Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Bayu Senoaji


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua Diandra bekerja di PT. Wicaksono World. Diandra yang sudah bangun sejak pukul 04:00 tadi sudah sibuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuknya dan Danu.


"Ra, sebetulnya kakak ga usah bawa makan siang ga apa-apa lho, di kantor ada kantin. Kamu ndak usah bangun pagi-pagi buat nyiapin bekal. Sekarang kamu kerja, lebih capai daripada kuliah, mending buat istirahat lebih aja!" ucap Danu yang tidak tega melihat Diandra bangun pagi-pagi demi menyiapkan sarapan dan bekalnya.


"Kan ade juga butuh bekal kak, lagian kan sudah kebiasaan bangun jam segini, meski ga niat bangun juga badan sudah gerak sendiri." jawab Diandra.


"Kalau misal capai ga usah maksain ya! Kakak mandi dulu, nanti kakak antar lagi!" Danu mengambil sepotong roti panggang yang sudah tersedia di meja dan melahapnya, lalu dia bergegas masuk ke kamarnya untuk mandi.


Diandra melirik jam di dinding yang menunjuk angka 05:30. Hari ini dia tidak perlu berangkat sepagi kemarin, karena absen pagi dimulai pukul 08:00.


Diandra mengambil electric lunch box dan menata rapi nasi, tumis wortel dan lobak, karage, telur kecap dan sambal. Tak lupa dia memasukkan beberapa buah jeruk kedalam kotak lain untuk dibawa sang kakak, dan satu kotak coklat kacang untuknya. Setelah semuanya siap, Diandra bergegas mandi dan bersiap.


Selesai mandi dan sarapan, Diandra berangkat diantar oleh Danu, jarak yang sangat jauh memaksa mereka berangkat lebih awal.


"Kak... Ade boleh kos ya?" tanya Diandra, ini sudah yang kesekian kalinya dia minta ijin ke sang kakak, tetapi selalu tidak diperbolehkan.


"Rara... Kalau mau kos, sama kakak... Tapi apa kamu tega ninggalin kakek dan nenek?" Danu membalas dengan nada tidak suka.


"Kalau Rara sendiri memang ga boleh kak?" bujuk Diandra.


"Kakak ga suka mengulang perkataan kakak, Ra!" Danu menekan suaranya, membuat nyali Diandra menciut.


"Iya kak, maaf." gumam Diandra.


"Selama keluarga pakde Suwito dan pakde Bagyo masih ada, kita ga akan aman, terutama kamu. Karena kelihatannya ada harta ayah yang ga akan bisa jatuh ke tangan mereka kalau kita masih hidup." jelas Danu menahan amarah. Selama ini Danu bekerja keras demi mendapatkan kedudukan dan koneksi yang luas untuk bisa membantunya membongkar kejahatan yang sudah dilakukan kedua kakak dari sang ayah.


"Tapi, sudah 5 tahun ini mereka tidak berbuat apa-apa kak." sahut Diandra.


"Ga ada salahnya waspada kan Ra, penculikanmu dulu itu benar-benar membuat kakak takut, kakak ga mau itu terjadi lagi, jadi tolonglah Ra... Nurut dulu, sabar..." bujuk Danu.


Diandra melihat kecemasan dan kerakutam terpancar jelas di mata sang kakak, mau tak mau akhirnya Diandra menurut.


"Iya kak, Rara akan ikut kata-kata Kak Danu." jawab Diandra.


"Terima kasih ya de...." gumam Danu sambil tersenyum ke arah Diandra.


"Kak.... Ngomong-ngomong, kapan nih ade punya kakak ipar?" gurau Diandra.


"Besok, kalau sudah ada yang gantiin kakak jagain kamu." jawab Danu datar.


"Lah trus kapan kak?" desak Diandra.


"Kamu punya suami dulu baru kakak pikir nanti." jawab Danu sambil melirik ke arah Diandra.


"Boro-boro suami kak, orang pacaran aja kakak larang." gerutu Diandra.

__ADS_1


"Kalau sama cowok-cowok nggak jelas teman kuliahmu dulu, mana kakak rela lepasin kamu, Ra? Jelas banget kalau mereka nggak tulus." omel Danu.


Diandra mencibirkan bibirnya, tapi dalam hati dia bersyukur karena kakaknya, dia terhindar dari cengkeraman cowok-cowok hidung belang di kampusnya.


"Teman kerjamu cowok semua kan?" tanya Danu tiba-tiba.


"Iya, tapi sudah diwarning sama Kak Bayu, kalau mereka ga boleh macam-macam!" jawab Diandra.


"Kalau ada waktu, kapan-kapan kakak pengen ketemu sama Bayu itu, mau titip ade selama kerja di sana." ucap Danu memandang lurus ke jalan.


"Dih, malu-maluin kak, ade sudah 21 tahun masa dititip-titipin kaya balita aja sih." gerutu Diandra kesal pada kakaknya yang selalu menganggap dia masih kecil.


"Hehehehehe.... Bilang sudah 21 tahun tapi masih suka ngambek. Ga lucu tau, de!" goda Danu melihat Diandra yang cemberut.


Danu menghentikan mobilnya di samping pintu masuk PT. Wicaksono World, seperti kemarin. Diandra turun dari mobil begitu juga Danu. Tepat saat Diandra menghampiri Danu, sebuah Bentley hitam juga berhenti di depan pintu masuk perusahaan. Perlahan pintu mobil terbuka dan keluarlah Bayu dari sana dan langsung menangkap sosok Diandra bersama seorang lelaki yang berdiri membelakangi Bayu.


"Selamat pagi Kak Bayu!" sapa Diandra begitu melihat Bayu.


"Pagi, Ra... Diantar siapa?" balas Bayu seraya menghampiri Diandra.


"Kakak saya, Kak Bayu... Kenalkan ini Kak Danu, kakak saya satu-satunya." Diandra memperkenalkan Danu pada Bayu.


Danu segera membalikkan badan menghadap ke arah Bayu.


"Lho... Dan!" seru Bayu kaget


Lalu tanpa basa-basi, Bayu memeluk Danu dengan erat, begitupun Danu. Mereka berpelukan sampai tak terasa mereka menitikkan air mata.


"Ke mana saja kamu Dan? Sudah lama aku cari kamu, sejak meninggalnya om dan tante, aku dan juga Haryo ga berhenti mencari." Bayu mengusap matanya, lalu menepuk-nepuk bahu Danu.


"Aku ikut kakek dan nenek, tinggal sama mereka, tadinya kami tinggal di daerah Pakualaman, tetapi setelah kejadian yang menimpa Rara, kami pindah ke Kulon Progo." jelas Danu.


"Jadi ini si kecil Rara? Tadinya aku curiga, tapi Rara bilang dia tidak ada hubungan sama keluarga Perwita, hanya kebetulan sama nama, aku ga curiga. Ya ampun Raraaaa.... kenapa ga bilang ke kakak sih!" Bayu memeluk Diandra dengan gemas.


"Ih Kak Bayu apaan sih... Ini sebetulnya ada apa sih Kak Danu?" tanya Diandra bingung sambil meronta melepaskan diri dari pelukan Bayu.


Danu buru-buru menjitak kepala Bayu.


"Heh... Rara sudah bukan anak umur 6 tahun lagi!" bentak Danu.


"Tau.... Tapi tetep bikin gemes, sudah dari pertama ketemu, aku nahan diri buat ga meluk Rara!" gurau Bayu, "Berubah banyak banget Ra..." Bayu mengusap kepala Diandra yang kebingungan.


"Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Diandra kesal.


"Kamu ingat Bayu sahabat kakak yang gemuk itu kan? Ya ini dia orangnya." jawab Danu sambil merangkul bahu Diandra.

__ADS_1


"Hah? Kok beda? Kak Bayu operasi plastik sama sedot lemak ya? Kok jadi ganteng dan atletis gini?" Diandra melotot kaget.


"Sembarangan ni bocah kalau ngomong ya?!" omel Bayu sambil menarik hidung Diandra.


"Ya habisnya beda banget sama yang dulu." gerutu Diandra sambil mengusap hidungnya yang terasa pedas akibat ditarik Bayu.


"Diet aku Ra." jawab Bayu.


"Eh... Kalau ini Kak Bayu yang sahabat Kak Danu dulu, berarti si Bos Muka Batu itu.... Kak Haryo?" gumam Diandra.


"Ya iya lah Ra, kami kan sepaket.... Eh, apa kamu bilang tadi? Bos Muka Batu?" tanya Bayu meyakinkan pendengarannya.


"He.eh!" jawab Diandra lirih yang disambut gelak tawa Bayu.


"Hahahahaha.... Bagus... Bagus... Anak pintar.... Hahahahaha....!" Bayu tak bisa berhenti tertawa, sedangkan Danu menatap Diandra sambil geleng-geleng kepala.


"Sudah, berhenti tertawanya Bay... Ra, kakak jalan dulu ya, nanti pulang kaya kemarin aja!" pamit Danu.


"Iya, Kak Danu... tadi ade masukin jeruk di tas bekal kakak, semalam kakak bilang ingin makan jeruk." Diandra menunjuk tas bekal milik kakaknya.


"Kapan beli jeruk?" tanya Danu heran.


"Tadi pagi bangun tidur ade ke pasar buat beli jeruk." Diandra menunduk siap-siap dapat amukan dari sang kakak.


"Hhhh... Kamu tuh ngeyel ya... Ya wes makasih ya de, nanti pulang kerja kakak traktir coklat deh." Danu mengusap kepala Diandra.


"Serius kak? Yes!!! Makasih Kak Danu, hati-hati di jalan." Diandra memeluk dan mencium pipi Danu, lalu setelah Diandra mencium punggung tangan Danu, Danu pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan perlahan seraya melambaikan tangan ke arah Bayu dan Diandra.


Setelah mobil Danu menghilang dari pandangan mata, Bayu menepuk keningnya.


"Lah, kok aku lupa nggak minta nomer Danu sih." gerutunya.


"Rara kirim ke Kak Bayu nanti, Rara masuk dulu ya kak, mau absen!" Diandra pamit hendak masuk ke dalam kantor.


"Eits, barengan Ra, aku ingin dengar cerita kenapa sampai harus pindah ke Kulon Progo dan apa yang terjadi pada kalian setelah om Suryo dan tante Rianti meninggal. Terus kenapa tiba-tiba perusahaan om Suryo dikelola dan diklaim sebagai milik pakde kalian?" Bayu memberondong Diandra dengan banyak pertanyaan.


"Nanti lah kak, waktu istirahat Rara cerita, sekarang kerja dulu, ini kan baru hari kedua Rara kerja." sahut Diandra sambil menempelkan kartu ID karyawannya ke mesin absen.


"Ya udah, nanti istirahat makan siang ke ruang CEO ya, Haryo pasti senang tuh bisa dengar berita tentang kalian, 10 tahun ini kita cari kalian ga ketemu sama sekali." ajak Bayu.


"Nggak mau, Rara malas ketemu si Muka Batu!" tolak Diandra.


"Lho, bukannya dulu kamu sayang banget sama Haryo, kemana-mana ngikutin Haryo." goda Bayu.


"Itu dulu. Dulu dia kan baik, sekarang ngeselin. Makanya Rara malas ketemu dia, nggak penting juga! Kalau mau ya di kantin atau di pantry HSE, kalau nggak mau ya sudah. Selamat bekerja Kak Bayu!" omel Diandra panjang lebar yang diakhiri dengan salam, lalu diapun bergegas masuk ke dalam lift untuk menuju ruang HSE.

__ADS_1


"Eh... Ni anak, masih sama keras kepalanya!" gumam Bayu sambil cengengesan. Setelah absen, Bayu bergegas menuju ruangannya di lantai 3 untuk menunggu kedatangan Haryo dan memberitahukan kabar gembira ini.


__ADS_2