Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Maukah Rara Menjadi Istriku?


__ADS_3

Bayu melajukan mobilnya dengan cepat di jalanan yang lumayan lengang, tak sampai 20 menit, mereka tiba di rumah Bayu. Setelah memarkirkan mobilnya di carport, Bayu segera menggendong Diandra masuk ke dalam rumah dan membawanya ke dalam kamarnya.


Bayu menutup pintu kamarnya dan dengan tak sabaran, Bayu memeluk dan menciumi Diandra seperti sudah tidak ada lagi hari esok untuk mereka berdua.


Suara cecapan bibir mereka menggema di seluruh sudut kamar Bayu, Diandra sudah tebaring di atas ranjang dan Bayu menindih di atasnya.


Mareka hanya berciuman, Bayu menahan diri untuk tidak menjelajahi tubuh Diandra dengan tangannya.


Setelah sama-sama kehabisan nafas, Bayu melepaskan ciumannya dari bibir Diandra yang wajahnya merona merah karena malu dan juga menahan getaran aneh yang berputar di dada dan perutnya.


"Maafkan kakak ya Cutie," bisik Bayu.


"Kenapa minta maaf? Rara nggak keberatan kok kak," gumam Diandra.


"Tetap saja, paling tidak kakak harus minta restu keluargamu dulu," Bayu memeluk Diandra dengan erat.


" Kalau sama Kak Bayu, Rara nggak keberatan kok," sahut Diandra.


"Honey, maukah Rara menjadi istriku? Kalau Rara bersedia, hari ini juga kakak akan meminta Rara dari kakek, nenek dan juga Danu," tanya Bayu penuh harap.


"Nggak mau," jawa Diandra cepat dan membuat Bayu kecewa berat.


"Ra?" Bayu menatap Diandra dengan tatapan terluka.


"Kak Bayu menghancurkan impian Rara, dilamar pria yang Rara cintai dalam suasana romantis dan syahdu. Ya bener sih, Kak Bayu itu lelaki yang Rara cintai, tapi dilamar Kak Bayu dengan posisi ditindih macam ini kan nggak sesuai impian Rara," gerutu Diandra sambil bersungut-sungut.


Bayu tergelak keras sambil berguling ke samping dan memegangi perutnya karena terlewat geli mendengar perkataan Diandra.


"Ya ampun, sayang.... Aku sudah ketakutan, ternyata karena aku melamarnya nggak dalam suasana romantis?" Bayu terbahak dengan keras sementara Diandra semakin cemberut.

__ADS_1


"Hehehe.... Iya deh iya, nanti kakak ulang lamarannya, sekarang minum obat pereda nyerinya trus tidur siang sebentar, jam 16:00 nanti kita ke rumah kakek dan nenek," rayu Bayu sambil mengecup kening Diandra dan mengajaknya duduk.


"Rara tidur di kamar sebelah saja kak, nggak enak sama Bi Tami," Diandra berdiri perlahan dan hendak melangkah menuju pintu kamar, tapi Bayu menahannya.


"Tidur di sini nggak apa-apa, kakak ada pekerjaan, jadi kakak nggak akan ada di kamar, kakak di ruang kerja, Ari sebentar lagi kesini. Kakak ambilkan air dan obat dulu, ya?!" Bayu kembali mendudukkan Diandra di tepi ranjang, lalu dia melangkah keluar untuk mengambil obat pereda nyeri Diandra yang masih tertinggal di dalam mobil dan juga mengambilkan Diandra air untuk minum obat.


Bayu masuk lagi ke dalam kamarnya memvawakan obat dan air minum, lalu dibantunya Diandra meminum obat pereda nyeri, karena lututnya merasakan sakit lagi. Selesai minum obat, Bayu merebahkan tubuh Diandra di atas ranjang, setelah menyelimutinya, Bayu beranjak akan keluar, tapi ditahan oleh Diandra.


"Temani sampai Rara tidur ya, kak?!" pinta Diandra manja.


"Hmmm... Baiklah," Bayu duduk ditepi ranjang dan membelai kepala Diandra dengan sentuhannya yang lembut. Bayu menemani Diandra sampai Diandra terlelap karena capai dan juga pengaruh obat.


Setelah memastikan Diandra sudah benar-benar terlelap, Bayu beranjak dari duduknya dan melangkah keluar, ditutupnya pintu perlahan. Kemudian Bayu melangkah menuju ruang kerjanya dan segera menghubungi Ari dan Jim untuk segera datang ke rumahnya.


Bayu duduk di belakang meja kerjanya dan mulai membuka beberapa e-mail yang masuk, beberapa di antaranya adalah e-mail dari perusahaan milik papanya.


"Boss, ini video footage dan juga video yang saya rekam dari dalam kamar 3911 yang dipakai nona Sinta dan lelaki panggilannya, saya juga memasang alat perekam suara yang saya tempelkan di dalam sebuah pot di sudut ruangan, dan di sini file rekaman percakapan terekam dengan jelas," Jim memberikan sebuah flash disk dan sebuah recorder kecil yang terhubung dengan penyadap suara yang terpasang di kamar hotel Sinta.


"Ok, terima kasih," ucap Bayu sambil menerima barang yang Jim serahkan kepadanya.


"Sama-sama, Boss. Kalau tak ada yang lain, saya undur diri dulu," pamit Jim, namun Bayu menahannya.


"Bisa tolong kau carikan informasi tentang orang hilang 10 tahun lalu?" tanya Bayu pada Jim.


"Siapa, Boss?" Jim balik bertanya.


"Mereka adalah Pak Siswanto, Om Prabu dan Tante Siska. Untuk detailnya nanti aku kirimkan padamu, hari ini beristirahatlah dulu dan jangan lupa, minta anak buahmu mengamati pergerakan Sinta, Suwito dan Bagyo, juga cari tentang keberadaan markas Furaingudoragon, cari tau siapa ketua mereka," perintah Bayu


"Baik, Boss.... Kalau begitu saya permisi undur diri dulu," setelah membungkuk hormat pada Bayu, Jim segera berbalik melangkah keluar dari ruang kerja Bayu, namun saat membuka pintu, tampak Ari sudah berada di depan pintu dan tangannya terangkat siap mengetuk pintu.

__ADS_1


"Hi, Jim," sapa Ari ramah.


"Hey, bro... Urusan kantor?" balas Jim kemudian bertanya.


"Yup, as always," jawab Ari sambil menunjukkan tas filenya yang berukuran lumayan besar, "And you? A mission?" sambung Ari.


"Yeah, as usual, hahahaha," jawab Jim sambil tertawa lirih.


"Oke, semoga berhasil dengan misimu, aku harus laporan juga ke Boss Bayu," sahut Ari.


"Yeah, thanks bro, gotta go now, see ya!" Jim membiarkan Ari masuk ke dalam ruang kerja Bayu, sementara Jim melangkahkan kaki keluar dari rumah Bayu.


Dalam ruang kerjanya, Bayu tengah mendengarkan rekaman suara dari alat penyadap yang dipasang dalam kamar hotel Sinta, tangan Bayu mengepal menahan geram setelah mendengar bahwa Diandra dan Danu masih dalam pencarian orang-orang Suwito, dan lebih parah lagi karena Sinta sangat ingin menghabisi Diandra.


Dari rekaman itu, Bayu juga mengetahui kunci penting kalau ketua dari Furaingudoragon bernama Kentaro.


Bayu mengetuk-ngetuk pena yang ada di tangannya. Keningnya mengernyit tanda dia sedang berpikir dan mengingat sesuatu.


Nama Kentaro terdengar sangat familiar di telinganya, sepertinya dia sering mendengar bahkan mrnyebut nama itu. Tapi siapa, Bayu tidak ingat.


Lelah berpikir dan mengingat, Bayu mendongakkan kepalanya dan mendapati Ari sudah berdiri di hadapan meja kerjanya sambil membawa tas dokumen.


"Ari? Sejak kapan kamu sampai?" tanya Bayu yang yak menutupi keterkejutannya, Bayu hanya menegakkan punggungnya.


"Sejak Jim keluar dari ruangan ini, Pak," jawab Ari.


"Oh, maafkan aku, tadi aku terlalu mendengarkan suara rekaman yang barusan diserahkan oleh Jim padaku." sahut Bayu.


"Apakah saya mengganggu, pak?" tanya Ari sambil mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan meja kerja.

__ADS_1


__ADS_2