Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 84. Ketika 'Burung' Si Darpin Kena Terjang


__ADS_3

Si Doma pun turun dari balai-balai rumah dengan gagahnya agar tidak disebut pengecut. Dia malu saja menghadapi perempuan dengan wajah lesu. Tak layak pria seperti itu, pikirnya.


"Haha, hihi, hohohooo....kau Doma? Walaupun kamu dinamai Dodo Lama karena kamu terbiasa apa pun berlama-lama, namun kini kamu bakal merasakan bahwa hidup kamu takkan berlama-lama lagi," koar seorang perempuan sambil cekikikan yang membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya mendadak merinding.


Dia adalah Wati yang juga sudah dirasuki unsur dedemit Kerajaan Dedemit Sumur Tua. Entah siapa yang merasuki tubuhnya, tak ada yang tahu kecuali para dedemit itu sendiri.


Bahkan Rama dan Anwar yang melihat kejadian itu sempat merasa khawatir takutnya Wati kenapa-kenapa.


"Jangan sombong kamu Wati! Ngatur-ngatur hidup orang, palingan kamu yang bakal mampus duluan. Nih rasakan!" koar Doma.


Bicara begitu Doma sambil melancarkan tendangan ke arah tubuh Wati. Wati sigap berkelit ke pinggir dengan cara mendoyongkan tubuhnya, sekilat Wati pun melayangkan tendangan kakinya, pas menghunjam wajah Doma.


"Auuuuw wajahku, wajahku, wajahku, betina setaaaaaan......!"


Doma benar-benar merasa dipermalukan. Bagaimana tidak, maksud hati menerjang tubuh Wati sekeras-kerasnya, malah wajahnya yang kena tendangan.


"Haha, hihi, hohooooo.....Makanya kamu jangan suka berlama-lama, jadi kamu lama juga berpikir sekadar menolak seranganku! Masih mau?" tukas Wati yang tak lepas dari ketawa-ketiwi.


"Brengsek! Kamu belum tahu siapa aku Wati? Aku murid si Embah Sawi, Paman Sodom, teman kesayangan Gan Darpin, anak asuh Pak Danu cakep. Mana mungkin kamu bisa menaklukkan aku, Wati!!!!!"


Doma masih sempat-sempatnya menyebut orang-orang yang mendukungnya menjadi penjahat. Dia begitu yakin bahwa langkahnya selama ini benar walaupun kini ancaman terhadap nyawanya bukan main-main.


"Haha, hihi, hohohooooo....buka matamu Doma! Si Benco dan si Gonto sudah mampus, masihkah kamu memuji-muji para penjahat bajingan itu! Rasanya aku tak ingin berlama-lama lagi untuk membunuhmu Doma!" teriak Wati.


Bicara begitu lantas Wati meloncat, lalu tubuhnya memutar membuat pandagan Doma mengikutinya tanpa fokus lagi. Bersamaan dengan itu, kalung yang berada di lehernya sudah terlepas karena ditarik paksa oleh Wati!


"Auuuw.......panaaaaas!" Doma menjerit histeris. Satu kekuatan dalam tubuhnya sudah hilang.


Wati tak membuang-buang kesempatan lagi, dia segera mengambil parang yang tergeletak, lalu ditebaskan ke tangan Doma hingga putus, hilang pula kekuatan yang ada di tangannya.


"Auuuuw, ampun Wati, ampun, jangan bunuh aku....kita kan teman...." Doma merengek-rengek mohon ampun.


"Haha, hihi, hoho......tangan sudah putus baru minta ampun. Tak ada gunanya minta ampun, Doma! Minta ampun atau tobat itu sewaktu masih punya kekuatan, masih punya berbagai kemungkinan untuk melakukan sesuatu, bukan ketika sudah lemah, tiada daya, itu percuma, brengsek!" koar Wati.


Usai bicara Wati pun kembali memutarkan tubuhnya membuat pandangan Doma lagi-lagi kehilangan fokus, dan pada akhirnya benar-benar hilang ketika parang menancap kuat di dadanya.

__ADS_1


"Heks!!!!!!"


Nyawa Doma bersayonara dengan raganya. Dia telah menerima balasan dari perbuatan jahatnya selama ini kepada orang-orang yang tak berdosa.


"Haha, hihi, hoho......mampus lu Doma!" ujar Wati.


"Kamu hebat Wati, kamu hebat. Terbukti si Doma sudah tak berdaya! Hahaaa.......!" koar Bi Utih.


"Siapa dulu gurunya," ujar Wati sambil mendelik ceria ke Bi Utih.


"Sawiiiiiii......!!!" teriak Bi Utih, lagi-lagi memanggil Embah Sawi, namun tak digubris.


Sementara yang dipangil-panggilnya tengah tercenung bingung karena tiga anak buah pilihannya sudah nunggging tak bernyawa. Tinggal si Darpin yang tersisa.


"Darpin!" panggil Embah Sawi.


"Ya Embah," lirih Darpin dengan suara bergetar.


Darpin pun sejatinya sangat terpukul karena ketiga teman baiknya sudah pamit dari muka bumi. Padahal Darpin ingin terus bersama-sama dengan mereka dalam keadaan suka maupun duka.


"Kau segera lawan mereka. Kau jangan ikut-ikutan seperti ketiga temanmu yang pamit dari bumi lebih cepat. Kau harus tunjukkan kekuatan dan kedigjayaan yang telah aku berikan. Cepaaaaat......!" titah si Embah.


"Bagaimana kalau aku mati, Embah?"


"Kalau kamu mati berarti tak ada nyawa, takkan bisa apa-apa lagi!" koar Embah Sawi.


Si Embah kesal saja mendengar pertanyaan si Darpin yang tolol itu. Bagaimana tidak, apa yang dikatakan si Darpin merupakan cerminan dari kebodohan alias pengecut kelas dewa. Mana ada kesatria masih bertanya tentang kematian.


"Baiklah kalau begitu Embah, saya akan lawan mereka. Mohon doanya," tutur Darpin masih sempat-sempatnya minta didoakan.


Bicara begitu Darpin segera menyalami tangan si Embah dan mencium punggung tangannya. Hal serupa pun ia lakukan kepada bapaknya, Danu.


"Ya Embah doakan, kau pasti menang, jagoan!" doa si Embah membuat hati Darpin berbunga-bunga.


"Ayah doakan juga semoga kau unggul, Pin. Biar cita-cita ayah tercapai. Apalagi ibumu ada di pihak musuh, siapa yang akan mendukung ayah jika bukan kamu! Ayo bangkit, jagoan!" kini giliran Danu, sang ayah, yang mendoakan.

__ADS_1


"Paman pun tentu saja mendoakamu, ganteng. Gunakan semua kekuatan dan azimat yang telah paman berikan. Jangan baper karena yang dihadapi seorang wanita. Wanita cuma raganya, di balik itu dedemit berkekuatan gaib!" nasihat Sodom, ketika menerima sun tangan Darpin.


Didoakan oleh orang-orang pilihan, keberanian Darpin makin menjadi-jadi. Seketika loncat ke medan laga dengan kepercayaan diri penuh. Tiga temannya yang sudah tergeletak tak bernyawa tak manjadikannya surut semangat, bahkan sebaliknya menjadi motivasi untuk melawan sekuat-kuatnya.


"Maju semuanya, jangan seorang-seorang......!" tantang Darpin.


"Hahaaaa.....sombongnya!" Yati maju menghadapi Darpin.


Sorot matanya penuh kebencian melihat wajah yang telah menodai temannya Wiwi hingga menemui ajal di gudang dekat Sungai Cilampit.


"Jangan semuanya, kau takkan kuat anak buaya! Kau boleh minta semuanya jika sudah bisa melangkahi mayatku!" ujar Yati dengan tenang.


Kaki kanannya maju ke depan, kaki kirinya ke belakang dengan tubuh sedikit dimiringkan ke depan. Sementara kedua tangannya siaga untuk berjaga-jaga menerima terjangan Darpin.


Darpin sendiri sudah lebih dahulu memasang kuda-kuda yang dianggapnya jitu untuk segera menerjang Yati. Dia pikir takkan sulit merubuhkan seorang wanita hanya dengan satu jurus saja.


"Rasakan nih wanita sialan!" teriak Darpin.


Sebuah tendangan kaki kanannya diarahkan menuju dagu Yati. Namun Yati yang sudah siaga dengan kuda-kudanya tidak sulit menangkis terjangan kaki Darpin.


Yati menangkap kaki Darpin, lalu dicengkeram kuat-kuat. Darpin menjerit-jerit karena cengkaraman kuku Yati laksana cengkeraman garpu yang ditusukkan kepada makanan.


"Auh, auh, auh, kakiku, kakiku, kakikuuuuu......." jerit Darpin terhyung-huyung.


"Haaaaaa......seperti itulah sakitnya temanku Wiwi ketika kau nodai Darpin!" hardik Yati tertawa jahat.


"Betina jahat! Rasakan nih pembalasanku!" kata Darpin.


Darpin melancarkan serangan membabi buta ke tubuh Yati. Namun Yati lihai berkelit. Loncat kanan loncat kiri, terbang ke atas, merunduk ke bawah. Telentang di bawah tanah, lalu bangun mundur dan seketika menerjang ke depan bertepatan dengan serangan Darpin.


Akibatnya tubuh Darpin terjengkang kuat ke belakang dan telentang tak berdaya. Ketika akan bangkit agak sedikit kesulitan karena punggungnya terasa sakit beradu dengan batu di tanah.


"Bangkit jahanam! Bukankah kau menodai temanku Wiwi sambil berdiri, sambil diikat di tiang gudang, sambil mabuk, pakaiannya robek, tak ada rasa perikemanusiaan walaupun Wiwi merintih kesakitan, memohon belas kasihan, tetapi kamu tak menghiraukannya! Bangkit jahanam!" teriak Yati.


Sebuah terjangan kaki mengenai 'burung' Darpin yang seketika terbelalak merasakan sakit yang tiada tara. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2