
Aku naik lebih dulu dengan posisi menghadap punggung pria penunggang motor. Kuletakkan tas bawaan di depan agar tubuh tak terlalu mengenai tubuh si pria itu.
Kak Yati duduk di belakangku dengan posisi yang sama menghadap punggungku. Kebetulan kami berdua mengenakan celana panjang.
Mesin sepeda motor pun berbunyi, dan lalu melaju dengan kecepatan sedang. Ternyata pria pengojek ini menuruti saran Kak Yati untuk melajukan sepeda motor dengan pelan saja.
Aku berpegangan ke jok di bawah bokong. Tak khawatir tas terlepas karena diselendangkan dan dijepit kakiku. Sementara Kak Yati berpegangan ke perutku.
Mula-mula sepeda motor dilajukan dengan kecepatan sedang-sedang saja. Namun setelah jauh sekitar tiga kilometer dari kota kecamatan, si pengendara mulai ngegas motor hingga kami bertiga beradu badan.
"Hai, pelan-pelan dong!" teriakku dan juga Kak Yati.
"Oh, maaf lupa!" teriak si pengendara dengan suara nyaring mengimbangi suara mesin sepeda motor dan angin kencang.
Meski berkata begitu laju sepeda motor tak berubah, bahkan sempat nyaris bertabrakan dengan sepeda motor yang berlawanan arah. Jantungku sempat serasa copot. Dapat kubayangkan Kak Yati pun demikian pula.
Aku mulai curiga, jangan-jangan ini pengendara ojek gadungan. Mengapa tadi Kak Yati enggak sabar menunggu ojek pangkalan yang mengenakan seragam sehingga kalau ada apa-apa mudah mengusutnya.
Namun semuanya sudah terjadi, aku hanya berharap dan berdoa kepada Yang di Atas semoga kami berdua tidak kenapa-kenapa.
Aku menggeser tangan berusaha meraih tangan Kak Yati untuk memberi kode bahwa kami dalam bahaya. Kak Yati berbisik di telingaku.
"Iya, tampaknya ini orang jahat, kita harus waspada," bisiknya. Aku mengangguk.
Kecurigaanku makin bertambah ketika dari jalan kecamatan arah desaku, malah sepeda motor melaju pelan, kemudian dibelokkan ke arah jalan lain yang aku sendiri belum tahu menuju arah mana. Yang pasti bukan menuju ke kampung dan desaku.
Sontak aku memukul punggung penunggang sepeda motor itu.
"Hai kenapa dibawa ke sini. Jalan ke Desa Mekarmulya bukan ke sini!" teriakku.
"Berhenti, berhenti! Apa-apaan ini?" teriak Kak Yati.
Si pengendara sepeda motor tak menjawab. Ini menambah kecurigaanku. Apa yang harus kami lakukan dalam suasana terancam kejahatan seperti ini?
Belum menemukan cara mengamankan diri dan si pengendara masih melajukan sepeda motor meski tak sekencang tadi karena ini jalan kampung tak beraspal, hanya berupa tanah dan batu koral, tiba-tiba di belakang terdengar klakson sepeda motor.
Sejenak aku menengok ke belakang, ada dua sepeda motor yang mengikuti sepeda motor yang kutunggangi. Jantungku kian berdebar-debar, mana perut sudah melilit-lilit. Suasana pun sudah mulai redup, sebentar lagi azan magrib.
"Berhenti, berhenti, kok belok, mau dibawa ke mana kami?" teriak Kak Yati.
Si pengendara yang membonceng kami tak menyahut, bahkan dia mengangkat tangan kanan dan mengacungkan jempol.
Isyarat apa ini? Apakah si pengendara ada hubungannya dengan dua sepeda motor di belakang kami. Tampaknya ya, ada hubungan. Sebab kalau tidak ada hubungan mengapa tidak menyalip saja daripada membuntuti di belakang?
Setelah si pengendara motor yang membonceng kami mengacungkan isyarat jempol, dua sepeda motor di belakangnya memberi isyarat klakson.
__ADS_1
Jantungku makin berdebar-debar. Kupastikan Kak Yati pun demikian pula.
"Kak, kita loncat aja," bisikku ke Kak Yati sambil menengok ke belakang.
"Jangan Wat, bahaya. Kita ikuti aja dulu nanti kalau sudah berhenti, kita melawan," bisik Kak Yati.
Aku pun menyetujui. Hingga akhirnya sampai di sebuah perkebunan yang entah di mana. Sisi kiri dan kanan jalan hanya pepohonan dan belukar. Suasana sangat sepi, hanya deru mesin sepeda motor yang belum dimatikan.
Begitu sepeda motor berhenti, Kak Yati segera turun. Demikian pula aku, dan langsung mau lari ke arah jalan tadi datang.
Namun nahas, dua penunggang sepeda motor yang tadi mengikuti kami segera mengejar dan kami pun berhasil ditangkap.
"Hahaaa.....jangan lari sayang. Ini hutan belantara jauh ke mana-mana. Tak ada rumah, apalagi rumah kalian," kata seorang pria bertubuh gempal sembari mencekal lenganku kuat-kuat.
"Lepaskan, brengsek!" kataku sambil memberontak sekuat tenaga agar bisa lepas. Namun sayang sia-sia.
"Mau apa kalian dari kami? Pengecut, beraninya sama perempuan!" koar Kak Yati tampak dia pun meronta-ronta ingin melepaskan diri.
Namun, seperti juga yang kualami, Kak Yati kesulitan melepaskan diri. Maklum sekuatnya juga tenaga perempuan, takkan sekuat tenaga laki-laki.
Tak berapa lama tiba-tiba pria yang tadi memboncengku bersuit, seolah tengah memanggil seseorang. Tak lama kemudian dari arah jalan di hadapan kami muncul 4 orang pria.
Tampaknya masih muda. Mereka berbaju hitam dan berkupluk menghampiri kami.
Setelah dekat, dua orang pria mencekalku, lalu seorang pria memegang kepalaku dan mataku
"Kok kenapa mataku ditutup begini? Mau apa kalian?" terdengar Kak Yati protes. Itu berarti Kak Yati pun sama ditutupi matanya sepertiku.
"Kerja yang bagus. Nih uang yang kujanjikan. Bagi-bagi aja ya. Cari lagi perawan yang lainnya, dan seperti kali ini kami tunggu di sini," kata seorang pria.
Deg!
Aku terkejut, ternyata mereka tengah mencari perawan. Untuk apa? Aku tidak tahu. Yang pasti aku amat sedih. Tidak tahu akan dibagaimanakan aku dan Kak Yati. Diperkosa atau dibunuh? Lalu untuk apa dibunuh? Entah lah.
Ketika mendengar omongan orang barusan aku sepertinya hapal dengan suara itu. Tapi siapa ya? Aku lupa lagi karena suara orang itu tidak pernah terdengar lagi. Aku penasaran ingin melihat wajahnya. Sayang mataku ditutupi dan kalaupun terbuka, dia mengenakan kupluk.
"Beres Bang! Percayakan kepada Udin, Odos, dan Somad soal culik menculik cewek mah. Asal beres aja bayarannya," kata seorang pria tampaknya dari salah seorang penunggang sepeda motor tadi.
"Iya bagus. Cari lagi ya? Makin banyak perawan yang kalian culik dan diserahkan kepada kami, itu makin baik," kata seseorang lagi mungkin dari pihak yang menerima penyerahan kami dari pengendara sepeda motor yang suaranya hampir kukenal.
"Ngomong-ngomong apa bisa enggak janda tapi masih cantik?" tanya seorang pria.
"Bukan cantiknya yang kami butuhkan, tapi perawannya," balas pria yang suaranya seperti kukenali.
"Oh begitu ya? Siap Bang. Kalau begitu kami permisi, terima kasih uangnya. Kami akan segera buka puasa," kata seorang pria.
__ADS_1
"Dasar Udin, enak aja bukan puasa. Tadi makan semangka!"
"Jangan bilang-bilang Odos, bikin malu aja," kata pria yang mungkin bernama Udin.
"Ya Bang, kami permisi," terdengar lagi suara pria yang disusul dengan dibunyikan mesin tiga buah sepeda motor lalu melaju entah ke mana.
Kini suasana di sekitar tempatku berdiri dan Kak Yati cukup mencekam. Hari mulai gelap tampaknya. Tiba-tiba tanganku ditarik seseorang kemudian diikat sepertinya oleh tambang plastik. Aku makin risau.
"Siapa kalian, mau diapakan kami?" tanyaku kepada orang yang masih mencekal tanganku dan tampaknya dia pun yang mengikat tanganku ke belakang.
"Tenang Nona Wati. Tenang. Nona telah dibeli dari pengojek tadi dengan bayaran yang cukup mahal," kata pria itu.
Deg!
Aku benar-benar terkejut mendengar pria itu yang mengetahui namaku. Aku pun seperti mulai benar-benar hapal suaranya.
"Kau Darpin?" tanyaku.
"Hahaaaa.......tepat. Aku Darpin, si ganteng kalem, Wati. Mestinya saat itu aku culik sekalian bersama kakakmu Wiwi lalu kami tak harus berebutan mencicipi tubuh kakakmu hingga tewas, hahahaaa.....!"
"Setan, iblis, lepaskan aku Darpin !!!" teriakku sambil mencoba menendang ke sebarang arah, namun tak tepat sasaran.
"Tenang Wati. Kesucianmu akan tetap terjaga. Kau dan Yati takkan bernasib seperti Wiwi yang kucicipi beramai-ramai bersama Doma, Gonto, dan Benco. Sebenarnya sih aku ingin juga mencicipimu Wati. Kau cantik seperti kakakmu, tubuhmu menggairahkan. Namun sayang aku tak boleh malakukannya, sayang seribu kali sayang," kata si Darpin sungguh menyebalkan.
Entah benar entah tidak apa yang dikatakannya bahwa dia takkan menodaiku seperti kepada Kak Wiwi dulu. Atau mungkin hanya menghiburku. Kalau tak akan diperkosa, lalu untuk apa mereka menangkap kami? Merampok? Tas yang diselendangkanku yang bahkan di dalamnya ada uang lima juta rupiah aman-aman saja.
"Sekarang ayo ikut aku," kata Darpin mencekal dan menarik paksa tubuhku.
Aku tak tahu nasib Kak Yati bagaimana karena mataku tertutp. Aku pun melangkah menuruti si Darpin.
"Lepaskan, Doma, lepaskan. Mau dibawa ke mana aku?" terdengar Kak Yati berteriak. Tampaknya dia sedang berhadapan denga si Doma pria brengsek teman si Darpin yang masih satu kampung dengan kami.
"Tenang Yati, tenang. Aku takkan menodai kamu. Meski aku sudah lama berimajinasi hasrat berahiku dengan kamu dan mestinya kini bisa terlaksana dengan mudah tanpa harus berimajinasi. Namun sayang seribu kali sayang, itu tak bakal terlaksana......." lirih si Doma, tampaknya dia pun sepemikiran dengan Darpin.
Ini membuatku semakin penasaran saja, apa yang akan mereka lakukan terhadap kami berdua kalau bukan untuk diperkosa? Aku berharap memang benar takkan dinodai dan juga tidak akan diapa-apakan sehingga kami bisa selamat pulang ke rumah.
"Pokoknya lepaskan!" teriak Kak Yati.
Aku menyesal telah membuka rahasia kekuargaku di hadapan Kak Yati tadi siang saat istirahat di pabrik terutama tentang uang lima juta rupiah.
Seandainya aku tidak mengutarakannya kepada Kak Yati maupun Imas, tentu Kak Yati tak harus menjual kalung dan takkan terjadi musibah yang harus kami hadapi saat ini.
"Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya Kak Yati," gumamku dalam hati.
Tubuhku digusur entah oleh si Darpin entah oleh siapa. Demikian pula kiranya Kak Yati sama denganku. Untuk saat ini aku menuruti saja. Habis harus bagaimana lagi.
__ADS_1
Melawan tentunya berisiko. Lagian kurasakan cengkeraman tangan pria yang entah siapa ini begitu kuat dan sepertinya mereka menggunakan tenaga dalam yang dahsyat.
"Ayo masukkan ke dalam mobil, Embah Sawi telah menunggu!" kata sesorang. (Bersambung)