
Bi Utih sungguh tak percaya terhadap apa yang dikatakan Ustaz Hamid. Jangan-jangan itu hanya candaan yang sungguh tak lucu bagi Bi Utih, entah bagi sang ustaz.
Namun itulah kenyataannya, Ustaz Hamid berharap Bi Utih menjadi teman hidupnya setelah ditinggalkan Bu Aminah.
Berkali-kali Bi Utih geleng-geleng kepala ketika bekali-kali pula Ustaz Hamid terus mengajaknya untuk hidup seatap dengannya.
Akhirnya Bi Utih berkonsultasi dengan Imas dan menantunya, bahkan dengan Bu Windi. Baik Imas maupun Bu Windi tentu saja menyetujui apalagi dikatakan oleh Bi Utih bahwa sang ustaz setengah memaksanya.
"Ya ahamdulillah, harus diterima Bi. Ustaz Hamid pastinya akan mengangkat derajat Bibi dari hanya sebagai ART menjadi istri ustaz, tinggal bagaimana kita menjalaninya. Pasti Ustaz Hamid telah mempertimbangkannya masak-masak, Bi," ujar Bu Windi.
Sementara Imas menyerahkan sepenuhnya kepada sang ibu. Mau diterima ya syukur, tidak pun tak mengapa. Namun mendengar nasihat Bu Windi seperti itu, Imas pun akhirnya mendukung sang ibu bisa mempertimbangkan tawaran Ustaz Hamid.
"Tapi kan kamu juga tahu sendiri Mas, ibumu ini jarang-jarang mengenakan hijab kecuali ada acara keagamaan. Jarang-jarang pula ikut majelis taklim, menunaikan kewajiban salat pun masih 'belang betong' (tidak konsisten, Sunda)," ujar Bi Utih memberi alasan penolakan.
"Justru karena itulah saya katakan tadi harkat derajat Bibi bakal diangkat oleh Ustaz dengan kesadaran menunaikan titah agama. Ustaz Hamid tentu takkan membiarkan Bibi tanpa mengenakan hijab, takkan pula membiarkan Bibi meninggalkan salat wajib, bakal mengajak Bibi ke majelis taklim!" ujar Bu Windi.
"Oh benar juga ya Bu," tutur Bi Utih kini dia mengerti karena mau membuka hatinya selebar-lebarnya.
Dan benar juga akhirnya Ustaz Hamid menikahi Bi Utih dalam perhelatan pertikahan yang sederhana, namun khidmat.
Banyak yang terperangah kaget dengan keputusan sang ustaz itu, ada pula yang mendukung dan mengucapkan salut, namun tak sedikit pula yang mencibir.
"Benar-benar Ustaz Hamid memiih istri untuk ladang dakwah dan tentunya menuai pahala," kata yang mendukung.
"Maksudnya?" tanya yang lain.
"Ya iyalah kita tahu bagaimana Bi Utih, bukannya menjelek-jelekkan, tapi kan dari dandanan juga sudah kelihatan, masa iya istri ustaz rambutnya ke mana-mana. Itu artinya Ustaz Hamid bakal mendidik sang istri menjadi salehah. Ya, itu artinya berdakwah mengajak keluarga, dan pastinya bakal berpahala!" jelas yang mendukung.
Namun yang mencibir juga tak sedikit. rata-rata mereka menyesalkan mengapa Ustaz Hamid yang tokoh masyarakat dan ulama itu mau-maunya berjodoh dengan mantan ART.
"Emang sudah kehabisan stok ustazah untuk dijadikan teman hidup? Bagaimana kata Bu Aminah kalau tahu mantan suaminya menikahi ART," cibir yang berbicara.
"Lah jangan bicara begitu, siapa tahu Bi Utih lebih baik daripada kita. Kalau tidak, mana mungkin jadi pilihan Ustaz?" ujar yang lainya.
__ADS_1
Akan tetapi semua gunjingan itu tak ditanggapi baik oleh Ustaz Hamid maupun Bi Utih. Keduanya terus melanjutkan kehidupan bersama sebagai suami dan istri yang sah.
Uataz Hamid memilih ikut tinggal bersama Bi Utih yang kini oleh Ustaz Hamid dipanggil Umi, Umi Utih walaupun rumah sederhana jika dibandiingkan rumah Ustaz Hamid yang dekat masjid dan madrasah.
Itu sengaja dilakukan Ustaz Hamid agar Anwar menggantikan dirinya sebagai pengelola masjid dan madrasah. Meski tak dilepaskan sama sekali karena Awar masih perlu pembinaan lebih dalam baik tentang mengelola masjid, madrasah, maupun meberikan ceramah keagamaan dan menjadi imam di masjid.
***
Waktu pun terus melaju dengan berbagai dinamikanya. Seperti tak lama kemudian waga Desa Mekarmulya kini telah mempunyai kepala desa atau lurah yang baru, yaitu Bu Windi.
Bu Windii dipandang layak menjadi kades oleh warga Desa Mekarmulya karena kinerjanya yang mumpuni. Menyayangi rakyat, suka menolong, membantu rayat yang sedang mengalami kesusahan, dan kinerja baik lainnya.
Benar saja, selang dikelola oleh Bu Windi, warga Desa Mekarmulya merasa senang karena di berbagai bidang terlihat ada kemajuan. Bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan mental spiritual pun tak ketinggalan.
Sementara itu teman-teman seperjuangan Warya saat menghadapi kejahatan Kades Danu dan Si Embah, yaitu Rama dan Anwar, sudah pada menikah.
Rama menikah dengan Yati, Anwar menikah dengan Wati. Bahkan Pak Ustaz Hamid pun telah memetik janda ibunya Imas yang telah menikah pula dengan Toto.
Tinggal Waryalah yang belum ke pelaminan. Namun harapannya itu akan segera terwujud karena Warya pun akan segera mengakhiri masa lajangnya dan akan menyunting Triana Wiarti.
Ya, hari besok Warya akan melangsungkan pertikahan di rumah mempelai wanita, Triana, di Kampung Karangsari yang notabene kampung halaman Ira juga.
Segala sesuatunya telah dipersiapkan secara matang oleh Pak Haji Makmur dan Bu Hajjah Tita. Beberapa buah mobil telah dipersiapkan untuk membawa 'seserahan' beraneka ragam mulai makanan hingga keperluan pengantin.
Ribuan undangan pun telah disebar, bahkan hampir seluruh warga Kampung Mekarsari diundang. Wajar, Pak Haji Makmur dan Bu Hajjah Tita adalah tokoh masyarakat yang disegani.
Semua teman-teman Warya tentu saja telah bersiap-siap untuk menghadiri akad tikah sekaligus pesta pernikahan Warya dengan Triana.
Bu Windi telah menyiapkan mobil akan ikut dengan Imas dan Toto. Ustaz Hamid dipercaya sebagai wakil dari kelurga mempelai pria untuk biantara nanti. Umi Utih kini tampak berdandan modis dengan hijab model yang lagi ngetren.
Imaslah yag sibuk mendandani sang ibu agar tampil 'pede' saat mendampingi sang suami yang notabene seorang ustaz.
Semua orang berdecak kagum ketika melihat tampilan Bi Utih, eh Umi Utih tersebut, bahkan Bu Windi sempat
__ADS_1
tak percaya bahwa mantan ART-nya itu bisa tampil anggun dan tampak sinar kewibawaan.
Takut kesiangan besok pagi, sang calon mempelai pria jam delapan malam pun sudah masuk kamarnya. Dia tak membawa HP-nya ke tempat dia tidur walaupun dia sempat membuka ada notifikasi masuk. Itu tak lain agar dia ingin segera tidur.
Dan benar saja begitu kepalanya menindih bantal, Warya langsung terlelap tak ingat lagi di dunia nyata.
Kini dia sudah berada di dunia maya dan tengah dihadapi beberapa orang perempuan yang tidak dikenalnya, kecuali Wiwi.
"Siapa mereka, teman Wiwi?" gumam Warya di alam maya.
"Halo, calon pengantin, apa kabar?" sapa Wiwi dengan wajah bersih berseri-seri menghampiri Warya yang saat itu tengah duduk di teras rumahnya.
"Oh Wiwi? Iya insyaallah besok aku akan menikah. Hadir ya!" ujar Warya tak canggung lagi meminta kehadiran Wiwi di acara pernikahannya.
"Pasti dong, pasti aku menghadirinya kan yang akan menikah itu aku dan kamu," ujar Wiwi.
Deg!
Warya terkejut mendengar penuturan Wiwi.
"Makanya kami pun akan menghadirinya. Masa anakku menikah tak menghadiri. Selamat ya....." ujar seorang wanita yang sudah tampak tua seumuran dengan ibunya Warya.
"O iya Kak Warya Perkenalkan ini ibuku namanya Ibu Mayanggeni, ini kakakku namanya Kentingmanik, Kentingayu, dan saudaraku Nani," kata Wiwi menjelaskan siapa-siapa saja orang yang menemani Wiwi saat ini.
"O iya, terima kasih kalau Ibu, Teteh, akan menghadiri pertikahan kami," kata Warya, lagi-lagi seperti di dunia nyata, tak ada kecanggungan untuk berharap kehadiran mereka.
"Iya, pasti kami besok akan hadir." kata perempuan yang mengaku bernama Mayanggeni itu.
"Gitu aja Kak Warya ya. Kami permisi dulu, sampai jumpa di pelaminan," kata Wiwi, lalu mereka semuanya menghilang dari hadapan Warya.
Tiba-tiba Warya terhenyak dan terbangun. Larak-lirik kanan kiri mencari-cari perempuan yang baru saja di hadapinya. Tak ada siapa-siapa selain barang-barang pengisi kamar pribadinya.
"Hah, mimpi?" gumam Warya.
__ADS_1
(Bersambung)