Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 40. Dihadang Pocong


__ADS_3

Gema azan isya berkumandang di Masjid Al Hasanah, Kampung Mekarsari, Desa Mekarmulya.


Warga pun bergegas keluar rumah menuju masjid jami kampung tersebut. Ketua DKM Ustaz Hamid langsung memantau keadaan di dalam masjid, mengatur saf para jemaah.


Dibagi dua saf besar yaitu di bagian depan khusus untuk jemaah pria, sedangkan di bagian belakang khusus untuk jemaah wanita. Begitu memang aturannya.


Yang berdatangan ke masjid bukan hanya para orangtua, melainkan juga anak-anak, para remaja, juga muda-mudi. Lebih-lebih para anggota Irma Al Hasanah, hampir semuanya hadir.


Ibu-ibu bersama anak gadisnya, kecuali yang berhalangan karena lagi "merah", tak ketinggalan memakmurkan masjid dengan salat berjemaah untuk ikut salat tarawih pertama di bulan Suci Ramadan ini.


Masjid pun sesak oleh jemaah yang bermasksud beribadah di bulan yang pahalanya berlipat-lipat itu, tentunya ibadah yang dilaksanakan dengan ikhlas, semata-mata karena mengharap rida Allah.


Tak ketinggalan keluarga Haji Makmur berada di saf paling depan, juga Warya, dan ibunya Hajah Tita bergabung dengan ibu-ibu lainnya.


Keluarga Pak Muslih juga tak ketinggalan, lengkap dengan Bu Ratih, Rama, dan Wati. Juga Yati dan Imas tak ingin terlewatkan mengikuti salat tarawih di hari pertama bulan Ramadan.


Mereka memang berada di lingkungan yang dekat dengan Masjid Al Hasanah sehingga ke masjid tersebutlah mereka beribadah terkait dengan bulan Ramadan seperti salat tarawih.


Pak Muslih berdekatan dengan Haji Makmur, berada di saf paling depan. Pun dengan Warya berdekatan dengan Rama, apalagi keduanya merupakan bagian dari keluarga besar Irma Al Hasanah, pastilah mereka perlu berdekatan karena siapa tahu harus ada yang dibicarakan.


Sementara Hajjah Tita, sengaja memilih di saf paling belakang perempuan. Padahal tadinya di saf paling depan, namun ketika dihampiri Bu Ratih yang semula mau mengajak bersalaman, ternyata Bu Tita sudah pindah ke saf paling belakang dengan hati ngedumel sendiri.


Melihat suami dan anaknya masih berdekatan dengan keluarga Pak Muslih, hati Hajah Tita benar-benar dibuatnya geram. Menurutnya, suami dan anaknya benar-benar sudah tak menghargai keputusannya yang telah melarang keduanya mendekati keluarga Pak Muslih.


Tak lama kemudian terdengar ikamat, tanda salat isya akan segera dimulai. Ustaz Hamid yang akan bertindak sebagai imam segera berdiri dan maju ke mimbar masjid.


Sebelum memulai salat, Ustaz Hamid memeriksa dulu saf agar ditertibkan terlebih dahulu dengan perintahnya agar saf diluruskan dan dirapatkan.


"Coba safnya diluruskan, diisi jangan ada yang lowong, dan dirapatkan. Namun tak mesti terlalu rapat nanti salatnya tidak bisa tumaninah. Rapat, namun tak mengganggu pergerakan tubuh," nasihat Ustaz Hamid.

__ADS_1


Para jemaah pun segera merapatkan dan meluruskan barisan.


Para orangtua baik pria maupun wanita sudah merapikan barisan safnya. Namun di barisan bocah, tampak masih saling sikut dan terdengar tertawa cekikikan.


Ustaz Hamid pun belum mulai mengimami salat karena anak-anak masih belum tertib. Melihat itu, Rama segera pindah ke barisan saf belakang dekat saf anak-anak. Rama memberi isyarat dengan meletakkan telunjuknya ke bibir, tanda agar anak-anak tertib, jangan saling sikut dan tertawa-tawa.


Suasana pun sudah kondusif dan Ustaz Hamid mulai membaca takbiratulihram atau membaca "Allaahu Akbar" tanda salat dimulai, yakni salat isya sebelum digelar salat tarawih.


Usai salat isya, dilanjutkan dengan zikir, dan di antara jemaah ada yang melanjutkan dengan salat sunat rawatib atau salat sunat sebelum dan setelah salat wajib, ada pula yang tidak.


Ketika para jemaah sudah tidak ada yang salat sunat. Ustaz Hamid berbicara di mimbar dan menerangkan kegiatan-kegiatan yang digelar di Masjid Al Hasanah. Dan khusus untuk para Irma ada latihan ceramah. Usai pengumuman, Ustaz Hamid pun mempersilakan anggota Irma yang akan tampil di depan mimbar untuk latihan ceramah.


Seorang bocah berusia 10 tahun tampil ke depan. Mengenakan sarung, kemeja putih lengan panjang, dan peci hitam.


Dia mengucapkan salam cukup fasih lalu mengucapkan tahmid layaknya penceramah.


Lantas dia mulai bicara menyampaikan isi ceramah, "Besok kita akan mulai saum atau puasa. Maka, kita semua harus melaksanakannya karena puasa itu hukumnya wajib," kata bocah itu meyakinkan.


"Hebat si Usep," bisik seorang ibu kepada ibu lainnya yang ada di sampingnya.


"Siapa dulu ibunya," kata si ibu di sampingnya. Ternyata dia ibu dari si bocah bernama Usep itu. Dia bangga anaknya yang masih kecil sudah berani tampil di depan orang banyak.


"Untuk siapa dan untuk apa kita puasa, Pak? Bu?" kata Usep menirukan gaya ceramah dai kondang almarhum.


Bapak-bapak dan ibu-ibu tak ada yang menjawab, mereka hanya senyam-senyum.


"Gak ada yang tahu? Duh kasihan....." kata Usep.


Hadirin pun tertawa melihat gaya Usep berceramah. Hanya Bu Hajah Tita yang tak ikut tertawa, dia tahu bocah itu masih saudaranya keluarga Pak Muslih.

__ADS_1


"Puasa itu hanya untuk orang beriman sesuai firman Allah SWT dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 183," kata Usep seraya membaca ayat itu.


"Mengapa saum hanya dipanggilkan untuk orang beriman? Karena orang yang tak beriman takkan kuat puasa," kata Usep lagi.


Para jemaahmengangguk-anggukkan kepala tanda setuju dan mengerti.


"Lalu agar apa kita puasa? Tak lain agar kita menjadi orang bertakwa," ujar Usep menjelaskan.


Hanya 10 menit Usep ceramah dan usai Usep ceramah dilanjutkan ceramah oleh Ustaz Hamid yang juga mengungkapkan kegembiraannya pada Usep yang telah berani bedakwah.


"Semoga di masjid kita ini tumbuh generasi penerus hingga syiar Islam tetap bekibar," harap Ustaz Hamid.


Selesai ceramah, dilanjutkan dengan salat tarawih hingga tuntas pada sekitar pukul 20:15 . Dan satu per satu jemaah pun pulang ke rumah masing-masing.


Setelah para jemaah pulang, Rama dan Warya berbincang dengan beberapa anggota Irma yang akan bertugas membangunkan warga untuk makan sahur dini hari.


"Tetabuhannya jangan terlalu keras ya, cukup kalian bilang sahu-sahur.....gitu aja. Jangan pukul-pukul tiang listrik," ucap Rama kepada para remaja yang akan bertugas membangunkan warga untuk makan sahur.


"Siap Kak Rama, siap. Jam berapa kami mulai keliling?" tanya seorang remaja.


"Mulai jam dua atau selambat-lambatnya setengah tiga cukup lah. Jangan jam satu, terlalu cepat," kata Rama.


"Siap Kak. Kami akan tidur di masjid aja bersama biar nanti pergi bersama-sama juga. Nanti yang lainnya biasanya menyusul setelah terdengar tetabuhan dari kami," kata Boim yang ditunjuk sebagai pimpinan acar membangunkan makan sahur itu.


"Ya, baiklah bagus kalau begitu. Tapi awas ya jangan ketiduran," kata Rama.


Warya dan Rama pun pulang. Sementara Boim dan kawan-kawan masuk masjid akan tidur di sana untuk melaksanakan tugas membangunkan warga makan sahur.


Di perjalanan pulang Warya dan Rama beriringan mendekati rumah Warya. Rumah Warya memang lebih dekat ke masjid daripada rumah Rama.

__ADS_1


Ketika tiba di halaman samping rumah Warya yang agak gelap, Rama dan Warya terkejut karena ada sesosok tubuh yang mirip pocong sedang menghadang mereka. (Bersambung)


__ADS_2