Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
I Love Her Unconditionally


__ADS_3

Sementara itu Tora yang tengah dalam perjalanan turun dari kawasan Merapi bersama Miko, membaca headline news sebuah kolom berita terkemuka di Indonesia dan mendapati berita tentang adiknya. Matanya nanar membaca isi berita itu, dia bukan marah karena berita keburukan Sinta yang terekspos, tapi dia marah karena nama baik keluarganya tercemar, terlebih lagi nama baik keluarga yang susah payah om dan tantenya jaga rusak karena kelakuan mantan calon tunangan adiknya.


Walau Tora tak membenarkan kelakuan Sinta, tapi dia juga menyalahkan Haryo dan keluarga Wicaksono yang tidak memandang usaha om dan tantenya dalam menjaga nama baik keluarga Perwita.


"What happen, bro?' tanya Miko sedikit merinding demgan aura membunuh Tora yang belakangan ini tak muncul.


"Speed up to the hospital," ucap Tora dingin.


"Rodger that," Miko segera tancap gas melajukan 1200HP Bugatti Veyron Super Sportnya dengan kecepatan penuh menuruni jalan Kaliurang yang sedikit lengang.


Hanya perlu waktu 20 menit bagi mereka untuk bisa sampai ke rumah sakit tempat Diandra dirawat, thanks to Miko's driving skills.


Tora segera melompat keluar dari mobil Miko saat mereka berhenti tepat di depan pintu lobby rumah sakit, lalu tanpa menunggu Miko, Tora segera melesat masuk tanpa basa basi.


Miko hanya menghela nafas panjang, lali dia keluar dari mobil dan melwmpatkan kunci mobilnya kepada petugas security untuk memarkirkan mobilnya di basement.


'Gegabah, dia bahkan tidak tahu dimana Diandra dirawat, nomor Danu pun dia belum aku kasih, dasar bodoh,' gumam Miko dalam hati.


Dan benar saja, Tora tampak kebingungan di depan lift dan terlihat seperti orang bodoh. Walau begitu, banyak wanita yang lewat atau menunggu lift mencuri pandang. Wajah tampan Tora memang selalu menarik perhatian wanita atau gay kemanapun dia pergi. Perwita's genes really scary.


Walau tidak setampan Danu, tapi Tora sudah berada di atas rata-rata standart orang tampan di Indonesia, wajah Indo-Cinanya sangat mempesona, walau sang mama tidak cantik, dia berhasil merebut semua gen baik keluarga Perwita.


'Cih, mau setampan apapun kalau bodoh percuma saja,' kekeh Miko.


"Mik, buruan!" bentak Tora tak sabar saat melihat Miko berjalan dengan santai sambil membalas sapaan perawat ataupun koleganya.


"Be quite, this is a hospital, not a bus station," gerutu Miko kesal.


"Hurry up you snail!" gerutu Tora.


"Ck, troublesome," dengus Miko kesal, karena mereka berdua jadi pusat perhatian pegawai dan juga pengunjung rumah sakit, terutama kaum hawa. Maklum saja, dokter muda tampan yang murah senyum adu mulut dengan sahabatnya yang tampan tapi terlihat garang dan buas, membuat imajinasi kaum hawa terbang melayang kemana-mana.


Miko sampai di depam lift dan menekan tombolnya, setelah menunggu beberapa saat, pintu lift terbuka. Miko membiarkan para penumpang lift keluar dulu sebelum dirinya dan Tora masuk. Pintu tertutup dan Miko menekan tombol 12 lalu menunggu lift membawa mereka ke lantai 12 dengan sabar.


"How does she looks like?" tanya Tora dengan suara sendu.


"So beautiful," jawab Miko, dia tahu 'she' yang Tora maksud adalah Diandra.


"Is she?" gumam Tora, matanya menerawang.

__ADS_1


"Do you still love her?" tanya Miko.


"Yes, I love her unconditionally," jawab Tora tegas.


"But she's belong to someone else, now," ucap Miko sambil melirik Tora.


Wajah Tora tetap datar tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


"Really? That's good to hear," gumam Tora lirih, ada semburat kesedihan di matanya.


"Are you not going to make her become yours?" tanya Miko sambil menatap pantulan bayangan Tora pada dinding lift yang terbuat dari cermin.


"Her feeling and her happiness are the most important, apa gunanya dia kumiliki kalau hanya akan membuatnya tidak bahagia? Hanya membuatnya mengorbankan perasaannya? She's not belong to me to the begin with," jawab Tora getir.


"Is that so," sahut Miko, lalu keduanya terdiam sampai pintu lift terbuka tanda mereka sudah tiba di lantai tujuan.


"Dimana?" tanya Tora tak sabar.


"VVIP 315," jawab Miko, dan Tora langsung melesat mencari ruang rawat inap yang ditempati Diandra.


Miko hanya bisa menghela nafas panjang. Dia prihatin dengan sahabatnya yang begitu mencintai sepupunya, tapi harus menahan perasaannya karena rasa bersalahnya akibat kelakuan keluarganya yang melakukan serentetan kejahatan pada kedua sepupunya.


Tora sudah sampai di depan ruang rawat inap VVIP yang ditempati Diandra, namun dia hanya berdiri mematung di sana.


Miko menghampirinya dan menepuk bahunya.


"Why'd you still here? Go in!" tanya Miko.


"Will she hate me?" gumam Tora, suaranya bergetar tanda dia sedang cemas.


"She won't, she missed you dearly, go in!" Miko mendorong bahu Tora.


Perlahan Tora mengetuk pintu dan memutar knop pintu saat ada sahutan yang memintanya masuk.


Tora membuka pintu dan melangkah masuk dengan ragu.


"Kak Tora?!" pekik Diandra yang baru saja bangun dari tidurnya, dia menatap Tora penuh kerinduan.


"Ra....." gumam Tora sambil menatap sepupu perempuan kesayangannya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Namun saat akan melangkah menghampiri Diandra, seseorang memeluknya dengan erat.


"Kakak," isak Danu sambil memeluk Tora.


"Danu.... adikku, apa kabar," sahut Tora membalas pelukan Danu dengan erat.


Diandra yang menyaksikan kakak dan kakak sepupunya salimg melepas rindu ikut menangis. Sementara Bayu dan Mikl hanya menyaksikan reuni mereka dengan perasaan haru.


Setelah puas memeluk Tora, Danu segera melepaskan pelukannya dan membiarkan Tora melepas rindunya pada Diandra, karena Danu tahu, Tora sangat menyayangi Diandra.


Tora mendekati ranjang Diandra, seluruh tubuhnya bergetar, kerinduan yang dia simpan selama lebih dari 10 tahun, ketakutan dan rasa bersalah yang masih bersarang pada dirinya akibat peristiwa penculikan Diandra yang dia rencanakan, menghalanginya untuk bisa selalu bersama dengan Diandra, sepupu kesayangannya.


"Ra...." gumam Tora, air matanya mulai menetes deras di pipinya.


"Kakak..." Diandra merentangkan tangannya dengan tak sabar.


Tora segera meraih tubuh Diandra dan membawanya ke dalam pelukannya, mereka berdua terisak, Tora tak henti menciumi wajah Diandra dan memeluknya erat melepas kerinduan yang dia tahan selama ini.


Jujur Bayu geram melihat keintiman antara Tora dan Diandra, tapi dia bisa maklum, karena memang mereka tidak saling bertemu selama bertahun-tahun, sama seperti dirinya.


"Rara.... Adikku.... Maafkan kakak, sayang...." gumam Tora di sela isakannya.


"Rara rindu kak.... Kakak kemana saja? Kenapa sekalipun nggak mengunjungi kami? Padahal kakak janji, apapun yang terjadi Kak Tora akan selalu bersama kami," tangis Diandra menjadi.


"Maafkan kakak, sayang.... Kakak bersalah, kakak hanya tak sanggup berhadapan dengan kalian berdua, kakak terlalu banyak salah," sahut Tora lirih.


"Rara sama Kak Danu tidak pernah menyalahkan kakak, semua kakak lakukan demi Rara kan kak? Jadi kakak nggak salah, kakak lakukan itu karena kakak sayang Rara dan Kak Danu, kami nggak pernah menyalahkan kakak atas kejadian lalu," isak Diandra.


"Adikku.... Ade.... Kesayanganku..." gumam Tora, kembali dia mencium kening, hidung kedua pipi dan mengecup ringan bibir Diandra. Suatu kebiasaan yang sering dia lakukan jika dia menghibur Diandra saat Diandra bersedih. Kecupan bibir tanpa nafsu, hanya rasa sayang antara seorang kakak pada adiknya.


"Maafkan kakak.... Mulai sekarang kakak akan selalu ada untuk Rara, selamanya," bisik Tora sambil menyatukan keningnya dengan kening Diandra.


"Janji kak?" desak Diandra.


"Janji, de," jawab Tora sambil tersenyum.


"Pinky promise?" pinta Diandra sambil mengangkat jari kelingkingnya, Tora menyambutnya, ditautkannya jari kelingkingnya dengan kelingking Diandra, lalu mereka saling mengecup ringan di bibir.


Bayu hanya bisa menahan cemburu, walau bagaimanapun itu hanya ciuman antar saudara, tidak berarti apapun, jadi tak sepantasnya dia cemburu.

__ADS_1


__ADS_2