Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 27. Batin Hitam


__ADS_3

"Tak usah Embah sebutkan. Kalian sendiri nanti yang akan mengalaminya. Embah katakan itu agar kalian tidak main-main dengan Embah. Sekali bermain-main, akan tahu akibatnya," ujar Embah Sawi mengingatkan, sekaligus mengancam.


Darpin cees tak berani lagi berbicara. Pikiran mereka larut ke dalam kata-kata Embah Sawi yang memberikan peringatan namun dalam-dalamnya merupakan ancaman.


Itu artinya mereka sudah masuk ke dalam kubangan yang dibuat mereka sendiri. Ibaratnya maju kena mundur kena, tanggung sudah terkena air ya sudah mandi sekalian.


Singkatnya, tak ada jalan dan cara lain kecuali mereka menuruti kehendak Embah Sawi, apa pun risikonya harus siap dihadapi.


"Pikirkan baik-baik, eh maksudnya camkan baik-baik, wahai anak muda!" seru Embah Sawi membuyarkan lamunan mereka.


"Dan kau Pak Danu. Segeralah pulang. Jaga diri baik-baik dengan sikap yang wajar kepada warga agar mereka tetap simpati dan mendukung. Kurangi sifat brutal yang hanya akan mencelakakan dirimu yang pada gilirannya jika ada yang tahu akan pula mengancam keberadaanku!" kata si Embah kepada Pak Danu.


"Ya, ya, Embah. Saya siap melaksanakannya, apalagi saya tengah bermimpi menjadi pejabat sebagai wakil rakyat yang tentunya membutuhkan simpati rakyat, tentu saya harus bisa mengambil hati mereka. Apalagi saya sangat berharap mendapatkan azimat paket komplet, tentu segala persyaratan yang Embah berikan akan saya perhatikan," balas Pak Danu.


"Ya, itu saja. Jika anak-anak muda ini telah berhasil membawa lima kuntum bunga kepadaku dan aku berhasil menikmatinya serta persembahan bagi guruku, azimat yang kau dambakan bakal segera kau miliki, Danu!" tandas Embah Sawi seolah membaca keraguan dalam diri Danu untuk bisa mendapatkan azimat yang amat diimpi-impikannya itu.


"Terima kasih Embah. Kalau begitu sekarang saya undur pamit. Titip saja anakku dan kawan-kawannya," kata Danu.


"Ya, silakan. Pasti kami perhatikan anak muda ini, jangan khawatir," kata Embah Sawi, lalu menerima uluran tangan Danu.


Danu pun menyalami Sodom dan Darpin serta kawan-kawannya.


Sejurus kemudian Danu menaiki mobilnya dan terdengar deru mesin mobil kemudian tak terdengar lagi.


Tinggallah di ruangan tengah Embah Sawi, Sodom, dan Darpin serta kawan-kawannya. Mereka dipersilakan istirahat sejenak di sebuah kamar di bangunan bagian belakang yang ternyata di sana sudah banyak pula anak buah Embah Sawi lainnya.


Oleh Paman Sodom Darpin cees diperkenalkan kepada para anak buah Embah Sawi yang lainnya.


"Bergabunglah dengan warga di sini. Baik-baiklah kepada mereka. Kalian harus bersatu demi Embah Sawi," amanat Paman Sodom kepada Darpin cees.


"Siap Paman, kami siap mengikuti arahan Paman," timpal Darpin.

__ADS_1


"Ya sudah sekarang kalian boleh beristirahat, mulai besok kalian akan diberi pelajaran bela diri. Kalian pun harus siap bekerja di sawah dan ladang milik Embah karena itu merupakan sumber penghasilan di sini," tambah Paman Sodom.


Barulah Darpin cees mengerti dari mana sumber penghasilan si Embah dan warga lainnya, ternyata dari pertanian. Hanya Darpin belum tahu di mana letak ladang dan sawah milik si Embah.


Keesokan harinya benar saja Paman Sodom mengajari Darpin cees ilmu bela diri dengan berbagai jurus. Ternyata Paman Sodom memiliki berbagai jurus ampuh, seimbang dengan tubuh kekarnya, kulit hitam, dan mulut tongos.


Darpin cees mengikuti arahan Paman Sodom dengan tekun.


Apalagi dalam hatinya niat untuk mempunyai kekuatan begitu kuat. Mereka pikir dengan kemampuan bela diri ditambah azimat genianggara, setiap orang akan menakutinya.


Jika orang-orang sudah menakutinya, otomatis akan mudah bagi mereka menaklukkannya. Begitulah pikir mereka.


"Aku membaca batin kalian sangat hitam anak muda. Itu bagus, namun harus dalam kontrol berimbang!" ujar Sodom.


Dia berkata begitu sambil mengirimkan sebuah tonjokan yang diarahkan ke muka Darpin.


"Bruuk!" tonjokan itu tepat mengenai pipi Darpin.


"Itu tanda batinmu terlalu hitam, anak muda. Itu sangat membahayakan."


"I, i, iya....saya terima salah Paman," kata Darpin.


Paman Sodom tak menyahut namun justru dia mengirimkan terjangan kaki yang cukup cepat ke arah muka Doma. Tak ayal Doma yang tengah terbengong-bengong pun terhuyung-huyung karena pipinya terkena terjangan maut Paman Sodom.


"Aow, aou, uh, uh ........ampun Paman!" Doma menjerit histeris.


"Ternyata batin kalian masih sangat hitam. Itu tidak baik untuk meneruskan jejak si Embah. Kalian memang harus kejam kepada musuh dan kepada siapa pun yang menghalangi kemauan si Embah, bukan kamauan ego kalian! Namun tetap harus dalam pengendalian," kata Paman Sodom lagi.


"Lalu, kami harus bagaimana, paman?" tanya Darpin.


"Ayo kalian serang aku! Jangan sungkan-sungkan!" teriak Sodom.

__ADS_1


"Ayo! Kenapa malah bergeming?"


Darpin dan Doma yang telah merasakan bagaimana saktinya kena terjangan Paman Sodom jadi ragu.


"Mau jadi jagoan, tapi takut? Mana bisa, coy!" sindir Paman Sodom.


"Ayo serang aku atau aku yang menyerang kalian?"


Diultimatum begitu, Darpin cees pun segera saja menyerang Paman Sodom dari berbagai penjuru. Sodom berdiri di tengah dengan kuda-kuda yang telah dipersiapkannya.


Darpin mencoba mengantar sebuah tinju tepat ke muka Sodom. Dari sononya mungkin akan membalas terjangan tadi yang membuatnya harus berdarah-darah.


Akan tetapi, sebelum sampai tinjunya mendarat di muka Sodom, dengan gerakan mengangkat kaki sebelah dan berputar kayak gasing, keempat anak muda itu dalam sekejap sudah bergelimpangan.


"Auw, auw, aur.......sakit Paman," rintih mereka berbarengan.


"Hahaaaaa......Sodom dilawan?!" kata Paman Sodom sembari terkekeh dan mengelus-elus mulut tongos dan kumis tebalnya.


"Ayolah kalian bangkit. Aku pandang wajar kaliah masih mentah. Tenang saja, besok lusa kalian akan berubah menjadi manusia singa yang sangar sesangar-sangarnya. Tapi ingat, buang jauh-jauh batin hitam kalian yang hanya mementingkan diri sendiri. Ingat, ilmu ini kepunyaan guru, kepunyaan si Embah. Kepada si Embahlah kalian harus mengabdi. Paham?"


"Iya, iya, Paman," timpal mereka lalu duduk merasakan sakit bekas diterjang Paman Sodom.


Hari-hari berikutnya, Paman Sodom makin intensif melatih bela diri kepada Darpin cees. Sambil menuruti nasihat Paman Sodom agar menghilangkan batin hitam yakni kesombongan yang tidak perlu, mereka pun kian tekun terus melatih kekuatan fisiknya.


Lantas mereka disuruh beruji tanding dengan anak buah Sodom lainnya di sana. Lumayan ada peningkatan.


"Cukup untuk penempaan fisik kalian. Namun harus terus berlatih dan latihan itu kalian harus bantu megelola sawah dan ladang sambil mengemban tugas pokok mencari bunga," kata Paman Sodom.


"Siap Paman," kata Darpin dengan suara yang lantang


"Nah sekarang saatnya menerima ini," kata Paman Sodom.

__ADS_1


"Apa itu Paman?" (Bersambung)


__ADS_2