Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Cium Tangan Calon Kakak Ipar ( L.O.L )


__ADS_3

Malam semakin larut, setelah Diandra mengemas beberapa pakaian dan keperluan pribadinya, Bayu mengajak Diandra pulang ke rumahnya.


"Baik-baik jaga cucu kami ya Nak Bayu," pesan Nenek Sundari sambil melepas pelukannya dari Diandra.


"Baik, nek.... Jangan khawatir," sahut Bayu tegas.


"Hati-hati di jalan, ini sudah sangat larut, jalanan yang akan kalian lewati nanti sangatlah sepi," pesan Kakek Broto, dia tampak cemas melepas cucunya pergi malam-malam walau bersama Bayu.


"Baik kek, Bayu akan hati-hati," sahut Bayu sambil membantu Diandra duduk. Setelah Diandra duduk nyaman, Bayu segera menutup pintu passenger door.


"Kami berangkat dulu, kakek dan nenek," pamit Bayu sambil menyalami dan mencium tangan Kakek Broto dan nenek Sundari.


Danu mengulurkan tangannya pada Bayu, namun Bayu bingung dibuatnya, karena kalau mereka akan berpisah, mereka akan melakukan fist bump, bukan bersalaman.


Melihat Bayu yang bingung, Danu mengibaskan tangannya meminta Bayu menyambutnya. Dan dengan tatapan nggak ngeh nya, Bayu menyambut uluran tangan Danu.


Setelah saling bersalaman, Danu mendorong punggung tangannya ke arah hidung Bayu.


Bayu yang masih bingung melawan gerakan tangan Danu, terjadilah peristiwa dorong-dorongan unfaedah yang dilakukan dua pria dewasa dan terlihat konyol.


"HYA!!!! Kau ini bego apa bloon sih?!" bentak Danu kesal, sambil mengibaskan tamgan Bayu.


"Kenapa coba? Kamu yang nggak jelas, ngapain dorong-dorong tanganmu ke mukaku?" tanya Bayu kesal.


"Aku itu calon kakak iparmu, bego!!! Paling nggak pamit tu cium tanganku juga, kaya yang Rara buat, dasar calon ipar nggak ada akhlak!" omel Danu, Bayu merengut kesal dan menatap Danu seolah ingin menelannya hidup-hidup.


Danu yang melihat level kekesalan Bayu sudah mencapai level 1000 segera nyengir kuda sambil menyodorkan kembali punggung tangannya ke arah Bayu.


"Noh... Cepetan, keburu malam, kasihan si ade cape!" desak Danu sambil memainkan alisnya. Kakek Broto dan Nenek Sundari yang melihat kelakuan mereka hanya terkekeh ringan.


Bayu menyambar tangan kanan Danu lalu menempelkan punggung tangan Danu di keningnya.


"Puas?" tanya Bayu kesal.


"Salah!!! Cium itu ya pakai bibir, masa kau selama ini cium Rara pakai kening?" omel Danu, sengaja membuat Bayu kesal.


'This j**k,' umpat Bayu dalam hati, lalu mengulanginya, kali ini dia mencium punggung tangan Danu dengan bibirnya.


"Nah gitu dong, ini namanya calon ipar yang baik," seru Danu sambil terkekeh geli, lalu dipeluknya Bay sambil berbisik, "Jaga Rara baik-baik, jangan sampai kau berbuat cabul padanya, atau kau akan tau akibatnya!"


"Kau kira aku sebejat itu?" balas Bayu yang juga berbisik pada Danu.


"Wajahmu itu nunjukin kalau kamu mati-matian nahan birahimu, dodol!" sahut Danu.


"Sialan!!!" umpat Bayu sambil melepas pelukannya dari Danu yang tergelak mendengar umpatan Bayu.


"Hati-hati mengemudi," pesan Danu pada akhirnya.

__ADS_1


Lalu Danu membungkuk di jendela mobil untuk menatap adiknya lalu mencium kening Diandra dengan lembut. Bayu mendengus kesal, entah kenapa ada rasa tidak rela kalau Diandra disentuh orang selain dirinya, walau mereka adalah Danu, Kakek Broto, Nenek Sundari, dan bahkan Gina, mamanya sendiri.


"Baik-baik jaga diri ya de, jangan mau disosorin Bayu tiap detik," pesan Danu membuat Diandra terbelalak.


"Ngawur kak, mana mungkin Kak Bayu begitu," bela Diandra.


"Ndak usah ngeyel, bilang iya dan nurut aja kenapa sih?" protes Danu.


"Iya kak, Rara tau kalau kakak cemas, tapi ini kan sama Kak Bayu," jawab Diandra sambil memeluk leher Danu.


"Hmmm.... Iya deh, hati-hati ya, de," bisik Danu.


"Iya kak, Rara pergi dulu kak," sahut Diandra mengurai pelukannya lalu mencium pipi Danu.


Tak berapa lama, mobil Bayu bergerak perlahan meninggalkan kediaman Kakek Broto. Waktu sudah menunjukkan pukul 22:15, jalanan sudah sangat sepi hanya ada beberapa kendaraan yang melintasi jalan yang mereka lalui, Diandra merasa cemas.


"Kak, Rara takut," gumam Diandra sambil menoleh kiri dan kanan, ini adalah kali pertama Diandra berada di luar rumah saat sudah larut malam, karena Danu tidak pernah membiarkan Diandra berada di luar rumah setelah pukul 20:00.


"Nggak apa-apa, sayang, kita nggak sendiri, ada beberapa orang yang kakak minta jaga kita dari jauh, sekarang mereka sedang mengiringi kita," sahut Bayu, memang dia tadi sudah memerintahkan beberapa dari bodyguardnya untuk mengawal mereka.


"Rara lihat Brio hitam itu?" tanya Bayu menunjuk mobil yang berjalan benerapa meter si depan mereka.


"Iya, kak," jawab Diandra sambil mengangguk.


"Itu adalah satu dari tiga mobil bodyguard yang kakak minta mengawal kepergian kita, jadi Rara tenang ya," bujuk Bayu sambil mengusap kepala Diandra.


"Terima kasih, Kak Bay," sahut Diandra.


Pasalnya dulu, enam bulan pasca peristiwa penculikannya, Kakek Broto pernah pergi ke kota dan pulang saat tengah malam bersama Nenek Sundari, mereka diserang sekelompok orang yang mengendarai sepeda motor. Sekelompok orang itu merusak mobil Kakek Broto dengan cara memukulnya dengan tongkat baseball dan menimpanya dengan batu, sehingga mobil kakeknya remuk, beruntung Wira dan anak buahnya datang tepat waktu dan menyelamatkan Kakek Broto dan Nenek Sundari yang mengalami luka sayatan di lengan dan wajah karena terkena serpihan kaca mobil yang pecah.


Sejak peristiwa itu lah, keluarga mereka tak pernah keluar dari rumah setelah pukul 20:00, sungguh trauma yang ditimbulkan dari teror yang diberikan orang-orang Suwito dan Bagyo sungguh luar bisa berdampak pada Danu, Diandra dan juga kakek neneknya.


"Kak, sampai kapan kami hidup dalam ketakutan dan kecemasan?" tanya Diandra lirih.


"Semua akan segera berakhir, sayang.... Percayalah," jawab Bayu sambil meremas tangan Diandra yang gemetar di atas pangkuannya.


Bayu menyadari kecemasan Diandra sekarang, sebisa mungkin dia menenangkannya. Dalam hati dia benar-benar mengutuk Suwito dan Bagyo, dia bersumpah, apapun akan dia lakukan demi membalaskan dendam Danu dan juga Diandra atas kematian kedua orang tua mereka dan atas semua kejadian yang menimpa keduanya.


Suara dentingan terdengar dari ponsel Bayu. Diandra menatap Bayu yang tengah fokus mengemudikan mobil, lalu tak berapa lama, ponsel Bayu kembali berdenting hingga beberapa kali.


"Kak, sepertinya ada pesan penting," ucap Diandra sambil melirik ponsel Bayu yang diletakkan di atas dashboard.


"Boleh minta tolong bukakan?" tanya Bayu yang masih tetap fokus menyetir.


Diandra bergumam lirih lalu meraih ponsel Bayi, dilihatnya ada pesan WhatsApp dari seseorang bernama Jim.


"Kak, ada pesan dari Jim," ucap Diandra, tapi dia belum membuka pesannya karena ponsel Bayu terkunci.

__ADS_1


"Tolong bacakan ya sayang, passwordnya...." pinta Bayu namun terpotong oleh dering suara panggilan telepon dari ponselnya.


"Kak, dari Jim?!" gumam Diandra sambil menunjukkan ponsel Bayu ke arah si empunya.


"Tolong angkat Ra," pinta Bayu.


Diandra tertegun, tapi tetap menggeser tombol hijau untuk memerima panggilan itu.


'Halo, selamat malam,' sapa Diandra ramah.


Jim tertegun saat mendengar suara seorang wanita menjawab panggilannya. Bossnya mengijinkan orang lain menyentuh dan menjawab panggilan telepun untuknya? Wow... emejink....


'Ha-halo, maaf bisa bicara dengan Boss Bayu?' tanya Jim gugup, suara Diandra yang begitu merdu membuat hatinya bergetar.


'Ummmm, Kak Bayu sedang mengemudi, sebentar saya loudspeaker dulu,' jawab Diandra yang lalu menekan tombol loudspeaker ponsel Bayu dan mendekatkan ponsel itu ke arah Bayu.


'Ya Jim?' sapa Bayu datar.


'Boss tumben sama cewek?' seloroh Jim.


'Jaga mulutmu, she is your sister in law?' gerutu Bayu.


'What? Jadi yang jawab telepon barusan si cantik kakak ipar?' pekik Jim yang membuat Diandra tersipu malu.


'Hmmmm....' Bayu hanya bergumam tanda mengiyakan.


'Ah, padahal aku sudah naksir karena suaranya yang merdu,' seloroh Jim yang membuat Bayu meradang.


'Watch your attitude, she is mine!' geram Bayu.


'I know, I got it boss,' sahut Jim yang mendadak merinding mendengar perkataan Bayu yang terdengar dingin dan mengancam.


'So, what's it about?' tanya Bayu.


'Ada informasi yang saya dapat dari pihak kepolisian dan tim penyidik,' jawab Jim dengan nada serius.


'Ok, besok pagi datang sebelum aku berangkat ke kantor, aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang,' sahut Bayu.


'Siap, Boss. I'm hanging up,' balas Jim lalu mengakhiri percakapan mereka dengan memutuskan sambungan telepon.


Diandra melwtakkan kembali ponsel Bayu di atas dashboard, lalu dia menatap ke arah Bayu dengan penuh tanda tanya.


Bayu yang merasakan tatapan Diandra langsung menoleh dan tersenyum.


"Tak perlu memikirkan apapun, biarkan kami para lelaki yang mengatasi masalah ini, kami akan mengungkap semua kejahatan yang dilakukan keluarga kedua pakdemu," ucap Bayu bersungguh-sungguh.


"Jangan membahayakan diri Kak Bayu dan juga yang lain, kak. Pakde itu orang kejam," sahut Diandra.

__ADS_1


"Kakak tau, sayang," balas Bayu sambil membelai pipi Diandra, "Tidurlah, perjalanan masih lumayan lama, nanti kalau sudah sampai, kakak bangunkan," sambung Bayu yang menghentikan mobilnya tepat saat lampu traffic menyala merah. Direndahkannya kursi Diandra, lalu dia mengambil bantal leher yang tergeletak di kursi belakang lalu memasangkannya di leher Diandra. Setelah Diandra terlihat berada di posisi nyaman, Bayu mendaratkan kecupan di kening Diandra.


"Tidurlah," Bayu kembali menjalankan mobilnya saat lampu menyala hijau, dan Diandra perlahan menutup matanya karena merasa lelah dan mengantuk.


__ADS_2