Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 72. Lagi, Seorang Gadis Berhasil Diculik


__ADS_3

Keduanya pun lantas melajukan lagi sepeda motor. Tak jauh dari kawasan perkebunan itu mendapati perkampungan. Dilihatnya ada penjual serabi di pinggir jalan yang dijajakan seorang ibu.


Danu dan Tanu pun menghampirinya. Sepeda motor diparkir, lalu Danu dan Tanu jajan serabi dengan lahapnya, bahkan minta dibuatkan kopi hitam yang kebetulan disediakan penjual serabi ibu-ibu itu.


Ketika Danu dan Tanu menyantap serabi plus gorengan dan kopi panas, tiba-tiba Danu melihat seorang gadis yang tengah berjalan dengan menunduk.


Ketika melewati Danu dan tukang serabi, gadis yang diperkirakan berumur 20 tahunan itu tak menoleh sedikit pun. Dia khusuk dengan pikirannya yang sepertinya tengah menghadapi masalah besar.


Danu lalu mencubit lengan Tanu dan menunjuk ke arah gadis itu. Lalu Danu memberi isyarat bahwa gadis yang dicarinya sudah di depan mata.


Ya, Danu bermaksud menculik gadis yang tampaknya tengah menghadapi masalah besar tersebut. Artinya Danu berkeyakinan akan mudah mendapatkan gadis itu, apalagi punya azimat andalan genianggara.


"Jangankan cuma seorang gadis, polisi pun gue taklukkan," ujar Danu ujub.


Setelah membayar serabi dan kopi Danu dan Tanu menaiki kembali sepeda motor sambil terus mengawasi sang gadis yang masih terus berjalan.


Danu merasa senang melihat gadis itu masih terus berjalan hingga ujung kampung dan memasuki kebun dan persawahan.


Danu menghentikan sepeda motor lalu menyuruh Tanu turun. Tanu menurut kemudian tangannya ditarik Danu yang kemudian Danu membisikkan sesuatu kepada Tanu untuk mengelabui sang gadis.


Tanu mengangguk, tanda mengerti terhadap instruksi yang diberikan oleh Danu.


Danu memberikan sesuatu dari celananya kepada Tanu dan menginstruksikan sesuatu pula.


Lalu Danu melajukan sepeda motor dengan pelan-pelan bahkan akhirnya sekitar 10 meter lagi dari si gadis itu dia turun dan menuntun sepeda motor dalam keadaan mesin mati.


Sementara Tanu berjalan agak jauh dari motor Danu, namun tetap mengawasi Danu dan sepeda motor menunggu instruksi lanjutan dari Danu.


Kini Danu benar-benar telah berada di dekat sang gadis, sudah amat jauh dari perkampungan. Di pinggir jalan ada tempat duduk terbuat dari kayu di bawah pohon mangga.


Si gadis tampaknya sudah merasakan lelah sehingga ia menepi mendekati bangku lalu duduk. Ketika melihat Danu di belakangnya, si gadis terkejut, takutnya orang itu akan berbuat jahat.


Apalagi si gadis melihat Danu berhenti dan memandangnya bahkan bertanya.


"Dek numpang tanya kalau Kampung Cimahpar masih jauh?" taya Danu, dia asal saja bicara, namanya juga trik penipuan seperti yang disampaikannya kepada Tanu tadi.


Si gadis tak segera menjawab, dia menatap Danu dengan pandangan sayu. Mata sang gadis tampak lembap, sepertinya dia habis menangis atau bahkan menangis terus-menerus, terlihat pipinya masih basah.


Gadis yang lumayan cantik itu tak berbicara sepatah kata pun, bahkan sekadar membuka bibir untuk tersenyum. Danu berpikir andai gadis ini tersenyum pastilah hasrat kelelakiannya bakal bangkit.


Namun sayang, walaupun bangkit tanpa dia tersenyum, hasratnya cuma sampai di angan-angan karena misinya adalah mendapatkan gadis untuk persembahan kepada sang guru, bukan untuk pemuas nafsunya.


"Kalau misiku telah berhasil, berapa pun perawan yang aku suka, pastilah kucicipi," gumam jahat Danu.


"Sepertinya Adek lagi menghadapi masalah besar? Bolehkah Bapak membantu? Perkenalkan Bapak seorang kades dari Desa Mekarmulya," kata Danu.

__ADS_1


Danu lantas mengambil dompet dan mencomot KTP lalu diperlihatkan kepada si gadis biar mempercayainya.


Benar saja raut wajah si gadis tak terlalu tegang seperti tadi.


"Desa Mekarmulya?" tanya si gadis.


"Iya, aku kades di desa itu," timpal Danu, sambil ikut duduk di bangku berdampingan dengan si gadis.


"Boleh aku duduk?" tanya Kades Danu.


Si gadis lalu mengangguk. Danu senang, jerat perangkapnya sudah mulai ada yang mengikat si gadis dan sebentar lagi dia berharap si gadis mampu ditaklukkan sepenuhnya.


Hening beberapa saat. Si gadis menarik napas lembut, pandangannya lepas ke pepohonan dan persawahan, lalu bentangan jembatan Sungai Cilampit ditemani semilir angin khas persawahan yang tiada hentinya melabrak apa pun yang dilaluinya. Tiba-tiba si gadis bicara.


"Aku benci mendengar nama desa itu!"


"O ya?" Danu terkejut juga ternyata gadis itu telah mengenal desa yang dipimpinnya.


"Pernah ke sana?"


Si gadis mengangguk.


"Dalam rangka apa? Hanya main-main, atau.......?" tanya Danu kemudian.


"Dalam rangka malu-maluin diri sendiri untuk mendapatkan jodoh seorang pemuda, namun ternyata pemuda itu menyakiti. Sakitnya bukan hanya karena si pemuda tetapi juga orangtua aku, terutama ibu......."


"Aku kira Anda tak perlu tahu, siapa dia. Percuma! Kecuali........" kata si gadis.


"Kecuali Bapak bisa membantumu balas dendam. Iya kan?" ujar Kades Danu mencoba menebak kata-kata lanjutan yang akan diucapkan si gadis. Dan ternyata si gadis itu mengangguk.


"Jadi, Adinda gelisah karena ingin membalas dendam terhadap si pemuda dan tak senang disudutkan oleh ibumu?"


Si gadis mengangkat jempol tangan kanannya sembari sedikit tersenyum. Danu pun mengangkat jempol serupa teriring senyuman pula.


"Kalau begitu, Bapak siap membantu balas dendammu. Ayo naik sepeda motor Bapak, sekarang juga kita temui dia dan orangtuanya. Akan Bapak kasih pelajaran sebab telah mencoreng nama baik Desa Mekarmulya. Kalau keberatan menyebut namanya sekarang, biarlah nanti saja," kata Danu.


Tak pikir panjang lagi si gadis bangkit dari tempat duduknya dan menuju jok belakang sepeda motor Danu. Sejenak Danu memindahkan sesuatu dari balik punggungnya ke bagian depan atau perutnya dengan sembunyi-sembunyi takut kelihatan oleh si gadis.


Danu menaiki sepeda motor sangat ke depan bahkan mengenai tank bensin. Mesin sepeda motor dihidupkan, namun masih belum berangkat.


Danu membunyikan klakson sepeda motor, si gadis sudah nyaman di atas jok motor menunggu motor melaju. Entah mengapa belum juga melaju.


Si gadis tak menyadari bahwa klakson motor itu sebagai tanda atau isyarat agar seseorang segera menghampiri.


Benar saja, sesaat kemudian muncul Tanu dan dengan sigap dia menarik lengan si gadis ke belakang kemudian mengikatnya menggunakan tali yang didapatkannya selagi tadi sembunyi-sembunyi sesuai instruksi Danu. Lalu membekap mulut si gadis dengan saputangan besar milik Danu yang tadi diberikan kepadanya oleh Danu.

__ADS_1


"Maju!" teriak Tanu.


Dengan sigap Danu pun melajukan sepeda motor. Si gadis dipepet kuat-kuat oleh Tanu yang duduk di belakang.


Si gadis baru sadar dia telah menjadi korban penculikan dua pria yang tidak dikenalnya. Yang membawa motor mengaku seorang kades, lalu mengapa seorang kades berperilaku seperti bajingan, penjahat yang tega-teganya menculik seorang gadis yang tengah menghadapi masalah besar.


"Apa tujuan mereka menculik aku?" benak si gadis bertanya-tanya dalam hatinya.


Benar dia lari dari rumahnya karena sudah tidak kuat menahan kepedihan hatinya dimaki-maki sang ibu sebagai gadis kurang beruntunglah, pembawa siallah, dan ocehan-ocehan lainnya yang membuat hati sang gadis terus menangis.


Maka, kalau sang ibu saja sudah sedemikian membencinya karena tak dapat berjodoh dengan seorang pemuda yang sangat diharapkan oleh ibunya, apalagi orang lain.


"Untuk itu aku harus mengakhiri hidup karena kalaupun terus hidup hanya akan menderita," imbuh sang gadis masih dalam hatinya.


Akan tetapi, harus mati di tangan dua penjahat yang kini membawanya kabur entah mau dibawa ke mana, si gadis tak rela juga. Apalagi tadi si pembawa motor menyebut akan


membantunya. Namun kenapa mau membantu dengan cara kasar dan jahat? Tangan diikat, mulut dibekap.


"Apa-apaan ini?" gumamnya lagi dalam hati.


Ingin sekali dia melawan, memberontak, namun apa daya dia harus menghadapi dua pria, dia harus berpikir dua kali.


Benar, dia kabur dari rumah untuk tujuan mengakhiri hidup dan akan terjun ke sungai dari atas jembatan Sungai Cilampit yang kini sudah terlewati, namun kalau dengan cara penculikan dia sungguh tak rela.


Danu kian senang karena sepanjang perjalanan hanya persawahan, perkebunan, belukar, dan hutan. Tak ada kendaraan lain yang berpapasan atau mengikuti.


Puluhan kilometer telah dilalui Danu akhirnya mendapati jalan yang biasa ia lalui jika akan ke tempat tinggal Embah Sawi hingga akhirnya sampailah dia ke rumah Tarso dan Sukinah.


Dia menghentikan sepeda motornya, lalu memanggil-manggil nama Tarso dan Sukinah. Namun tak juga ada jawaban.


Di hari Lebaran Danu masih ingat peristiwa menjemput Imas dan Iis yang ditahan oleh Tarso dan Sukinah, kemudian peristiwa mobil Darpin yang tidak bisa hdup sehingga Imas dan Iis dibawa menggelandang ke tempat tinggal Embah Sawi.


Akan tetapi sekarang pasangan suami istri itu tidak ada di rumahnya.


"Oh, mungkin dia sedang di rumah si Embah," pikir Danu. Lalu dia pun melajukan kembali sepeda motornya menuju rumah Embah Sawi.


Akhirnya tibalah ke tempat Embah Sawi. Sepeda motor langsung dimasukkan ke garasi sederhana tempat mobil Jeep dan ternyata sudah ada di garasi lagi mungkin bisa dihidupkan.


"Ayah?" tanya Darpin begitu melihat ayahnya datang dengan membawa seorang gadis bahkan ada Tanu, orang kepercayaan ayahnya dan putrinya Iis sekarang ada di sini, siap-siap untuk dijadikan tumbal.


"Ya, Darpin. Ayah datang membawa seorang gadis lagi untuk melengkapi yang empat orang. Sebentar lagi ayah akan memiliki azimat paket komplet dan segala cita-cita Ayah akan terwujud, anakku," kata Danu bangga.


Sejenak dia melupakan status dirinya sebagai buron aparat berwajib yang tengah mengerahkan pasukan untuk mencarinya karena sangat membahayakan. Danu kabur membawa pistol.


"Syukurlah kalau begitu Yah, aku bangga," sambut Darpin.

__ADS_1


"Sekarang tolong amankan gadis ini, bawa ke pemimpin perusahaan. Ayah akan bicara dengan Paman Sodom," kata Danu ia terpaksa menyebut pimpinan perusahaan karena Tanu mendengar dan memperhatikannya. (Bersambung)


__ADS_2