Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 59. Imas dan Iis Diperingati


__ADS_3

Selain menjepit lagi 'pusaka' Embah Sawi sekuat-kuatnya laksana jepitan tang terhadap paku yang akan dicabut, Kentingmanik pun ketika si Embah dengan dahsyatnya menciumi bibir yang disangkanya bibir Yati padahal bibir tengkorak Kentingmanik, menggigit lidah Embah Sawi yang membuatnya melolong-lolong kesakitan.


Sodom mulai curiga mendengar lolongan aneh dari si Embah. Biasanya Sodom mendengar jeritan kesakitan dari para korban tumbal yang setelah dinodai lalu lehernya dilukai hingga tewas. Namun kini justru yang terdengar si Embah yang melolong-lolong menahan rasa sakit.


"Kenapa ya si Embah?" bisik Sodom kepada salah seorang anak buahnya.


"Iya kenapa ya? Apa sebaiknya kita masuk? Takutnya si Embah kenapa-kenapa?" timpal anak buah Sodom.


"Auh, auh, auuuuh.......!" terdengar lagi di dalam suara si Embah merintih kesakitan.


"Ayo ketuk pintunya!" titah Sodom kepada anak buahnya.


Anak buahnya menurut mengetuk kamar, namun tidak ada respons dari dalam. Sodom makin curiga, lalu memutuskan mendobrak pintu.


"Bruuukkkk!!!"


Begitu pintu terbuka, Sodom dan anak buahnya kaget bukan main karena melihat Embah Sawi telah telentang sambil memegang mulutnya yang tampak kesakitan di pinggir tubuh Yati yang tak mengenakan kain secuil pun.


"Embah!" kata Sodom.


Lalu dia memerintah anak buahnya untuk mengenakan semua pakaian milik Yati yang belum siuman dari pengaruh mantra Sodom dan disuruh dikembalikan ke ruangan yang ada Wati.


Anak buahnya melaksanakan perintah Sodom dan tubuh Yati sudah kembali ke kamar semula yang tengah tertidur dengan pengaruh mantra Sodom yang belum dicabut.


Kemudian Sodom menepuk-nepuk pipi si Embah yang tampaknya pingsan saking sakitnya lidahnya digigit makhluk gaib, pun dengan 'pusaka' miliknya yang terasa masih sakit dan panas


Si Embah kemudian tersadar, ketika melihat ada Sodom dan anak buahnya dia kaget. Semula dia akan memarahi


Sodom dan anak buahnya yang telah berbuat lancang itu, namun Sodom segera menenangkannya.


"Tenang Embah tenang dulu," kata Sodom sambil menutup tubuh si Embah yang lalu memakainya sambil membelakangi Sodom dan anak buahnya.


"Apa yang terjadi Sodom?" si Embah malah bertanya kepada Sodom.


"Tadi Embah menjerit-jerit seperti menahan rasa sakit. Justru saya ingin bertanya ada apa dengan Embah dan bunga yang tengah Embah cicipi. Saya rasa itu bukan jeritan kenikmatan tetapi jeritan kesakitan!" jelas Sodom.


Si Embah Sawi tampak mengernyitkan dahi seusai mengenakan pakaian komplet dan mendengar perkataan Sodom. Tampaknya dia tengah mengingat-ingat kejadian barusan.


Embah Sawi merasa tak ada keganjilan ketika ia menodai Wiwi. Hanya saja entah mengapa sulit menggapai *******. Hal itu terjadi karena ada gangguan pada 'pusaka'-nya yang seolah dijepit benda asing.


Demikian pula ketika dia menyalurkan hasrat berahinya di bibir gadis tumbal bernama Yati itu, lagi-lagi dia merasakan hal aneh yaitu lidahnya digigit sangat keras sehingga dia tak tahan dan akhirnya menjerit-jerit.

__ADS_1


"Aneh, Sodom!" kata si Embah.


Sodom dan anak buahnya yang berada di situ tampak terperanjat, apalagi setelah si Embah menerangkan apa yang dialaminya barusan dengan tumbal gadis bernama Yati itu.


"Saya tidak melihat keanehan di tubuh gadis itu, Sodom. Tetapi saat aku melakukannya, 'pusaka'-ku dan lidahku tiba-tiba sakit karena ada yang menggigit benda asing," kata si Embah.


"Apa ya Embah? Genianggara selama ini jadi azimat andalan dan selama ini kita tidak menemukan halangan apa-apa. Namun saat ini, genianggara sepertinya ada yang memadamkan," cetus Sodom, mengernyitkan dahi.


Mulut tongosnya seperti tengah mengucapkan mantra. Kupluknya dicabut, sejenak mengusap-usap rambut di kepalanya. Kupluk pun dikenakan lagi.


Lalu dia bangkit, dan memasuki ruangan tempat Wati dan Yati tertidur pulas. Sodom lantas mencabut mantra yang tadi diterapkan kepada Yati dan Wati.


Seketika Yati dan Wati tertidur secara normal, tidak pingsan, seperti saat dimantrai oleh Sodom.


Namun, tiba-tiba Yati menjerit dan bangun lantas meraba-raba sekujur tubuhnya yang terasa sakit seolah tadi ada yang menindihnya.


Ketika tersadar dan melihat ada Sodom di hadapanya, Yati pun mundur. Wati pun terbangun mendengar teriakan jeritan Yati.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yati kepada Sodom.


"Tenang Nona, jangan marah-marah. Kami tidak melakukan apa-apa, kami hanya melakukan patroli rutin," ucap Sodom.


Si Embah pun kembali ke rumah utama dengan hati kecewa, diantar Sodom dan anak buahnya.


***


Waktu menunjukkan pukul 17:00 ketika Iis, anaknya Bi Inah dan Mang Tanu, orang kepercayaan Kades Danu berjalan menuju rumah Kades Danu karena disuruh ibunya untuk mencari ayahnya yang belum pulang.


Kebetulan di jalan bersua dengan Imas, anaknya Bi Utih yang bekerja di rumah Kades Danu sebagai ART.


"Kamu mau ke mana Iis?" tanya Imas.


"Mau ke rumah Pak Kades Danu mencari ayah," timpal Iis.


"Kebetulan aku juga mau ke sana, mau menjemput Emak," timpal Imas.


"O ya? Kalau begitu yuk bersama-sama biar ada teman," kata Iis, gadis berusia enambelas tahun itu.


"Yuk, kita sama-sama," kata Imas.


Mereka pun berjalan berdampingan di pinggir jalan raya Desa Mekarmulya itu karena sepeda motor hilir mudik lebih ramai daripada biasanya.

__ADS_1


Maklum besok akan merayakan Hari Raya Idulfitri, banyak warga Kampung Mekarsari yang pulang mudik merayakan Lebaran di kampung mereka.


Bahkan bukan hanya sepeda motor, mobil pun tampak lalu lalang. Ada mobil milik menantu seseorang yang anak gadisnya mendapatkan CEO, ada


pula mobil milik pejabat yang sukses hidup di kota, dan sebagainya.


"Besok Lebaran ya Is," kata Imas kepada Iis.


"Iya Kak Imas, makanya saya mau nyari Bapak kok kenapa belum pulang, apakah lagi sibuk di Kades Danu atau apa," kata Iis.


"Kasihan Uwak kamu ya Is," tambah Imas.


"Iya Kak Imas. Kasihan Teh Wati belum berhasil ditemukan. Dulu Kak Wiwi meninggal dunia gara-gara perbuatan si Darpin dan kawannya," keluh Iis.


Bagaimanapun sebagai sepupu Wiwi dan Wati, Iis ikut prihatin atas musibah yang menimpa putri uwaknya itu.


"Yati juga sama belum ditemukan, Is," kata Imas lagi.


"O ya? Aku doakan semoga keduanya selamat tidak kurag suatu apa pun," kata Iis lagi.


Ketika sedang berjalan tiba-tiba ada sepeda motor berhenti di hadapan Imas dan Iis. Imas sontak melihat penunggang motornya ternyata, Warya dan Rama.


"Mau ke mana kalian?" tanya Rama.


"Mau ke rumah Kades Danu. Aku mau menjemput ibu, Iis katanya mau mencari ayahnya," Imas yang menjawab.


"Oh, hati-hati ya Imas ya Iis," saran Rama.


"Terima kasih Ram," timpal Imas.


"Terima kasih Kak Rama," ujar Iis.


"Bagaimana perkembangan pencarian Yati dan Wati, Ram?" tanya Imas.


"Masih dipersiapkan aparat. Kami pun akan bersiap-siap dengan megumpulkan kekuatan. Beberapa hari ini, saya, Warya, dan Anwar ditempa ilmu khusus untuk melawan aksi si Darpin cees," kata Rama dan diiyakan oleh Warya.


"Iya Mas. Kalian harus hati-hati kalau mau ke rumah Kades Danu. Dia sudah diinterogasi mengarah kepada tersangka Kades Danu berdasarkan bukti-bukti yang diterima petugas. Barusan juga kami berdua dari kantor polisi bersama Pak Rudi juga, dia mungkin sudah sampai rumahnya," kata Warya.


"O ya, syukur kalau begitu. Semoga berhasil Ram, War. Kami permisi takut keburu magrib," kata Imas.


"Ya Imas. Sekali lagi harus hati-hati menghadapi Kades Danu, Kalian jangan sampai menjadi korban seperti Yati dan Wati, apalagi seperti Wiwi," kata Rama. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2