
Beralih ke kediaman Kakek Broto, Danu baru saja sampai dan setelah berganti pakaian dia bergabung di ruang tamu bersama kakek neneknya, Diandra dan juga Bayu.
Setelah Danu duduk, semua terdiam, Bayu menatap ke arah Danu yang kebetulan Danu juga menatap ke arah Bayu.
Danu mendengus kesal, tujuan Bayu datang ke rumah ini adalah untuk meminta ijin dari kakek, nenek dan juga dirinya agar diperbolehkan berhubungan dengan Diandra, tapi setelah semuanya berkumpul, Bayu malah diam karena kebingungan dan canggung.
'Ck, masa iya harus diajarin, dasar amatir,' gerutu Danu dalam hati.
"Nah Bay, ada yang mau kau katakan pada kami?" tanya Danu datar.
"Hah?" seru Bayu kaget, tapi dia segera berdehem dan memperbaiki duduknya.
"Ehem, begini kakek, nenek dan juga kau Dan, tujuan saya kemari selain mengantar Rara pulang, saya juga ingin meminta ijin dari kakek, nenek dan juga Danu untuk diperbolehkan menjalin hubungan serius dengan Rara, karena saya sangat mencintai Rara sejak dulu, dan Puji Tuhan, Rara pun membalas perasaan saya," ucap Bayu, tangannya berkeringat tanda dia super gugup.
"Lalu, setelah kami berikan ijin kepada kalian, apa yang akan Nak Bayu lalukan?" tanya Kakek Broto.
"Saya akan segera menikahi Rara, kek. Tapi sayangnya saat melar tadi, saya ditolak," jawab Bayu sambil meringis.
"Itu artinya Rara nggak membalas perasaanmu," sahut Danu geli.
"Ah? Bukan gitu," helah Bayu.
"Bukan ga balas perasaan Kak Bayu, tapi masa Kak Bayu ngelamar Rara nggak ada romantis-romantisnya?" protes Diandra dengan wajah masam.
"Harus banget gitu lamar kamu pakai romantis-romantisan?" goda Danu.
"Emang ngga boleh ya kalau ade ingin dilamar di suasana yang romamtis?" gerutu Diandra kesal.
"Iya, kakak ulang besok lamarannya ya, nggak usah ngambek," bujuk Bayu sambil mengusap kepala Diandra.
"Dih, jangan terlalu manjain tuh bocah Bay," ejek Danu yang membuat wajah Diandra makin masam.
"Ya kalau ngga aku manjain trus aku mau manjain siapa Dan?" tanya Bayu sambil tersenyum pada Diandra.
Danu bergidik, Bayu yang dia kenal itu lelaki dingin dan tidak bisa berekspresi, sama seperti Haryo, tapi dengan Diandra dia bisa menunjukkan PDA?
"Nggak usah nunjukin PDA, ada kakek sama nenek, nggak malu?" ejek Danu lagi.
Bayu segera berdehem sedangkan Diandra menunduk malu. Kakek Broto dan Nenek Sundari hanya tersenyum melihat tingkah kedua cucunya dan juga Bayu.
__ADS_1
"Bayu akan segera melamar Rara dan membawa papa mama kemari untuk melamar Rara secara resmi," ucap Bayu sopan.
"Lalu, bagaimana Nak Bayu menghadapi Nak Haryo nanti? Karena kakek dan nenek dengar dari Danu, kalau Rara sudah dijodohkan dengan Nak Haryo oleh Mas Asdi dan Mas Cokro," sahut Kakek Broto, Diandra tertegun.
"Siapa dijodohkan dengan siapa, kek?" tanya Diandra dengan gusar.
"Kamu, Ra.... Dijodohkan sama Haryo, itu kesepakatan Kakek Cokro dan almarhum Kakek Asdi," jawab Danu.
"Rara nggak mau!!! Rara benci dia!!!" pekik Diandra yang langsung beranjak berdiri dan tertatih hendak meninggalkan ruang tamu.
"Rara, sabar.... Duduk dulu, kakak jelaskan ya," Bayu menahan Diandra lalu mendudukkannya lagi di sofa, mata Diandra berkaca-kaca.
"Kenapa kakek seenaknya menjodohkan Rara dengan orang itu?" ucap Diandra mulai terisak.
"Segitu bencinya kamu sama Haryo, Ra? Padahal dulu kamu selalu menempel kemanapun dia pergi," desah Danu, dia bingung, entah apa yang Haryo lakukan sampai membuat adiknya anti pati pada Haryo.
"Pak Haryo bukan Kak Haryo yang dulu, dan lagi Rara memang suka sama Kak Bayu sejak dulu, kakak kan juga tau itu," jawab Diandra di sela isakannya.
"Iya kakak tau, makanya kakak sudah menolak perjodohan itu, tinggal kakak bicara pada Kakek Cokro," sahut Danu serius.
"Benar kak? Kakak nggak bohong?" tanya Diandra tak percaya, matanya berbinar.
"Makasih Kak Danu," Diandra tersenyum lebar.
"Tapi Nak Bayu, pikirkan juga perasaan Nak Haryo ya, jangan sampai persahabatan yang sudah kalian bina sejak lama jadi rusak karena Rara," nasehat Nenek Sundari.
"Baik nek, nanti saya pikirkan bagaimana cara menyampaikan ke Haryo. Saya hanya berharap Haryo bisa menerima dan menghormati perasaan Rara," sahut Bayu.
"Baguslah kalau begitu," Nenek sundari tersenyum pada Bayu, "Sekarang kita makan malam dulu, ya," ajak Nenek Sundari, yang diangguki oleh semuanya.
Mereka berkumpul di sebuah meja makan sederhana yang sudah dipenuhi hidangan Chinese rumahan yang tersusun apik dan menarik.
Mereka menikmati makan malam dengan diselingi obrolan ringan, termasuk meminta ijin agar Diandra diperbolehkan tinggal bersama Bayu selama proses penyembuhan lututnya. Kakek Broto dan Nenek Sundari memperbolehkannya, begitupun dengan Danu, tapi Danu tak lupa memberikan sederet peraturan yang harus Bayu patuhi, salah satunya larangan tidur dalam satu ruangan yang sama.
Diandra bersungut-sungut karena walau tanpa Danu larang pun mereka tak akan tidur bersama. Sedangkan Bayu hanya mengiyakan dan meminta Danu jangan terlalu khawatir.
Jika tidak mengingat Kakek Broto dan Nenek Sundari, Danu lebih memilih menyewa kontralan kecil selama sebulan di dekat rumah sakit, tapi karena Danu khawatir dengan kakek neneknya terpaksa Danu mempercayakan Diandra pada Bayu.
●○●○●○●○●○
__ADS_1
Sementara itu, di kediaman Keluarga Wicaksono, tampak ketegangan di dalamnya. Suwito, Mariana, dan Sinta duduk tegak dengan wajah tegang di hadapan Ratri, Dewo dan juga Cokro.
"Mau apa kalian datang kemari?" tanya Ratri ketus.
"Kami ingin meminta maaf atas semua perkataan Mariana tadi siang, dia terlalu kesal pada security perusahaan karena tidak diperbolehkan masuk ke dalam, padahal cuaca sangat terik siang tadi," jawab Suwito panjang lebar.
"Apa perlu sampai menjelekkan anakku?" bentrak Ratri.
"Maafkan aku Ratri," sahut Mariana sambil menunduk.
"Maafkan kami, Tante. Kami menyesal, Sinta mohon jangan batalkan pertunangan ini tante," pinta Sinta sambil terisak.
Ratri mendengus, sedangkan Dewo dan Kakek Cokro hanya diam menatap tiga orang tamu mereka.
Jujur Kakek Cokro tidak menyukai Suwito dan juga anak perempuannya istrinya, hanya Tora yang memiliki sopan santun yang baik, karena dididik dan diasuk oleh Suryo dan Rianti.
"Kita akan putuskan setelah Haryo pulang," sahut Dewo tegas, walau dia tahu putranya sangat membenci Sinta, dan akan senang jika perjodohan ini dibatalkan, tapi Dewo ingin kedua keluarga duduk dan berkumpul untuk membicarakannya agar tidak ada ganjalan kedepannya.
"Tapi Sinta sangat mencintai Mas Haryo, Om Dewo," isak Sinta pilu, seolah dia yang paling tersakiti.
"Tapi apakah Haryo mencintaimu?" tanya Kakek Cokro langsung menghunjam hati Sinta.
"Cinta akan datang karena terbiasa, kek," sahut Sinta lirih.
"Hah, jadi Haryo harus mengerti perasaan kamu sementara kamu tidak mau sedikitpun memahami perasaannya?" tanya Ratri ketus
"Bukan begitu, tante.... Sinta hanya...." Sinta berusaha membela diri, namun dipotong oleh kata-kata Kakek Cokro.
"Pulanglah kalian bertiga, kita akan membicarakan ini lagi setelah Haryo kembali," ucap Kakek Cokro yang kemudian memanggil kepala pengurus rumah, Pak Pur untuk mengantar ketiga tamunya menuju pintu rumah dan melepas kepulangan mereka.
Suwito, Mariana dan Sinta terpaksa beranjak dan meninggalkan kediaman Wicaksono.
Suwito menatap Marian dengan tatapan membunuh.
"Istri tak berguna, apa gunanya kau hidup?" bentak Suwito di dalam mobil yang sedang berjalan kembali ke kediaman Perwita.
"Ma-maafkan aku, mas," gumam Mariana ketakutan.
"Mama memang nggak berguna, seandainya bisa milih mama, aku nggak akan mau punya mama sepertimu," gerutu Sinta yang membuat Mariana tersentak kaget dan menatap putrinya dengan geram.
__ADS_1
Suwito mendengus kesal, dia masih berpikir bagaimana cara agar pertunangan Sinta dan Haryo tidak dibatalkan, karena juka dibatalkan, ancaman terjerat utang dan juga kehilangan semua kesenangan yang dia miliki selama ini.