
Benar, Tarso dan istrinya Sukinah telah tewas terjatuh ke dalam jurang dan ditemukan jasadnya oleh anak buah Embah Sawi.
Itu berawal ketika pagi-pagi Tarso mendapati dua gadis yang tengah tertidur di balai-balai rumahnya, persis seperti kejadian yang menimpa Imas dan Iis tempo hari.
Tarso dan Sukinah menyadari bahwa kedua gadis itu pastinya yang kabur dari rumah Embah Sawi dan bagian mereka berdualah untuk bertindak dengan mengamankan kedua gadis itu dengan cara seperti yang dilakukan kepada Iis dan Imas serta para gadis pelarian lainnya.
Tarso seperti biasa memerintah istrinya Sukinah untuk membuat minuman khusus yang bisa membuat peminumnya tak sadarkan diri. Begitulah yang rutin merea lakukan ketika mendapat gadis pelarian dari Embah Sawi.
Seperti saat itu ketika dua gadis yang 'numpang' tidur di balai-balai rumah Tarso siuman.
"Oalah ada tamu, gak tahu ada tamu kalau tahu diajak menginap di dalam," kata Tarso pura-pura ramah.
"Oh enggak apa-apa di sini juga nyaman," kata salah seorang gadis tersenyum, tetapi kemudian memperlihatkan geliginya yang membuat Tarso terkejut.
"Hah? Kok giginya runcing semua?" pekik batin Tarso terheran-heran.
Namun dia buru-buru menenangkan diri, mungkin saja itu cuma kebetulan pandangannya terbawa halusinasi kepada hal gaib yang memang kerap dialaminya.
"Iya di sini juga nyaman Oom," timpal gadis satunya lagi dengan menatap tajam kepada mata Tarso yang mendadak merinding bulu kuduknya.
Itu tak lain karena dia melihat mata si gadis menatap dengan begitu tajam seperti bukan mata manusia biasa. Lalu mata apa?
Tarso tak mendapatkan jawabannya. Lagi-lagi dia hanya berkesimpulan bahwa itu hanya faktor halusinasi melihat hewan bermata tajam menyala.
"Adek-adek ini dari mana mau ke mana?" tanya Tarso seperti biasa basa-basi sebelum aksi mengasih minuman khusus sebagai perangkap menaklukkan para pelarian.
"Saya diculik seseorang, lalu dibawa ke tempat si Embah-embah di bawah sana. Aku denger katanya kami akan dijadikan tumbal. Jelas kami takut, lalu kami berdua malam-malam kabur dan menemukan rumah ini serta ikut numpang tidur. Terima kasih tumpangannya," kata salah seorang gadis.
"Sama-sama. Oh begitu ya. Tenang akan saya bantu. Sekarang istirahat dulu, minum dulu. Bu, ayo ambilkan air hangatnya untuk menjamu tamu kita," kata Tarso kepada istrinya.
Tak lama kemudian Sukinah keluar membawa teko dan dua gelas yang sudah dicampuri ramuan khusus yang bisa menyebabkan peminumnya tak sadarkan diri.
__ADS_1
Gelas dituangi air oleh Sukinah, lalu disodorkan kepada kedua gadis yang berkali-kali memandangi mata suami-istri itu.
Keruan saja Tarso dan Sukinah terkejut tak seperti biasanya kalau menghadapi pelarian ya biasa-biasa saja penuh kesombongan karena bakal mendapat untung dari si Embah.
Kini, boro-boro ingat hadiah, menatap kembali mata kedua gadis itu pun tak sanggup karena ada sorotan kebencian seperti yang akan balas dendam.
Benar saja, dua gelas air teh hangat yang dicampur ramuan itu seketika sudah ludes diminum. Hanya gelasnya saja yang tersisa dan airnya kosong.
"Maaf Bi, kami haus sekali, mungkin terlalu lelah berjalan kaki menguras tenaga. Boleh minta lagi airnya?" kata seorang gadis yang tampak lebih tua dari gadis satunya lagi.
"O, o, iy, iy, iyya boleh," kata Sukinah tergagap-gagap sambil menuangkan kembali air dari teko yag masih dipegangnya.
Dia kaget mengapa air yang sudah diminum kedua gadis itu belum memberikan reaksi apa-apa, malah minta ditambah lagi. Dia rasa ramuan yang dibikinnya telah benar.
Sukinah melirik sang suami, Tarso geleng-geleng kepala sebagai tanda bahwa dia pun tak tahu-menahu mengapa bisa terjadi hal seperti itu.
Kedua gadis itu pun menerima gelas yang disodorkan Sukinah. Lalu keduanya meminumnya lagi dalam satu legukan tanpa jeda, tak ubahnya memasukkan air dari teko ke dalam gelas tanpa jeda dan berhanti ketika gelas sudah penuh atau air di teko sudah kosong.
Apa yang harus dilakukan? Tarso merasa menyesal tidak menerima azimat genianggara ketika ditawari oleh Sodom untuk melawan dedemit, siluman, atau apa pun yang mengganggunya.
Tarso berpikir, tugas sebagai penadah pelarian cuma gadis biasa tak perlu pakai azimat. Dengan tipuan minuman berisi ramuan pun mudah dilakukan. Buktinya sudah berkali-kali hal itu sukses dilakukannya, seperti dua gadis terakhir yang dijemput Sodom dan kini telah berhasil dibawa ke tempat Embah Sawi.
Akan tetapi untuk kali ini, Tarso dan Sukinahlah yang kena tipu karena ternyata air ramuan itu tak mempan meski telah diminum banyak, bahkan ketika kedua gadis itu memintanya lagi, air di teko sudah habis karena memang tak menjerang air untuk memenuhi teko.
Keruan Tarso dan Sukinah makin ketakutan, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Keringat merembesi tubuh mereka, dari 'pintu belakang' dan 'pintu depan' mendadak ingin keluar sesuatu.
Dan...seketika Tarso membedol lengan Sukinah masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Itu terjadi ketika Tarso melihat dua gadis itu berubah wujud menjadi serigala sebesar domba.
Lalu keduanya melolong-lolong sepertinya sedang amat murka. Mulutnya menganga pamer taringnya yang runcing sementara cairan kental menjijikkan keluar dari mulut tersebut.
Itulah sebanya Tarso segera membedol lengan Sukinah, lalu keluar lewat pintu dapur. Keduanya lari menelusuri jalan menurun maksudnya akan minta pertolongan kepada Embah Sawi.
__ADS_1
Sial, si gadis yang telah berubah wujud menjadi serigala itu mengejarnya tanpa henti. Bahkan serigala itu mempermainkan Tarso dan Sukinah.
Seekor serigala berlari kencang hingga bisa menyusul Tarso dan
Sukinah. Tarso dan Sukinah pun behenti, melihat serigala di depan, ganti melirik serigala di belakang.
Kedua serigala itu melolong-lolong telah berhasil mengepung Tarso dan Sukinah, keduanya kebingungan. Lari ke depan ada serigala, ke belakang ada serigala, ke kiri tebing menjulang tinggi, hanya ada satu jalan lowong ke sebelah kanan dan itu jurang.
Saking panik dan sudah kehabisan akal, akhirnya Tarso membedol lengan Sukinah menerjuni jurang. Dikiranya jurang tak begitu dalam, ternyata jurang yang lumayan dalam dan keduanya terjerembab, jatuh membentur batu terjal.
Kedua serigala pun mendadak menghilang dari tempat itu. Tampaknya keduanya sudah puas melakukan balas dendam.
Selang satu jam dari kejadian itu, dua anak buah Embah Sawi bermaksud menemui Tarso karena ada perintah dari Sodom.
Ketika beberapa meter lagi tiba di rumah Tarso, dua orang anak buah Tarso mendengar ada teriakan minta tolong dari dasar jurang.
"Ada yang minta tolong di bawah jurang, siapa ya?" kata seorang anak buah Embah Sawi.
"Iya, ya siapa ya?"
"Sebaiknya kita ke Tarso dulu, beri tahu dia kita lihat siapa yang minta tolong," ujar temannya.
"Ya, coba kamu aja ke sana saya di sini!" kata anak buah Embah Sawi yang pertama kali mendengar orang minta tolong.
Temannya pun segera berlari ke rumah Tarso da Sukinah. Tak lama kemudian dia kembali lagi kepada temannya.
"Tarso dan Sukinah tidak ada di rumahnya. Telah aku periksa ke seluruh ruangan rumahnya, keduanya tidak ada. Aku hanya melihat teko kosong, dua gelas yang sudah terbalik di balai-balai rumahnya, sepertinya ada tamu," ujar anak buah Embah Sawi yang baru saja melihat rumah Tarso.
"Tolooooong........!" terdengar lagi suara minta tolong dari dasar jurang.
Kedua anak buah Embah sawi saling pandang dengan memutar otak bagiamana caranya untuk bisa mengetahui orang yang minta tolong itu dan siapa gerangan? (Bersambung)
__ADS_1