
Mohon maaf sebelumnya ya teman-teman, jika beberapa hari kedepan hanya up 1 episode per harinya, karena persiapan Ramadhan, InsyaaAllah setelah persiapan selesai bisa up 2-3 episode tiap harinya. Dan mohon maaf jika sekiranya terlalu banyak cerita di novel ini, karena menceritakan flashback dan juga 2 kisah romansa antara female lead, male lead dan 2nd male lead. Maaf jika nanti ada beberapa scene yang menguras air mata dan bikin sakit hati, karena ini hanya semata-mata cerita imajinasi author.
Semoga teman-teman menikmati novel ini, terima kasih sudah mampir dan memberikan dukungan pada author.
●○●○●○●○●○●○
Bayu bangkit dari sofa dan menghampiri Diandra yang berjalan tertatih ke arah sofa.
"Kenapa nggak panggil?" tanya Bayu sambil meraih tangan Diandra dan menuntunnya ke sofa.
"Rara bukan cewek manja," jawab Diandra sambil tersenyum manis.
"Iya, kakak tau, tapi selama ada kakak, Rara bisa manja-manja kok," sahut Bayu sambil mengusap kepala Diandra.
"Nggak mau, nanti kalau tiba-tiba ninggalin Rara gimana? Rara mau manja sama siapa?" protes Diandra.
"Mana mungkin kakak ninggalin cinta pertamaku yang imut ini?" goda Bayu sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ya kali kepincut sama cewek sexy yang lewat," sungut Diandra dengan memajukan bibirnya berpura-pura cemberut.
"Kalau kakak gampang kepincut yang sexy-sexy mah dari dulu, Ra, ngapain coba kakak repot-repot cari kamu?" sahut Bayu sambil mencubit bibir Diandra yang monyong ke depan.
"Sakit ah kak!" gerutu Diandra kesal.
"Hehehe.... Kita jalan sekarang?" ajak Bayu yang langsung diangguki Diandra.
Setelah berpamitan dengan Bi Tami dan Pak Bi, Diandra masuk ke dalam mobil dengan bantuan Bayu dan Bayu segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Kakek Broto.
Dalam perjalanan, Danu menelepon untuk menanyakan apakah Bayu sudah mengantar Diandra pulang, dan Bayu menjawab kalau mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman Kakek Broto.
Setelah beberapa patah kata dan perintah untuk menunggu kepulangannya, Danu menutup sambungan telepon mereka dan bersiap untuk pulang.
Diandra banyak bercerita tentang rumah terakhir yang sekarang mereka tinggali setelah sebelumnya berpindah rumah beberapa kali dengan sorot mata sedih.
__ADS_1
"Kami sebetulnya lelah kak, tapi karena harus melarikan diri dari kejaran dan pengawasan kaki tangan pakde, mau nggak mau kamu harus segera pindah kalau sudah ketahuan," ungkap Diandra pilu.
"Sekarang tidak perlu sembunyi lagi, ada kakak, ada Haryo dan juga Dimas, orang-orang kami lebih berkompeten daripada kaki tangan pakdemu," sahut Bayu menenangkan Diandra.
"Rara nggak ingin Kak Bayu terlibat dalam hal yang berbahaya, kaki tangan pakde itu kejam-kejam, kak," ucap Diandra cemas.
"Jangan khawatir, kakak bisa jaga diri, kalau kakak nggak bisa jaga diri, gimana kakak jagain Rara?" hibur Bayu sambil mengusap lembut kepala Diandra.
"Rara hanya nggak ingin berpisah dari Kak Bayu lagi," sahut Diandra sendu.
"Tidak akan, honey, sampai kapanpun kakak akan terus bersamamu," janji Bayu tulus.
"Janji ya kak?! Jangan pernah tinggalkan Rara," rajuk Diandra, matanya menatap sendu ke dalam iris mata Bayu yang kecoklatan.
"Janji, Cutie," jawab Bayu tegas.
Diandra tersenyum mendengar jawaban Bayu. Lalu sesaat kemudian Diandra teringat perkataan Mama Gina tentang Haryo, Kakek Cokro dan kakaknya, Danu.
"Big Bun, ada masalah apa antara Kak Danu dan Pak Haryo, kenapa Kak Danu harus menemui Kakek Cokro?" tanya Diandra penasaran.
"Tadi pagi kan Mama Gina bilang kalau Kak Danu akan bicara dengan Kakek Cokro mengenai masalah dengan Pak Haryo," jawab Diandra.
"Oh... Nanti sampai di rumah kita bicara ya, sekalian menjelaskan kepada kakek dan nenek, soalnya ini ada kaitannya sama Rara," jelas Bayu.
"Sama Rara?" tanya Diandra bingung.
"Iya, makanya nanti di rumah aja kakak jelasinnya," jawab Bayu sambil membelai pipi Diandra.
"Iya deh," sahut Diandra pasrah.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam 45 menit, akhirnya mereka tiba di kediaman Kakek Broto.
Terlihat kakek Broto dan Nenek Sundari, yang sudah Danu beritahu tentang kedatangan Bayu yang akan mengantar Diamdra pulang dan akan membicarakan sesuatu dengan mereka, sudah menunggu kedatangan mereka di teras rumah yang sejuk karena halaman rumah mereka ditumbuhi sepasang pohon mangga madu dan juga beberapa batang pohon kelengkeng dan rambutan yang berdaun rindang dan kebetulan pohon mangganya sedang berbuah lebat.
__ADS_1
Bayu segera turun dan membantu Diandra keluar dari mobil.
Wajah Kakek Broto dan Nenek Sundari terlihat ceria melihat kedatangan cucu perempuan kesayangan mereka bersama seorang pemuda tampan yang juga mereka kenal sebagai sahabat karib Danu sejak kecil. Mereka berdua nampak serasi di mata Kakek Broto dan Nenek Sundari.
"Kalian sudah datang, ayo lekas masuk," ajak Kakek Broto antusias.
"Selamat sore Kakek dan Nenek, apa kabar?" sapa Bayu sopan sambil menyalami dan mencium tangan sepasang suami istri berusia lanjut itu.
"Baik... Puji Tuhan, keadaan kami sekeluarga baik, lama tidak jumpa, kamu sudah tumbuh jadi pemuda tampan yang mampu memikat hati cucu perempuan kesayangan kami, ya," sahut Kakek Broto seraya menggoda Diandra dan Bayu.
Bayu hanya terkekeh lirih sedangkan Diandra jangan ditanya lagi, wajahnya sudah seperti udang rebus.
"Kakek bisa saja, justru cucu kesayangan kakek dan nenek lah yang sudah memikat hati Bayu," balas Bayu sambil melirik mesra ke arah Diandra yang semakin memerah wajahnya.
"Cucu kami memang cantik," puji Nenek Sundari sambil tersenyum geli saat melihat Diandra salah tingkah dengan wajah semerah cabai merah besar. *LOL*.
"Ayo cepat masuk, kasihan lutut Rara, katanya harus banyak istirahat," ajak Kakek Broto sambil menuntun Diandra masuk.
"Sebentar, Kek, Bayu ambil sesuatu dulu," ijin Bayu, sambil melangkah kembali ke mobilnya dan membuka bagasi, lalu Bayu sibuk mengeluarkan satu persatu barang bawaannya dan membawanya masuk ke dalam rumah dan menatanya di samping meja tamu.
"Kak, apa itu?" tanya Diandra yang kaget melihat begitu banyak barang bawaan yang dibawa masuk Bayu ke dalam rumah.
"Buah tangan untuk kakek dan nenek, juga untuk Danu," jawab Bayu santai, lalu dia duduk di samping Diandra.
"Kok Rara nggak tau? Kakak nggak usah bawa-bawa juga kakek dan nenek nggak akan marah," omel Diandra, bukan karena dia tak suka Bayu membelikan sesuatu untuk keluarganya, tapi karena merasa sungkan karena merepotkan Bayu, apalagi barang yang Bayu berikan bukan barang yang mudah di dapat dan harganya setinggi langit.
"Nggak apa-apa Ra, Kakek Broto dan Nenek Sundari kan seperti kakek nenekku juga, jadi nggak masalah kalau kakak bawa buah tangan," jawab Bayu.
"Besok lagi nggak perlu bawa apa-apa Nak Bayu, kalau memang Nak Bayu anggap kakek dan nenek seperti kakek nenek Nak Bayu sendiri," timpal Kakek Broto bijak.
"Bayu hanya berpikir karena sudah lama tidak bertemu dan berkunjung, tidak sopan kalau tidak bawa buah tangan, kek," jawab Bayu tenang dan berusaha memahami kehendak keluarga kekasihnya. Sedikitnya Bayu tahu sifat Diandra yang tidak ingin merepotkan orang lain atau orang lain merasa direpotkan olehnya.
"Baiklah kakek dan nenek terima, terima kasih buah tangannya Nak Bayu," ucap Kakek Broto sambil tersenyum ke arah Bayu.
__ADS_1
Nenek Sundari muncul dari dalam sambil membawa beberapa cangkir teh dan beberapa jenis kudapan buatannya.