Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Mengadulah Padaku


__ADS_3

Sepeninggal Sangaji, Diandra meminta maaf pada Bayu karena perkataannya mungkin tak sesuai dengan prinsip Bayu.


"Mas, maafkan Rara kalau tadi perkataan Rara terkesan menentang sikap Mas Bayu kepada bawahan," ucap Diandra lirih, "Rara nggak ingin Mas Bayu terlalu bersikap arrogant kepada anak buah mas yang selalu patuh jika diberi perintah," sambung Diandra.


"Mas nggak marah sayang, memang dari dulu mas kaya gini, tapi mas bersyukur karena Cutie mau mengingatkan," sahut Bayu sambil mengecup kening Diandra.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka dan masuklah Danu bersama dengan Haryo.


Bayu tertegun saat melihat Haryo, begitu pula dengan Haryo.


"Yo.... Maaf," hanya itu yang bisa Bayu ucapkan pada Haryo.


"It's okay, asal Dira bahagia dam berjanjilah jangan pernah membuatnya menangis," sahut Haryo seraya tersenyum lalu melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Bayu mengangguk tegas sebagai jawabannya.


Danu menghampiri Haryo dan segera duduk di sampingnya, sementara Bayu membantu Diandra berbaring lalu melangkah menghampiri kedua sahabatnya setelah mengambil kotak yang tadi diantarkan oleh Sangaji.


"Ini, kotak musik yang kau minta," Bayu menyerahkan kotak tersebut pada Danu.


"Thanks," Danu menerimanya lalu dengan hati-hati dia menarik knob kecil yang berada di dasar kotak musik itu, dan saat terbuka, nampaklah sepasang kunci berbentuk hati berukuran 3cm.


"What's that?" tanya Haryo penasaran.


"Kunci brankas yang berisi wasiat almarhum papa dan kakek," jawab Danu sambil mengusap anak kunci tersebut.


"Di mana brankasnya?" tanya Haryo, "Lekas buka dan segera seret Suwito ke penjara," sambungnya geram.

__ADS_1


"Kami belum tahu dimana papa dan kakek menyimpan kedua brankas itu, dan untuk menyeret Suwito ke penjara, kita memerlukan kasus baru, karena kasus pembunuhan papa dan mama sudah kadaluwarsa," sahut Danu tenang, dia sudah bisa menguasai emosinya, karena marahpun tak akan mengubah situasi mereka sekarang ini, jadi Danu memutuskan untuk bersikap tenang dan legowo.


"Kak Miko dan Kak Tora kesiangan, jadi treatment kalian berdua terpaksa dilakukan nanti sore," ucap Bayu mengabarkan pesan Miko tadi pagi.


"Katanya pagi ini ade ada fisioterapi?" tanya Danu.


"Kak Dim belum datang, kak," jawab Diandra.


"Gimana kondisimu, Di? Masih terasa sakit?" tanya Haryo berusaha mencairkan kebekuan hubungannya dengan Diandra.


"Puji Tuhan baik, kak, terima kasih perhatiannya," jawab Diandra yang seketika membuat Haryo tertegun.


'Kak? Dira panggil aku dengan sebutan kak lagi?' sorak Haryo dalam hatinya, girang bukan kepalang.


"Rara panggil Kak.... Kak Haryo," jawab Diandra lirih, namun Haryo tetap mendengarnya.


Haryo meraih tangan Diandra lalu menggenggamnya dengan erat.


"Terima kasih Di.... Terima kasih...." ucap Haryo sedikit tercekat di tenggorokan karena menahan tangis, dia bahagia, akhirnya Diandra kembali memanggilnya dengan sebutan Kak, tak ada lagi nada ketus di setiap ucapannya, tak ada lagi tatapan benci dari matanya. Haryo bersyukur Diandra bisa kembali bersahabat dengannya, walau dia harus merelakan Diandra untuk bersama dengan Bayu.


"Maafkan Rara karena selama ini ketus dan menyakiti hati Kak Haryo, itu karena Rara tak suka melihat orang yang arrogant dan Rara jadi merasa asing karena Kak Haryo tidak seperti Kak Haryo yang Rara kenal dulu," ucap Diandra jujur dan menyesal, "Rara juga minta maaf, karena Rara tidak bisa menerima perjodohan Rara dengan Kak Haryo, karena...." sambung Diandra yang terputus karena remasan tangan Haryo pada kedua telapak tangannya.


"It's okay, asalkan kau bahagia bersama Bayu, aku rela.... Kami mengutamakan perasaan dan kebahagiaanmu, berbahagialah bersama Bayu, dan jika Bayu membuatmu menangis, mengadulah padaku, aku akan membuatnya menangis darah," sahut Haryo bersungguh-sungguh.


"Hehehehe.... Tentu saja, biar Mas Bayu dikeroyok orang banyak kalau dia sampai membuatku menangis," kekeh Diandra.

__ADS_1


Haryo mengusap kepala Diandra dengan lembut, dan Diandra tersenyum membalasnya.


Bayu mendengus mendengar percakapan mereka berdua, tapi dia juga merasa lega, akhirnya Diandra dan Haryo bisa kembali berbaikan.


TOK TOK TOK


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Saat pintu terbuka, Dimas muncul bersama dua orang perawat wanita yang membawa sebuah kursi roda dan juga sebundle file rekamedis Diandra.


"Pagi, de.... Sudah siap fisioterapinya?" tanya Dimas setelah menyapa ketiga sahabatnya dengan lambaian tangan khas salam mereka.


"Siap kak," jawab Diandra berusaha bangun, namun belum lagi Diandra bergerak, Haryo sudah membantunya duduk, Bayu yang baru saja jalan mendekat hanya diam pasrah.


"Oke, nanti fisioterapinya sekitar 45 sampai 60 menit, sama kakak dan perawat fisioterapi, nanti kakak antar kemari lagi, oke?" jelas Dimas dengan nada seperti menjelaskan pada anak PAUD.


"Apaan sih kak Dim, Rara udah kepala dua gini masih diperlakukan kaya balita," sungut Diandra kesal.


"Hahahaha.... Mau sampai kapan juga, kamu tetap adik kecil kami," gelak Dimas sambil mencubit gemas pipi Diandra.


"Ngeselin!!!" gerutu Diandra.


Bayu mendekati ranjang Diandra, setelah merapikan dan mengikat rambut Diandra, Bayu mengangkat tubuh Diandra lalu mendudukkannya di atas kursi roda.


"Kalian tunggu sini saja, Kak Miko dan Kak Tora sedang dalam perjalanan kemari, Rara aku bawa ke ruang fisioterapi dulu," ucap Dimas seraya mendorong kursi roda Diandra setelah Bayu memberikan kecupan ringan di kening Diandra.


Haryo menatap kemesraan Bayu dan Diandra dengan pilu, tapi dia tak mampu berbuat apapun selain merelakan mereka berdua untuk bersama.

__ADS_1


__ADS_2