siapa ya? Kalau mengingat peristiwa kematian Wiwi, aku kira orang-orang jahatnya takkan jauh-jauh dari mereka tampaknya Kak."

__ADS_1


"Bisa jadi begitu. Intinya ya kita harus waspadalah dan kapan-kapan kita perlu menemui orangtua Anwar, Ustaz Hamid," kata Kak Rama.


"Iya, iya, siap Kak. Tapi mungkin tak sekarang-sekarang karena akan menghadapi bulan Suci Ramadan, kalau tidak salah pekan depan sudah menginjak Bulan Suci pasti beliau sibuk mempersiapkan bulan Ramadan. Maklum beliau Ketua DKM di masjid kita, Masjid 'Al Hasanah'."


"Oh, iya benar War. Aku baru ingat Ustaz Hamid juga sudah bilang ke kakak agar mempersiapkan kegiatan Ramadan khusus bagi Irma (Ikatan Remaja Masjid) Al Hasanah. Bagaimana Warya siap membantu lagi seperti tahun kemarin, kalau tahun-tahun sebelumnya Warya absen karena di kota."


"Oh begitu Kak? Iya siaplah. Terus kapan kita mengumpulkan anak-anak Irma Al Hasanah dan apa yang dikatakan Ustaz Hamid?"


"Ya beliau hanya menyuruh ngumpulin anak-anak Irma dan berembuk acara apa yang akan digelar oleh anak-anak Irma di masjid sepanjang bulan Ramadan," kata Kak Rama,


"Baguslah. Kira-kira kapan kita bekumpul dengan anak-anak dan di mana tempatnya?"


"Kata Ustaz Hamid, lebih cepat lebih baik dan nama kegiatannya harus segera dilaporkan kepada beliau agar benar-benar tersusun dengan baik sehingga memakmurkan masjid di lingkungan kita tampak terwujud dan kiprah para remaja di kampung kita di bulan Suci ini bersyiar dan bersinar."


"Benar Kak. Bagaimana kalau besok saja kita undang anak-anak . Tempatnya di mana ya Kak? Di masjid apa di Balai RW?"


"Di mana ya War? Anak-anak biasanya heboh dan maunya di tempat yang bebas-bebas begitu. Tapi menurut kakak sebaiknya di masjid atau di madrasah aja karena kegiatannya pun di masjid dan justru agar mereka tidak berbuat semena-mena kalau di masjid atau madrasah," kata Kak Rama.


"Ya baik, besok aja."


"Terus kira-kira pemuda dan pemudinya selain kita-kita siapa lagi ya?" tanyaku ingin tahu.


Kalau tahun lalu, selain aku dan Kak Rama, dan beberapa pemuda lainnya dibantu pula oleh Wiwi, Wati, Yati, Imas. Kini pastinya Wiwi takkan ikut berpartisipasi dalam kegiatan Ramadan di masjid lingkunganku. Aku mendadak sedih mengingat hal itu.


Aku meneguk lagi kopi dan memakan kue yang disajikan tadi.


"Ayo Kak, habisin kopinya dan cicipi kuenya. Bikin kopinya lagi ya?"


"Udah, udah, War, terima kasih."

__ADS_1


Aku pun duduk lagi. Tiba-tiba aku ingat pertanyaan ayahku beberapa hari lalu tentang Pak Muslih dan istrinya Bu Ratih.


Saat itu bapakku bertanya apakah Pak Muslih sudah mendapatkan pekerjaan lagi belum setelah tak dipekerjakan lagi oleh Kades Danu. Aku menjawab tidak tahu.


"Ya coba tanyakan War, kasihan. Kalau belum dan bersedia menggarap sawah bapak ya silakan, kalau tidak ya enggak apa-apa," ujar ayahku, mungkin saat ini aku akan tanyakan kepada Kak Rama.


"O ya Kak, bagaimana kabar bapak dan ibu serta Wati?" tanyaku belum langsung bertanya tentang pekerjaan bapaknya.


"Alhamdulillah bapak da ibu sehat. Wati pun sekarang tidak tampak murung lagi apalagi sudah punya kegiatan, War."


"O ya? Kegiatan apa itu Kak?"


"Tahun ini dia kan keluar SMA. Ya langsung saja ikut Yati dan Imas bekerja di pabrik desa kita, hitung-hitung mengganti posisi kakaknya. Dia tampak semangat bekerja, apalagi ibuku sudah tak ikut lagi bekerja seperti dulu. Beliau hanya di rumah."


"Ya alhamdulilla aku ikut bahagia Wati sudah tak murung dan punya kegiatan, moga betah dan rezekinya berkah," kataku.


"Oh jadi ibu sudah tak bekerja lagi seperti dulu membantu keluarga Kades Danu ya Kak?"


"Iya, mungkin karena sudah lelah namun firasatku karena memang dicegah baik oleh bapak, kakak, maupun Wati. Kakak sendiri tadinya mau masuk ke pabrik juga, kerja serabutan jenuh juga, bukan malas, tapi ingin ada perubahan. Mungkin akan membuka warung, lagi ngumpul-ngumpul modalnya," kata Kak Rama


"Baguslah kalau begitu. Kerja apa pun asal halal ya Kak Rama?"


"Iya betul War. O ya maaf ya War aku belum bisa mengembalikan uang yang lima juta itu. Aku sudah berembuk dengan bapak, Wati, untuk menabung agar bisa mengembalikan uang ayahmu," kata Kak Rama dengan nada lirih.


"Ya Allah Kak. Udah jangan dipikirin uang itu. Ayahku sudah mengikhlaskannya. Tapi maaf-maaf aja Kak, sebenarnya ayahku titip pesan juga katanya coba tanya Pak Muslih udah punya pekerjaan lagi atau belum setelah tak dipekerjakan lagi di Kades Danu."


"Oh gitu ya War. Bapakku hingga kini masih menganggur. Paman Tanu mengajak lagi bekerja di Kades Danu tapi tak mau, bahkan bapakku sampai bersumpah takkan mau lagi bekerja dengan Kades Danu."


"Ya, kalau begitu akan aku sampaikan pada ayah nanti. Terus kira-kira kalau ayah menawari pekerjaan menggarap sawah atau apa pun, diterima enggak ya oleh Pak Muslih?"

__ADS_1


"Gimana ya War. Kakak akan tanyakan lagi, moga aja bapak mau biar hubungan kita tidak putus walaupun kita gagal menjadi ipar. Tadinya kalau bapak tak menemukan pekerjaan lagi, akan membantu menunggui warung biar kakak bisa bekerja serabutan lagi sekadar menamba-nambah pendapatan. Tapi kalau bapak mau bekerja di Pak Haji Makmur ya syukurlah, biar ibu yang menunggui warung," kata Kak Rama panjang lebar


Pembicaraan kami terputus ketika tiba-tiba ibu datang dengan seorang perempuan 45 tahunan dan anak gadis berusia 20 tahunan. (Bersambung)


__ADS_2