Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 89. Meski Terlambat Datang Aparat


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar bunyi sirine. Ternyata rombongan aparat kepolisian yang telah mendapat petunjuk dari Toto, keponakan Bu Windi yang telah berkata jika ada polisi suruh tunjukkan secarik kertas. Toto sendiri tidak ikut dengan polisi karena harus menunggui rumah tantenya.


Ya secarik kertas itu petunjuk letak rumah Embah Sawi. Sayang kedatangan aparat terlambat karena sebelumnya telah terjadi perkelahian yang meyebabkan jatuhnya korban jiwa.


Mereka adalah para penjahat pimpinan Embah Sawi. Meski begitu bagi aparat agak kesulitan untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang aksi kejahatan Embah Sawi cees karena mereka tak bisa dimintai keterangan.


Mungkin polisi hanya bisa meminta keterangan kepada warga sekitar dan anak buah Embah Sawi yang masih hidup. Itu pun hanya beberapa gelintir yang kurang mendapat akses kepada para tokoh pentolan Embah Sawi.


Rama segera menghampiri polisi dan menerangkan apa yang terjadi sejak dini hari hingga siang itu.


Ternyata yang ikut dengan rombongan aparat bukan hanya jajaran aparat itu sendiri, tetapi ada pula Pak Muslih, Pak Haji Makmur, dan Ustaz Hamid, juga Pak RW.


Melihat Bi Utih dan beberapa perempuan pingsan serta mendapat penjelasan dari Rama, Ustaz Hamid segera bertindak memeriksa mereka dibantu Anwar dan Warya.


Sementara Rama melayani pertanyaan-pertanyaan yang diajukan aparat kepolisian, lengkap tak ada yang terlewat.


Rama pun menyebut para korban tewas adalah para pimpinanan penjahat, Rama menunjuk jenazah yang tergeletak siapa-siapa saja mereka.


"Para gadis yang disekap, alhamdulillah selamat, kecuali yang tadi bertarung, yaitu adik saya Wati, temannya Imas dan Yati, masih pingsan, dua orang ada di kamar penyekapan," kata Rama.


Beberapa petugas pun memeriksa rumah Embah Sawi juga ke rumah di kiri dan kanannya juga di belakang yang mirip gudang dan digunakan untuk menyekap para gadis tawanan.


Polisi pun sebagian mengurus jenazah yang tergeletak begitu saja dirapikan dan ditutupi dengan kain yang diambil dari rumah Embah Sawi.


Petugas lainnya memeriksa mobil yang parkir di situ, yaitu mobil Jeep milik Darpin, sepeda motor hasil curian Danu juga masih ada di sana. Sementara pistol diamankan Rama


lalu diberikan kepada petugas.


Tak lama kemudian seorang demi sorang yang raganya pingsan usai 'dipinjam' para dedemit kembali siuman.


"Ya Allah ini di mana. Haduh....tubuhku amat sakit," lirih Bi Utih.


Kini ucapannya seperti layaknya Bi Utih sehari-hari, tak ada main bentak main songong seperti tadi ketika masih 'dikuasai' dedemit Mayanggeni.


"Istigfar Bi, istigfar. Bibi tampaknya baru saja dimanfaatkan makhluk gaib. Tenangkan, baca surat Annas...." nasihat Ustaz Hamid setelah melihat Bi Utih siuman.


"Ya, Ustaz. Kok ada di sini, di mana ini?" tanya Bi Utih.


"Ayo minum dulu, Bi." Pak Muslih segera memberikan minuman botol yang dibawanya.


"Di mana ini? Di mana ini?" Giliran Bi Inah dan Bu Windi yang terkaget-kaget.

__ADS_1


Ustaz Hamid segera menenangkan Bu Windii dan Bi Inah dengan melafalkan bacaan-bacaan ayat suci untuk mengusir anasir jin jahat yang masih ada di raga para perempuan itu.


"Bapak?" tanya Wati begitu melihat bapaknya, Pak Muslih, ada di hadapannya.


"Annakku, kau baik-baik saja kan?" tanya Pak Muslih, begitu senang karena putri kesayangannya masih hidup.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja," timpal Wati.


"Ibuuuu......?" tiba-tiba Iis berlari demi melihat ibunya, Bi Inah, ada di situ.


"Iis, anakku? Bagaimana keadaanmu Nak?" tanya Bi Inah seraya menangis sambil merangkul tubuh anak gadisnya yang lama menghilang tak tahu hutan rimbanya, ternyata ada di sini.


"Iya Bu. Bagaimana keadaan Ibu? Kok ada di sini?"


Lalu Bi Inah pun menerangkan mengapa dia ada di sini, termasuk menerangkan bapaknya tak diketahui dan rumahnya terbakar.


"Bu, Bapak, itu, Bapak itu......hmmmm, hiks" Iis tiba-tiba menjerit histeris lalu menangis membuat orang-orang mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Bapakmu kenapa Nak?" tanya Inah terheran-heran.


"Bapak dibunuh bajingan si Darpin dan Bapaknya si Danu!" koar Iis.


"Apaaaa? Dibunuh? Mana jenazahnya?" tanya Inah.


Rama pun akhirnya melaporkan juga kepada aparat bahwa pamannya yang bernama Tanu dibunuh penjahat dan jenazahnya dikuburkan di sekitar sini.


"Coba saja tanyain anak buah orang


di sini barangkali ada yang tahu," kata petugas.


Rama pun mencari-cari anak buah Embah Sawi yang masih hidup dan disuruh menunjukkan di mana jenazah Tanu dikuburkan.


Kebetulan di antara mereka ada yang tahu sehingga Rama dan polisi tak sulit mencari-carinya lagi.


Menjelang sore hari setelah semuanya beres dan dipastikan orang-orang selamat, polisi mengevakuasi jenazah para korban amuk dedemit yang semuanya warga Kampung Mekarsari, Desa Mekarmulya.


Jenazah mereka akan dibawa pulang ke kampung halamannya. Bu Windi meski sangat sakit hati atas ulah suaminya mengharapkan suami dan anaknya dimakamkan di kampung halamannya.


Demikian pula Tanu atas permintaan Inah juga dibawa. Doma, Benco, dan Gonto, juga dibawa atas permintaan Pak RW.


Sedangkan jenazah Sodom dan Embah Sawi diserahkan kepada anak buahnya yang masih hidup untuk dikuburkan oleh mereka di sana.

__ADS_1


Jenazah dibawa menggunakan mobil, ditumpuk di mobil Jeep sebagian, sebagian lagi di mobil patroli polisi.


"Kak Rama, bagaimana Ira?" tanya Warya kepada Rama.


Ya, para gadis lainnya seolah dijemput oleh keluarganya. Yati oleh bapaknya Pak Rudi, walapun ibunya tak ikut. Wati oleh Rama dan juga Pak Muslih. Imas oleh Bi Utih, Iis oleh Bi Inah, sedangkan Ira tak seorang pun yang menjemput.


"Bagaimana ya War?" timpal Rama, dia pun masih kebingungan.


"Bagaimana kalau pinjam dulu motor curian itu ke polisi, nanti kalau sudah diantarkan ke kantor polisi," ujar Warya.


Ya, hanya Warya yang perhatian kepada Ira karena memang dia kenalannya. Warya juga belum tahu kenapa Ira bisa berada di sini dan siapa yang berbuat ulah. Yang pasti mungkin ulah Danu cees.


"Ya akan coba disampaikan," kata Rama, lalu menghubungi komandan aparat.


Ternyata diberi izin. Warya pun senang dan siap-siap akan membawa pulang Ira ke rumahnya di Kampung Karangsari.


Pukul tiga lebih tiga puluh menit, mereka meninggalkan tempat Embah Sawi yang kini tampak sunyi. Bau anyir darah masih menyeruak.


Beberapa anak buah Embah Sawi masih setia di sana apalagi ditugasi oleh aparat untuk menguburkan Sodom dan Embah Sawi.


Mereka pun diwanti-wanti oleh aparat agar jangan kabur karena sewaktu-waktu aparat bakal ke sini lagi jika proses hukum belanjut.


Di depan melaju mobil yang semula dibawa oleh Bu Windi, di dalamnya ada Bu Windi, Bi Inah, Bi Utih, Imas, Wati, Yati, dan Iis. Juga Pak Muslih, Pak RW, Ustaz Hamid, dan Anwar.


Mobil dikemudikan oleh Rama.


Sementara Warya menaiki motor bersama Ira. Sebelumnya Yati, Imas, dan Wati, serta Iis saling berangkulan dengan Ira.


"Kapan-kapan main ke rumah aku ya Ira. Semoga kita semua tak mengalami nasib buruk seperti ini," kata Yati.


"Iya Teh Yati, insyaallah Ira akan main ke sana," ujar Ira dengan perasaan terharu.


"Hat-hati di jalan ya War," kata Pak Haji Makmur demi melihat Warya mengantarkan Ira ke orangtuanya.


Pak Haji Makmur senang juga Warya mengantarkan Ira sebagai tanggung jawab karena sebelumnya, ibunya Ira datang ke rumahnya dan mengancam akan melaporkan ke polisi karena Warya dituding menjadi penyebab Ira hilang, padahal ada yang menculik.


Semula Warya masih bersama rombongan mobil polisi dan mobil Bu Windi serta Jeep yang saat itu dikendarai oleh salah seorang anggota polisi.


Namun setelah perjalanan sekitar 30 km, mobil rombongan belok ke kiri menuju Desa Mekarmulya, sedangkan Warya ke kanan menuju Kampung Karangsari.


Setibanya ke kampung halaman para korban, jenazah diurus sebagaimana mestinya atas saran dari Ustaz Hamid dan juga Pak RW.

__ADS_1


Walaupun mayoritas warga tahu persis kelakuan para korban itu, dengan nasihat dari Ustaz Hamid akhirnya warga pun mengikuti nasihat tersebut.


Bagaimanapun cerita keburukan orang itu dinilai ketika hidupnya, jika sudah meninggal maka selesailah penilaian itu kemudian diserahkan kepada Sang Pemilik, Tuhan. Manusia tak berhak lagi. (Bersambung)


__ADS_2