
Semua orang merasa kaget melihat Danu sudah ambruk. Siapa gerangan yang telah menolong orang-orang dari pelatuk pistol curian Danu yang bersamaan dengan ambruknya tubuh Danu, pistolnya pun terlepas.
"Aku paling tidak suka manusia penakut, takut mati padahal dalam ancaman mati. Kesatria sejati bukan sepertimu, Danu!"
Tiba-tiba terdengar orang meloncat dan menghampiri jasad kaku Danu dengan luka kepala pecah terkena benda keras, dan itu kapak yang dilemparkan Embah Sawi.
Bicara begitu, Embah Sawi dengan janggut panjang, rambut gondrong, bertubuh kekar itu menginjak-injak kepala Danu yang telah terluka dengan kakinya bagai menginjak kotoran manusia.
"Sudahlah, kalian pulang. Raga kalian telah dimanfaatkan para dedemit untuk balas dendam!" koar Embah Sawi.
Matanya menatap seorang demi seorang lawan yang akan dihadapinya. Ketika bersitatap dengan Bi Utih, Embah Sawi tersenyum kecut.
"Kau ternyata!" kata Sawi.
"Ya, memang! Terus kamu mau apa?"
"Berdamai saja! Kita sudah berlainan alam. Sudahlah kau pergi, pergi, jangan mengganggu kehidupanku!" kata Sawi. Tangannya mengelus-elus janggut panjangnya.
"Berdamai setelah banyak korban nyawa akibat kebiadabanmu, Sawi? Enak tenan......Tak sudi, najis harus berdamai dengan iblis rajanya iblis, setan rajanya setan!" timpal Bi Utih.
Orang-orang yang raganya dipinjam para dedemit tentu saja mengetahui siapa di balik raga Bi Utih, namun anak buah Sawi, Rama, Warya, dan Anwar, masih kebingungan siapa di balik raga keduanya.
"Hahaaaaa.....bagaimanapun manusia yang masih berada di dunia nyata takkan kalah oleh manusia yang telah dikuasai penghuni alam gaib sebangsa dedemit, ayo buktikan!" koar Embah Sawi.
Matanya terpejam, bibirnya komat-kamit, ilmu gaibnya tengah diucapkan oleh Sawi untuk menambah kekuatan dirinya.
Dia mafhum mereka bukan lawan enteng-enteng. Buktinya semua anak buahnya tak berdaya, telah tewas dengan kondisi mengenaskan.
Maka, demi menjaga marwah dirinya, Sawi harus mampu menaklukkan para dedemit yang 'miraga sukma' kepada para perempuan lemah ini.
"Maju kau kalau benar-benar sakti!" kata Sawi, seraya menerjang Bi Utih yang sudah pasang kuda-kuda secantik mungkin.
Dengan satu gerakan mendoyongkan tubuhnya sedikit ke belakang, Bi Utih lalu menjemput terjangan Sawi dengan terjangan yang sama. Dua kekuatan berbenturan menimbulkan bunyi yang mengerikan.
"Blup!!!"
"Auuuuuw.....!" teriak sawi.
__ADS_1
"Auuuuuw.....!" rintih Bi Utih.
Keduanya lantas bangkit dan terlibat saling adu kekuatan, mulai tangan hingga kaki. Saling tonjok saling gaplok, saling terjang saling tendang, saling tubruk saling gebuk.
Keduanya tampak memilik kekuatan yang sama, sulit salingkalahkan, susah salingtewaskan. Sehingga keduanya mencari cara lain untuk menaklukkan lawannya.
"Rasakan nih genianggara, setan betina!" koar Sawi.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu napas itu dikeluarkan dengan sekeras-kerasnya sambil mengempaskan tangan ditujukan kepada Bi Utih.
Bi Utih tak tinggal diam, dia membalikkan tubuhya lalu nungging, dengan posisi bokongnya menghadap Sawi. Yang melihat senyam-senyum melihat ulah Bi Utih.
"Ni bayukinasih, Sawi!" teriak Bi Utih.
Ternyata bayukinasih yang dikeluarkan Bi Utih mampu menghadang kekuatan dahsyat genianggara milik Sawi.
Sawi baru sadar sekarang mengapa genianggara selama ini hilang maunatnya, ternyata musuh memiliki azimat bayukinasih.
Melihat Sawi terbengong-bengong dengan sedikit kehilangan fokus, Bi Utih beteriak, "Seraaaaaang.....!!!"
Sontak Bi Inah, Bu Windi, Yati, Wati, dan Pak Rudi mengikuti titah Bi Utih. Mereka serta merta menyerang Sawi yang tinggal seorang diri.
Ya, terpaksa Sawi harus mencabut ucapannya bahwa kesatria harus berani melawan sendiri. Namun dirinya diserang rama-ramai, apa boleh buat dia harus meminta bantuan kepada anak buahnya yang masih hidup.
Maka pertarungan pun makin sengit di halaman rumah Sawi itu. Kini, hari
sudah tengah hari, pertarungan kian panas seperti panasnya matahari menyaksikan napsu-apsu salingbunuh.
Ketika Sawi terdesak karena menerima serangan para wanita yang dirasuki dedemit itu, Bi Utih segera mengambil kapak yang tadi digunakan Sawi untuk menghabisi Danu.
Dan.....blek! Kapak itu mengenai kepala Sawi hingga ambruk seketika. Tubuh sawi teletang di tanah. Bi Utih menyuruh anak buahnya menghentikan serangan.
"Hentikan!" koarnya.
Sementara anak buah Sawi seorang pun tak ada yang mampu melawan Rama, Anwar, dan Warya, yang telah dibekai ilmu beladiri oleh ayahnya Anwar, Ustaz Hamid.
Sawi sudah kehilangan kekuatan. Genianggara tak berdaya dilawan bayukinasih. Satu per satu kekuatan azimatnya keluar dari raga Sawi.
__ADS_1
Sawi kini kembali ke raga asal, raga manusia bernama Sarkawi.
"Maafkan aku Anggraeni, maafkan aku...." lirih Sawi menyebut Bi Utih dengan Angraeni.
"Sudah terlambat Sarkawi. Kamu harus menerima akibat perbuatanmu sendri terhadap Anggraeni, gadis baik-baik yang kau nodai gegara kamu menjadi hamba napsu berahi!"
"Ingat Sarkawi, sejago-jagonya manusia, sekuat-kuatnya tenaga manusia, sedahsyat-dahsyatnya napsu syahwat, suatu saat bakal ada lemahnya. Dan jika sudah lemah lalu menyesal, lalu minta maaf, itu tak berguna," tutur Bi Utih dengan kata-kata bijak.
"Bertobatlah selagi muda, selagi punya kekuatan, selagi punya kesempatan, selagi segalanya mendukung, agar selamat. Tidak seperti kamu, tak tahan napsu berahi, pacar yang baik-baik dinodai. Jika manusia-manusia seperti kamu dibiarkan, maka akan banyak lagi perempuan-perempuan, gadis-gadis yang jadi korban!"
Sawi tak menjawab. di matanya ada buliran bening. Rasa nyeri di kepala, di sekujur tubuh, sudah menjalar begitu kuat. Kesadarannya pun mulai hlang, pandangannya gelap......maka dunia nyata pun tak terlihat.
Lalu beralih ke dunia maya dan tampaklah para wanita dan tiga pria di dunia maya dengan wajah-wajah menyeramkan.
"Hahaaaaa......akhirnya kau tiba di duniaku Sarkawi!" kata seorang perempuan dengan pakaian seperti ratu.
"Siapa kau?" tanya penampakan Sawi di dunia maya.
"Akulah Mayanggeni, Ratu dari Kerajaan Dedemit Sumur Tua, setetes darah dari Anggraeni yang kau nodai di dunia nyata di gudang itu. Ingatkah kau? Kalau tak ingat, aku akan membawamu ke kerajaanku biar ingat." kata Ratu Mayanggeni
"Ampun Ratu, ampun," rengek penampakan Sawi.
"Hey kalian, ayo bawa si Sawi ke negara kita. Kita hukum seberat-beratnya di sana!" koar Ratu Mayanggeni.
Sembari bicara begitu, Mayanggeni melepaskan diri dari raga Bi Utih. Selepas itu Bi Utih terjatuh, tak sadarkan diri.
Rama dan Anwar serta Warya segera menolongnya.
Demikian pula dengan Kentingmanik, dia keluar dari tubuh Bi Inah. Kentingayu keluar dari raga Bu Windi.
Sementara penampakan Wiwi keluar dari tubuh Yati. Pantas saja ketika Warya mendekati Ira, Yati menghalanginya seolah Yati ada rasa kepada Warya sehingga Rama sempat cemburu.
Kemudian kuntilanak keluar dari raga Wati. Pantas saja ketika melawan musuh Wati cekikikan kayak penghuni hulu sumber air yang ada pohon besarnya.
Sementara penampakan Nani yang menjadi korban terakhir keganasan Embah Sawi, keluar dari tubuh Imas.
Dan dedemit yang merasuki tubuh Pak Rudi, tak lain adalah penampakan Udi, Odos, dan Somad yang jasadnya dibuang ke jurang oleh Darpin cees setelah sebelumnya dibunuh mengunakan pisau belati.
__ADS_1
Kini ketiganya mendapat tugas membawa para bajingan itu ke negara Kerajaan Dedemit Sumut Tua, mulai Darpin cees, Sodom, hingga Danu, dan Sawi.
Danu yang berambisi menjadi orang terhormat, alih-alih cita-citanya tercapai malah jadi makhluk terlaknat di alam maya. (Bersambung)