
"Padahal tidak benar," sergahku.
"Maksudnya?"
"Ya kalau telah jadi sarjana benar, aktif di masjid juga tak salah. Tapi untuk sebutan orang baik, penyayang, mau berkorban demi orang lain, ah itu semuanya hanya kata-kata Ibu. Aku tak seperti itu.....," kataku.
Ketika kami berduaan ngobrol di ruang tamu, tiba-tiba ada anjing menggonggong di halaman rumahku bahkan mendekat ke teras rumah.
Aku pun reflek bangkit dan menghalau anjing itu agar menjauh. Anehnya anjing itu malah menggonggong keras ke arahku. Aku mengambil batu di halaman rumah dan mengejar-ngejar anjing itu ke mana pun dia pergi.
Aku tak permisi lagi kepada Ira, terus keluar dan mengejar si gogog ke mana pun dia lari, hingga anjing itu masuk ke kebun singkong di belakang rumah. Aku tidak berhenti mengejar anjing itu hingga menjauhi rumahku puluhan meter.
Entah anjing punya siapa. Tapi dalam hati kecilku ada perasaan senang dengan ulah si gogog itu karena bisa keluar dari rumah untuk mengejar anjing sehingga aku tak lagi menemani Ira ngobrol.
Bayangkan, andai tak ada si gogog mungkin aku harus terus menemani Ira ngobrol yang ujung-ujungnya ibu dan Tante Yani akan menjodohkanku.
"Gak usah ya, pacarku adalah Wiwi. Dan aku bakal terus setia kepadanya," lirihku dalam hati sambil terus belari mengejar si gogog
Aku benar-benar lari pura-pura mengejar anjing, padahal anjingnya sendiri sudah lari entah ke mana.
Meski demikian aku tak buru-buru pulang ke rumah. Biarin aja Ira di ruang tamu sendiri, sudah besar kok.
Aku kesal aja ibu memaksa-maksa menjodohkan aku dengan wanita yang baru kukenal. Jangankan yang baru kenal, yang sudah kenal pun aku tak berminat. Hatiku sudah dibawa pergi oleh Almarhumah dan berharap tetap berada padanya.
Aku justru mau ke masjid, selain akan salat zuhur karena sudah waktunya bahkan sudah pukul 13:00 yang kuketahui dari HP, juga akan merencanakan kegiatan Ramadan yang akan dibicarakan besok sore bersama Kak Rama dan para remaja Irma Masjid Al Hasanah, siapa tahu sudah ada sebagian anak-anak di masjid.
Sedatangnya ke halaman masjid, ternyata sepi karena salat berjemaah zuhur memang sudah lama digelar. Biasanya aku tak pernah menyia-nyiakan salat bejemaah di masjid kalau sedang berada di rumah. Hari ini tak bisa karena aku harus menemani Ira di ruang tamu.
Di samping masjid ada madrasah yang kini sepi karena waktu belajar pagi sudah selesai dan nanti sore ada lagi anak-anak masuk. Yang mengajar di madrasah ini Ustaz Hamid, dibantu dua orang, seorang ustaz dan seorang lagi ustazah.
Aku segera mengambil air wudu, setelah selesai lalu salat zuhur munfarid. Usai salat dan berzikir serta salat sunat bakda zuhur, aku tak buru-buru pulang ke rumah, melainkan duduk-duduk di serambi masjid sambil melihat-lihat HP yang kubawa di saku celana.
Aku segera mengganti mode HP dengan mode terbang. Itu tak lain agar ibu tak menghubungiku. Sebab pasti setelah mengetahui aku meninggalkan Ira begitu saja di ruang tamu sendirian, pasti ibu mencak-mencak alias memarahiku.
Tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.
"Assalaamualaikum," katanya. Aku menoleh kepadanya, ternyata Anwar, putranya Ustaz Hamid.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," balasku.
"Lagi ngapain Kak Warya, kok sendiri aja?" tanya Anwar sambil menyalamiku lalu ikut duduk di sampingku.
"Baru salat zuhur," jawabku pendek.
"Kok enggak salat berjemaah? 27 derajat lho pahalanya salat berjemaah itu," kata Anwar sembari tersenyum.
"Tadi ada tamu, makanya aku baru salat sekarang," timpalku memberi alasan.
"Oh ada tamu? Tamu dari mana?"
"Sebenarnya tamu ke ibuku, tapi aku harus menemaninya."
"Cewek, cowok?" tanya Anwar malah keterusan bertanya kayak serse aja.
"Cewek, ibu dan anaknya," jawabku berterus terang.
"O, ya? Mau apa katanya?"
"Katanya tadi Kak Warya disuruh menemani ya pastinya mendengar obrolan mereka...." kata Anwar.
Hih, ni anak mau jadi apa nantinya kepo banget ama urusan orang lain.
"O ya, An, gimana kegiatan Irma menghadapi Ramadan yang dimulai pekan depan, apakah anak-anak sudah mengajukan proposal kegiatan?" kataku mengalihan pembicaraan.
"Bicara kegiatan Ramadan Irma biar besok aja selepas asar Kak Warya. Begitu kan kata Kak Rama juga. Tadi dia salat bejemaah di sini sudah berbincang dengan bapakku....."
Idih, ni anak kepo banget? Udah dibelokkan ke urusan lain, malah balik lagi ke urusan yang aku tak suka ditanya-tanya.
"Ya sekarang ajalah gak apa-apa," kataku.
"Enggak bisa," kata Anwar.
"Kenapa?" tanyaku
"Karena Kak Warya belum menjawab pertanyaanku tadi, bicara apa tamu Bu Hajjah dan Kak Warya?"
__ADS_1
"Kok kamu kepo banget mau tahu urusan tamu gue, An?
"Ya mau tahu ajalah, kita kan bukan dengan orang lain," kata Anwar memberikan alasan.
"Iya sebenarnya gua ke sini setengah lari untuk menghindari jebakan ibu aku An."
"Lho, emangnya?"
"Iya tadi itu ketika aku berbincang dengan Kak Rama, tiba-tiba ibu datang membawa tamu seorang perempuan dan gadis. Lalu ibuku dan perempuan itu masuk ke dalam rumah dan membiarkan aku dan anak gadis itu di ruang tamu."
"O ya? Maksudnya mau apa ya?" Anwar memandang lekat wajahku.
"Ya takkan ke mana maksudnya kecuali akan menjodohkan aku dengan anak gadis tu, An."
"Lalu kenapa Kak Warya menolak kalau mau dijodohkan? Apakah gadis itu tidak baik?"
"Ah, Anwar masih belum mengerti perasaan aku saja. Aku kan sudah bilang berkali-kali, kalau aku masih setia pada Almarhumah. Aku tak ingin mengecewakan hati dia, dialah wanita cinta pertama dan terakhir kakak...." kataku terhenti bicara karena sudah tak kuat menahan gejolak hati karena saat bersamaan dalam benakku berkelebat wajah Wiwi.
"Ya, ya, ya aku mengerti. Kalau begitu mohon maaf aku telah mengusik perasaan Kak Warya.Padahal hanya ingin tahu saja, tak kurang tak lebih. Jadi, sekali lagi mohon maaf...." kata Anwar.
"Gak apa-apa, justru Kakak senang ada teman curhat yang bisa mengurangi beban yang menghimpit pikiran. Lalu, bagaimana hubungan Anwar dengan Wati?"
"Ya terima kasih Kakak mau curhat. Inilah fungsinya kita berteman, bersaudara, salah satunya untuk sama-sama berbagi suka maupun duka. Alhamdulillah hubungan aku dengan Wati baik-baik saja hingga saat ini dan semoga untuk seterusya," kata Anwar.
Aku tahu betul hubungan Anwar dengan Wati dan tampak keduanya saling mencintai. Ketika peristiwa penculikan Wiwi dan Wati beberapa waktu lalu, Anwar ikut sibuk membantu, bahkan beruntung ada dia yang menemukan Wati untuk kemudian memberi tahu Kak Rama dan aku.
Tak terasa hingga waktu asar kami berdua mengobrol di serambil masjid dan Anwar mengumandangkan azan asar. Lalu para jemaah berdatangan termasuk anak-anak yang mau tolab ilmu di madrasah.
Salat berjemaah asar pun dimulai diimami oleh Ustaz Hamid seperti biasanya.
Sembari salat pikiranku justru tak keruan, ingat kepada yang baru saja kulakukan meninggalkan seorang gadis bernama Ira. Entah bagaimana sekarang dia. Apakah masih ada di rumah atau sudah pulang.
Usai zikir aku pun segera pulang ke rumah. Mudah-mudahan saja tak ada apa-apa, terutama ibu semoga tak memarahiku. Aku pun sudah mempersiapkan alasan mengapa meninggalkan Ira sendirian dan semoga ibu bisa menerima.
Ketika hampir mendekati rumah, aku mengendap-endap melihat situasi di depan rumah. Ternyata pintu depan masih terbuka dan ada beberapa sandal, tampaknya Tante Yani dan Ira masih ada di dalam rumah.
Aku mengendap-endap ke balik kamar depan dan berjongkok menunggu Tante Yani dan Ira pulang. (Bersambung)
__ADS_1