Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 73. Tanu Merasa Ditipu


__ADS_3

Dipimpin Darpin, gadis itu dibawa ke gudang tempat penampungan perawan hasil menculik yang akan dijadikan tumbal dengan cara dinodai oleh Embah Sawi, dukun si maniak ****.


Gadis itu meronta-ronta minta dilepaskan. Tangannya berusaha melepaskan ikatan yang melilit lengannya. Namun sia-sia karena Doma dan Gonto begitu kuat mencengkeramnya.


Setelah sampai di gudang, barulah dimasukkan ke sebuah kamar disatukan dengan empat gadis lainnya, yaitu Yati, Wati, Imas, dan Iis.


Kondisi keempat gadis itu sungguh meprihatinkan. Bukan karena tidak diberi makan atau ganti pakaian, tetapi karena tekanan batin yang begitu kuat.


Makan dan pakaian sangat diperhatikan oleh para penjaga atas perintah Embah Sawi. Karena, pikir Embah Sawi perawan secantik apa pun kalau tidak makan, tidak mandi, tidak merawat diri, tentu takkan menarik.


Kini gadis itu tidak lagi diikat tangannya dan mulutnya tak dibekap kain. Keduanya telah dilepaskan. Begitu lepas, gadis itu berteriak.


"Penipuuuuuu.....! Pulangkan aku, aku ingin mati di Sungai Cilampit!" teriak gadis itu sambil memukul-mukul dadanya.


Yati, Wati, Imas, dan Iis, cuma bisa menangis ikut prihatin atas kondisi gadis yang baru ditangkapnya dan mereka yakin pasti itu ulah Danu seperti yang juga mereka alami.


Sumpah serapah pun terlontar dari benak mereka. Ya di dalam benak karena kalau bersuara, para penjaga yang galak-galak termasuk Darpin cees akan mengintimadasi mereka bahkan tak segan-segan kena pukul walau tak sampai terluka karena dilarang oleh si Embah.


Seorang penjaga menghampiri gadis yang baru datang itu, lalu berkata agar jangan macem-macem lagi. Kabur, berontak, takkan bisa lolos.


"Sudahlah manis kau jangan berontak dan berteriak-teriak, kamu sudah manjadi wanita terhormat akan dinikahi si Embah," bujuk si penjaga mengutip perkataan Sodom yang harus diucapkannya jika para perawan itu berontak dan macem-macem selain tindakan fisik.


"Sudah berkali-kali kejadian para tahanan lari dari sini, mereka ketangkap lagi karena sudah ada penjaga juga di luar sana. Nih dua gadis ini, baru-baru ini dia lari dan


ketangkap oleh mata-mata kami Bang Tarso dan Embak Sukinah, hahaaaa....." si penjaga tertawa merasa menang. Dia sengaja menutupi kondisi Tarso dan Sukinah yang sebenarnya.


Penjaga pun menutup pintu dan menguncinya.


"Sudahlah Dek jangan menangis, tunggu saatnya tiba pertolongan. Orang-orang bejat ini akan hancur semuanya," nasihat Yati kepada gadis yang baru 'gabung' itu.


Yati belum tahu dari mana asal si gadis itu dan siapa namanya. Meski begitu, Yati tak ingin mengusik lebih dalam tentang identitas si gadis. Yang penting mereka harus kompak saat tibanya perlawanan di kemudian hari.


Sementara itu di alam lain, Kentingmanik dan penampakan Wiwi memasuki kamar para gadis tawanan.


"Siapa gadis itu Wi?" tanya Kentingmanik yang melihat ada gadis baru yang diculik Danu.


Penampakan Wiwi melihat-lihat gadis itu. Dia tampak asing karena memang bukan gadis dari kampung halamannya.

__ADS_1


"Entah siapa gadis tu Tante, aku tak tahu," timpal penampakan Wiwi.


"Ya, biarlah. Namun yang pasti dia pun berhak mendapat perlindungan dari kita, siapa pun dia," kata Kentingmanik.


"Ya, benar Tante. Sebaliknya siapa pun yang mencoba melawan kita, kita hancurkan seperti yang telah kita laksanakan balas dendam kepada si Tarso dan Sukinah kamarin," ujar penampakan Wiwi.


"Iya betul apa yang kita laksanakan sesuai dengan rencana semula, telah membuat si Tarso dan Sukinah tak berdaya harus kehilangan nyawa," ujar Kentingmanik.


Kemudian Kentingmanik mengajak penampakan Wiwi keluar kamar untuk memantau ulah para bajingan di tempat ini, terutama niat jahat Danu.


Para pengisi kamar kembali merasa adem, sementara tadi ketika ada Kentingmanik dan penampakan Wiwi udaranya sangat gerah karena terasa panas.


Sementara itu, Tanu ketika Danu pergi tak mengajak Tanu yang tampak celingukan karena tak tahu ini berada di mana. Katanya perusahaan kok tempat biasa tak ada bangunan layaknya kantor sebuah persahaan.


Tanu pun sudah tak sabar ingin segera melihat Iis, anaknya dan akan segera membawanya pulang bagaimanapun caranya, sedangkan Imas tergantung Imas sendiri.


Sebab kata Kades Danu, jika ingin membatalkan pekerjaan harus ada gantinya. Seperti si Iis akan bisa keluar karena telah ada gadis lain yang berhasil diculiknya dengan cara kekerasan.


Tanu pun tak mengerti mengapa harus dengan cara-cara kekerasan. Dia mulai curiga dan bahkan merasa kena tipu Danu.


Ya, Benco disuruh menjaga Tanu jangan sampai kabur. Benco sudah siap. Kalaupun Tanu kabur atau melawan, dia takkan mampu melawan kesaktian Benco. Benco di sini dan Benco di kampung sudah lain.


"Pokoknya Kang Tanu jangan gelisah. Tenang aja. Tunggu Pak Danu, biar selamat," jawab Benco tak mau menerangkan tempat ini di mana dan apa yang dilakukan para penghuninya.


"Bagaimana tidak gelisah, Akang mau menjemput si Iis yang kata Kades Danu ada di sini. Tolong Ben, antarkan Akang ke Iis, di mana sih tempat kerjanya?" tanya Tanu sudah tak sabar.


"Aku bilang tenang, jangan gelisah, tunggu dulu Pa Danu," ujar Benco.


"Kok kamu gitu sih? Kamu tahu aku siapanya Danu kan?" kata Tanu mulai beraksi mengadakan pelawanan.


"Hahahaaa....kau belum tahu siapa aku kini Tanu!" hardik Benco, seraya mencengkeram tangan polos Tanu. Seketika Tanu menyeringai kesakitan merasakan aura panas dari tenaga dalam yang dipancarkan genianggara milik Benco.


"Ampun Ben," ucap Tanu, seketika lemas.


Makin yakin Tanu bahwa tempat ini bukan tempat perusahaan sebagaimana yang disebutkan Kades Danu dan Iis putrinya ada dalam ancaman bahaya. Itu artinya dia harus bertindak. Meski barusan merasakan bagaimana dahsyatnya cengkeraman tangan Benco, dia akan melawan meski harus meregang nyawa membela putrinya.


"Siapa dia Wi?" tanya Kentingmanik ketika melihat Tanu yang dikerjai Benco.

__ADS_1


"Dia, dia pamanku Tante. Anaknya ada di sini," kata penampakan Wiwi.


"O ya? Siapa anaknya?"


"Gadis yang paling muda, Iis," timpal penampakan Wiwi.


"Tapi aku merasakan dia masih ada getaran kejahatan Danu," ujar Kentingmanik.


"Ya emang, pamanku ini bagian dari kejahatan Danu. Dia tak nyadar kalau Danu bisa berbuat apa saja untuk mewujudkan impiannya, termasuk anak pekerjanya sendiri seperti pamanku ini," ucap penampakan Wiwi.


"Ya aku merasakan hal itu pada jiwa pamanmu. Karena itu biarkanlah dia menentukan nasibnya sendiri di sini. Kalau beruntung dia bisa selamat, namun jika nahas mungkin dia harus menerima akibatnya sendiri," ucap Kentingmanik.


Penampakan Wiwi hanya mengangguk. Lalu diajak keliling lagi oleh Kentingmanik, yaitu menuju Danu yang akan menghadap Sodom


Danu duduk di pinggir Sodom di bale-bale rumah utama Embah Sawi.


"Kau bawa lagi gadis, Danu?" tanya Paman Sodom.


"Benar paman, hari ini aku mendapatinya lagi untuk melengkapi permintaan Embah lima perawan paling sedikit agar azimat paket komplet jatuh ke tanganku," kata Danu berbangga diri.


"Bagus, tapi belum tentu bakal terpakai oleh si Embah," timpal Sodom.


"Kenapa bisa begitu paman?" tanya Danu terheran-heran.


"Si Embah sudah curiga di tempat ini ada musuh berkeliaran. Genianggara hanya mapu membantu memberikan perlawanan atas usaha kita tetapi tak mampu mendeteksi keberadaan musuh," ujar Sodom.


"Lalu?" tanya Danu


"Kita harus lebih waspada. Beberapa kejadian aneh membuat si Embah tak habis pikir. Pertama ketika si Embah tak mampu melampiaskan hasrat berahi sucinya untuk menodai gadis yang benama Yati. Kedua, kejadian mobil anakmu yang mendadak mati mesin padahal segalanya beres seperti kata anakmu dan kamu sendiri. Dan yang ketiga......."


"Yang ketiga apa paman?" Danu kian penasaran.


"Si Tarso dan si Sukinah ditemukan tak bernyawa di jurang tak jauh dari rumahnya kemarin pagi," kata Sodom dengan muka merah.


"Oya? Pantas saja tadi saya panggil-panggil tak ada menyahut, tahunya mereka sudah meninggal, kasihan.....lalu mengapa mereka bisa mati setragis itu?"


"Itulah yang tengah dipikirkan aku dan si Embah, Danu!" kata Sodom menjelaskan. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2