
"Hahahaaaa.....Darpin dilawan! Ayo mana tonjokan yang lainnya anak tuyul! Sakit hati ya kamu karena pacarmu kucicipi hingga mati, dan sekarang kau ke sini mau menyerahkan nyawamu?!" koar Darpin.
"Kau masih ingat di jalan ketika hari Minggu dan kau melawanku, aku bilang akan membuat perhitungan denganmu. Mungkin kini saatnya perhitungan itu!" ujar Darpin, lagi-lagi ber-'cuih ria' dengan ludahnya.
"Bangsaaaaaat.......!! Mampus kau Darpiiin!!" Warya kembali mencoba menyerang Darpin. Kali ini dengan mengirimkan tendangan gaya kungfu.
Namun dengan sekilat saja Darpin berhasil menangkap kaki Warya, lalu tanpa ampun dipelintir sekuat-kuatnya. Warya menjerit-jerit menahan rasa sakit dan langsung tumbang di tanah.
Melihat kedigjayaan Darpin yang begitu kuat dan tak bisa dikalahkan oleh lawannya, si Udin langsung bicara.
"Gan, Gan, tolong kami. Kami dipaksa mereka ke sini katanya mereka mencari dua wanita yang kemarin diserahkan di sini," kata Udin.
"Jangan ngebacot kamu Udin! Dikira gue tak tahu mereka? Mereka musuh bebuyutan gue, mereka ke sini mau mencari mati. Dan kau sungguh bodoh, tidak tahu diuntung. Mestinya kamu jangan keluyuran siang-siang, jangan sembarangan ngomong! Pasti kalian sudah bicara banyak kepada para cecunguk ini, iya kan?" kata Darpin dengan mata melotot tajam ke arah si Udin, si Odos, dan Si Somad.
"Benar Darpin. Mereka telah bicara banyak. Dia mengaku yang membawa Wati dan Yati ke kamu.
Nah sekarang ayo katakan Darpin, di mana disembunyikannya Wati dan Yati? Awas saja kalau kalian melukai keduanya!" ujar Rama sambil mempererat cengkeraman tangannya ke tubuh Udin.
"Hahahaaa......elo baper terhadap kekasihmu Yati dan adikmu Wati kan, Rama? Emang gue lama tak bersua dengan elo, gue tak tahu elo ada hati ke Yati. Tapi semalam gue intip Yati meracau memanggil-manggil namamu! Tapi gue jelaskan ke Yati siang harinya, jangan harap bisa bertemu lagi dengan pacarmu karena kamu akan dipersembahkan kepada si Embah," kata Darpin.
"Brengsek!" koar Rama dengan amarahnya.
"Gan, Gan, tolong kami dong," Udin merengek-rengek minta tolong kepada Darpin cees.
"Baiklah kau akan kutolong Udin," ujar Darpin dengan senyuman sinis tersungging di bibirnya, lalu bercuih-ria lagi.
"Cuiiiih!!!"
__ADS_1
Darpin mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya. Ternyata dia mengambil pisau belati yang amat tajam.
Semuanya terkejut melihat Darpin mengambil pisau. Rama dan yang lainnya termasuk Warya yang sudah bangun langsung waspada atas kemungkinan serangan pisau Darpin yang tampak sedang emosional itu.
"Kau ingin ditolong olehku kan, Udin?" tanya Darpin kepada si Udin yang sudah mulai terkencing-kencing melihat pisau yang mengkilap tersorot cahaya mentari siang.
"I, iya, iya, saya mohon pertolongan Gan Darpin biar bisa kembali mencari perawan lebih banyak lagi. Tapi, tapi,.....itu pisau untuk apa ya?" kata Udin yang masih berada dicengkeraman tangan Rama.
"Ya pisau ini untuk menolong kamu, bego! Menolong kamu agar selamat dari tangkapan polisi karena gue yakin kalian sudah buka rahasiaku kan?" ujar Darpin dan sekilat menusukkan pisau itu ke dada si Udin.
Untung Rama segera melepaskan diri melihat pisau diarahkan ke dada si Udin.
"Aaaaaauuuu......" dalam sekejap saja si Udin pun sekarat, lalu nyawanya meninggalkan tubuhnya yang terkapar bersimbah darah.
Melihat si Udin terkapar, si Odos dan si Somad, sontak terkencing- kencing, jantungnya berdegup kencang.
Keduanya berhasil ditangkap tanpa ampun. Darpin memberikan pisau kepada Doma.
"Eksekusi!" Perintah Darpin. Doma pun melakukannya terhadap si Odos. Lalu dilakukan pula kepada si Somad, hingga tiga sekawan yang belum menghabiskan uang upah menculik perawan itu tewas seketika.
"Hahahaaa.......beres. Cecunguk membahayakan itu kini telah kita tolong. Tinggal sekarang kita bereskan cecunguk-cecunguk ini," ujar Darpin merebut pisau belati dari tangan Doma. Pisau bekas menusuk yang masih berdarah itu Darpin bersihkan dengan lidahnya. Darpin seperti sedang kerasukan.
"Ayo siapa yang ingin lebih dulu menyusul si Wiwi ke akhirat? Tampaknya cecunguk Warya, si manusia munafik, si manusia sok pintar, si manusia sok kegantengan, yang ingin terlebih dahulu menyusul ke akhirat. Katanya dia sudah kangen berat, hahaaaaaa......ayo mari sini jagoan tengik!" hina Darpin.
Warya sungguh merasa terhina dengan ucapan si Darpin. Namun apa daya tenaganya sudah terkuras bekas menonjok dan dipelintir bahkan diputar kaya baling-baling oleh si Darpin tadi.
"Ayo, maju Warya! Kok malah diam? Mana bukti kesetianmu kepada si Wiwi? Kalau benar-benar cinta kepadanya ayo harus siap mati!" ejek Darpin lagi.
__ADS_1
"Baiklah, kalau tidak mau menghampiri, akulah yang akan menghampirimu Warya. Aku benar-benar jijik melihat wajahmu. Saat ini kau harus segera pergi dari dunia ini," kata Darpin sambil melangkah mendekati Warya.
Warya pun mundur beberapa langkah meski waspada untuk menghindari serangan pisau Darpin jangan sampai melukai dirinya.
"Hahaaa....benar-benar lelaki pengecut. Maunya mendapat wanita cantik, ketika wanita cantik teraniaya, malah tak berdaya. Tahu begini, mengapa tidak kau lepaskan Wiwi kepadaku dengan baik-baik saat itu, hah?"
Darpin makin mendekati Warya. Kini Warya sudah bersender di pinggir tebing, tak ada celah lagi untuk lari ke mana pun pasti dapat diserang Darpin dan kawan-kawannya.
Rama, Pak Rudi, dan Anwar, hanya melihat saja belum berani beraksi karena selain harus menghadapi si Darpin yang kini tampak 'berilmu' hingga jadi jagoan, juga ada si Doma, si Benco, dan si Gonto yang tentunya jagoan pula.
Meski begitu, Rama, Pak Rudi, dan Anwar siap mati jika si Darpin berani melukai Warya dengan pisaunya.
"Hahaaa.....kelihatan wajahmu pucat begitu Warya! Kau takut mati kan? Kau sepertiku anak tunggal dari orangtua kaya. Jika kau mati, orangtuamu akan sangat kehilangan dan harta bendanya takkan kau miliki. Sayang, sayang sekali. Tapi apa mau dikata, belatiku ini sangat haus darah, terutama darah orang-orang yang sangat kubenci, di antaranya kamu, monyong!" ancam Darpin.
Ujung pisau belati dipermainkan Darpin di sekitaran muka Warya. Dekat keningnya, dekat matanya kiri kanan, dekat hidungnya bahkan ujung pisau belati itu mengenai ujung hidung Warya hingga Warya sangat gelisah.
Namun dia mencoba mengumpulkan kekuatan. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah cantik Wiwi, lalu menjerit-jerit saat dinodai si Darpin. Seketika muncul keberanian yang amat kuat.
Dan...ia muncratkan saliva sebanyak-banyaknya ke wajah Darpin.
"Cuihhhhh!!!" saliva Warya menempel lekat di wajah Darpin.
"Hueks!!!!!" Darpin merespons dengan menggerutu di mulutnya.
"Bangsat! Kau benar-benar menantang maut Warya! Ludahmu pencabut nyawamu! Untuk kedua kalinya aku menerima ludah dari orang yang amat kubenci. Dulu si Wiwi juga meludahiku, sekarang kau lagi Warya! Rasakan ini belati akan mengantarkanmu ke neraka!" koar Darpin sembari menghunus belati diarahkan ke dada Warya.
Warya sudah pasrah dengan keadaan menerima terjangan belati dari Darpin. Mau menghindar pun percuma. Dia memejamkan matanya, seolah ia meyakini bahwa hari inilah akhir hidupnya.
__ADS_1
Akan tetapi Warya terkejut ketika tiba-tiba dia mendengar erangan Darpin. Dan warya pun membuka mata, tiba-tiba terlihat Darpin sudah tergeletak sambil merintih kesakitan. (Bersambung)