Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Kenyataan Yang Tersembunyi


__ADS_3

Danu melangkah memasuki rumah keluarga Wicaksono, di dalam ruang tamu yang sangat luas dia sudah di sambut olrh Kakek Cokro dan juga Dewo.


Danu menyalami dan mencium punggung tangan Kakek Cokro dan juga Dewo, mereka saling berpelukan untuk melepas rindu setelah lebih dari 10 tahun mereka tidak bertemu dan tidak mengetahui kabar.


Danu duduk di hadapan Kakek Cokro, Dewo dan juga Ratri.


"Kakek, sebelumnya Danu ingin meminta maaf kepada kakek, karena Danu dengan terpaksa harus meminta Kakek Cokro membatalkan perjanjian perjodohan antara Haryo dengan Rara," ucap Danu tegas tanpa ada keraguan di suara dan matanya.


Kakek Cokro menatap Danu dengan tatapan kecewa dan marah.


"Katakan alasanmu, apakah kau tahu kalau perjanjian perjodohan antara Haryo dan Diandra adalah perjanjian tertulis yang disahkan dan disaksikan oleh pengacara?" tanya Kakek Cokro dengan suara menggelegar karena tersulut emosi.


"Jujur saja, Danu baru tahu ada perjanjian seperti itu dalam beberapa hari kemarin, dan alasan Danu membatalkan perjanjian itu adalah, karena Danu tidak ingin Rara mengalami trauma karena kita memaksakan kehendak kita tanpa mempertimbangkan perasaannya," jelas Danu panjang lebar dengan suara tegas dan tak terbantah, "Kakek pasti sudah mendengar cerita tentang trauma yang Rara alami dari Haryo, kami sekeluarga, saya, Kakek Broto dan Nenek Sundari menjalani kehidupan yang berat dalam merawat Rara untuk mengatasi traumanya selama bertahun-tahun. Dokter berpesan walau Rara sudah bisa menjalani kehidupan normal dan dinyatakan pulih, kami harus mencegah kemungkinan adanya pemicu timbulnya trauma baru yang mungkin akan dialami Rara," sambung Danu.


Kakek Cokro terlihat tak percaya dengan kata-kata Danu.


"Mana mungkin, kalau trauma sudah hilang tidak akan mungkin muncul trauma baru lagi," ucap Kakek Cokro keras kepala.


"Saya tidak menuntut kakek percaya pada perkataan saya, Danu rasa kakek juga bisa meminta orang menyelidikinya, dan walau nantinya kami sekeluarga harus melawan keluarga Wicaksono, saya tidak takut, yang paling penting bagi saya sekeluarga adalah perasaan Rara dan kebahagiaannya. Dan perlu kakek ketahui, kalau Rara saat ini sangat tidak menyukai Haryo, setiap dia melihat Haryo, emosinya akan terpicu menjadi tidak stabil, jika kakek tetap memaksakan kehendak kakek..... Mohon maaf, walau kita baru saja bertemu kembali, Danu tak akan segan melawan kakek," jelas Danu sambil menatap tajam mata hitam Kakek Cokro.

__ADS_1


Kakek Cokro yang mendengar perkataan Danu terkejut, dia ingin mengamuk, namun saat matanya bertemu dengan mata Haryo, dia menahan diri.


"Benar yang Danu katakan, kek. Karena kesalahan yang Haryo buat, Dira sekarang membenci Haryo, sangat membenci Haryo, setiap kali kami bertemu, selalu saja Dira menatap Haryo penuh kebencian," ucapan Haryo terdengar penuh kesedihan.


Kakek Cokro terdiam, menatap cucu kesayangannya yang terlihat terpuruk dan bersedih.


"Tak jadi masalah jika Diandra membenci Haryo, yang penting Haryo mencintai Diandra, perasaan cinta akan tumbuh karena terbiasa, sesuai kata pepatah wiwiting tresno jalaran soko kulino," ucap Kakek Cokro yang tetap memaksakan keinginannya.


"Kalau begitu pembicaraan ini tak ada artinya, mohon maaf jika Danu tidak akan pernah membiarkan Rara dijodohkan dengan Haryo dan maafkan kami sekeluarga jika kami akan melawan kakek dan bersikeras menentang perjodohan ini. Karena selain alasan tadi, Danu tidak bisa memisahkan Rara dari orang yang Rara cintai," ucap Danu seraya beranjak dari duduknya.


"Danu pamit undur diri, selamat siang," Danu berpamitan dan membungkukkan sedikit badannya, lalu bergegas keluar dari rumah keluarga Wicaksono, karena Danu tidak membawa mobil, dia akhirnya memesan taksi online dan segera kembali ke rumah sakit.


Haryo menatap tajam ke arah Kakek Cokro yang terlihat emosi karena sikap Danu.


"Kakek, seumur hidup kakek, bisa tidak kalau kakek tidak memaksakan kehendak kakek sekali saja? Haryo juga tidak ingin Dira tersiksa karena dipaksa menikah dengan Haryo," ucap Haryo tegas, Kakek Cokro memandangnya dengan mata terbeliak.


"Perjanjian itu legal dan disahkan oleh notaris dan pengacara, harus dilaksanakan," bentak Kakek Cokro.


"Dengan mengorbankan perasaan dan kebahagiaan Dira?" tanya Haryo dengan suara yang beberapa oktaf lebih tinggi.

__ADS_1


"Kakek sudah tua, sedikitlah berubah, sudah bukan waktunya lagi kakek bersikap arogan dan semaunya sendiri, perjanjian bisa dibatalkan kalau kedua belah pihak yang bersangkutan tidak menyetujuinya. Dan perjanjian itu adalah kesalahan kakek yang memaksa Kakek Asdi menyetujui perjodohan ini," ucap Haryo yang telak mengenai sasaran.


"Memaksa apa maksudmu?" tanya Kakek Cokro gugup.


"Jangan dikira Haryo tak tahu bagaimana adal muasal perjanjian itu," jawab Haryo sinis dan berhasil membuat Kakek Cokro terdiam.


Ya, perjanjian itu bukan dibuat berdasarkan hasil berunding antara almarhum Kakek Asdi dan Kakek Cokro. Perjanjian itu dibuat karena selfishness Kakek Cokro, yang menginginkan kedua keluarga bersatu agar memperluas dan mengembangkan kekuasaan keluarga Wicaksono. Keluarga Perwita dan Keluarga Wicaksono adalah dua keluarga dengan kedudukan yang sama tinggi. Walau jika dilihat orang awam, Keluarga Wicaksono berderajat lebih tinggi karena masih berdarah Ningrat, tapi pada kenyataannya dalam dunia bisnis, Keluarga Perwita lebih kuat kedudukannya pada saat itu, sehingga Kakek Cokro mempunyai pikiran picik untuk menjodohkan Diandra, cucu perempuan kesayangan Kakek Asdi dengan Haryo.


Walau kelak perusahaan akan diwariskan kepada Danu, tapi Diandra juga mempunyai bagian saham yang sama dengan Danu, jadi dia berpikir jika Haryo dan Diandra menikah, maka saham milik Diandra pasti akan dikelola oleh Haryo dan bisa jadi akan ditransfer atas nama Haryo, sehingga Haryo juga bisa ikut andil dalam mengelola perusahaan keluarga Perwita.


Maka dari itu, Kakek Cokro memaksa Kakek Asdi untuk menandatangani surat perjanjian perjodohan yang sudah dibuat pengacaranya. Saat itu Kakek Asdi menolaknya dengan tegas, karena menurut Kakek Asdi, cucu-cucunya berhak menentukan masa depan mereka sendiri dan menemukan kebahagiaan mereka dengan cara yang mereka pilih. Jika Kakek Asdi menyetujui perjodohan itu, Kakek Asdi merasa sudah mengekang kebebasan berkehendak cucu perempuan kesayangannya dan merampas kebahagiaannya, karena belum tentu saat dewasa nanti Diandra akan mempunyai perasaan kepada Haryo. Jikalau mereka saling mencintai, maka itu merupakan berkah, tetapi jika tidak, bukankah malah menyiksa salah satu dari mereka atau bahkan mereka berdua.


Namun karena keuletan dan ancaman Kakek Cokro, Kakek Asdi terpaksa menandatangani surat perjanjian itu dan hanya berselang sebulan dari saat penandatanganan surat perjanjian, Kakek Asdi meninggal dunia karena terjatuh di kamarnya saar dia sedang menerima telepon entah dari siapa.


Saat itu usia Haryo masih 12 tahun dan Diandra 8 tahun. Haryo yang sempat mendengar perbincangan Kakek Asdi dan kakeknya hanya bisa mengingat karena belum paham apa maksud perbincangan mereka berdua.


Namun semakin dewasa dia semakin paham dan merasa kecewa kepada kakek yang selama ini merawatnya. Tetapi dia juga tidak munafik kalau dia juga menginginkan perjodohan ini karena dia dangat mencintai Diandra dan yakin kalau Diandra juga akan memiliki perasaan yang sama terhadapnya kelak.


Manusia berkeinginan, tapi Tuhan-lah yang menentukan, keinginan dan harapan Haryo tidak menjadi kenyataan, bahkan cintanya pupus sebelum dia sempat mengungkapkannya kepada Diandra.

__ADS_1


__ADS_2