Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 12. Mendatangi Gudang


__ADS_3

"Sialan mereka lari. Tapi rasakan akan kukejar ke mana pun mereka pergi. Dunia nyata ada batasnya, dunia maya bangsaku tak berbatas sebelum Tuhan menurunkan kiamat!" kata Kentingmanik mengingat-ingat lagi wejangan Sang Ratu Mayanggeni.


"Kamu tunggu aja di sini, sayang. Aku akan kerajain mereka lagi," kata Kentingmanik kepada penampakan Wiwi.


Dan terjadilah perstiwa jualan gorengan bakwah hingga membuat Darpin cees pingsan karena ternyata yang dijual wanita cantik misterius itu penghuni kali bukan kuali.


Usai menunaikan tugas, Kentingmanik lalu kembali setelah merasa puas mengerjai Darpin cees.


"Ayo kita temui lagi Nyi Ratu untuk menerima titah beliau selanjutnya," ajak Kentingmanik kepada penampakan Wiwi.


Keduanya pun lalu pergi dari dalam gudang menuju Kerajaan Dedemit Sumur tua.


***


"Kak, Kak Wiwi, Kak Wiwi.....di mana Kak? Aku rindu kakak," Wati sejak berangkat pagi untuk mencari sang kakak tak henti-hentinya menangis dan memanggil-manggil nama kakaknya.


"Sabar Wat, sabar. Kita semua rindu Kak Wiwi, kita cari sampai ketemu," Anwar yang tak jauh dari Wati menenangkan hati sang kekasih.


"Sungguh biadab orang yang mencelakai kakakku. Kalau ketemu rasakan pembalasanku!" gumam Wati dalam hatinya.


Pencarian mereka mulai dari persawahan melihat dangau-dangau kalau saja Wiwi dicelakai di tempat itu. Lalu ke kebun-kebun yang dilihatnya ada gubuk. Rama dan yang lainnya berkeyakinan penculik ingin menodai adiknya dan pasti dibawa ke tempat seperti dangau atau sejenisnya.


Tempat-tempat itu masih di sekitaran kampung dan desa mereka. Yaitu Kampung Mekarsari dan Desa Mekarmulya. Mereka pun berharap ada kabar dari tempat jauh mengingat sang penculik membawa mobil seperti dikatakan Wati.


Pencarian mereka ke berbagai tempat di pinggir-pinggir pekampungan kebun persawahan tak membuahkan hasil.


"Kita istrahat dulu," ajak Rama di sebuah dangau persawahan yang tidak jauh dari kampung mereka.


"Boleh, Kak," kata Warya.


Wajah Warya tampak lesu, sebentar-sebentar mengurut keningnya seperti tengah merasakan beban berat di pikirannya.


Tret, terettt, tet.....tiba-tiba HP Wati berbunyi. Dia berharap yang menghubunginya adalah kakaknya, Wiwi, Namun ketika dilihat ternyata yang menghubunginya Yati.


"Halo Wat, apa kabar?" kata Yati.


55-1


"Baik Kak Yati. Kakak sendiri?"


"Baik, baik. O ya Wat. Kenapa kakakmu Wiwi belum juga datang ke pabrik. Ini kan sudah jam sebelas siang. Apa nggak masuk kerja, lalu kenapa?" tanya Yati.


Wati tak menyahut. Ia malah menangis sehingga membuat Yati terheran-heran.


"Kenapa Wat? Ada apa dengan Wiwi? Kok gak jawab pertanyaanku?" Yati memberondong Wati dengan pertanyaan.


"Kak Wiwi, Kak Wiwi, Kak Yati........"


"Ada apa dengan Wiwi, Wat? Ayo katakan!"

__ADS_1


"Dia ada yang menculik......." ujar Wati.


"Hah?" dari seberang sana Wati mendengar Yati mengungkapkan kesedihan.


"Siapa yang berani menculik Wiwi?" Yati kembali menghubungi Wati.


"Tak tahu Kak, kami sekarang sedang mencari. Kini berada di persawahan istrahat karena dicari ke sana ke mari tidak ditemukan," kata Wati lagi.


"Bersama siapa saja tuh?"


"Ini aku, Kak Rama, Kak Warya, dan Kak Anwar," jawab Wati.


"Oya syukurlah kalau sedang dicari semoga cepat ketemu. Aku akan kabari kawan-kawan di pabrik, dan mungkin sore atau malam akan ke rumahmu," ujar Yati.


"Iya Kak. Terima kasih sudah dorong doa," timpal Wati


"Iya, gitu aja dulu ya Wat. Kalau udah ketemu kabari kami ya. Udah dulu ya, tetap semangat dan sabar."


"Iya Kak Yati, terima kasih juga."


"Sama-sama," sahut Yati lalu menutup sambungan telepon.


"Telepon dari siapa Wat?" kata Rama kepada sang adik.


"Dari Kak Yati, dia menanyakan Kak Wiwi kenapa gak masuk kerja hari ini," timpal Wati.


"Ooh....ya kita lupa memberi kabar teman-teman Wiwi. Ya semoga Wiwi cepat ditemukan sehingga kita tidak mengabari hal buruk kepada rekan-rekannya dan kepada siapa pun," ujar Rama sembari menyeka bening airmata yang spontan meleleh ketika mendengar kawan Wiwi menanyakannya.


Kini mereka agak jauh dari desa dan kampungnya, mereka akan menuju kaki gunung yang di bawahnya ada Sungai Cilampit. Siapa tahu para penculik membawa Wiwi ke sana.


Mereka belum menemukan titik terang hingga petang hari dan sebentar lagi waktu magrib. Langit tampak mendung sepertinya akan turun hujan lagi seperti sore tadi.


Di masjid terdengar gema azan magrib. Mereka pun bergegas mencari surau terdekat untuk menunaikan salat magrib. Kebetulan surau mudah ditemukan dan mereka pun bergabung dengan warga setempat menunaikan salat berjemaah. Sementara Wati menunggu di luar karena sedang datang bulan.


"Bagaimana, apakah kita akan meneruskan pencarian atau pulang saja?" kata Rama minta pendapat yang lainnya usai menunaikan salat magrib.


"Kita teruskan saja Kak ke Sungai Cilampit, aku pernah lihat kalau tak salah di sana ada gudang. Kali aja ada petunjuk di sana," kata Warya.


"Bagaimana yang lainnya, An, Wat?"


tanya Rama kepada Anwar dan Wati.


"Ayo Kak, masih sore kita lihat ke sana," jawab Awar dan Wati.


"Kalau begitu ayo berangkat lagi," ajak Rama,


Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan surau, lalu menempuh jalan pematang kali kecil untuk mengairi sawah dekat kampung. Namun kemudian ke sawah kering.


Ketika fokus berjalan tiba-tiba mereka berpapasan dengan dua orang yang tengah membawa joran, tampaknya pulang memancing di Sungai Cilampit.

__ADS_1


Sudah makin dekat, Rama langsung tahu bahwa keduanya adalah Kang Didi dan Taryo, tetangga se-RT.


"Mau ke mana kalian malam-malam begini Ram?" tanya Kang Didi kepada Rama.


"Mau mencari Wiwi Kang. Akang dari mana? Mancing?"


"Mencari Wiwi? Iya habis mancing kemalaman tadi di gudang sana terhadang hujan ya berteduh dulu, jadinya kemalaman. Kok mencari Wiwi ke sawah emangnya ada apa?" Kang Didi terkaget-kaget.


"Semalam Wiwi ada yag menculik Kang...." kata Rama.


"Hah? Kok Akang tidak dengar apa-apa tadi di rumah? Coba duduk dulu," kata Kang Didi lalu mereka pun menepi dan duduk di pematang sawah yang agak tinggi.


"Coba gimana ceriatanya Wiwi diculik?"


Dan Rama pun menerangkan apa yang terjadi terhadap adiknya. Kang Didi dan Taryo menyimak dengan khusuk.


"Makanya kami akan menghabiskan kepenasaran akan ke Sungai Cilampit kali aja ada di sana 'kan katanya ada gudang ya?" Tanya Rama.


Kang Didi dan Taryo saling pandang mengingat baru saja mereka mengalami hal aneh di sekitar gudang ketika ikut berteduh tadi yaitu di dalam gudang mendengar wanita menangis, terlihat juga sobekan-sobekan baju wanita dan beberapa botol bekas minuman keras.


"Sebenarnya Akang tadi berhenti di gudang waktu hujan, ikut berteduh. Lalu di dalam gudang sepertinya ada wanita menangis. Penasaran Akang dan Taryo membuka pintu gudang, lalu melihat-lihat ke dalam gudang......"


"Ada apa Kang?" Rama tak sabar.


"Tidak jelas sih sepertinya......."


Belum selesai Kang Didi bicara tiba-tiba turun hujan cukup deras bagaikan ditumpahkan dari langit. Mereka pun sepakat untuk segera menuju perumahan penduduk saja.


Setibanya di emper sebuah rumah penduduk ikut bernaung, Kang Didi bicara lagi.


"Ada apa Kang Didi?" tanya Wati makin penasaran.


"Ya tidak jelas Wat, sepertinya sobekan kain dan beberapa buah botol minuman....." ujar Kang Didi.


"Ya, sebaiknya besok kita lihat apa yang terjadi di gudang itu. Atau mau sekarang, tapi kan hujan deras begini...." kata Rama meminta kesepakatan atau pendapat yang lainnya.


"Ya, sebaiknya besok pagi-pagi aja kalian tengok gudang itu. Sekarang udah malam, mudah-mudahan tak terjadi apa-apa dengan Wiwi," ujar Kang Didi.


"Tadi kata Kang Didi melihat sobekan-sobekan baju, jangan-jangan itu sobekan baju Kak Wiwi. Jadi sebaiknya kita tunggu hujan reda dan langsung melihat gudang itu," usul Wati yang sudah sangat tak sabar ingin mengetahui nasib sang kakak.


"Gi mana ya?" Rama masih bingung. Dia melihat jam di HP sudah pukul 22:00.


"Ada benarnya juga usul Wiwi. Siapa tahu baju itu benar-benar milik Wiwi dan dia telah dicelakai para penculik, tapi semoga tak terjadi apa-apa," kata Warya.


"Lalu kita sebaiknya bagaimana?"


tanya Rama.


"Kata Akang, kalau mau mendatangi gudang sekarang ya lapor saja dulu ke RT ke RW sebelum ke pihak berwajib," usul Kang Didi.

__ADS_1


Akhinya mereka pun sepakat melapor ke RT dan RW tentang apa yang dilihat oleh Kang Didi dan Taryo di gudang pinggir Sungai Cilampit. (Bersambung)


__ADS_2