
"Hahaaaaa......ada juga nyalimu Wati!" koar Danu.
"Darpin, berikan pelajaran sedikit wanita congkak tak tahu diuntung ini!" perintah Danu kepada anaknya si Darpin.
"Baik ayah," kata Darpin.
Lalu Darpin mencabut parang yang masih menancap di punggung Tanu dengan tenangnya, tak ubahnya sedang membelah buah nangka.
"Tampaknya kau sudah tak sabar ingin mencicipi ini, manis?" goda Darpin masih berani-beraninya menyebut manis.
Jika saja Embah Sawi melihat ulah Darpin yang 'cunihin' (suka menggoda perempuan, Sunda), pastilah ia sudah kena semprot.
"Jaga mulutmu Darpin!" hardik Sodom.
"O iya maaf Paman," ujar Darpin ngeper melihat diancam Sodom.
Darpin bicara begitu sembari meletakkan parang yang tajam ke leher Wati.
Namun Wati sedikit pun tak gentar. Dia bahkan amat jijik melihat wajah Darpin, si pemuda brengsek yang telah menodai kakaknya, Wiwi, hingga tewas.
"Cuih!!!!" lagi-lagi Wati membuang ludah ke wajah Darpin.
"Setan betina! Kau meludahiku lagi, hah?!"
Darpin sangat murka, nyaris saja parang benar-benar ditebaskan ke leher Wati andai dia tak mampu mengontrol emosi. Ketika ingat siapa Wati yang merupakan tumbal untuk dicicipi si Embah, Darpin pun segera mengendurkan napsu amarahnya.
Usai empat wanita melihat kondisi Tanu, kini giliran Iis yang digiring disuruh melihat mayat yang tergeletak.
"Lihat, siapa yang tergeletak!" kata Benco yang membimbing Iis.
Begitu melihat yang tergeletak adalah bapaknya, Tanu, seketika Iis menjerit histeris dan meronta-ronta ingin lepas.
"Lepaskan!" titah Sodom.
Iis pun dilepaskan lalu dia memburu dan merangkul tubuh ayahnya sembari menangis.
"Ayah, ayah, oh ayaaaaaah.....kenapa ayah ke sini. Siapa yang membunuhmu, ayah....? Hmmmmmmm....!" lirih Iis sambil tak henti-hentinya merangkul tubuh ayahnya meskipun harus belepotan darah.
"Hei bajingan! Siapa yang telah membunuh ayahku? Ayo jawab! Takkan kubiarkan kalian hidup!" ujar Iis dengan suara lantang seolah ada kekuatan gaib yang merasuki tubuhnya.
"Hahaaa.....sudahlah Is, terima takdir ayahmu. Bukan siapa-siapa yang melukai ayahmu, tetapi dia sendiri yang tidak mau menuruti keinginanku." kata Danu.
__ADS_1
"Bohong kamu Danu! Awas kamu, rasakan pembalasan kami! Kau sunggguh binatang buas!" kata Iis meluapkan amarahnya kepada Danu.
"Ambil!" titah Sodom.
Para anak buah Embah Sawi pun kembali membawa para tahanan gadis ke kamarnya seperti semula.
Sementara yang lainnya disuruh menguburkan Tanu di lahan yang agak jauh dari tempat Embah Sawi. Dikuburkan begitu saja seperti mengubur hewan.
***
Pagi hari itu Rama, Anwar, dan Warya minta izin pulang dulu dari rumah Kades Danu kepada Bu Windi. Nanti sore dan malam akan kembali berjaga-jaga, takutnya Danu pulang dan membawa bencana.
Sementara Inah istri Tanu dan Bi Utih masih tinggal di rumah Bu Windi.
Meski Inah masih punya suami dan suaminya ketika ditinggalkan ke rumah Kades Danu ada di rumah, Inah sudah berjanji takkan pulang ke rumahnya jika belum menemukan Iis dalam keadaan selamat.
Lagian Tanu juga tidak mengabari sesuatu atau menanyakan keberadaan dirinya melalui WA. Itu menunjukkan bahwa Tanu sudah mengabaikannya, maka Inah pun akan membiarkan saja suaminya sekehendak hati karena sudah tidak bisa dipercaya lagi.
Buktinya disuruh menanyakan anaknya Iis dan bisa membawanya pulang dengan selamat, malah tak berhasil justru masih mendukung Danu dengan menerimanya uang agar Tanu tutup mulut.
"Bagaimana keinginannya saja. Aku sudah tak percaya lagi," kesal Inah dalam hatinya.
Sementara Bi Utih, jelas-jelas di rumah pun hanya seorang diri. Makanya kini ia hanya akan ikut Bu
Warya membonceng Rama untuk diantarkan ke rumahnya. Anwar membawa motornya sendiri dan sudah minta izin akan pulang ke rumahnya langsung serta nanti sore siap gabung lagi menjaga rumah Bu Windi.
"Aku langsung pulang ke rumah ya Kang Rama, Kak Warya," kata Anwar.
"Oke An, entar sore siap-siap lagi ya ke rumah Bu Windi!" sahut Rama.
"Siap, Kak!"
Lalu mereka pun melajukan sepada motornya. Warya yang membonceng Rama melaju di depan diikuti Awar.
Tak lama sudah tiba di depan rumah Rama. Anwar langsung melajukan motornya menuju rumahnya.
Tadinya Warya hanya akan mengantarkan Rama sampai depan rumahnya, lalu akan langsung pulang ke rumahnya.
Akan tetapi Warya sekilas di teras rumah Rama melihat seorang gadis yang sudah tak asing lagi karena sudah melihatnya, dia adalah Triana Wiarti yang wajahnya mirip Almarhumah Wiwi.
"Ayo War, mampir dulu, ngeteh atau ngopi dulu," sambut Rama demi melihat Warya yang tampaknya terpesona oleh keponakannya yang mirip Wiwi itu.
__ADS_1
"Emh, bolehlah!" sahut Warya tak berpikir panjang lagi.
"Selamat pagi Tri," kata Rama.
"Selamat pagi juga Kak Rama. Baru pulang?"
"Iya, ayo War sini!" timpal Rama sambil menyuruh Warya masuk ke ruang tamu rumahnya karena sepertinya dia ragu-ragu.
Warya pun memarkirkan sepeda motornya, lalu masuk ke ruang tamu rumah Pak Muslih.
Melihat Rama dan Warya sudah pulang, Pak Muslih dan Bu Ratih langsung menghampiri keduanya.
"Bagaimana kejadiannya semalam Ram?" tanya Pak Muslih langsung saja menanyakan kejadian di rumah Kades Danu.
Pak Muslih sudah mendengar sebagian kabar dari Pak Rudi yang sengaja mendatanginya.
"Ya begitulah Pak. Kades Danu sudah ditangkap polisi, namun katanya kabur lagi membawa pistol. Kita harus hati-hati jangan sampai menjadi korban pistol Kades Danu!" ujar Rama.
"Astagfirullah itu orang nekat banget," lirih Bu Ratih.
Tiba-tiba muncul Triana membawa tiga gelas berisi minuman dan diberikan kepada Pak Muslih, Rama, dan Warya. Mata Warya tak berkedip menatap wajah Triana yang benar-benar sangat mirip dengan Wiwi.
Ditatap begitu, jatung Triana pun berdegup kencang.
"Bi Sari sudah pulang Bu?" tanya Rama.
"Sudah, Ram. Alhamdulillah Bibimu mengizinkan Tri tinggal bersama kita karena Bapaknya juga mengizinkan ketika ditelepon Bibimu." ujar Bu Ratih.
"Ya alhahmdulillah. Betah-betah di sini ya Tri, kasihan uwakmu kehilangan dua anak gadisnya, keponakannya, dan juga calon menantunya," kata Rama.
"Insyaallah, Kak," timpal Triana yang ikut duduk di samping Bu Ratih.
"Jadi sekarang rencana mencari Wati dan yang lainnya bagaimana Ram?" Pak Muslih kembali bertanya tentang nasib anaknya Wati.
"Nah itu yang tengah kami dan aparat pikirkan Pak. Andai Danu tak kabur dan membawa pistol, tadinya kami dan aparat akan konsentrasi mencari keberadaan para gadis yang diculik. Namun kini terpaksa terpecah lagi. Aparat katanya juga akan mencari keberadaan Danu yang telah menjadi buron," imbuh Rama.
"Kasihan saja nasib Wati dan kawannya. Mudah-mudahan saja selamat semuanya," lirih Bu Ratih dengan mata berkaca-kaca
"Aamiin..." kata orang-orang.
"Iya Bu, semoga semuanya selamat. Kami dan aparat akan terus berjuang hingga menemukan mereka. Doakan saja," sahut Rama.
__ADS_1
"Iya. Terus bagaimana kabar Bibimu. Tadi pagi sekali Bapak ke rumah pamanmu, tapi ternyata dikunci dan lampu masih menyala di luar maupun di dalam," kata Pak Muslih.
"O ya Bi Inah bersama Bu Windi dan Bi Utih. Bi Inah katanya takkan pulang ke rumah sebelum dia berhasil menemukan Iis dengan selamat. Gitu Pak," terang Rama. (Bersambung)