
Setelah Bayu dan Diandra masuk ke dalam mobil, Bayu memasangkan seatbelt pada Diandra.
"Makan malam dulu ya? Sudah pukul 19:00 ini, dan kamu belum makan malam," ajak Bayu.
"Tapi nanti kakak pulang kemalaman, dari sini ke rumah kakek makan waktu hampir dua jam lho kak," sahut Diandra.
"Hmmm... Atau Rara tidur di rumah kakak?" tanya Bayu yang mengejutkan Diandra dan juga Bayu sendiri.
"Na-nanti Kak Danu marah," jawab Diandra.
"Kakak telepon Danu dulu ya," sahut Bayu yang segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
Bayu segera mengambil ponselnya dan mencari nama Danu, lalu dia menekan tombol call dan mulai menghubungi Danu.
'Ya Bay, gimana lutut Rara? Mau diantar pulang jam berapa?' tanya Danu sesaat setelah panggilan tersambung.
'Baru keluar dari klinik Dimas, mau aku ajak makan malam dulu, tapi Rara nolak takut aku pulang kemalaman, jadi.... Boleh nggak kalau Rara tidur di rumahku?' tanya Bayu gugup.
'.....' Danu terdiam tak menjawab.
'Dan?' panggil Bayu gugup.
'Hm?' jawab Danu.
'Bo-boleh?' tanya Bayu lagi.
'Lututnya gimana?' Danu balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Bayu.
'Dimas bilang harus rotgen besok pagi,' jawab Bayu.
'Kalau Rara tidur di rumahmu, kau yakin bisa menahan diri?' tanya Danu yang langsung membuat wajah Bayu memerah.
'Kau kira aku lelaki bejat yang seenaknya melakukan sesuatu yang nggak senonoh pada wanita?' bentak Bayu kesal.
'Who knows, you love her since she's still a toddler,' sahut Danu.
'Yes, but I'm not a type of guy who like to take advance of my beloved woman,' sanggah Bayu.
'Ok, Rara boleh tidur di rumahmu, tapi beda kamar, jangan sentuh dia sebelum kau minta ijin dariku dan kakek nenek untuk bisa bersamanya,' perintah Danu.
'Aku tau batasanku, Dan,' sahut Bayu lalu diputusnya sambungan telepon dengan Danu.
"Kita makan malam dulu ya, nanti pulang ke rumah kakak, Kak Danu sudah kasih ijin buat Rara tidur di rumah kakak," Bayu meletakkan ponselnya di dashboard mobil dan menatap Diandra dengan gugup.
"I-iya kak, barusan Kak Danu WA, bilang kalau tidur di rumah kakak nggak apa-apa tapi Rara jangan mau diapa-apain sama kak Bayu, gitu pesannya tadi," sahut Diandra malu-malu, wajah cantiknya bersemu merah membuat Bayu gemas.
"Ehem, kakak nggak akan apa-apain Rara sebelum kakak minta ijin buat hubungan kita ke kakek, nenek dan juga Danu," ungkap Bayu tegas, walau kalau boleh jujur Bayu sudah tidak tahan untuk melakukan apapun pada Diandra, gadis idamannya sejak dia masih bocah dulu.
"Rara percaya Kak Bayu kok," sahut Diandra, "Tapi kak Bayu tetap boleh cium Rara kok," gumam Diandra lirih, membuat Bayu hilang kendali. Dilepaskannya seatbelt yang melingkar di tubuhnya, lalu Bayu mencondongkan tubuhnya ke arah Diandra, detik selanjutnya bibir mereka sudah saling bertaut, lidah Bayu menyeruak dan mengajak lidah Diandra menari-nari, Diandra hanya bisa mencengkeram jas Bayu untuk menahan gejolak yang berputar di perut dan dadanya.
__ADS_1
Setelah merasa kehabisan nafas, Bayu menghentikan ciumannya dan menjauhkan wajahnya dari Diandra yang menatap Bayu dengan tatapan penuh cinta.
"I love you cutie pie, lain kali jangan mengucapkan kata-kata yang berbahaya seperti tadi ya, Kak Bayu pria dewasa, Rara juga wanita dewasa, jadi Kak Bayu nggak bisa menjamin kalau bisa menahan diri lain waktu, karena Rara adalah wanita yang Kak Bayu cintai dari dulu," pinta Bayu setengah memohon.
"Maaf kak, Rara pikir itu normal, kan sekarang Rara jadi kekasih Kak Bayu," jawab Diandra yang sukses membuat Bayu mengerang gemas karena menahan diri untuk tidak menyerang Diandra lagi.
"Haaaah..... Kakak harus sabar sampai dapat ijin dari kakakmu dan juga kakek nenek," sahut Bayu sambil menghela nafas panjang, beratnya godaan punya kekasih cantik tapi imut dan polos.
"Cutie pie mau makan apa?" tanya Bayu kemudian, dia sudah menjalankan kembali mobilnya.
"Apa aja mau kak," jawab Diandra.
"Chinese food lagi?" tanya Bayu.
"Rara ingin makan bakso rusuk, kak.... Boleh?" jawab Diandra.
"Pasti boleh lah, apa yang nggak boleh buat Cutie Pie kesayanganku?" sahut Bayu yang segera mengarahkan mobilnya ke jalan menuju salah satu warung bakso rusuk yang terkenal di Jogja.
Sesampainya di warung bakso, Bayu membantu Diandra turun dan menuntunnya duduk di bangku yang ada di sudut ruangan.
Pelayan mendatangi mereka dan mencatat pesanan mereka berdua.
Diandra memesan bakso rusuk tulang muda dan Bayu memesan bakso rusuk urat dengan ekstra pangsit goreng dan rebus, untuk minuman mereka hanya memesan air mineral kemasan.
Tak menunggu lama, pesanan mereka berdua datang, dan mereka segera memakannya dengan lahap. Bayu tersenyum melihat cara makan Diandra. Masih tak berubah, tak pernah jaim kalau sedang makan walau dia makan bersama kekasihnya, tidak seperti kebanyakan perempuan yang akan jaim jika makan bersama kekasih mereka. Bahkan Diandra meminta tambah satu mangkuk lagi dengan jenis yang berbeda, yaitu bakso rusuk sumsum.
Selesai makan, Diandra menjilat bibirnya yang berminyak, Bayu gemas melihatnya, diambilnya tissue yang tersedia di meja lalu diraihnya wajah Diandra.
"Cutie Pie ku tetap sama ya , kalau makan belepotan, bikin gemas," ucap Bayu sambil membersihkan bibir Diandra dari minyak dari sumsum dan tulang rawan yang dimakannya tadi.
"Hehe.... Kaya anak kecil ya kak?" tanya Diandra malu.
"Enggak, bikin gemas aja, untung di tempat umum, coba kalau di tempat sepi, habis tuh bibir Rara," goda Bayu.
"Emangnya bibir Rara mau diapain kok bisa habis, kak?" tanya Diandra polos.
"Habis kucium saking gemasnya," jawab Bayu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra seolah akan mencium Diandra.
Diperlakukan seperti itu, Diandra langsung menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Bayu.
"Tunggu sampai di rumah kak, malu dilihatin orang," ucap Diandra polos dengan wajah bersemu merah.
'Darn it, how am I supposed to control my desire when she's this cute?' jerit Bayu dalam hati.
"Kalau gitu kita cepat pulang aja, biar bisa langsung kakak habisin bibir Rara ya?" goda Bayu yang sukses membuat wajah Diandra merona sempurna.
"Big bun ngeres," gerutu Diandra sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hehehe, bercanda sayang, yuk bayar langsung pulang, kita belum beli perlengkapan pribadimu, di rumah kakak nggak ada perlengkapan buat cewek soalnya," ajak Bayu sambil membantu Diandra berdiri dan menuntunnya menuju kasir.
__ADS_1
"Rara bisa pakai kemeja Kak Bayu," sahut Diandra.
"Nggak boleh, aku nggak kuat iman Ra, nggak bisa tahan kalau lihat kamu pakai kemejaku, bayangin aja udah bikin aku pusing," sergah Bayu.
"Kenapa?" tanya Diandra bingung.
"Besok kalau sudah waktunya Rara bakal tau," jawab Bayu sambil tersenyum garing.
Sampai di kasir Bayu segera membayar pesanan mereka, dan tiba-tiba pemilik warung berkata pada Bayu, "Istrinya hamil muda ya mas? Ngidam makan bakso rusuk sampai dua porsi, semoga anaknya lahir sehat dan ibunya juga selamat!"
Bayu bengong mendengar ucapan sang pemilik warung, dan dengan tawa sumbangnya dia menjawab, " Hahaha... Iya pak, terima kasih doanya," karena tak mungkin Bayu bilang kalau Diandra memang punya huge appetite, bisa tersinggung dan marah nanti kekasih kecilnya ini.
Setelah menerima kembalian, mereka beranjak menuju mobil dan Bayu kembali membantu Diandra duduk dan memasang seatbelt.
Setelah itu dia duduk di driver seat dan mulai mengemudikan mobilnya perlahan mencari butik yang masih buka untuk membeli piyama, pakaian dalam dan juga pakaian untuk dipakai Diandra besok pagi.
Mereka berhenti di kawasan Malioboro, Bayu memutuskan hanya Bayu yang turun dan membeli keperluan Diandra karena khawatir lutut Diandra akan semakin sakit jika dipakai berjalan mengelilingi mall.
"Cutie, boleh tau ukuran dalaman cutie nggak?" tanya Bayu gugup dan malu.
"Ah... Rara malu kak," jawab Diandra sambil menunduk malu.
"Nggak apa-apa, kan sama kakak gini," balas Bayu sok meyakinkan, padahal dirinya gugup setengah mati.
"Anu.... Bra 38E, undies biasa pakai M, kak," gumam Diandra malu-malu.
'38E? What a huge melons,' batin Bayu dalam hati, wajahnya memerah karena malu akan pikiran ngeresnya.
"Ok, tunggu di sini ya, kakak cepat aja kok," Bayu turun dari mobil setelah mendaratkan kecupan ringan di pipi Diandra, kemudia dia melesat masuk ke dalam mall menuju butik langganan sang mama.
Tak sampai setengah jam, Bayu kembali membawa beberapa paper bag berlogo brand internasional yang terkenal.
Diandra membelalak melihatnya, walau sesungguhnya almarhum orang tuanya adalah orang yang berharta, namun karena dibiasakan hidup sederhana, Diandra dan Danu jarang sekali membeli barang branded internasional, mereka lebih suka buatan lokal, asalkan mereka nyaman memakainya. Jadi saat melihat logo barang belanjaan Bayu, Diandra merasa agak tertekan karena harus memakai barang mahal.
"Kita pulang, sayang, semua sudah dibeli termasuk skin care dan make up," ucap Bayu sumringah sambil memasang seatbeltnya.
"Kenapa kakak boros sih? Rara biasanya cuma pakai produk lokal, kan yang lokal banyak yang bagus juga," omel Diandra.
"Yang buka cuma tinggal itu sama brand Hermes, jadi ya terpaksa kakak beli di sana," jawab Bayu terpaksa berbohong, karena dia tak tahu baju seperti apa yang nyaman dipakai wanita, sedangkan kalau di toko lain pasti ribet karena pelayannya tidak mengenalnya, sedangkan di toko bran yang dia beli, hampir seluruh karyawannya mengenal Bayu karena sering mengantar mamanya berbelanja saat weekend.
"Oh gitu, makasih kak, kalau gajian nanti Rara tukar," sahut Diandra lirih.
"What a non sense, my money is yours, I don't mind to spent my entire money for my beloved woman," ucap Bayu tegas.
"Kalau kak Danu tau, bisa ngamuk," jawab Diandra.
"Biar kakak yang hadapi," sahut Bayu.
Diandra hanya bergumam lirih, Bayu memang nggak bisa dibantah.
__ADS_1