
Sepeninggal Tanu dan Inah, Bi Utih belum pulang, dia ingin minta bantuan Rama untuk mencari keberadaan Imas.
"Tolong bantu Bibi Ram," kata Bi Utih kepada Rama.
"Insyaallah Bi. Saya yakin ini ulah Kades Danu," kata Rama.
"Apakah benar anak-anak gadis itu kata orang akan dijadikan tumbal?" tanya Bi Utih dengan nada lirih.
"Entahlah Bi, aku belum mendengar apalagi melihat secara pasti. Bisa ya, bisa tidak. Namun yang jelas pelakunya adalah si Darpin cees dan pasti dibantu bapaknya," kata Rama.
Lantas dia menceritakan pengalamannya mencari Wati dan Yati kemudian bertemu dengan para penculiknya yang tewas.
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri si Darpin, si Doma, si Gonto, dan si Benco, mereka mengakui yang menculik adikku Wati dan Yati adalah Darpin cees melalui tukang ojek," jelas Rama.
"Setan! Tak sudi lagi aku bekerja di orang jahat itu!" ujar Bi Utih sangat marah.
"Makanya Bi, sore kemarin ketika aku melihat Imas dan Iis berjalan ditanya mau ke mana ternyata mau ke rumah Kades Danu aku wanti-wanti agar keduanya behati-hati, ternyata benar kan kejadian seperti ini," ujar Rama.
"Lalu aku harus bagaimana Ram, Pak Muslih, Bu Ratih?" Bi Utih kembali terisak.
"Kita senasib Bi. Sabar aja. Aku kehilangan dua anak gadis, yang satu meninggal dinodai si bajingan Darpin yang satu diculik masih kelakuan si anak dungu itu. Semoga Imas, Iis, Wati Yati, tak kenapa-kenapa. Semoga dilindungi Tuhan," kata Bu Ratih dengan mata berkaca-kaca.
"Untung ada adikku ke mari bersilaturahmi dan anak gadisnya," imbuh Bu Ratih.
"Siapa, mana?" tanya Bi Utih dia baru mendengar Bu Ratih punya adik dan anak gadis.
"Sari ke sini, ini kenalan sama Bi Utih," kata Bu Ratih memanggil sang adik.
Sari pun kembali ke ruang tamu diikuti oleh anak gadisnya yang bernama Triana Wiarti.
Lalu Bu Sari wanita yang berusia 42 tahun itu menyalami Bi Utih diikuti Triana gadis yang bersia 20 tahun.
"Kenalin, Sari Bu," kata Sari kepada Bi Utih.
"Kenalin Tri," kata Triana sambil menyalami Bi Utih, lalu mencium punggung tangannya.
Begitu melihat wajah Triana Wiarti, Bi Utih tak berkedip.
"Wiwi, kamu hidup lagi?" kata Bi Utih, sembari kembali menangis.
"Makanya Bi, saya minta ke Sari, biarlah Tri di sini bersama aku. Aku kehilangan dua anak gadis, yang satu yaitu Wiwi udah almarhumah, yang satu lagi Wati entah bagaimana nasibnya. Iya kan Sari?" ujar Bu Ratih menatap penuh harap kepada sang adik.
__ADS_1
"Bagaimana Tri aja Kak. Kalau mau ya silakan, lagian sekolahnya sudah keluar, suda lulus SMA. Itu pun kalau izin bapaknya," timpal Bu Sari.
"Bapaknya enggak ikut ke sini?" tanya Bi Utih.
"Enggak Bu. Dibagi-bagi tugas, saya bersama Tri ke sini, bapaknya bersama si penengah wanita dan si bungsu pria ke orangtua bapaknya silaturahmi," kata Bu Sari.
"Iya di sini aja ya Tri sama uwak ya, kasihan uwak tak ada anak perempuan. Moga Wati cepat ditemukan juga Imas anak Bibi," ucap Bi Utih.
"Tenang aja Bi. Kasus ini akan terus saya perjuangkan bersama Warya dan Pak Rudi dan hingga kini terus kontak dengan polisi. Kasus ini pun kalau hingga sore nanti tidak ada titk terang ya sebaiknya segera dilaporkan," ujar Rama.
"Iya tolong bantuin......" Bi Utih tak lanjut bicaranya karena lagi-lagi ada yang mengucapkan salam.
Sontak orang-orang melihat siapa yang bertamu, ternyata Warya.
"Masuk War," kata Rama.
Warya pun segera masuk ruang tamu, lantas menyalami Pak Muslih, Bu Ratih, Bi Utih, Rama, seorang wanita yang belum dikenalnya, dan seorang gadis.
Begitu menyalami sang gadis, Warya benar-benar terkesiap, matanya melotot seolah ingin loncat, jantungnya mendadak berdegup kencang.
"Wiwi?" gumamnya dalam hati.
Ditatap tanpa berkedip oleh Warya, Tri atau Triana cuma merunduk tersipu malu. Pipinya sedikit memerah.
Ya, begitu Warya mendengar kabar bahwa Wati dan Yati diculik kelompok Darpin cees melalui pengojek gadungan yang diketahui tewas oleh tusukan belati Darpin, Warya langsung memarahi ibunya karena memaksa agar keluarga Pak Muslih mengembalikan uang yang ima juta.
Hingga Wati minta bantuan Yati yang kemudian menjual kalung emas serta selanjutnya diculik.
Saat itu ibunya tak menjawab, tampaknya dia terima salah. Sejak saat itu ibunya seolah membiarkan Warya mau bagaimanapun dengan keluarga Pak Muslih walaupun pada intinya dia berharap segera menikah dengan wanita yang wajar, bukan malah memimpikan orang yang sudah meninggal dunia.
Kini, di hadapan Warya ada wanita yang sangat mirip dengan Wiwi. Apakah ini 'penjelmaan' Wiwi atau siapa? Sungguh Warya amat kepo.
"Ini adik ibu namanya Bu Sari, War. Dia tinggal di tempat jauh, makanya jarang ke sini. Ini anak sulungnya, namanya Triana Wiarti, udah lulus SMA," kata Bu Ratih setelah membaca wajah Warya yang seolah-olah penasaran dengan gadis bernama Triana itu.
"Oh Wi, Wi, Triana..." ujar Warya nyaris saja menyebut nama Wiwi.
"Emang mirip almarhumah karena memang ibunya kakak beradik," kata Pak Muslih.
Warya cuma merunduk malu akan keceplosan menyebut nama Wiwi.
"Ya Tri, tinggal aja sama Uwak di sini. Uwak sangat kehilangan kakakmu Wiwi dan Wati. Entah bagaimana nasib Wati sekarang," kata Bu Ratih lagi.
__ADS_1
"Insyaallah, Wak," kata Triana.
Mendengar kata-kata Triana, Warya sontak merasa senang. Dia bisa lebih sering main ke rumah ini bersama Rama, apalagi keduanya tengah mengemban misi untuk menangkap para penjahat Darpin cees.
"Gini, War. Benar seperti kekhawatiran kita kemarin, ternyata Imas dan Iis belum pulang sejak sore kemarin keduanya bertandang ke rumah Kades Danu," kata Rama mengalihkan pembicaraan.
"O ya?" Warya terkejut.
"Benar Bi?" tanyanya kepada Bi Utih.
"Benar Jang Warya, benar sekali. Bibi juga lagi bingung harus ke mana mencarinya. Kok tega-teganya Kades Danu berbohong katanya mau diantarkan ke rumah, nyatanya tidak ada," keluh Bi Utih.
"Terus apa kita perlu lapor lagi ke aparat, Kak Rama?" tanya Warya.
"Ya sebaiknya begitu, tapi entah Mang Tanu mau lapor atu tidak. Kalau untuk Bi Utih Kakak yakin butuh bantuan kita, ya laporkan saja tapi tunggu hingga sore ini. Besok kalau tak ada petunjuk, ya kita laporkan lagi ke polisi, jadi sudah ada empat gadis yang diculik" kata Rama.
Mendengar cerita Rama, Bu Sari dan Triana saling pandang. Tampaknya keduanya bingung apakah harus menuruti keinginan Bu Ratih sementara di sini tengah rawan penculikan gadis.
"Enggak usah khawatir kalau mau tinggal di sini Tri, Kak Rama akan menjagamu. Apalagi sekarang sedang diaktifkan ronda untuk berjaga-jaga," kata Rama melihat kekhawatiran Triana dan ibunya.
"Iya tenang, asal tak ke mana-mana insyaallah aman, Tri," tambah Pak Muslih.
"Iya, jangan khawatir sayang, aku pun takkan tinggal diam," ujar Warya dalam hati sudah berani menyebut sayang demi melihat wajah Triana yang sama persis dengan Wiwi.
Tak lama kemudian Bi Utih permisi pulang walau sebenarnya dia lebih senang berkumpul dengan orang-orang. Di rumah hanya sendirian, paling dengan tetangga dekat.
"Sebaiknya di sini saja Bi, di sana kan tidak ada siapa-siapa?" ajak Bu Ratih.
"Duh gimana ya Bu. Untuk sementara biarlah pulang dulu aja, ada tetangga yang berkenan menyertai," ujar Bi Utih.
Akhirnya keluarga Pak Muslih mengizinkan juga.
***
Sementara itu sejak pulang dari rumah Pak Muslih, Tanu bersitegang dengan istrinya Inah. Inah memaksa harus meminta pertanggungan jawab Kades Danu, sementara Tanu belum yakin yang berbuat ulah Kades Danu.
Dia merasa hidunya dibantu oleh Kades Danu, demikian pula Kades Danu sangat membutuhkannya. Dengan begitu ia berkesimpulan bahwa Kades Danu tak mungkin berbuat buruk terhadap dia dan keluarganya.
Justru Tanu lebih condong menuding Rama yang berbuat. Kalaupun bukan dia yang melakukannya secara langsung, bisa jadi menyuruh orang lain. Begitu pikir Tanu.
Keesokan harinya Inah mendesak Tanu agar kembali ke rumah Kades Danu. Memang Tanu pun akan ke sana apalagi sudah berpesan kepada Bu Windi agar kalau Kades Danu datang dia diberi tahu.
__ADS_1
Sedang berpikir mau ke sana tiba-tiba HP Tanu berdeing, ada notifikasi di WA dari Bu Windi. Isinya cukup pendek, "Bapak sudah ada," tulis chat itu.
Tanu pun menjawabnya dengan menulis bahwa dia akan segera ke sana. (Bersambung)