
Miko sampai di villa milik Kentaro, di halaman dia melihat beberapa mobil SUV terparkir di halaman villa, tepatnya ada 5 mobil SUV Fiat 500X warna hitam.
Tampak Jack tengah memerintahkan beberapa temannya untuk memasukkan beberapa kotak persegi panjang berwarna hitam yang Miko yakini berisi senapan otomatis laras panjang.
"Hey, Dokter Miko, ada angin apa datang ke markas?" tanya Jack terheran-heran saat melihat kedatangan Miko.
"Kenta bilang mau buat welcome party untuk kedatangan Tora" jawab Miko, Jack dan beberapa kawannya yang mengenal Tora spontan menelan ludah dengan kasar.
"B-bos T-Tora datang?" tanya Jack dengan bibir gemetar, masih jelas diingatannya bagaimana nasib Bram dan Jordy 10 tahun yang lalu karena kebrutalan amukan Tora. Mereka berdua berada dalam fase koma selama beberapa bulan, Bram dengan patah rusuk dan luka dalam yang cukup parah, tidak bisa bertahan setelah koma selama 4 bulan lamanya, sementara Jordy menjadi lelaki mandul dan tidak bisa lagi menggunakan alat vitalnya untuk bereproduksi atau sekedar melepas nafsu hingga dia berakhir bunuh diri karena malu dan tertekan.
"Iya, kenapa?" Miko menatap heran Jack dan beberapa temannya yang tampak pucat.
"Oh, hahahaha.... Ka-kami hanya teringat kejadian 10 tahun lalu, hahahahaha...." jawab Jack dengan tawa sumbangnya.
"Kalau kalian tidak macam-macam, Tora tak akan mengamuk," ucap Miko jujur.
"Boss Kenta seandainya mengamuk pun tak pernah sampai seperti itu," gumam Tio, salah seorang teman Jack yang juga jadi saksi peristiwa 10 tahun lalu, dengan suara gemetar.
"Hahahaha... Makanya jangan buat dia marah, beda Tora dan Kenta hanya terletak pada toleransi saja," sahut Miko sambil tergelak, "Kenta masih bisa mentolerir kesalahan yang kalian perbuat, tapi tidak dengan Tora, terlebih jika kalian melanggar perintahnya, jadi jangan mimpi bisa selamat, hahahahaha...." lanjut Miko, tawanya semakin keras.
"....." Jack, Tio dan beberapa temannya hanya terdiam, sementara Miko melenggang masuk ke dalam villa milik Kentaro.
__ADS_1
Saat Miko masuk, tampak Tora sedang tiduran di atas sofa kulit yang berada di ruang tamu villa, tapi dia tidak melihat Kentaro.
"Kemana dia?" tanya Miko.
"Entah, saat aku turun dia sudah tidak ada," jawab Tora acuh tak acuh, matanya terasa berat karena mengantuk.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Miko heran saat melihat wajah Tora yang lecek dengan mata kuyu menahan kantuk.
"Berisik, biarkan aku tidur," gerutu Tora yang kembali memejamkan matanya.
"Cih, kita pulang saja, mana kunci mobilku?" ajakan Miko tak ditanggapi Tora karena dia sudah terlelap, Miko hanya bisa mendecak kesal.
Karena terlalu lelah, akhirnya Miko pun terlelap dan mendengkur perlahan.
Kentaro yang baru saja turun setelah melepas hasratnya dengan para wanita bayarannya, hanya bisa mendengus kesal dan uring-uringan saat melihat kedua sahabatnya yang diundangnya untuk datang ke villanya ternyata hanya datang untuk numpang tidur.
"Ck, manusia menyebalkan," gerutu Kentaro sambil berpura-pura akan menendang Tora.
Dengan kesal dia melangkah keluar dari villa dan memutuskan untuk pergi mengintai di kediaman kakek dan nenek Danu.
"Hah.... Aku merindukan gadis itu, Diandra Ayu Perwita.... Bahkan saat bersetubuh dengan para perempuan bayaran tadi, aku tidak merasakan kepuasan kalau tidak membayangkan wajahnya," desah Kentaro kesal. Entak mengapa, jika dia berhubungan ***, dia tak akan pernah bisa menikmati *** jika tidak membayangkan Diandra.
__ADS_1
"Hm.... Betapa nikmatnya jika tubuh itu bisa kunikmati, aku harus memilikinya, tak peduli walau aku harus baku hantam dengan Tora," ucap Kentaro bertekad bulat, dia harus mendapatkan Diandra dan membuat Diandra menjadi miliknya seorang.
Kentaro bergegas masuk ke dalam salah satu SUV yang dikemudikan Jack, dan perlahan rombongan SUV itu bergerak meninggalkan villa yang sunyi dan suram.
Sepeninggal Kentaro, Miko dan Tora perlahan membuka mata lalu saling pandang, dan dengan sigap mereka segera mengetik pesan yang dikirim ke dalam grup.
Miko menatap Tora yang terlihat berekspresi aneh.
"Tor, kenapa?" tanya Miko.
"Nothing," jawab Tora singkat, namun dalam hati dia terbakar amarah, dia mendengar semua perkataan Kentaro melalui alat penyadap yang dipasangnya di sebuah pot dekat tiang yang berada di teras villa.
'Beraninya dia membayangkan Rara sebagai fantasi sexnya? Dasar Bangsat!!!' marah Tora dalam hati.
Miko yang melihat mata Tora yang memerah, agak merinding, karena tahu saat ini Tora sedang menahan amarahnya dan saat meledak nanti, entah bencana apa yang akan terjadi.
"Tor, kita pulang sekarang?" tanya Miko yang sedikit khawatir dengan keadaan emosi Tora.
"Besok saja, aku benar-benar mengantuk," jawab Tora yang kembali merebahkan tubuhnya dan segera menutup matanya.
"Oke," Miko pun melakukan hal yang sama, dan tak lama kemudian kedua sahabat itupun tertidur pulas.
__ADS_1