
Setelah memberikan uang kepada Pak Muslih Bu Windi pun memberikan amplop kepada Pak Ustaz Hamid.
"Nih sekadar beli cendol Pak Ustaz, mohon diterima," ujar Bu Windi.
"Duh apa-apaan ini Bu? Ngerepotin aja?" kata Ustaz basa-basi.
"Enggak ngerepotin kok, sudah tersedia," balas Bu Windi.
"Ya kalau begitu saya terima semoga diganti oleh Allah yang lebih besar lagi," ujar Ustaz Hamid lantas menerima amlop dari Bu Windi dan memasukkannya ke dalam saku.
Setelah semuanya dipandang beres, para tamu pun berpamitan. Pak Muslih dan Ustaz Hamid kembali menaiki mobil dan dikemudikan oleh Toto. Sedangkan Rama kembali membonceng Yati, dan Anwar membonceng Wati.
"Permisi Bu, assalaamualaikum," kata Ustaz Hamid.
"Silakan Pak, waalaikum salam, hati-hati di jalannya semuanya," timpal Bu Windi yang ikut keluar rumah hingga teras.
Malamnya, ada perasaan lega di hati Bu Windi. Selain karena telah diusahakan mengusir dedemit dari rumahnya melalui usaha Ustaz Hamid, juga sebagian beban pikirannya telah berkurang karena Pak Muslih bersedia menggarap sawah dan ladangnya lagi.
Malam pun dilewati oleh Bu Windi, Bi Utih, Imas, dan Toto dengan penuh kedamaian tanpa kehadiran teror para dedemit.
***
Hari Minggu nan cerah, semburat mentari pagi tampak terang di sebelah timur dan lambat namun pasti mentari beranjak ke atas.
Seorang pemuda didampingi seorang pemudi tengah menelusuri pinggir jalan raya di kampung itu sambil lari-lari kecil. Sesekali tangan si pemudi menggenggam tangan si pemuda seolah tak ingin jauh daripadanya.
"Jangan kenceng-kenceng larinya, aku capek, tahu?" keluh si pemudi.
Si pemuda tampaknya tak menggubris keluhan si pemudi, dia malah lari mengibrit seolah sengaja menjauh.
"Gila loh! Ya udah aku di sini aja, silakan kamu lari yang kenceng, kalau jatuh gak bakal gue tolongin!" keluh si pemudi, sontak wajahnya cemberut.
"Namanya juga olahraga sayang, ya raganya harus diolah. Diolahnya dengan gerak, gerak termudah dan termurah ya lari," ujar si pemuda.
Si pemudi masih bergeming. Tampaknya hatinya masih kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Ya udah, ayo jalan kaki aja kalau gak mau lari," kata si pemuda berjalan menghampiri si pemudi.
Si pemudi baru mau mengusir wajah cemberutnya, berganti dengan wajah ceria.
"Duduk dulu, capek," ajak si pemudi sembari menunjuk bangku di bawah sebuah pohon di pinggir jalan.
"Ayo," balas si pemuda.
Keduanya pun lantas berjalan bergandengan tangan menuju bangku itu. Lalu duduk berdampingan bak di pelaminan.
Keduanya sehabis berolahraga dari lapangan desa. Setiap hari Minggu warga Kampung Mekarsari, Desa Mekarmulya, memanfaatkan waktu luang sehabis bekerja sepekan dengan berolahraga pagi.
Pun dua sejoli ini tak ketinggalan ikut berolahraga. Ya, memang umumnya yang aktif berolahraga di hari libur pekan itu para pemuda dan pemudi yang berpasang-pasangan.
__ADS_1
Ada juga ibu-ibu yang bersenam dipimpin ibu-ibu PKK tingkat RW, dan bahkan dari desa pun tak ketinggalan.
"Bagaimana sekarang sudah segar?" tanya sang pemuda. Matanya menatap lekat kepada sang pemudi pujaan hatinya.
"Gimana ya, biasa-biasa aja lah," timpal si pemudi datar.
"Kalau aku benar-benar segar," timpal si pemuda.
"Apa yang membuat Kakak segar?" tanya si pemudi belum memahami ke mana arah pembicaraan si pemuda.
"Ya...kamulah," ujar si pemuda, terkekeh.
"Gombal!"
"Plak, plak, plak!" tiga buah pukulan mendarat di bahu si pemuda.
"Lagi!" ujar si pemuda.
"Lagi apa, dipukul?"
"Iya dipukul, masa di......?"
"Di....apa, dibogem?"
"Iya dibogem, tapi jangan pakai tangan."
"Kalau dibogem ya pakai tangan, dong!"
"Habis pakai apa yang tidak sakit?" si pemudi makin penasaran saja.
"Pakai ini nih!" ujar si pemuda sambil menunjuk bibir si pemudi.
"Tak usah ya! Harus minta izin dulu sama ortu, gak boleh sembarangan!" kata si pemudi.
"Ya iyalah tak boleh sembarangan, kalau sembarangan entar bikin masalah!"
Tiba-tiba terdengar seorang pemudi lainnya menanggapi ucapan si pemudi itu.
"Ih, kamu Imas? Gak bilang-bilang mau gabung?" ujar si pemudi yang tiada lain dia adalah Yati yang pagi itu sedang berolahraga bersama Rama.
"Halo, To, apa kabar? Gak capai jalan kaki dari rumah Bu Windi ke sini?" tanya Rama sambil mempersilakan Toto duduk di sampingnya.
"Capai sih capai, Kak Rama. Tapi kalau Nyonya yang ngajak, apa boleh buat.....rasa capai dienyahkan!" timpal Toto menyebut Imas dengan Nyonya.
"Nyonya? Kapan kalian nikah?" sungut Yati, Rama pun bengong.
"Ya belum sih, tapi kan kalau latihan panggil Nyonya dari sekarang gak apa-apa?" kelakar Toto sekenanya.
Wajah Imas tampak memerah mendengar ucapan Toto, tetapi juga ada rasa bahagia yang sangat mendalam.
__ADS_1
"Iya deh bolehlah, semoga kalian cepat menghadap penghulu," kata Rama.
"Ya Kak Rama dan Kak Yati dululah, aku kan adiknya Kak Yati usianya pun di bawah Kak Yati," timpal Imas.
Rama memandang Yati seolah minta jawaban. Yang dipandang malah memalingkan mata ke arah lain, seolah ingin menjelaskan bahwa jawaban yang pas bukan dari dirinya tetapi dari Rama sebagai seorang pria.
"Aku sih bukan tidak mau segera berumah tangga Im, tetapi siapa wanita yang mau kepada pemuda macam aku," ujar Rama dengan nada lirih bahkan seolah memelas di tengah-tengah rasa frustasi.
"Lho, kan ini dambaan hati Kak Rama ada di samping Kak Rama," ujar Imas, terkejut saja kok tiba-tiba Rama bilang seperti itu.
Yati tampak cemberut, lalu menunduk. Seolah dia benar-benar menelan bulat-bulat perkataan Rama barusan.
"Habisnya disuruh minta jawaban atas peryataanmu, Im, dia malah memalingkan muka. Itu tandanya dia tak suka sama aku," ujar Rama blak-blakan.
"Lho, lho, lho.......kok jadi serius begini?" Imas terheran-heran.
"Mungkin maksud Teh Yati, yang paling pas menjawab pernyataan Imas bahwa sebaiknya Kak Yati dan Kak Rama menikah lebih dahulu itu ya Kak Rama," ujar Toto menengahi.
"Nah, bener tuh kan? Jadi singkatnya Kak Rama segera datang ke Pak Rudi meminta Kak Yati, lalu kalian berdua buru-buru nikah. Nah baru aku.......gitu
lho, itu pun kalau Kak Toto tak tergoda oleh pelacar," ujar Imas setengah bercanda menyebut pelacar padahal yang lazim disebut adalah pelakor.
"Apa? Pelacar? Pelakor kali?" Yati akhirnya berkicau juga karena tergoda oleh ocehan Imas.
"Iya pelakor kalau akunya sudah menikah. Kan ini baru pacaran jadi perebut laki pacar, disingkat jadi pelacar," celoteh Imas.
"Hahaaaaa......" mereka berempat pun lantas tertawa terbahak-bahak meningkahi candaan Imas.
Baru saja mereka melepas tawa, tiba-tiba dari arah lapangan desa muncul Anwar dan Wati, di belakangnya ada Warya dan Triana.
Memang Rama, Wati, dan Triana pergi bersama dari rumah pagi tadi. Lalu Rama mengajak Warya dan Anwar, kemudian ke rumah Yati, bersama pergi ke lapangan desa.
Sementara Toto dan Imas tak disangka juga menyusul padahal jarak rumah Bu Windi ke Kampung Mekarsari cukup jauh.
Hanya di lapanggan mereka berpencar dan pulang pun tak bersama lagi, tetapi menempuh jalan yang sama yaitu jalan raya desa menuju rumah Pak Muslih.
Sekarang kebetulan mereka berkumpul secara bersamaan.
"Im, kita ke tukang bakso itu yuk!" ajak Yati kepada Imas.
Yati ingat ketika almarhumah Wiwi masih ada, pada saat seperti hari inilah terakhir Yati, Imas, dan Warya besenda gurau dengan almarahumah Wiwi.
"Emang ada apa dengan tukang bakso itu?" tanya Wati.
"Ada kenangan yang takkan terlupakan dengan almarhumah kakakmu, Wat," ujar Yati dengan nada lirih karena sontak hatinya terasa pilu mengingat kejadian waktu itu yang rasanya baru saja terjadi kemarin.
"Iya benar Wat, aku sangat ingin reunian dengan tukang bakso itu, terutama reunian dengan yang mentraktir baksonya tiga mangkuk," ucap Imas sambil melirik yang punya 'lakon', Warya.
Yang dilirik cuma tersenyum. Warya pun ingat ketika dia mentraktir Yati, Imas, dan Wiwi, jajan bakso sepulang berolahraga Minggu saat itu.
__ADS_1
"Maunya? Paling juga kamu giliran mentraktir kami, Im. Kan kamu sekarang mah sudah jadi keponakan Bu Windi," kilah Warya. (Bersambung)