Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 80. Ludes Terbakar


__ADS_3

Rama memberikan HP kepada Bi Inah.


"Ya Wak, ada apa?" jawab Inah.


"Segera pulang Inah. Rumahmu!" kata Pak Muslih.


"Rumahku kenapa Wak?"


"Kebakaran!"


Seketika Inah ambruk setelah mendengar kabar rumahnya kebakaran.


"Ayo kita cepet ke sana semuanya!" ajak Bu Windi.


"Ayo Nah, sudah jangan menangis. Kita cepat ke sana!" ajak Bu Windi lagi.


Maka semuanya bergegas berkemas. Bu Windi segera mengambil kunci mobil yang biasa digunakan oleh suaminya, Kades Danu.


Setelah mengunci pintu, semuanya lalu masuk mobil. Mobil langsung disopiri oleh Bu Windi. Inah dan Bi Utih duduk di depan, sedang anak-anak muda di bangku tengah dan belakang.


Tak lama kemudian sudah tiba di depan rumah Rama. Mobil diparkirkan di depan rumah Rama. Lalu menuju rumah Inah. Sesampainya di sana, Bu Windi, Inah, dan Bi Utih berlari menuju kerumunan orang-orang.


Nyala api yang berkobar-kobar menghanguskan rumah Tanu dan Inah tak menyurutkan mereka untuk mendekat.


"Rumahku, rumahku, rumahku, mana Kang Tanuuuuu?" jerit tangis Inah menghampiri kerumunan orang.


"Sabar Inah, sabar....." Bu Ratih dan Bu Tita yang berdekatan menghampiri Inah. Triana juga tampak ada di situ.


Sementara Pak Muslih dan kaum pria lainnya membantu mengambil air untuk memadamkan api. Rama cees termasuk Toto pun membantu memadamkan api.


Beberapa jam kemudian api bisa dipadamkan berkat kesigapan warga yang dipimpin RT dan RW memadamkan api.


Ketika RW menanyakan Inah tentang keberadaan Tanu, Inah menyebut tidak tahu-menahu keberadaan suaminya karena dia sedang di rumah Bu Windi.


Warga terdekat dengan rumah Tanu pun menyebutkan bahwa tak melihat Tanu di rumahnya bahkan lampu listrik menyala terus baik yang ada di dalam maupun di luar rumah.


Takutnya Tanu ada di dalam rumah, RW berinisiatif melihat--lihat bekas kebakaran dengan alat sederhana untuk melihat apakah ada jasad orang atau tidak. Ternyata tidak ditemukan jasad manusia.


Tak lama kemudian datang aparat kepolisian dan mengamankan TKP dengan garis police untuk bahan penyelidikan lebih lanjut tentang penyebab terjadinya kebakaran.


Malam itu Inah tidak ikut dengan Bu Windi, tetapi ikut nginap di rumah Pak Muslih. Demikian pula Rama tak ikut kembali ke rumah Bu Windi.


Semenara Bu Windi, Bi Utih, dan Toto kembali ke rumah Kades Danu.

__ADS_1


Inah terus-terusan menangis meratapi musibah kebakaran yang menimpa rumahnya. Mana suami tidak ada, mana anak ada yang menculik.


"Mengapa musibah ini harus menimpaku, Wak," ratap Inah kepada Bu Ratih.


"Sabar Inah, sabar. Mungkin Tuhan tengah menguji kita. Kalau dihadapi dengan kesabaran, insyaallah akan menuai hikmah," tutur Bu Ratih.


"Di dalam rumah itu banyak uang Wak, perhiasan juga, hasil Kang Tanu bekerja di Kades Danu. Sekarang ludes, harus bagaimanna aku Wak?" imbuh Inah lagi.


"Biarlah jangan jadi pikiran tentang harta benda yang musnah terbakar, harta masih bisa dicari. Untung kamu masih hidup walau anak dan suamimu entah bagaimana nasibnya. Syukuri saja nikmat yang diterima kamu masih hidup," tambah Pak Muslih


"Dulu saat Rama pinjam uang untuk menolong Uwak tidak dikasih sama Kang Tanu, kini uang itu ludes hangus dilalap api, maafkan aku Wak," tutur Inah lalu menangis sejadi-jadinya.


"Sudah, sudah, jangan diungkit-ungkit lagi masalah itu. Uwak sudah maafkan. Sekarang doakan saja anak dan suamimu selamat. Juga Uwak doakan semoga kamu segera punya rumah lagi, mendapat rezeki yang halal," tutur Pak Muslih lagi.


"Iya, aamiin Wak," kata Inah akhirnya luluh juga hatinya.


"Untuk sementara kamu tinggal di sini aja bersamaku Inah," sambut Bu Ratih.


"Iya Wak, terima kasih. Namun karena aku harus menemukan dulu Iis, mungkin untuk sementara aku ikut dulu dengan Bu Windi dan juga Bi Utih," ujar Inah.


"Iya kalau begitu. Pasti Rama pun akan membantumu," tambah Bu Ratih tak keberatan Inah ikut dengan Bu Windi.


Apalagi Bu Ratih dan Pak Muslih telah mendengar dari Rama bahwa Bu Windi akan membantu menemukan para gadis yang diculik bagaimanapun caranya sehingga mereka selamat bisa pulang kembali ke keluarganya.


***


Di pagi buta para dedemit dari Kerajaan Dedemit Sumur Tua telah terbang dari dunia maya ke dunia nyata untuk mencari orang-orang yang akan dirasuki jiwanya.


Ratu Mayanggeni memerintahkan semua pasukannya agar siap-siap merasuki jiwa-jiwa orang yang dipinjam raganya dengan komando jiwanya ada pada para dedemit.


Mereka pun sudah menemukan raga-raga yang dirasuki dan spontan mereka kehilangan jati dirinya karena sekarang sudah disetir oleh para dedemit dari Kerajaan Dedemit Sumur Tua. Meski masih ada sekian persen dalam kesadaran normal.


"Ayo kita berangkat!" teriak Bi Utih dengan suara yang terdengar aneh oleh yang mendengarnya.


"Windi, bangun! Ayo kita sekarang berangkat!" kata Bi Utih kepada Bu Windi yang masih tidur di kamarnya.


"O, iya, maaf-maaf, ketiduran," timpal Bu Windi, dia bicara lemah lembut sepertinya sangat takut oleh Bi Utih.


Padahal sehari-seharinya justru Bi Utih yang bicara lemah lembut kepada Bu Windi, namanya juga pembantu kepada majikan.


Akan tetapi, kini sebaliknya, Bu Windi sangat hormat kepada Bi Utih.


"Inah! Bangun, bangun! Bukankah kamu ingin menyelamatkan anakmu si Iis? Ini malah tidur kebablasan!"

__ADS_1


Lagi-lagi Bi Utih berteriak. Kali ini kepada Inah yang malam itu sudah tidur lagi di rumah Bu Windi karena ingin segera menemukan Iis.


"Iya, iya, maaf aku pun ketiduran," kata Inah, seraya membungkukkan tubuh menghormat Bi Utih.


"Ayo cepat! Siap-siap! Kita jangan sampai telat datang. Dini hari ini kita bumi hanguskan tempat tinggal si bedebah itu!" koar Bi Utih.


"Siap, siap!" timpal Inah dan Bu Windi.


"Hei, anak muda! Bangun, bangun, ayo kita bergerak sekarang!" kini giliran anak-anak muda, yaitu Rama, Anwar, Warya, dan Toto yang dibangunkan Bi Utih.


Anak-anak muda itu segera bangun dan terheran-heran melihat Bi Utih yang lantang bicara, mata melotot, lengan bajunya agak ditarik ke atas.


Sore malam tadi memang Bu Windi tengah rembukan dengan Bi Utih, Inah, Pak Rudi, dan para pemuda untuk mempersiapkan pencarian keberadaan para gadis yang diculik apa pun yang akan terjadi.


Entah mengapa para ibu ini muncul keberanian saat itu. Tampaknya kehadiran mereka telah dipantau oleh pasukan dari Kerajaan Dedemit Sumur Tua yang dipimpin Ratu Mayanggeni.


Ibaratnya gayung bersambut, Mayanggeni sudah punya rencana matang untuk menyerang, demikian pula Bu Windi dan yang lainnya. Maka Ratu Mayanggeni hanya tinggal memerintahkan anak buahnya agar merasuki raga-raga yang sekiranya cocok dengan mereka.


Bi Utih, Bu Windi, Inah, telah dirasuki demikian pula dengan Pak Rudi ayahnya Yati.


"Bangun kau Rudi! Anakmu Yati butuh bantuanmu!" kata Bi Utih.


"Siap, siap, laksanakan!" ujar Pak Rudi dengan suara berbeda dari biasanya.


Sementara para anak muda, yaitu Rama, Warya, dan Anwar, mereka masih utuh sebagai manusia biasa. Atinya, raganya tak dipinjam oleh para dedemit karena dipandang tidak cocok.


Pasalnya, Rama, Anwar, dan Warya, telah 'diisi' oleh ilmu Ustaz Hamid pada bulan Puasa lalu sejak heboh terjadinya penculikan para gadis dan ketiganya telah mendapati Darpin cees yang sulit dikalakan.


Sementara itu Bu Windi memerintah Toto agar tinggal di rumah untuk berjaga-jaga. Jangan membuka pintu, kecuali dari aparat polisi.


"Jika aparat bertanya sedang ke mana kami, tunjukkan kertas ini. Ini lokasi yang akan kami tuju," kata Bu Windi kepada Toto.


Toto mengangguk walaupun tadinya ingin ikut juga bergabung.


Namun dia menyadari karena Bu Windi mencegah, ya apa boleh buat akhirnya dia menurut saja.


Lalu rombongan menaiki mobil milik Kades Danu dan disopiri langsung oleh Bu Windi. Di pinggirnya duduk Bi Utih dan Inah.


Sementara para pria di jok kedua dan belakang.


Anehnya Bu Windi tak bertanya kepada siapa pun tentang lokasi tempat tinggal Embah Sawi. Padahal dia belum pernah tahu di mana letaknya.


Tapi si pengisi raga mereka, yaitu para dedemit, sudah tahu persis lokasinya, terutama yang merasuki tubuh Inah. Inahnya sendiri tidak mengetahui. Ketika Bu Windi salah jalan, maka Inahlah yang menunjuki jalan yang seharusnya.

__ADS_1


Akhirnya mobil itu tiba di tempat kediaman Embah Sawi. Para 'pejabat' di sana seperti Embah Sawi, Sodom, Danu, dan Darpin cees, sedang tidur nyenyak-nyenyaknya dini hari yang sunyi dan dingin itu.


Namun para anak buahnya berseliweran ke sana ke mari untuk menjaga keamanan kawasan. (Bersambung)


__ADS_2