Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 62. Melarikan Diri


__ADS_3

Begitu siuman, Imas segera saja menepuk-nepuk lengan Iis. Ternyata Iis pun sudah siuman.


"Is, ayo pergi dari sini, diam-diam mungpung gelap," bisik Imas di telinga Iis,


"Iya Kak Imas. Ayo!' timpal Iis.


Dengan mengendap-endap Imas pun membuka pintu mobil dengan sangat hati-hati. Diikuti Iis yang sudah paham apa yang harus diakukan saat itu.


Setelah keluar dengan saling berpegangan tangan, keduanya menjauhi mobil, melarikan diri menempuh jalan bekas mobil tadi meski bagi Imas dan Iis sama sekali belum mengenal medan.


"Yang penting kita menjauhi tempat ini," bisik Imas kepada Iis.


"Iya, Kak Imas. Semoga mereka tak mengejar kita," timpal Iis.


Setelah berjalan sekitar dua ratus meteran, Imas ingat HP yang dibawanya.


"Kita mencoba minta pertolongan melalui HP, Is," kata Imas.


Imas pun merogoh saku celananya mengambil HP yang disimpan di saku celananya. Dilihat batereinya lumayan masih banyak. Namun ketika melihat petunjuk sinyal Imas menarik napas dalam-dalam.


"Sialan gak ada sinyal," lirih Imas menyesal.


"Iya," ujar Iis sama dia juga melihat HP miliknya.


"Ayo kita pergi dari sini, yang penting sekarang kita menjauh dan mendapatkan tempat untuk tidur. Besok kita akan lanjutkan mencari pertolongan," ujar Imas.


"Iya Kak," sambut Iis.


Gema takbir masih terdengar sayup-sayup dari berbagai penjuru arah angin. Hati Imas dan Iis benar-benar serasa diiris-iris mendengar kalimat takbir itu.


Keduanya membayangkan orangtua mereka yang pastinya tengah menunggu dengan harap-harap cemas, terutama Iis. Sedangkan Bi Utih ibunya Iis yakin putrinya sudah berada di rumah, dan besok pas hari Lebaran akan berkumpul.


Imas dan Iis berjalan sudah cukup jauh. Mereka untuk sementara hanya meraba-raba jalan di pinggir dan tidak tahu ke arah mana mereka berjalan.


Udara malam terasa semakin dingin mencubit kulit tubuh kedua gadis malang itu. Beruntung keduanya mengenakan jaket, lumayan bisa menghalangi sedikit udara dingin.


Rasa haus mulai menggerogoti kerongkongan keduanya. Apa yang harus diminum, sama sekali tak ada air. Mereka bertahan dalam kehausan.


Imas dan Iis hanya bisa berdoa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Yang Mahakuasa. Selebihnya berharap ada keajaiban yang sekiranya bisa menolong mereka.


Malam makin larut, Imas dan Iis hanya ditemani tiupan angin tak ramah, bunyi-bunyi dedaunan yang saling bersentuhan tertiup angin.


Suasana gelap gulita, namanya di tempat yang cuma ada pepohonan. Berharap cahaya bulan takkan tampak karena titian hari baru menginjak 1 Syawal, hari Lebaran.


Baik Imas maupun Iis sedari tadi sudah bercucuran air mata kepedihan yang tiada tara. Bukan hanya pedih harus menghadapi alam yang tak dikenalnya, namun juga sedih mengingat keluarganya di rumah yang pasti mencemaskannya.


Entah sudah berapa jauh Imas dan Iis meninggalkan kediaman Embah Sawi. Kalau mengingat rasa capai yang dirasakan keduanya, pastilah sudah berjalan cukup jauh.

__ADS_1


"Is, kita duduk dulu istirahat," bisik Imas.


"Iya Kak, aku juga sudah sangat lelah," timpal Iis.


Lantas keduanya berhenti dan duduk di atas batu yang kebetulan keduanya memijak batu itu. Imas memeluk erat tubuh Iis, takut kenapa-kenapa.


"Sabar ya Is, semoga kita mendapat pertolongan dari siapa pun itu. Kita berharap si Kades Danu mendapat pembalasan yang setimpal atas perbuatan jahatnya," bisik Iis lagi.


"Iya benar Kak. Orang jahat seperti dia tak layak hidup berdampingan dengan orang-orang baik," tambah Iis.


Tiba-tiba Imas dan Iis dikejutkan suara lolongan anjing yang sangat menakutkan. Mungkin itu lolongan serigala atau anjing hutan yang memberi isyarat bahwa di kawasan itu ada makhluk asing yang perlu diwaspadai para penghuni kawasan itu.


Benar saja, lolongan hewan yang entah hewan apa itu mambangkitkan suara-suara binatang hutan lainnya, bahkan terdengar lolongan hewan-hewan semacam babi, cuitan burung hantu, kekehan kera, dan yang lainnya.


"Kak, bagaimana kita, aku takut," lirih Iis.


"Tenang Is, tenang. Kita berdoa mohon diselamatkan," bisik Imas.


Tiba-tiba Imas dan Iis terkejut bukan alang kepalang ketika ke hadapannya tampak ada dua cahaya sejajar seperti mata yag menyala lalu terdengar suara menyalak mirip anjing. Tampaknya itu hewan buas yang menghampiri keduanya, siap menerkam.


Jantung Iis dan Imas berdetak kencang khawatir makhluk itu mencelakai keduanya. Ingin rasanya menjerit minta tolong, namun minta tolong kepada siapa?


Keduanya hanya pasrah menunggu keajaiban dan berharap tidak terjadi apa-apa.


Seketika dua bola mata kecil yang menyala itu mendadak menghilang. Imas dan Iis pun lega.


"Ayo," balas Iis.


Keduanya bangkit, lalu berjalan tertatih-tatih karena sudah demikian lelah dan letih.


Setelah berjalan agak jauh dtemani bunyi-bunyi khas malam, tebaran gemintang di langit, Imas dan Iis berhenti lagi.


"Kak!" seru Iis.


"Apa Is?"


"Aku sudah tidak kuat, kakiku amat sakit," keluh Iis dengan berurai air mata.


"Sabar sayang, semoga pertolongan segera datang," hibur Imas, sama dia juga berurai air mata saking sedih.


Tiba-tiba Imas menoleh ke arah jalan yang akan ditempuhnya, dia melihat cahaya seperti lampu tempel yang digantungkan di depan rumah.


"Lihat!" Imas berbisik.


"Apa Kak?"


"Ada cahaya lampu tempel, siapa tahu itu rumah penduduk. Yuk, kita ke sana!' ajak Imas.

__ADS_1


"Iya, Kak!" Iis senang. Secercah harapan mulai tampak.


Keduanya pun bangkit, lalu berjalan menuju cahaya seperti lampu tempel itu. Dan benar saja lampu tempel digantungkan di emper sebuah rumah panggung pinggir jalan.


Imas memperhatikan sekeiling, hanya satu rumah yang ada di situ.


"Ayo kita numpang tidur di balai-balai rumah ini. Setelah itu kita lanjutkan perjalanan," kata Imas. Iis mengangguk.


Dengan sangat hati-hati, keduanya menaiki balai-balai rumah panggung beralaskan kayu. Tak pikir panjang keduanya pun langsung merebahkan diri, sambil berharap semoga pemilik rumah tak terganggu.


Saking capai dan lelah Imas dan Iis tertidur pulas hingga tak sadar sudah ada yang berdiri memperhatikan keduanya, seorang pria yang tak lain pemilik rumah panggung tersebut.


Melihat dua orang gadis tertidur pulas, si pria tersenyum. Dia sudah menduga kedua gadis itu tengah menghadapi masalah dengan Embah Sawi.


Dia pun membiarkan Imas dan Iis tertidur pulas hingga bangun. Dan


benar saja berbarengan dengan kokok ayam dari kejauhan dan juga gema takbir yang masih terdengar sayup-sayup dari kampung nun jauh entah di mana di pagi Lebaran itu, Imas dan Iis terbangun, membuka mata.


"Is, bangun!" kata Imas sambil menggoyang-goyang tubuh Iis yang masih terlelap.


Iis pun terbangun. Mengucek-ucek matanya lalu memandangi Imas.


"Di mana kita Kak?" tanya Iis.


Imas segera meletakkan telunjuk di bibirnya isyarat agar Iis tak banyak bicara.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Imas.


"Ayo Kak," sahut Iis.


Namun ketika keduanya akan turun dari balai-balai, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan muncul seorang pria dan seorang perempuan. Tampaknya keduanya pasangan suami-istri.


Hari sudah terang, mentari sudah menampakkan diri di sebelah timur. Imas terpana melihat yang punya rumah keluar dan mengetahui keberadaannya.


"Siapa kalian?" tanya si pria, masih berdiri, pun wanita di sampingnya.


"Aduh maaf, Pak, Bu, saya numpang tidur di sini, saya lagi kesasar," ujar Imas.


"Oh...kesasar ya? Tentu kalian kecapaian. Jangan dulu pergi, istirahatlah yang cukup. Enggak apa-apa kok," kata si pria itu dengan senyuman ramahnya.


"Terima kasih. Tapi saya harus berangkat sekarang juga. Kampung kami nun jauh di sana," ujar Imas bersikeras ingin segera pergi.


"Nanti dulu Neng, istirahat dulu. Pasti kalian capek, biar saya suguhkan air hangat untuk menguatkan tenaga kalian. Tapi maaf cuma air hangat, tak ada camilannya, maklum ke warung dari sini jauh," kata si wanita yang mungkin istrinya si pria itu.


Mendengar perempuan itu akan menyuguhkan air hangat, muncul kebimbangan di hati Imas untuk segera pergi. Sementara tubuhnya amat kedinginan dan jelas sangat butuh kehangatan.


Ternyata si wanita bukan asal bicara. Tak lama kemudian dia ke dalam rumah atau mungkin ke dapur. Ketika kembali dia sudah membawa dua cangkir air hangat dan langsung diberikan kepada Imas dan Iis. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2