
Apakah dia Tarso atau orang lain? Keduanya belum mendapatkan jawaban pasti.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya anak buah Embah Sawi yang pertama kali mendengar teriakan minta tolong.
"Iya bagaimana ya?" timpal temannya.
Tiba-tiba dari arah atas jalan ada dua orang pria sedang berjalan. Makin dekat makin jelas bahwa keduanya adalah anak buah Embah Sawi juga. Memang anak buah Embah sawi kebanyakan diambil dari kampung-kampung sekitar dan mereka kerap bolak-balik ke rumah menemui keluarganya.
"Tuh kebetulan ada teman kita!"
"O ya betul juga ya."
"Sedang apa kalian di sini?" tanya anak buah Embah Sawi yang tengah lewat.
Anak buah Embah Sawi yang pertama kali mendengar teriakan menerangkan apa yang terjadi.
"Nah sekarang cepat ke Paman Sodom, laporkan di dekat rumah Tarso ada kejadian dan Tarso serta Sukinah tidak ada di rumah," katanya.
Kedua temannya yang akan ke rumah Embah Sawi pun gegas pergi untuk melaporkan apa yang terjadi di sekitar rumah Tarso.
Satu jam kemudian rombongan anak buah Embah Sawi, termasuk Sodom, Darpin cees menggunakan mobil Jeepnya datang.
Mereka pun lalu menuruni jurang itu dengan hati-hati, dan didapati dua sosok jasad pria dan wanita yang sudah tak bernyawa, yaitu jasad Tarso dan Sukinah.
Sodom amat terkejut atas kejadian itu. Lalu dengan susah payah membawa jenazah Tarso dan Sukinah untuk dikuburkan tak jauh dari rumahnya yang kini sudah kosong.
***
"Tiga kejadian misterius itulah yang tengah dipikirkan aku dan si Embah sekarang, Danu!" kata Sodom menjelaskan lagi.
"Tapi mudah-mudahan gadis kelima yang kudapatkan hari ini berkenan di hati si Embah, Paman," kata Danu.
Dia akan sangat menyesal jika gadis yang terakhir dibawanya dengan susah payah dan melibatkan Tanu tak bisa menjadi tumbal.
__ADS_1
"Bukan masalah gadisnya. Gadis-gadis yang kaubawa semuanya pasti diminati si Embah.
Persoalannya ketika gadis itu mau dicicipi, justru ada hal aneh. Biasanya si Embah sangat dipuaskan dengan gadis-gadis persembahan, namun ketika mencicipi gadis bernama Yati, justru si Embah mendapat musibah, pusaka dan bibirnya dilukai!" Sodom kembali mengingatkan Danu.
"Aku sendiri sebenarnya tengah menghadapi masalah Paman. Kini aku menjadi buruan aparat karena aku tertangkap polisi dan sempat ditahan di kantor polisi," kata Danu.
Kini saatnya dia berterus terang kepada Sodom dan Embah tentang apa yang tengah dialaminya.
"Apaaaa???" Sodom terperangah mendengar kabar bahwa Danu sudah berurusan dengan polisi bahkan kini dia dalam status sebagai buruan atau buronan.
Ini secara tidak langsung menjadi ancaman kepada Embah Sawi termasuk juga dirinya sendiri.
"Mengapa bisa terjadi, Danu?" Sodom memandangi mata Danu dengan tatapan jahat.
Lalu Danu menerangkan kronologi kejadian di hari kedua Lebaran itu, mulai kedatangan Tanu, Bi Utih dan Rama, lalu tak lama kemudian datang polisi dan menangkapnya lalu dibawa ke kantor polisi dengan tangan diborgol.
Dia dimintai keterangan di kantor polsek, melumpuhkan seorang penjaga dan berhasil merebut pistolnya, merampas motor, ke rumah Tanu, hingga menemukan seorang gadis yang kini telah berada di tempat Embah Sawi.
"Beruntung saya dikasih genianggara hingga aku bisa kabur dan merebut pistiol, Paman," kata Danu sambil memperlihatkan pistol itu kepada Sodom.
"Siap Paman. Memang itu yang akan kulakuan jika polisi mengejar ke sini," ucap Danu.
Kini dia merasa lega karena sudah menceritakan apa yang telah menimpa dirinya. Tinggal berharap semoga tiga hal misterius yang tengah dihadapi Paman Sodom dan si Embah bisa segera teratasi.
Tak terasa malam sudah tiba. Seperti malam-malam sebelumnya di kawasan itu terasa senyap, sunyi, membuat bulu kuduk merinding bagi orang yang belum biasa.
Ya, bagi Tanu, suasana di tempat itu sungguh sunyi. Dia dibawa Benco ke suatu kamar di rumah mirip gudang di bagian belakang.
Dia terus diawasi Benco dan beberapa anak buah Embah Sawi agar jangan sampai lari. Dia pun dikasih makan alakadarnya. Lumayan bisa mengganjal perut.
Tanu tak tahu di mana kini keberadaan Danu. Sialan, katanya mau menjemput Iis dan menukarnya dengan gadis yang telah diculiknya, namun hingga malam ini belum ada tanda-tanda ke arah itu.
"Sialan si Danu!" gumam Tanu di dalam hatinya menyumpahi kelakuan majikannya yang telah bertahun-tahun ia bantu untuk memperkaya dirinya.
__ADS_1
Malam kian larut ketika Tanu melihat Benco sudah telentang tidur dengan ngorok yang amat nyaring terdengar. Pun beberapa anak buah si Embah ada yang duduk sambil mengantuk bahkan tertidur.
Tanu bangkit mengendap-endap mendekati kamar per kamar yang ada di bangunan belakang rumah Embah Sawi itu. Mujur para penjaga sudah kelelahan, tak seorang pun terjaga.
Padahal biasanya secara bergiliran mereka menjaga para tahanan agar tidak kabur. Namun malam itu mendadak mereka sangat ngantuk sehingga tak bisa menahan lagi rasa ingin tidur.
Itu semua tak lain karena kesakten Kentingmanik yang menaburkan aji bayukinasih untuk melumpuhkan para penjaga di sekitar rumah mirip gudang yang di dalamnya terdapat tempat penyekapan para tahanan gadis.
Kentingmanik sengaja melakukan itu agar Tanu bisa leluasa mencari-cari keberadaan anaknya Iis sehingga Tanu menyadari betapa kejamnya ulah Danu yang selama ini dibantunya.
Kentingmanik pun tak bemaksud mambantu Tanu, dia hanya ingin membantu Tanu bisa melihat anak gadisnya disekap, kemudian muncul niat utuk balas dendam kepada Danu.
Benar saja, ketika Tanu mendekati sebuah kamar yang di dalamnya diterangi lampu tempel yang tergantung, Tanu melihat melalui lubang anak kunci. Tampak anaknya, Iis sedang terisak.
"Iis, anakku!?" jerit batin Tanu.
Tiba-tiba muncul amarah meluap-luap di dada Tanu. Degup jantungnya berdetak kuat menahan amarah yang amat dahsyat. Tangan kanannya mengepal membuat tinju yang siap dibogemkan ke wajah Danu.
"Rasain kamu Danu! Biadab, tega-teganya kau menyiksa anakku. Bertahun-tahun aku membantu memperkaya kamu, imbalannya membuat tersiksa anak saya!" koar Tanu lagi dalam hatinya.
Tanu pun kembali melihat lubang anak kunci, terlihat di sana juga ada Wati, keponakannya, ada Yati anak Pak Rudi, ada Imas anak Bi Uth, ada Iis anaknya sendiri, dan juga gadis yang diculiknya siang tadi.
Tanu menarik napas kasar saking kesal. Lagi-lagi mengepalkan tinju di tangan kanannya.
Namun, tiba-tiba kerah baju bagian belakang Tanu ada yang menariknya. Ketika Tanu berbalik melihatnya, ternyata sudah ada tiga orang di sana, satu di antaranya si Benco. Tampaknya dia sudah bangun.
"Sedang apa kau di sini hah?" tanya salah seorang anak buah Embah Sawi.
Tanu terdiam tak bisa menjawab. Dia tak tahu harus berbuat apa guna melawan ketiga orang itu, sedangkan tadi saja dia sudah merasakan bagimana dahsyatnya cengkeraman tangan si Benco.
"Tega-teganya kalian menyekap anak gadis orang, termasuk anakku!" akhirnya Tanu memberanikan diri mengadakan perlawanan.
"Hahaaa.....baru tahu ya? Sudah jangan banyak omong, ayo ikut!" kata salah seorang anak buah si Embah.
__ADS_1
Tanu kemudian diseret dari tempat itu akan dilaporkan ke Sodom. Dia tak bisa berbuat apa-apa ketika tubuhnya dicengkeram tiga orang termasuk si Benco yang membuat Tanu terheran-heran karena sikapnya sangat berubah menjadi galak dan menakutkan. (Bersambung)