
Si tangan gentayangan tak henti-hentinya menerorku dengan mencakar wajahku, menjambak rambutku. Aku benar-benar kerepotan dibuatnya.
Aku tidak mengerti mengapa bisa berada di tempat ini, permakaman yang dari salah satu kuburannya tiba-tiba muncul tangan gentayangan yang tida hentinya terus menerorku seperti tengah balas dendam.
"Ayo jawab, ingat-ingat, tangan siapa ini, hai cewek brengsek! Yang pasti kedatangaku ke kamu adalah untuk menuntut balas dendam atas ulahmu kepada majikanku yang punya tangan ini. Dia mengutusku untuk membalaskan dedam!" ujar si tangan gentayangan layaknya manusia saja bisa ngomong.
"Aku tidak pernah berbuat apa-apa kepada tangan siapa pun! Aku perempuan mana bisa berbuat sadis hingga membuat orang itu kehilangan tangannya!" ujarku, ingin segera melepaskan diri dari teror si tangan gentayangan ini.
"Hahaaaa......bisa sekali kau bersandiwara, perempuan sadis!"
"Sandiwara apa? Aku tidak bermain sandiwara, aku orang biasa. Sana pergi aku sudah lelah, ngapain dari dalam kuburan keluar ganggu-ganggu orang?"
"Aku ditugasi majikanku untuk menemui kamu, tak lain untuk balas dendam karena tangannya dipenggal oleh kamu menggunakan parang? Kau ingat nama Beni Codet?"
"Benco?"
"Ya, dia majikanku yang telah kau binsakan itu! Kau ingat sekarang, kan?"
Aku terdiam.
"Kau begitu gagahnya menghalau ibumu ketika dia akan menyerang majikanku. Lalu, dengan pongahnya kau seperti jagoan yang tak ada rasa takutnya padahal kau seekor betina jahat! Kini tibalah saatnya kau menerima balasan dari majikanku melalui wujudku ini yang telah kau binasakan!" kata si tangan gentayangan yang ternyata potongan tangan milik si Benco atau si Beni Codet.
"Rasakan nih perempuan ******!" kata si tangan Benco lalu dengan jahatnya mencengkeram tangan kananku, serta menariknya kuat-kuat. Dan.....OMG, tangan kananku terlepas.
"Tolooooong........!" teriakku.
"Hahaaaaaa.....mau minta tolong kepada siapa kau? Ini permakaman yang jauh ke mana-mana. Di sini hanya ada kau dan aku! Nih rasakan lagi!"
Koar si tangan gentayangan, lalu dia kini mencengkeram tangan kiriku, dan...lagi-lagi ditariknya hingga terlepas dan aku pun kehilangan dua tangan dalam waktu sekejap.
"Tolooooong, toloooooong........!" aku belari sekencang-kencangnya hingga jauh dengan tanpa kedua tanganku, Darah segar bercucuran dari bekas patahan kedua tanganku.
Tiba-tiba....kudengar asma Tuhan disebut begitu banyak dari berbagai penjuru arah angin.
Namun karena belum ada yang menolong aku kembai berteriak.
"Toloooooong......!"
"Imas, Imas, kenapa kau, kenapa? Bangun, bangun, sudah azan subuh!"
Terdengar suara ibuku. Aku pun membuka mata dan langsung meraba-raba kedua lenganku.
__ADS_1
"Astagfirullah......." gumamku, lalu terduduk mengumpulkan 'nyawa'-ku yang barusan membawaku ke alam maya.
"Ada apa, mengapa Imas menjerit-jerit minta tolong segala?"
Kini yang bertanya Bu Windi. Aku baru sadar, aku tidur di sofa dan di sana ada Kak Toto, namun kini dia tak ada di tempatnya tadi duduk.
"Aku, aku, aku mimpi buruk. Sangat buruk, menakutkan juga mengerikan," lirihku.
"Ya Allah benar-benar para dedemit meneror kita semua, ini tak bisa dibiarkan!" ujar Bu Windi sembari mengelus-elus lenganku yang sedari tadi kupegangi, takut saja benar-benar terlepas dari tubuhku.
"Siapa yang mendatangimu, Mas?"
tanya ibuku dengan raut muka cemas.
"Si Benco, Bu. Dia datang menerorku dengan tangan gentayangan. Lalu kedua tanganku, ditariknya hingga telepas, makanya aku lari meminta tolong," ujarku kepada Bu Windi dan ibuku.
"Siapa lagi yang berteriak minta tolong, tadi terdengar hingga ke kamar mandi," tiba-tiba muncul Kak Toto. Tampaknya dia sehabis dari air. Pantas saja ketika pertama kali aku menjeit minta tolong tak ada respons tahunya Kak Toto sudah pergi.
"Imas, To. Dia pun sama diganggu penampakan jahat anak buah Embah Sawi," kata Bu Windi menjelaskan.
"Oh.....teror dedemit lagi?" Kak Toto mengelus dada ikut prihatin.
"Ya sudah kita beribadah dulu, nanti bicarakan lagi. Ini tidak boleh dibiarkan," saran Bu Windi.
Sembari bersih-bersih di kamar mandi aku tak henti-hentinya membaca lafaz yang kuhapal. Karena bayangan si tangan gentayangan masih saja menari-nari di benakku.
Sekitar jam tujuh pagi kami makan besama di meja makan yang biasa. Usai makan pagi, Bu Windi kembali memanggil kami agar berkumpul di ruang tengah.
Jelas ini akan membicarakan kejadian-kejadian misteri di rumah ini, mulai yang menimpa Bu Windi, ibuku, dan aku sendiri.
Aku senang saja atas upaya Bu Windi dengan harapan semoga tidak terulang lagi peristiwa yang sangat mengerikan ini meskipun hanya dalam mimpi.
"Jadi gini ya. Kejadian semalam yang menimpa kita, kecuali Toto merupakan peristiwa yang sangat memprihatinkan dan kita tentunya tak berharap terjadi lagi. Anehnya mengapa sampai satu malam, seperti para dedemit itu bersama-sama berencana menyerang kita," ujar Bu Windi.
Kami manggut-manggut mengiyakan. Benar saja kok bisa dalam satu malam ada kejadian mimpi yang sama berupa teror dari dedemit.
"Aku jadi penasaran, apakah yang lainnya juga sama? Maksudku apakah Inah, Wati, Pak Rudi, dan Yati juga kena teror dalam mimpinya," ujar Bu Windi.
"Iya, coba telepon Bu," kata ibuku.
Namun belum juga Bu Windi menjawab, di luar terdengar ada yang mengucapkan salam.
__ADS_1
Ibuku segera bangkit dan berjalan ke depan. Tak lama kemudian kembali menemui kami.
"Ada Yati, Wati, Rama dan Anwar, Bu," kata ibuku.
"O ya? Syukurlah, suruh mereka ke sini
Bi!" kata Bu Windi.
Ibuku ke depan menuju rang tamu dan terdengar membuka pintu. Kemudian muncul lagi bersama kawan-kawanku.
"Ayo sini semuanya! Mau sarapan? Bau saja di sini sarapan!" tutur Bu Wndi.
"Iya, terima kasih Bu. Enggak usah, kami sudah pada sarapan," kata Kak Rama setelah duduk di kursi yang tersedia.
Di ruang tengah ini memang banyak kursi yang disediakan karena hari-hari biasa rumah Pak Kades Danu kerap didatangi banyak tamu.
"Tadinya Ibu mau menelepon kalian," kata Bu Windi membuka obrolan.
"O ya? Pasti ada kejadian aneh dalam mimpi kan?" tanya Wati.
Deg!
Ternyata benar dugaan Bu Windi dan juga aku serta Ibuku pasti teror itu bukan hanya menimpa kami di sini kecuali Ka Toto.
"Benar Wat. Dan kalian juga mengalami hal yang menakutkan seperti yang kualami, Bi Utih, dan juga Imas. Hanya Toto keponakanku yang tidak didatangi teror dedemit itu," ucap Bu Windi.
"Aku didatangi penampakan si Doma," ujar Wati.
"Au didatangi Darpin, maaf Bu Windi," ungkap Yati.
Pasti dia harus mengucapkan maaf kepada Bu Windi, bagaimanapun Darpin adalah darah daging Bu Windi juga.
"Bi Inah mimpi didatangi penampakan pria bernama Sodom kaki tangan utama si Embah Sawi," kata Kak Rama.
"Bapakku didatangi pampakan si Gonto," ujar Yati, lalu dia menjelaskan mimpi yang dialami oleh bapaknya yang hampir bersamaan dengan peristiwa mengerikan yang dialami oleh Yati sendiri.
"Aku didatangi si Benco, Ibuku didatangi si Embah Sawi dan Bu Windi didatangi penampakan Pak Kades Danu," kataku.
Wati da Yati tampak terperangah mendengarnya.
"Jadi kami datang ke sini sekadar menghabiskan rasa penasaran saja, apakah Ibu dan yang lainnya juga sama mengalami mimpi buruk? Tanyata sama-sama bermimpi buruk," kata Kak Rama.
__ADS_1
"Benar Ram. Seperti tadi telah kubilang kami di sini didatangi dedemit kurang ajar itu. Nah sekarang kami minta pendapat kalian semua usaha apa yang harus kita lakukan agar tidak terjadi lagi mimpi buruk itu?" ujar Bu WIndi.
Kami semua saling pandang mencari solusi sebagaimana yang diminta Bu Windi. (Bersambung)