
Terdengar suara orangtua yang lagi-lagi aku sudah hapal. Namun entah benar entah tidak karena aku tidak bisa melihatnya.
Yang berbicara itu sepertinya Kades Danu, ayahnya si Darpin. Benarkah? Lalu untuk apa dia menculik kami berdua?Tega-teganya dia melakukan ini.
Perutku melilit-lilit, tenggorokan amat haus. Kami belum buka puasa meski sekadar seteguk air.
"Tenang Wat, Yat. Kalian tenang. Kalian bukan dengan siapa-siapa, tapi dengan orang baik-baik," kata pria seperti Kades Danu itu.
"Kamu Kades Danu kan?" tanya Kak Yati dengan suara lantang.
"Ternyata Yati pintar, tahu suara pemimpinnya. Tak salah, aku Kades Danu!" ujar pria itu yang ternyata benar dia Kades Danu, manusia jahat yang sangat kejam tega berbuat jahat kepada rakyatnya sendiri.
"Kau tak pantas disebut Kades!" teriak Kak Yati lagi.
Mobil masih belum melaju. Aku rasa kami duduk di bangku belakang yang miring, di sampingku seorang pria entah si Darpin, si Doma, si Benco, atau si Gonto.
"Benar katamu Yati. Aku tak pantas disebut kades, tapi pantasnya disebut Dewan Terhormat. Tahun dua ribu dua puluh empat di negeri ini konon bakal ada hajatan besar Pemilu. Nah saya bakal nyaleg jadi anggota dewan terhormat dan itu butuh bantuan kamu berdua, Wati, Yati......!" ujar Kades Danu.
Deg!
Aku terkejut, boleh jadi Kak Yati pun demikian pula mendengar niatan Kades Danu yang katanya mau 'nyaleg'. Lalu apa hubungannya dengan kami berdua? Bantuan apa yang dibutuhkannya?
"Kau tak pantas jadi dewan terhormat, pantasnya jadi dewan terlaknat!" kata Kak Yati, lagi-lagi dengan suara lantang.
Dan...plak, plak, plak, tiga buah tamparan terdengar mendarat di pipi Kak Yati cukup jelas.
"Auw, auw, auw.....bunuh saja aku bangsat!" jerit Kak Yati, tampaknya dia sudah benar-benar muak.
"Jangan sakiti dia, manusia iblis!" giliran aku yang berteriak.
Dan...plak, plak, plak. Giliranku pula yang menerima tamparan tangan kekar yang terasa panas di pipiku.
"Auw, auw, auw....!" Aku menjerit dan memberontak dengan menyikut pria di sampingku.
"Cepat jalankan Darpin! Wanita iblis ini harus segera menerima ganjaran dari Embah Sawi. Cepaaaaaat.......!" teriak Kades Danu.
Sontak mesin mobil dihidupkan, lalu melaju dengan jalan sedang karena mungkin kondisi jalannya tidak mulus seperti yang kulihat tadi.
__ADS_1
Tubuhku dipegang erat oleh pria yang berada di sampingku, entah siapa. Yang pasti bukan si Darpin karena tadi Kades Danu memerintah si Darpin menjalankan mobil.
Rasa haus dan lapar mendadak hilang berganti perasaan risau. Entah harus bagaimana caranya kami menyelamatkan diri dari situasi seperti ini.
Tadi aku mendengar Kades Danu menyebut-nyebut Embah Sawi dan kami akan menerima ganjaran. Ganjaran apa yang dimaksud? Siapa Embah Sawi? Aku baru mendengarnya.
Aku makin waswas saja apa yang akan dilakukan Kades Danu dan si Darpin terhadap kami.
Tiba-tiba terbayang wajah ibu, bapak, dan Kak Rama. Pasti saat ini mereka tengah mencari-cari kami karena tidak ada pulang ke rumah pada saat yang semestinya kami berada di rumah menikmati takjil.
"Ya Allah, tolonglah hamba dari perlakuan jahat orang-orang ini," gumamku dalam hati.
Ya, aku hanya berdoa mohon perlindungan kepada Yang Mahakuasa, selebihnya berikhtiar kalau memungkinkan sesuai dengan kemampuan.
Sepanjang perjalanan hanya terdengar deru mesin mobil. Aku dan Kak Yati tak memberontak. Percuma, mereka pria dan orang jahat.
Tiba-tiba mobil berhenti di suatu tempat yang tampaknya lebih tinggi dari daerah tadi. Suasananya teramat sunyi, hanya terdengar bunyi dedaunan yang saling bergesekan tertiup angin malam.
"Turun!" teriak Kades Danu.
Tanganku dicekal seseorang dengan cengkeraman amat kuat dan terasa panas. Entah tangan siapa. Ingin rasanya aku melepaskannya.
Aku ditarik keluar mobil. Lalu menginjak tanah dan dibawa berjalan pelan-pelan, entah mau dibawa ke mana.
"Selamat malam Paman Sodom," kata Kades Danu kepada seseorang yang disebutnya Paman Sodom.
Manusia apa lagi ini? Tadi ada Embah Sawi, sekarang ada Paman Sodom. Aku berpikiran ini merupakan sindikat kejahatan yang terencana.
"Malam juga Danu," kata seseorang dengan suara sedikit berat membuat bulu kudukku mendadak merinding.
"Apa yang kau bawa?" tanya pria yang disebut Paman Sodom.
"Kami sudah berhasil membawa persembahan dua bunga Paman. Ya baru dua bunga, yang lainnya menyusul kami petik," kata Kades Danu.
Deg!
Persembahan? Persembahan apa maksudnya? Bukankah persembahan identik dengan tumbal. Apakah kami akan dijadikan tumbal? Tumbal apa? Tumbal pesugihankah atau apa?
__ADS_1
Aku ingin bicara, namun merasa situasinya belum saatnya. Aku, demikian pula Kak Yati belum tahu medannya seperti apa. Siapa Paman Sodom dan siapa pula Embah Sawi?
"Hahaaaaa......bagus. Embah Sawi pasti senang melihat kedua persembahan bunga ini. Apakah kau yakin masih perawan?" tanya pria bernama Sodom, aku yakin dia yang bicara karena suaranya sama dengan yang tadi bicara dengan Kades Danu.
"Aku yakin. Yakin sekali karena keduanya bunga terpelihara dengan baik-baik. Pasti Embah Sawi takkan kecewa, termasuk guru beliau," kata Kades Danu.
"Bangsat, iblis, setan, kalian culik aku akan dijadikan pemuas nafsu pria?" teriak Kak Yati terdengar dia sambil memberontak, namun tiba-tiba terhenti mungkin tubuhnya dicekal penjahat.
"Bukan pemuas nafsu, cantik, tapi persembahan. Itulah sebabnya yang menerima persembahan itu orang suci. Kalian harus bangga menjadi persembahan orang suci," kata Sodom.
Aku sungguh jijik sekaligus cemas mendengarnya. Permainan apa pula ini. Sungguh bejat.
"Ada apa kalian ribut-ribut?" tiba-tiba terdengar suara pria lainnya yang lebih bekharisma daripada si Paman Sodom.
"Oh, Embah. Selamat malam Embah," kata Kades Danu. ternyata pria itu disebut Embah, ya Embah Sawi mungkin.
"Malam lagi Danu. Kau bawa dua bunga, Danu? Syukurlah, azimat paket kompletmu akan segera kauterima," kata pria yang tampaknya disebut si embah itu.
"Iya Embah. Aku baru mendapat dua bunga. Dijamin bunga murni yang masih suci, pasti Embah menyukainya," kata Kades Danu sungguh aku ingin merobek mulutnya hingga tak bisa menutup lagi.
"Lepaskan goblok! Binatang, najis aku mau kau berikan ke pria jahanam itu!" teriak Kak Yati tampaknya dia sudah benar-benar muak.
"Hahaaaa......makin kau murka, makin kau cantik, makin besar hasratku bunga," kata pria suara si Embah.
"Lepaskan!" terdengar suara Kak Yati sepertinya sambil memberontak.
"Kau juga manis bunga," kata suara seperti si Embah dan tiba-tiba daguku ada yang menjamah. Mungkin tangan si Embah itu.
"Najis!" sontak aku berteriak.
Ingin rasanya menepis tangan menjijikkan itu, namun apa daya tanganku diikat ke belakang.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, demikian pula kiranya Kak Yati pasti takkan jauh berbeda dengan perasaanku.
"Sodom, bawa ke kamar yang biasa. Awasi baik-baik, jangan sampai kenapa-kenapa. Kasih makan yang enak-enak. Suruh istirahat yang cukup, biar tetap segar." Kata si Embah.
"Mungkin besok salah satunya akan aku persembahkan kepada guruku. Kebetulan hasratku sedang menggebu-gebu!"
__ADS_1
Aku ditarik paksa, lalu disuruh berjalan. Entah mau dibawa ke mana. Batinku menjerit histeris, ketika mendengar salah satu dari kami akan dijadikan persembahan.
(Bersambung)