Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 30. Cerita Anggraeni dan Sarkawi


__ADS_3

"Aku sudah menemukan orang pintar itu Ratu. Mereka bukan saja telah menodai seorang gadis yang kubawa darahnya ini, namun merencanakan untuk lebih banyak lagi menodai para gadis!" kata Kentingmanik.


Ratu Mayanggeni sangat murka mendengarnya. Ternyata orang pintar itu telah merencanakan sesuatu yang tentunya sangat membahayakan sehingga membuatnya sangat gusar.


"Siapa dia Kentingmanik?" tanya Ratu.


"Dia, dia, dia....emmmmm, apakah Ratu tidak akan marah?" Kentingmanik sepertinya ragu-ragu untuk mengatakan siapa sesungguhnya orang pintar yang telah diminta pertolongan oleh para penjahat kelamin tersebut.


"Mengapa aku harus marah Kentingmanik? Ayo katakan jangan ragu-ragu!" titah Ratu Mayanggeni sudah tidak sabar.


"Dia mantan Nyi Ratu...." ujar Kentingmanik pelan.


"Apaaaaaaa?" Mayanggeni bertanya dengan suara amat lantang hingga membuat penghuni Kerajaan Dedemit Sumur Tua harus menutupi lubang telinganya.


"Ya, Ratu. Dia, dia, musuh bebuyutan Ratu."


"Si Sawiiiiiiii? Jahanam! Brengsek! Makhluk terkutuk! Tak salah perkiraan Aku pasti dia yang menjadi biang keroknya!" koar Nyi Ratu.


Tiba-tiba ia tercenung. Pikirannya kembali ke masa lalu ketika dia masih berada di jagat nyata.


Adalah seorang gadis manis berusia 17 tahun yang lagi mekar-mekarnya. Fisik gadis itu meski usianya masih belia, namun tubunya padat berisi. Wajahnya yang kemayu, kulit putih, senyum manis, gunung kembar di dadanya tampak padat berisi, membuat setiap lelaki ngiler ingin mencicipinya.


Akan tetapi si gadis tak membiarkan tubuhnya dijamah siapa pun sebelum saatnya sah atau halal menurut hukum agama maupun negara. Apalagi, dia sudah punya pacar.


Untuk pacarnyalah ia akan persembahkan tubuh seksi dan cantiknya jika sudah resmi menikah. Tentu saja itu semua terjalin atas cinta sama cinta. Tanpa cinta, mana mungkin terjalin hubungan yang bakal akrab.


Gadis itu bernama Anggraeni, sementara sang pacar bernama Sarkawi. Dalam pandangan Angraeni Sarkawi adalah pemuda tampan dan sangat perhatian, bahkan terkesan saleh, paling tidak ketika bersua dengannya dia selalu mengucapkan salam.


Ketika berdekatan, Sarkawi tak pernah sekalipun menjamah tubuh Anggraeni. Ini membuat kepercayaan Anggraeni makin tebal dan yakin sang pacar akan melindungi hingga pada akhirnya keduanya akan menikah dan berumah tangga.


"Eni, jangan ragukan cinta Kakak padamu. Kakak akan mencintaimu sepenuh hati, Kakak akan menjagamu dari gangguan apa dan siapa pun yang bisa mencelakai kamu. Mari kita pelihara cinta kasih ini hingga kita bersanding di pelaminan dan mengayuh mahligai rumah tangga hingga kita punya keturunan," kata Sarkawi.

__ADS_1


"Terima kasih atas perhatian Kakak padaku. Moga itu menjadi kenyataan. Aku takkan rela jika kata-kata manis Kakak itu cuma isapan jempol, cuma pemanis bibir untuk mengelabuiku," ucap Anggraeni.


"Hus, janga jauh-jauh bilang mengelabui segala macam Eni. Percayalah pada ucapan Kakak. Yuk kita pegang sama-sama janji kita untuk tetap menjalin untaian cinta dan kasih sayang," kata Sarkawi dengan tatapan matanya yang tertuju pada mata Anggraeni. Yang ditatap cuma tersipu.


Yakin dengan ungkapan-ungkapan manis sang pacar, Anggraeni, gadis manis yang lagi mekar-mekarnya itu percaya saja ketika di suatu sore nan cerah dibawa jalan-jalan ke pinggiran Sungai Cilampit.


Dan di serambi gudang itu, keduanya duduk di bangku kayu yang telah tersedia sambil bercengkerama memadu kasih. Sampai saat itu Sarkawi masih tampak kealimannya dan Anggraeni pun tak menaruh curiga apa-apa.


Hingga tiba-tiba langit mendadak gelap, awan mendung oleh gumpalan awan hitam akan turun hujan. Benar saja tak lama kemudia turun hujan dengan derasnya bagaikan ditumpahkan dari langit.


Sarkawi dan Anggraeni kecipratan air hujan cukup banyak.


"Ayo Eni kita ke dalam gudang, di sini kehujanan!" ajak Sarkawi.


Bicara begitu dia sambil mencekal lengan kanan Anggraeni. Sontak Anggraeni terkejut, bahkan jantungnya mendadak berdebar-debar melihat ulah pacarnya yang tak biasanya berani memegang lengannya.


Anggraeni pun menolak pegangan tangan Sarkawi.


"Cuma pegangan tangan lah, gak apa-apa. Hitung-hitung latihan kalau kita sudah resmi menikah nanti," ujar Sarkawi.


Kini dia bicara dengan tatapan mata mengandung hasrat berahi yang membuat Anggraeni mulai curiga.


Mata Sarkawi jelalatan memandangi tubuh 'aduhai' Anggraeni, mulai kaki hingga rambut kepala Anggraeni, gadis cantik yang memesona.


Cuaca dingin dan guyuran air hujan serta gelegar halilintar di luar menjadi simfoni indah yang terus membakar hasrat berahi lelaki musang berbulu domba.


"Kita tidak tahu nasib ke depan bagaimana sayang, apakah aku benar-benar bisa menikahimu atau tidak? Makanya, ayolah kita memadu kasih sekarang biar tidak penasaran kalau kita gagal menikah," ujar Sarkawi sembari menyenderkan tubuh Angraeni ke sisi dinding gudang.


"Istigfar Kak, istigfar, bukankah Kakak berjanji akan melindungi dan menyayangiku? Jika Kakak memaksaku untuk menyerahkan kesucianku yang belum waktunya, itu bukan tanda melindungi dan menyayangi, namun merusak, menodai, dan kelak akan menuai azab," lirih Anggraeni masih berusaha berbuat ramah.


Bening di matanya sudah mulai tampak, jantungnya berdegup kencang, batinnya berdoa semoga ada pertolongan.

__ADS_1


"Yang namanya cinta, yayangku, puncaknya adalah kepuasan berahi. Sekarang atau nanti sama saja. Selagi kita tetap saling mengasihi, mencintai, maka tetap kita akan bersatu...."


"Brengsek, bajingan, pria apaan kamu Sarkawi?"


Akhirnya emosi Anggraeni sudah memuncak. Situasi dan tempat yang membuat dirinya tak berdaya akhirnya mendorong keberanian tanpa memikirkan akibat yang bisa diterima meski harus bertaruh nyawa.


"Hahaaaaa......gadis cantikku ada keberanian. Melawan, tampaklah aslinya. Dan itu membuat berahiku kian memuncak. ayolah sayang kita mulai......" rayu Sarkawi sembari mulai nakal menggerayangi bagian-bagian tubuh sensitif Anggraeni.


"Lepaskan, bajingan!"


"Bugh!!!!" sebuah tendangan kaki Anggraeni telak mengenai ************ Sarkawi.


"Oaaaaadoooooow!! Brengsek! Burungku kau terjang?" koar Sarkawi.


Seketika ia menghampiri tubuh Anggraeni. Kedua telapak tangannya sudah mengunci rapat leher wanita yang dipacarinya bagaikan tang pencabut paku.


"Rasakan nih, wanita dedemit!" ujar Sarkawi sambil mencekik leher Anggraeni sekeras-kerasnya hingga gadis berusia 17 tahun itu pun terkulai lemas, pingsan tak sadarkan diri, bahkan tak lama kemudian meregang nyawa.


"Nah......kalau sudah mati kan enak aku menggarapnya. Aku yakin kalau masih hidup pasti kau tak mau, kalau sudah mati masa sih mau menolak juga?" gumam Sarkawi sembari melucuti pakaian perempuan bernasib malang itu. Lalu giliran pakaian yang dikenakannya satu per satu dibuka juga.


Sungguh tak berperikemanusian Sarkawi menodai wanita yang sudah tak bernyawa dengan lahapnya. Usai melampiaskan hajat bejatnya, ia tercenung bingung.


"Harus dibawa ke mana jenazah Anggraeni? Dibiarkan tergeletak? Kalau diketahui orang, pasti dia akan ditangkap karena dia pacarnya. Dibuang ke Sungai Cilampt biar hanyut terbawa arus? Mujur kalau hanyut langsung ke muara dan ke laut. Kalau tersangkut dan diketahui orang?" batin Sarkawi.


Ketika di pinggir gudang melihat ada sumur. Maka, sarkawi pun memutuskan akan membuang jenazah Anggraeni ke dalam sumur. Niat itu dilaksanakan.


Saat itu darah Anggraeni diketahui siluman sumur dan menjadi penghuninya untuk kemudian menjadi ratu di Kerajaan Dedemit Sumur Tua dengan nama Nyi Ratu Mayanggeni.


Sementara Sarkawi usai kejadian itu pergi jauh untuk menghindari kejaran keluarga Anggraeni dan aparat berwajib.


Merasa sukses menodai wanita hingga tewas, Sarkawi kian berani melakukan rudapaksa kepada wanita-wanita lainnya, terutama para gadis. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2