Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 103. Menyerupai Ustaz


__ADS_3

Lama tak ada yang bicara, akhirnya Bu Windi menyatakan perlu mendatangkan orang pintar ke rumahnya.


"Tampaknya kita harus mendatangkan orang pintar ke rumah ini untuk mengusir makhluk gaib yang selama ini mengganggu orang di sini maupun yang tidak di sini seperti Yati, Wati, dan Pak Rudi serta Inah," ujar Bu Windi.


"Orang pintar, Bu?" tanya Imas.


"Iya orang pintar," jelas Bu Windi.


"Apa tidak sebaiknya langsung saja ke bapaknya Anwar, Ustaz Hamid?" ujar Rama.


"Itu lebih bagus. Tapi kira-kira Bapakmu tidak lagi sibuk, War?" tanya Bu Windi melirik Anwar.


"Entahlah Bu. Akan saya coba hubungi dulu. Saya sudah mengerti apa yang dialami oleh semuanya dan pastinya Bapakku bakal memberikan solusi bagaimana sebaiknya menghadapi masalah seperti itu," kata Anwar.


Anwar pun lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah depan rumah lalu menelepon bapaknya dan meceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Bu Windi dan yang lainnya.


"Kalau tak lagi repot bisa enggak Bapak ke rumah Bu Windi, biar saya jemput," ujar Anwar di telepon.


Ustaz Hamid menyatakan kesediaannya dan meminta dijemput saja oleh Anwar.


Anwar lalu masuk lagi ke ruang tengah dan menceritakan hasil menelepon barusan bahwa bapaknya siap datang ke sini dan Anwar sendiri yang akan menjemputnya.


"Bapak saya siap ke sini Bu. Saya akan jemput sekarang," tukas Anwar.


"O ya, bagus. Tapi jemput pakai mobil saja biar nyaman, War. Ayo To, jemput Pak Ustaz," titah Bu Windi kepada Toto.


"Siap, ayo Kak Anwar," ajak Toto, sembari bergegas mengambil kunci mobil.


Setelah kunci mobil didapatkan, Toto dan Anwar pun segera pergi menjemput Ustaz Hamid.


Setelah kepergian Toto dan Anwar Bu Windi ingat akan niatnya untuk mempekerjakan lagi Pak Muslih dan Bu Ratih mengelola sawah dan ladangnya karena kini terbengkalai karena tak ada yang mengurus.


"Gini Ram. Ibu punya niat minta tolong kepada Rama," ujar Bu Windi seperti masih ragu-ragu mengatakannya.


"Minta tolong apa Bu. Insyaallah jika saya mampu akan saya bantu," timpal


Rama dengan meyakinkan.


Seperti biasanya Rama selalu siap membantu siapa pun jika memang mampu melakukannya.


"Rama juga kan tahu dulu sawah dan ladang digarap oleh pamanmu Tanu, lalu juga oleh bapak dan ibumu. Namun tiba-tiba ada masalah sehingga bapak dan ibumu mundur, pamanmu Tanu sudah almarhum, jadi kini sawah ladang peninggalan suami ibu agak terbengkalai, hanya orang-orang yang ikut membantu kecil-kecilan, tidak fokus seperti paman dan bapakmu dulu. Nah ibu minta tolong bisakah kiranya Rama menyampaikan niat ibu ini meminta agar Pak Muslih bersedia mengelola sawah dan ladang Ibu?" kata Bu Windi serinci mungkin.

__ADS_1


"Oh soal itu Bu? Ya, insyaalllah akan Rama sampaikan ke Bapak. Semoga Bapak dan ibuku berkenan. Bahkan mungkin saya juga akan membantu," kata Rama membuat hati Bu Windi gembira.


"Nah coba saja sampaikan ke bapakmu ya Ram. Kalau kamu mau membantu ya lebih baik biar ada kegiatan," ujar Bu Windi.


Tiba-tiba di luar ada yang mengetuk-ngetuk pintu, Imas segera bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan ke depan.


Imas terkejut karea ternyata yang mengetuk pintu itu Ustaz Hamid, namun hanya sendiri.


Imas belum mempersilakan Ustaz Hamid masuk, tetapi masuk dulu menemui Bu Windi.


"Bu, itu Ustaz Hamidnya sudah datang, tapi hanya sendiri kan lagi dijemput oleh Kak Anwar dan Kak Toto?" ujar Imas.


Bu Windi pun lalu bangkit dan menuju ruang depan bersama Imas. Begitu tiba, Imas kaget karena Ustaz Hamid sudah duduk di kursi ruang tamu, sambil cengengesan. Ini bukan kebiasaan UstazHamid.


"Oh, Ustaz. Kok datang sendiri, kan lagi dijemput sama ponakanku dan putra Ustaz, Anwar?" ujar Bu Windi.


"Hehehe.....hahaaaa......" ujar orang yang mirip Ustaz Hamid itu.


Mendengar tawanya Bu Windi jadi curiga, jangan-jangan....namun dicoba ditepis dulu. Siapa tahu memang benar ini Ustaz Hamid.


"Kalau begitu, ayo di ruang tengah aja Ustaz berbincangnya biar leluasa," ajak Bu Windi.


Dia pun menatap satu per satu orang yang ada di situ. Ketika tatapan matanya melihat Bi Utih, sontak ia tertunduk, seperti tak kuat menatap mata Bi Utih.


Selain itu, tiba-tiba listrik di rumah Bu Windi padam seketika sehingga di ruang tengah itu menjadi gelap, hanya diterangi cahaya dari luar.


"Lho kok listriknya mati?" ujar Bu Windi terkaget-kaget.


"Biar, enggak usah apa-apa, begini enak kan, hehehee......ahahaaaa........" ujar orang mirip Ustaz Hamid itu membuat yang mendengarnya tiba-tiba merinding bulu kuduk.


"Coba terangkan apa yang kalian alami selama ini? Ada yang mengganggu kan lewat mimpi-mimpi yang menakutkan?" ujar orang mirip Ustaz Hamid itu.


"Eu....iya, iya, Ustaz," ujar Bu Windi sedikit ragu bicara melihat orang mirip Ustaz Hamid itu tangan dan kakinya tak diam. Pandangannya sesekali menatap Bi Utih, namun anehnya Bi Utih hanya diam membisu dengan pandangan mata seperti melotot ditujukan ke arah orang mirip Ustaz Hamid.


"Sebenarnya tak usah ribut soal itu. Itu kan ulah kalian juga," ujar Orang mirip Ustaz Hamid.


"Maksudnya?" Bu Windi memaksakan diri bertanya walaupun sebenarnya dia sudah bisa mencerna bahwa orang mirip Ustaz Hamid ini kok malah menyalahkan dirinya padahal maksud dipanggil untuk diminta pertolongan agar tak lagi diganggu makhluk gaib.


"Ustaz, kok bicara begitu?"


"Sudah, jangan ditanggapi! Dia dedemit yang mencoba menggangu kalian. Hai iblis, enyah kau dari sini! Berani-beraninya kamu melawan saya? Bukankah saya sudah wanti-wanti jangan lagi ikut campur dengan urusan dunia nyata, kamu sudah terkurung di negara saya, tapi kalian kabur lagi. Ayo pergiiiii........!" koar Bi Utih sambi menunjuk-nunjuk orang mirip Ustaz Hamid.

__ADS_1


"Ampun Ratu, ampun.........!" ujar orang mirip Ustaz Hamid itu sambil berlari keluar rumah dan tidak tampak lagi batang hidungnya.


Tiba-tiba lampu yang tadi padam menyala kembali. Namun bersamaan dengan itu, tiba-tiba Bi Utih ambruk ke lantai.


"Bi?!" teriak Bu Windi


"Bu!?" Imas menjerit melihat ibunya seketika pingsan.


Imas segera megambil air hangat di termos, kemudian dituangkan ke gelas untuk diminumkan kepada ibunya.


Setelah selesai menuangkan air hangat, lalu Imas membawa ke ibunya.


"Bu, sadar Bu. sadar, Ini minum dulu," ujar Imas yang kadang-kadang menyebut Bu kepada Bi Utih, terkadang menyebut Emak.


Tampaknya Bi Utih sudah siuman. Dia meneguk air hangat yang diberikan Imas. Lalu memandangi orang-orang di sekelilingnya.


"Ada apa ini, kok Bibi lemes banget," ujar Bi Utih kepada Bu Windi.


"Ada kejadian aneh Bi. Ada orang mitp Ustaz Hamid, lalu menyudutkan kita katanya jangan hiraukan teror di mimpi itu karena semuanya ulah kita," tegas Bu Windi.


"O ya? Mana sekarang orangnya?"


"Pergi entah ke mana. Kan Bbi yang mengusirnya!" kata Bu Windi.


"Hah? Saya tak merasa mengusir siapa pun Bu. Saya barusan justru sedang tidur di kursi, tak tahu ada siapa yang datang......kan tadi katanya Toto dan Anwar akan menjemput Ustaz Hamid," kata B Utih menginat-ingat lagi apa yang terjadi seblum dia tak sadarkan diri dan terjatuh ke lantai.


"Ini benar-benar teror yang membuat kita kehabisan cara bagaimana mengatasinya," ujar Bu Windi.


Tak lama berselang terdengar mobil berhenti. Imas bergegas ke depan. Terlihat mobil Bu Windi yang digunakan untuk menjemput Ustaz Hamid.


Toto, Anwar, Ustaz Hamid, dan bahkan Pak Muslih pun ikut serta. Lalu mereka disuruh masuk ke ruang tengah saja.


"Assalaamualaikum," kata Ustaz Hamid memasuki rumah dan dijawab serempak oleh Bu Windi dan yang lainnya.


Lalu Ustaz Hamid dan Pak Muslih diikuti Anwar dan Toto masuk ruang tengah.


"Apa kabar Bu Windi?" tanya Ustaz Hamid, setelah duduk di kursi berdampingan dengan Pak Muslih.


"Alhamdulillah sehat, baik, tapi juga prihatin," timpal Bu Windi.


Imas dibantu Wati dan Yati gegas ke dapur menyediakan jamuan untuk Ustaz Hamid dan Pak Muslih. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2