Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 57. Dibuang ke Jurang


__ADS_3

"Iya dedemit," timpal Darpin.


Ketiga kawannya geleng-geleng kepala. Darpin ingat lagi ketika dipermainkan dedemit mulai bangun dari dangau, lewat gudang, ditipu penjual gorengan, hingga di Sungai Cilampit saat uang hasil merampas dari ibunya tenggelam dan hanyut.


Namun kini dia mampu mendeteksi dedemit sehingga bisa melawan. Ini semua tak lain karena bantuan azimat ampuh yang dimilikinya.


Maka, tak heran kalau dia makin percaya pada kemampuan azimat dan kesaktian Paman Sodom serta Embah Sawi.


"Sudahlah kita jangan takut lagi dengan kehadiran para dedemit dengan cara apa pun. Dengan kesakten azimat genianggara, mereka takkan mampu mengalahkan kita," ujar Darpin.


"Sekarang yang harus kita waspadai para cecunguk si Rama cees. Sialan, aku tak berhasil membunuh musuhku si Warya gegara babi hutan brengsek itu!" imbuh Darpin lagi.


"Benar Bos. Mereka pasti melapor ke aparat. Itu artinya kita dalam bahaya," kata Doma.


"Makanya, segera angkut tuh sepeda motor tiga-tiganya, juga jenazah si Udin, si Odos, dan si Somad untuk menghilangkan jejak. Pasti para cecunguk itu membawa polisi ke sini."


"Siap Bos!" sahut Doma, Benco, dan Gonto.


"Cepat kerjakan, takutnya mereka ke sini sekarang-sekarang!" perintah Darpin.


Maka Doma, Benco, dan Gonto pun segera saja mengangkut sepeda motor dinaikkan ke kap mobil dua buah, satu buah dipaksa masuk ke dalam. Lalu motor yang di atas diikat dengan tali tambang yang telah tersedia, maklum namanya penculik sudah melengkapi mobil dengan segala benda yang dibutuhkan.


Setelah motor masuk ke dalam mobil lalu dimasukkan pula jenazah si Udin, si Odos, dan si Somad yang masih berlumuran darah.


Darpin memegang kemudi, di sampingnya berdesakan tiga rekannya. Mobil pun melaju ke arah sebaliknya.


Setelah melaju sekitar empat kilo meter dari tempat kejadian, Darpin menghentikan mobil. Dia melihat di pinggir jalan itu jurang cukup dalam dan pastinya curam.


"Buang tuh ke jurang sana manusia-manusia tak berguna itu!" titah Darpin.


"Tidak periksa dulu dompetnya, Bos?" tanya Benco.


"Ide cemerlang tuh Ben! Ayo lakukan!"


Dengan santainya Benco mengambil dompet milik si Udin. Si Doma mengambil dompet si Odos, sedangkan si Gonto megambil dompet si Somad.


"Wah Bos, banyak uangnya. Saya hitung ya. Ada empat juta!" kata si Benco.


"Iya itu uang pemberianku. Dasar si Udin bodoh ngomong sembarangan. Kalau diem, pasti uangnya bakal bertambah, uh. Sinikan!" kata Darpin.

__ADS_1


"Kirain untukku, kan aku yang punya idenya, Bos?" seloroh si Benco.


"Kalau yang ngasih uangnya kamu bolehlah ambil. Tapi kan ini uangku, uang bapakku," kilah Darpin.


Apa boleh buat si Benco pun akhirnya cuma bengong dengan tatapan kosong usai menyerahkan uang semuanya kepada si Darpin.


"Ayo buka tuh dompet si Odos dan Somad!"


Doma membuka dompet si Odos, Gonto membuka dompet si Somad. Ditemukan uang dua juta dan itu pun harus diberikan semuanya kepada si Darpin.


"Ayo lemparkan ke jurang, cepat!" kata si Darpin kepada tiga rekannya.


Maka satu per satu jenazah preman bernasib malang itu dilemparkan ke jurang tanpa ampun.


Setelah itu Darpin melajukan lagi mobilnya menuju kediaman Embah Sawi untuk lapor kepada Paman Sodom atas apa yang dialaminya.


Setibanya di kediaman Embah Sawi, Darpin cees menemui Paman Sodom yang kebetulan tengah berada di serambi rumah.


Melihat mobil Darpin datang dan di atasnya ada sepeda motor, Paman Sodom kaget juga, namun bahagia karena pasti anak buahnya telah berhasil melakukan sesuatu.


Darpin cees kemudian menurunkan sepeda motor, lalu di bawa ke garasi mobil Darpin yang dibikin khusus dari bambu dan kayu serta tak sembarangan orang boleh masuk.


Setelah mobil dan motor aman di garasi sederhana, Darpin langsung menemui Paman Sodom. Tak tampak Embah Sawi, entah ke mana, atau mungkin tengah tidur jelang sore.


"Maaf-maaf saja Paman kalau kami salah ucap dan tindak terkait sepeda motor ini," kata Darpin.


Paman Sodom menegakkan tubuhnya lebih tinggi dari asalnya yang cuma duduk bersila biasa. Tangan kirinya disimpan di atas paha kirinya, sementara tangan kanannya megelus-elus kumis tebalnya.


"Hmmm.....tampaknya kalian membawa masalah! Awas saja kalau ketahuan si Embah yang kini lagi memandangi dua gadis temuan kalian," kata Paman Sodom dengan suara seramnya.


"Makanya saya tadi bilang mohon maaf jika salah ucap dan tindak. Tapi sebenarnya saya ingin mengatakan betapa hebatnya Paman dan Embah. Kalau tidak karena kehebatan Paman dan Embah, kami berempat mungkin kini hanya tinggal nama," Darpin mulai pasang siasat demi melihat Paman Sodom yang akan marah.


"O ya?" kata Paman Sodom dengan mimik muka berubah ramah setelah mendengar puji sanjung dari Darpin.


"O, ya? Bagaimana ceritanya?" kepo juga tampaknya si Paman Sodom atas puji sanjung si Darpin.


"Iya paman. Tadi pagi kami berangkat dari sini membawa mobil maksudnya mau menculik perawan lagi karena baru dapat dua orang, masih kurang tiga lagi utuk memenuhi syarat ayahku mendapat azimat paket komplet. Namun sayang," ucap Darpin.


Dia tak melanjutkan omongannya. Sejenak menarik napas dalam-dalam sambil mengatur kalimat apa yang aman disampaikan kepada Paman Sodom. Sebab jika salah menyampaikan omongan, ancaman bahaya telah menanti Darpin cees.

__ADS_1


"Kenapa harus pakai namun segala Darpin? Ayo katakan sejujurnya, jangan ada yang disembunyikan di antara kita!" koar Paman Sodom dengan nada suara agak tinggi.


"Tenang dulu Paman. Maksud saya, namun tiba-tiba muncul musuh-musuhku dengan diiringi para penculik dua gadis kemarin. Dengan kehadiran musuh bebuyutanku secara sukarela dan langsung berhadapan deganku, aku senang karena tak perlu jauh-jauh mencari mereka yang amat berisiko jika aku mendatangi mereka ke kampung," kata Darpin tenang di balik kata-kata dustanya.


"O, terus?" Paman Sodom pun makin penasaran.


"Terus aku dan kawan-kawan menghadapi mereka hingga mereka lari kocar-kacir, tiga orang yang sebenarya itu kawan sekampung saya berhasil saya bunuh dan sepeda motornya saya rampas yang kami bawa tadi itu," ujar Darpin makin lancar saja berdustanya.


"Muridkuuuu....masa iya harus kalah oleh cecunguk yang mentah ilmu," puji Paman Sodom, sambil mengusap-usap kumis tebalnya.


"Itulah seperti saya bilang tadi Paman dan Embah benar-benar sakti dan kalau tidak karena kesaktian Paman dan Embah mugkin kami sudah mati," kata Darpin mengulang puji sanjungnya.


"Emangnya kalian bisa dikalahkan para bajingan musuh bebuyutanmu itu sampai bilang mungkin sudah mati? Kalau begitu berarti mereka sakti dong?" celoteh Paman Sodom.


"Bukan mereka Paman. Kan aku udah bilang tadi juga mereka lari kocar-kacir dan tiga orang tewas," sebut Darpin.


"Lalu siapa?"


"Babi hutan, Paman."


"Hah?"


"Iya Paman. Usai kami menghajar musuh-musuh kami tiba-tiba datang babi hutan yang menerjang kami. Aku sempat pingsan, namun tak lama karena buru-buru ingat kepada genianggara, azimat yang dikasih Paman itu. Aku pun melawan babi itu dan berhasil kutusuk perutnya hingga mati!"


"Lho, kok kalian bisa tiba-tiba diserang babi?"


"Itulah Paman. Dengan azimat yang saya kenakan pemberian Paman dan Embah, aku jadi tahu bahwa babi itu cuma dipinjam tubuhnya oleh dedemit yang selama ini suka mengganggu kami" kata Darpin.


"Hebat kau Darpin. Aku tak sia-sia memberimu bekal kesaktian, ternyata berguna kan?"


"Benar Paman, benar sekali," ucap Darpin.


Plong saja hatinya bangblas tak merasakan lagi kekhawatiran dan keraguan dikenapa-kenapain oleh Paman Sodom dan si Embah Sawi.


"Kalau begitu ya sudah. Kita sudah aman dari kejaran pihak berwaib maupun warga atas kasus penculikan. Tapi mengingat mereka sebagian berhasil lari, tentu ini jadi ancaman juga, Pin," kata Paman Sodom.


Dia dengar tadi dari Darpin bahwa dia hanya berhasil menewaskan tiga orang sedangkan yang lainnya kocar-kacir. Itu berarti masih ada yang hidup dan boleh jadi kembali dengan membawa polisi.


"Untuk itu tenang aja Paman. Pasti ayahku takkan tinggal diam, bakal mengurusnya karena ketika menerima dua gadis itu, kan bersama ayahku juga."

__ADS_1


"Ya syukurlah kalau begitu. Tapi kalau sampai ada apa-apa atas keterangan kamu barusan, awas saja!"


Kata Paman Sodom sambil memberikan isyarat telapak tangan kanannya digerak-gerakkan dekat lehernya. (Bersambung)


__ADS_2