
Aku dan Tanu meninggalkan rumah Si Muslih, penggarap ladang dan sawahku. Aku sangat kesal karena rencanaku untuk damai atas kasus anakku si Darpin tak kesampaian.
Aku keluar rumah si Muslih tanpa pamit saking kesal. Tak dinyana orang miskin itu sombong, merasa tak butuh bantuan orang kaya seperti aku. Rasakan saja pembalasanku.
Aku pun berjalan beriringan dengan si Tanu, adiknya si Muslih. Si Tanu beda dengan kakaknya, dia penurut dan mau bekerja sama denganku sehingga kehidupannya tak susah karena aku pun tak sungkan-sungkan memberinya uang.
"Tan, kamu mau langsung pulang ke rumahmu atau mengantar dulu aku?" tanyaku kepada Tanu ketika kami sudah sampai ke jalan besar dan sebentar lagi memasuki area permakaman umum di desa kami.
"Ya, nganterin dulu Pak Kades, dong. Masa dibiarkan pulang sendiri," ujar si Tanu. Padahal aku tahu dia mau mengantarku karena belum menerima uang tagihan lima juta yang kujanjikan.
"Kalau mau pulang langsung ke rumahmu boleh, biar aku pulang sendiri," kataku.
"Ah enggak, ngantar dulu sampai rumah," ujarsi Tanu bersikukuh.
"Ya okelah," kataku.
Kami sudah memasuki area permakaman. Mendadak bulu romaku berdri, mungkin karena aku merasa tak ikut mengantar Wiwi ke pemakaman waktu itu sehingga ada perasaan berdosa dan lalu muncul perasaan takut ada apa-apa.
Namanya di kampung kepercayaan terhadap hal-hal di luar nalar semisal pocong. penampakan, masih kental, termasuk aku yang mestinya justru tak selayaknya mempercayai hal-hal misteri yang kata ustaz termasuk perbuatan syirik.
Akan tetapi kenyataannya bulu romaku berdiri. Aku mencoba menenangkan diri. Namun, tiba-tiba di belakang terdengar suara yang memanggil sepertinya suara perempuan.
"Mas, Mas, Maaaas........" katanya.
Aku belum menoleh ke belakang karena boleh jadi itu cuma halusinasi pikiranku bahwa betapa takutnya melewati area permakaman malam-malam dengan suasana remang-remang karena cahaya lampu cuma sedikit.
"Mas, Mas, Maaaas.....tolong," namun suara memelas itu terdengar lagi.
Aku pun menghentikan langkah.
"Ada apa Pak? Kok berhenti?" tanya si Tanu.
"Kau dengar ada yang manggil-manggil, sepertinya suara wanita di belakang?" bisikku ke telinga si Tanu.
"Ah, yang bener?"
"Iya......"
"Mas, Mas Maaaaas.......tolong," terdengar lagi suara perempuan.
__ADS_1
"Tuh, denger?" kataku pada siTanu
"Oh iya ya......"
Lalu kami pun menoleh ke belakang, benar saja ada sesosok wanita mengikuti kami. Kami pun membalikkan badan dan menunggu wanita itu mendekat.
Tiba-tiba tercium bau menyengat seperti bangkai, namun tiba-tiba tercium bau wangi yang begitu harum. Siapa gerangan wanita ini malam-malam keluyuran sendiri?
"Malam, Mas, Mas......maaf ya mengganggu," ujar wanita tu. Aku tak mengenal wajah wanita itu yang tampak sekilas begitu cantik dengan buah dada menonjol menggodaku yang sudah terbiasa mudah terbangkit hasrat berahi jika melihat wanita seksi meski aku sudah beristri dan tak kalah seksi.
Terus terang saja aku begitu tergoda oleh wanita cantik, sembunyi-sembunyi dari istri, suka menggoda wanita bahkan berani berselingkuh di belakang istri. Uang dan kekuasaan membuatku punya alasan kuat untuk mengobral berahi bukan pada tempatnya.
Darahku yang suka perempuan tampaknya mengalir ke si Darpin. Sayang dia tak bermain cantik sehingga malah membunuh korbannya. Jadi celaka, bukan hanya dia tapi aku pun bisa kebawa-bawa.
"Ada apa ya?" tanyaku dengan mata melotot kepada pemandangan indah di dada perempuan misterius itu.
"Aku, aku, kemalaman, mau ke rumah saudara. Takuuut....kalau-kalau ada yang ganggu....," katanya tersenyum manja membuat jantungku kian berdegup kencang.
Sekilas fantasiku sudah melayang-layang ke sorga dunia dengan wanita cantik di hadapanku ini. Begitulah kebiasaanku.
"Oh, mau dianterin. Boleh-boleh, di mana rumahnya? Yuk, dianterin sama Mas," ujarku gembira.
"Nu, kamu pulang aja. Takut istrimu mencari-cari. Nih uang yang kujanjikan," ujarku kepada Tanu sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Tanu.
"Iya, ayo sana pulang saja. Aku mau nganterin Nyonya ini kasihan," ujarku meyakinkan si Tanu.
"Kalau begitu, ya aku pulang Pak. Terima kasih uangnya," kata si Tanu lalu balik badan pulang ke rumahnya yang tak begitu jauh dari rumah si Muslih.
"Emang dari mana dan siapa saudaranya?" tanyaku sembari mengajak duduk wanita itu di atas tembok got jembatan sungai kecil.
"Ya dari rumah, mau ke saudara tapi masih jauh dari sini. Makanya minta bantuan Mas," ujarnya, masih bermanja-manja, membuat darahku mendesir hebat.
Tiba-tiba tercium lagi bau busuk seperti mayat, namun datang bau harum yang sangat wangi, lalu bau dupa seperti ada orang yang tengah membakar dupa.
Jantungku kembali berdegup kencang. Namun buru-buru diusir karena gelora berahi pun begitu kuat, bahkan aku ingin segera mendekap dan berhubungan dengan wanita itu ketika dia dengan mesranya mengelus-elus pahaku. Seketika hasrat kelelakianku memuncak.
"Maaaas......" ujarnya lembut.
"Apa sayaaaaang.....?" tiba-tiba aku larut dalam buaiannya hingga spontan memangilnya sayang.
__ADS_1
"Mas cakep deh," godanya. Lalu tangannya menggerayangi dadaku. Aku terkejut karena jemarinya seperti berkuku panjang dan tajam ketika terasa menyentuh kulitku.
"Kamu juga cantik," rayuku juga.
"Ah, masak?" celetuknya.
Kupandangi wajahnya, sontak aku terkejut karena melihat seperti dia bertaring, tapi dalam sekejap berubah lagi menjadi wanita cantik.....
"Hooh," ujarku.
Tanpa tersadar aku menggenggam tangannya, jemari kami saling bertautan, layaknya orang yang sedang memadu kasih. Namun, aku lagi-lagi terkejut karena tautan jemariku serasa beradu dengan kawat hingga aku nyaris saja menjerit karena sakit. Namun, tiba-tiba terasa lembut lagi.
"Yuk tidur......!" ajaknya membuat hasrat berahiku tambah memuncak.
"Tidur di mana masa di sini?"
"Ya di rumah saudaraku," ujarnya sambil mengusap wajahku dan menarik lenganku.
Usai wajahku diusapnya, tiba-tiba sekujur tubuhku panas dingin. Aku menurut karena kesadaranku mulai terbang entah ke mana. Lokasi yang semula di permakaman, kini pandanganku beralih ke satu tempat yang entah di mana.
Dia berjalan menuntun lenganku, aku pun berjalan mengikutinya bagaikan kerbau yang dicocok hidung.
Sampailah di sebuah tempat, ada rumah gedung besar dengan lampu semerbak. Sepertinya rumah mewah.
Dia mengetuk pintu, lalu pintu terbuka, di rumah itu tampak seorang perempuan tua dan di sampingnya seorang wanita muda. Aku terkejut, melihat wanita muda yang tak asing lagi.
Kenapa dia ada di sini? Bukankah dia sudah....?
Wanita tua dan wanita muda itu tak berkata sepatah kata pun, membisu seribu bahasa. Tatapan matanya membuatku ketar-ketir karena seolah ada sorot bola api sehingga aku tak melihatnya lagi.
"Yuk, langsung saja tidur ya. Aku tahu gairah hasrat Mas sudah begitu tinggi. Kasihan kalau tak segera disalurkan," ujar wanita itu membuat aku tersipu malu.
Sejenak aku menoleh kepada dua waita tua dan muda. Keduanya tampak tersenyum seperti senyuman sinis.
Tanganku ditarik wanita yang mebawaku ke dalam kamar.
"Bentar ya sayang aku ke air dulu," ujarnya lalu keluar dan menutup pintu, terdengar pintu dikunci dari luar.
Kutunggu wanita itu membuka pintu dan segera melayani hasrat berahiku yang sudah memuncak. Bahkan aku pun sudah membuka baju dan celana, tinggal kolor, biar kalau dia datang akan langsung berhubungan.
__ADS_1
Namun, ditunggu lama tak juga datang, malah aku merasa mendadak amat ngantuk hingga tak ingat lagi karena langsung tertidur pulas.
Ketika bangun dan melihat sekeliling, jantungku nyaris copot. (Bersambung)