Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 25. Azimat Paket Komplet


__ADS_3

"Wah wah wah...apa itu Yah?" Darpin makin kepo saja mendengarkan cerita ayahnya.


"Iya, Pin. Embah Sawi meminta syarat yang berat dan juga bayaran mahal kalau Ayah ingin mendapatkan azimat paket komplet," kata Pak Danu.


"Azimat paket komplet?"


"Iya, Pin. Seperti telah Ayah bilang tadi. Azimat paket komplet bisa untuk apa saja. Ya, menangkal gangguan makhluk jahat, mengalahkan musuh-musuh, dan memudahkan mencapai apa yang kita inginkan," jelas Pak Danu.


"Wow, hebat. Aku dukung. Tapi, bagaimana apakah Ayah sudah siap memenuhi syarat dan membayarnya. Lalu apa saja syarat yang berat itu?" tanya Darpin lagi.


"Itulah sebabnya Ayah ada di sini. Ya, untuk mencari orang yang bisa membantu karena tidak mungkin dikerjakan sendiri oleh Ayah sebagai seorang kades. Soal uang, no problem. Yang berat itu memenuhi syarat lainnya. Namun beruntung ada kalian, semoga saja kalian mau bekerja sama dan nanti akan mendapatkan imbalan," kata Pak Danu.


"Pasti, kami dukung Pak Danu. Tapi apakah syarat selain uang itu?" giliran Doma yang bertanya.


"Embah Sawi meminta disediakan 5 kuntum bunga atau perawan suci," ujar Kades Danu.


"Lima perawan suci maksudnya?"


"Ya, lima orang perawan yang masih suci. Itu maksudnya perawan tulen yang belum disentuh pria mana pun."


"Untuk apa katanya Pak?" Doma kembali bertanya.


"Untuk dicicipi kemudian ditumbalkan nyawanya kepada makhluk gaib guru Embah Sawi sebagai tebusan azimat paket komplet itu Dom."


"Benar, berat juga ya."


"Benar, Dom. Namun aku yakin kalian bisa membantu, kan?"


"Apa yang bisa kami lakukan Pak?" tanya Benco yang sedari tadi diam.


"Ya, kalian harus membantu mencari perawan sebanyak 5 orang untuk dipersembahkan kepada Embah Sawi. Jika sudah terpenuhi kelimanya, barulah azimat bisa kudapati."


Darpin dan kawan-kawannya salingpandang sepertinya tengah meminta kesepakatan bersama.


"Nah, sekarang ayolah kita ke tempat Embah Sawi. Ayah akan menitipkan kalian ke Embah Sawi dan kalian akan diberi bekal ilmu serta tentunya azimat. Setelah siap dengan ilmu dan azimat, kalian mulai beraksi mencari perawan di mana pun berada. Bagaimana?"


"Nah kalau begitu bagus. Biar kita tidak lari ke mana-mana karena kita tengah diincar aparat," kata Darpin

__ADS_1


"Benar Bos," timpal Benco.


"Ya, kami siaplah Pak Danu. Kapan kita berangkat?" tanya Doma


"Sekarag pun kita ke Embah Sawi dan kalian akan aku titipkan kepada beliau agar diberi ilmu kesakten dan azimat. Sementara aku akan kembali ke rumah dan menunaikan tugas sebagai kades sebagaimana mestinya agar tidak dicurigai warga," terang Pak Danu.


"Siap, siap Ayah. Kami siap dibawa ke Embah Sawi sekarang juga. Kami ucapkan terima kasih kepada Ayah yang baik," kata Darpin tak segan-segan memuji sang ayah.


Tampaknya dia sudah lupa atas kasus penodaan dirinya terhadap Wiwi hingga meninggal dunia. Seolah dia menikmati pelarian dan harapan-harapan indah bersama ayahnya.


Tak lama kemudian malam itu juga Pak Danu membawa Darpin cees ke kediaman Embah Sawi. Mereka tiba sekitar pukul 3:30 dini hari.


Sekitar pukul 04:00 tiba. Setibanya, Danu langsung menghubungi Sodom yang kebetulan tengah berada di balai-balai rumah Embah Sawi.


Sodom adalah orang kepercayaan Embah Sawi dibantu beberapa anak buahnya. Dia berkulit gelap, bermulut tongos, berbaju hitam dan tutup kepala kupluk, kumis tebal menghiasi bibirnya.


"Maaf Bang aku harus kembali," kata Pak Danu sembari membungkukkan tubuh dan mengangguk ke Sodom, pria betusia 45 tahun yang tampak sangar itu. Darpin cees belum melihat wajah sangar Sodom karena masih gelap.


"Hemmmh....ada apa Danu? Kok kembali?" taya Sodom dengan mata melotot dan lalu mengincar empat pria muda yang dibawa Danu.


"Masih terkait dengan misi Embah kemarin Bang. Lebih jelasnya, mungkin kita bicarakan saja di dalam bersama Embah," tutur Kades Danu pelan takut bicara salah.


"Apakah Embah sudah bangun?" tanya Danu lagi sepertinya dia sudah tak sabar.


"Embah sedang menikmati bunga. Dia berpesan tidak boleh diganggu," ujar Sodom, tangannya masih mernjamah-jamah kumisnya, dan menekuk-nekuk jemarinya seolah sudah kegatalan ingin ditinjukan kepada muka orang.


"O, iya. Biar kami tunggu Bang. Semoga Embah segera selesai," kata Danu.


"Goblok lu Danu! Embah takkan menikmati bunga dalam waktu sekejap seperti kamu! Embah paling sedikit menikmati bunga 1 jam," koar Sodom, tak enak sang guru diremehkan Danu yang berharap si Embah tak berlama-lama menikmati bunga alias perawan.


"O, o, iya aku lupa Bang. Padahal Embah udah bilang dia jago memuaskan bunga-bunga nan indah hingga mereka bisa ketagihan," kata Danu ia lupa kalau memang Embah maniak **** yang selalu lapar.


Etah berapa puluh wanita yang telah dinodainya, baik yang rela maupun terpaksa, di samping beberapa perempuan yang disebutnya sebagai istri dan setia mendampingi di kediamannya.


"Siapa mereka Danu?" tanya Sodom sembari memandangi keempat pemuda yang mengunci rapat bibirnya saking takut melihat sosok Sodom meskipun samar-samar. Namun lama-kelamaan cahaya berangsur terang meski belum seterang siang


"Oh, iya aku lupa belum memperkenalkan mereka. Ini anakku, namanya Darpin. Ini Doma, ini Benco, ini Gonto. Ayo kalian salim kepada Paman Sodom," ujar Danu memperkenalkan keempat pemuda kepada Sodom.

__ADS_1


Darpin, Doma, Benco, dan Gonto, pun segera meghampiri Sodom lalu mengulurkan tangan bersalaman.


"Sodom!" balas Sodom sambil menyalami keempat pemuda itu.


Saat bersalaman, tak seorang pun yang tak menjerit meski ditahan. Betapa tidak, telapak tangan Sodom rasanya panas.


"Maksud dibawa ke sini?" tanya Sodom kepada Danu.


"Apakah tidak lebih baik kalau kita bicarakan nanti di depan Embah?" Danu balik bertanya.


Sodom bergeming, mungkin dia tengah mencerna ucapan Danu.


"Baiklah. Tapi benar ini anakmu dan yang lainnya kawan-kawannya?"


"Sunggguh, Bang. Sungguh, ini anakku! Kalau mereka bikin ulah, aku siap bertanggung jawab Bang!"


"Awas saja kalau kamu bikin gara-gara dengan ulah keempat anak muda ini, Embah takkan segan-segan menghukummu!"


"Percayalah Bang, aku bicara jujur."


"Syukurlah kalau begitu. Harap sabar, kita menunggu Embah tengah menjalankan ritual istimewa dengan bunga segar," kata Sodom, lalu mempersilakan Danu dan keempat anak muda itu duduk di balai-balai kediaman Embah Sawi.


Rumah itu terpencil dari rumah-rumah penduduk lainnya, selain bangunan utama yang ditinggali Embah Sawi di samping kiri satu rumah dan di samping kanan ada satu rumah yang ukurannya lebih kecil dari rumah utama. Sementara di belakang juga ada bangunan yang lebih luas daripada ketiga rumah di depan. Bangunan itu mirip gudang dengan di sisi-sisinya dan di belakang pohon-pohon rindang sehingga terkesan angker dan menyeramkan.


Danu, Darpin, dan ketiga kawannya hanya duduk-duduk dengan kondisi tubuh sudah mulai terserang kantuk karena belum tidur sejak semalam bersua dengan Danu.


Melihat kondisi itu Danu minta izin kepada Sodom agar keempat anak muda itu numpang memejamkan mata seenak.


"Bukan tidak sopan, tampaknya anak-anak kelelahan semalam belum tidur, mohon izin mereka untuk beristirahat Bang," kata Pak Danu kepada Sodom.


"Boleh, boleh, untuk saat ini. Tapi nanti jangan dilakukan lagi. Mana ada jagoan kena godaan kantuk, mau diambil nyawa dengan mudah oleh musuh?" sindir Sodom.


Mendengar kata-kata Sodom, Darpin cees yang tadinya sudah gembira dipersilakan memejamkan mata meski sejenak, menjadi tak enak, kantuk pun seolah beranjak entah ke mana.


"Hahaaaa......jangan baper gitu. Ayo anak-anak muda kalau mau israhat, istrahatlah. Nanti gue ajarin bagimana tahan kantuk biar tak mengganggu," ujar Sodom terkekeh.


"Siap, Paman. Mohon izin ya istirahat sebentar," kata Darpin

__ADS_1


Namun baru saja Darpin, Doma, Benco, dan Gonto, merebahkan tubuh ke papan kayu balai-balai rumah, tiba-tiba terdengar jeritan suara wanita yang amat menyayat hati. (Bersambung)


__ADS_2