
"Ma!!" protes Bayu yang kaget karena didorong Gina sampai terjatuh.
"Diam kamu, mama lagi ingin peluk calon mantu mama," gertak Gina yang masih memeluk Diandra dengan erat.
"Ck, Rara harus ke rumah sakit ma, lututnya cidera," Bayu memisahkan mamanya dari Diandra, ada rasa nggak rela kalau Diandra dipeluk orang lain walau itu mamanya sendiri.
"Astaga, kenapa bisa cidera?" tanya Gina cemas.
"Jatuh tante, tapi nggak apa-apa kok, nanti cuma kontrol aja di rumah sakit Kak Dimas," jawab Diandra.
"Kamu yang bikin Rara jatuh ya?" tuduh Gina pada Bayu.
Bayu tak menjawab, hanya melotot tajam ke arah Gina.
"Kak, jangan melotot ke Mama Gina gitu, nggak sopan," tegur Diandra membuat Gina tersenyum lebar.
"Memang mantu idaman," puji Gina sambil mencium pipi Diandra dengan gemas.
"Ma, nggak usah genit cium-cium kenapa sih?!" protes Bayu kesal sambil menghapus bekas lipstick Gina yang menempel di pipi Diandra.
"Biarin sih, mantu mama gini," sahut Gina sengit. Bi Tami yang mendengar pertengkaran antara Bayu dan Gina terheran-heran, karena biasanya Gina akan frustasi setiap datang ke rumah ini karena Bayu hanya akan menjawab dengan pendek semua kalimat yang dilontarkan Gina.
Kata paling panjang yang Bayu ucapkan adalah 'Bayu pikir dulu' lain itu hanya kata 'oke', 'no', 'ya' dan 'hem' tak lebih. Tapi lihat sekarang, hanya karena Diandra suasana rumah ini jadi lebih ceria dan hidup.
Lelah adu mulut dengan anaknya, Gina membantu Diandra duduk di sofa.
"Gimana kabar Danu, Ra?" tanya Gina sambil merapikan anak rambut Diandra yang berantakan akibat ulahnya memeluk dan mencium Diandra tadi.
"Puji Tuhan baik, ma," jawab Diandra sambil tersenyum.
"Kerja? Dimana?" tanya Gina lagi.
"Kerja ma, Manager IT di PT. Buana Raya," jawab Diandra.
"Kenapa nggak kerja sama Haryo?" tanya Gina lagi. Bayu memutar bola matanya karena jengah, lalu bangkit dari duduknya kemudian berpindah duduk di sebelah kiri Diandra.
"Kakak sudah sejak 4 tahun lalu kerja di sana ma, dan posisi kakak juga sudah baik di sana," jawab Diandra sabar.
__ADS_1
"Kalau sama Haryo kan bisa gantiin Bayu, biar Bayu urus perusahaan papanya," gerutu Gina.
"Kak Danu kan IT, ma. Jadi kalau untuk jadi sekretaris pribadi Pak Hayo mungkin kakak nggak akan nyaman kerjanya, ma," jawab Diandra.
"Pak Haryo?" tanya Gina, keningnya berkerut mendengar Diandra memanggil Haryo dengan sebutan 'Pak'.
"Rara kerja di sana ma, jadi kan harus hormat sama CEO perusahaan," jawab Diandra berusaha tetap sopan, tak menunjukkan kekesalannya pada Haryo.
"Rara kerja di sana? Kok kamu nggak bilang, Bay?" protes Gina sambil melemparkan tatapan kesal ke arah putranya.
"Apaan sih ma, Rara juga baru kerja empat hari yang lalu kok, ini juga kalau bukan karena Rara cidera kami sudah ada di kantor," jawab Bayu kesal, karena Gina menyabotase Diandra, rencana menghabiskan waktunya selama satu jam bersama Diandra sebelum ke rumah sakit, jadi gagal karena kedatangan sang mama yang tidak diundang, sungguh menyebalkan.
"Paling nggak kan kamu bisa cerita ke mama kalau Diandra sudah ketemu," sahut Gina sengit.
"Nggak sempat, ma... Sejak Rara masuk kerja kami berempat sibuk membahas dan menyelidiki kasus kecelakaan yang dialami Om Suryo dan Tante Rianti," balas Bayu sambil merengkuh bahu Diandra dan memeluknya saat Diandra menatap Bayu dengan tatapan sendu.
"Jadi kecelakaan Suryo dan Rianti itu hasil rekayasa?" tanya Gina geram.
"Iya ma, tapi kami masih menyelidikinya," jawab Bayu, ditepuk-tepuknya punggung Diandra saat Bayu melihat mata Diandra berkaca-kaca saat mereka membicarakan kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
"Ah, maafkan mama ya Ra," ucap Gina sambil mengusap kepala Diandra fengan penuh kelembutan dan kasih sayang seorang ibu.
"Nggak apa-apa, ma. Rara cuma kangen papa dan mama," sahut Diandra sambil tersenyum sendu.
"Ada Mama Gina dan Papa James, kami juga kan mama papa Rara, karena Rara akan menikah dengan Bayu, jadi Rara juga anak papa dan mama," hibur Gina dengan suara merdunya yang tulus.
"Terima kasih, ma..." Diandra memeluk Gina dengam erat, Gina membalas pelukan Diandra. Air mata Diandra mengalir makin deras saat merasakan Gina membalas pelukannya. Pelukan hangat seorang ibu yang sudah lama tak dia rasakan.
Gina menepuk-nepuk punggung Diandra untuk menenangkannya.
Hati Bayu tersayat mendengar isakan Diandra, jika kecelakaan itu tak terjadi, pasti Diandra tak akan pernah merasakan kehilangan kedua orang tuanya, pastilah sekarang Diandra dan Danu masih memiliki mama dan papa di sisi mereka.
Tangan Bayu mengepal erat, kebenciannya terhadap Suwito dan juga Bagyo semakin bertambah, dia bertekad membuat mereka berdua beserta keluarga mereka mengalami penderitaan seratus kali lipat dari apa yang sudah Diandra dan Danu alami, dia akan membuat mereka menangis darah dan membuat mereka memohon untuk segera mati tapi matipun tak akan membuat mereka jadi lebih baik.
Setelah Diandra tenang, Gina meminta Bayu membantu Diandra membasuh wajahnya dan berganti pakaian sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.
Bayu membawa Diandra ke rumah sakit, sementara Gina tak ikut karena harus ke bakery untuk membuat beberapa pesanan cake untuk para pelanggannya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Bayu hendak menggendong Diandra masuk ke dalam dan langsung menuju ruang radiologi, namun Diandra menolaknya dan memilih menggunakan kursi roda, Bayu hanya bisa menghela nafas dan menuruti permintaan Diandra.
"Rara cuma nggak ingin menarik perhatian orang, kak," hibur Diandra saat melihat muka masam Bayu ketika membantunya duduk di kursi roda.
"Iya, kakak tau," sahut Bayu sambil mengecup kening Diandra.
"Stop with that PDA," seru seseorang dari belakang Bayu.
"Kak Danu," panggil Diandra sambil tersenyum lebar saat melihat kedatangan Danu.
"Hi Dan," sapa Bayu sambil mengajak Danu melakukan fist bump yang disambut Danu dengan senang hati.
"Ayo cepat ke radiologi, aku cuma ijin sampai waktu makan siang," ajak Danu sambil merangkul bahu Bayu yang mendorong kursi roda Diandra setelah sebelumnya mencium kedua pipi dan kening Diandra.
Mereka berjalan beriringan sambil mengobrol, hingga mereka sampai di depan ruang radiologi dan Dimas sudah menunggu di sana bersama seorang dokter pria berwajah Asia berusia awal 30 tahun. Danu mengernyitkan keningnya.
"Kak Miko?" sapa Danu ragu.
"Hey, sepuluh tahun nggak jumpa, apa kabar?" Miko mengulurkan tangannya pada Danu dan Danu menyambutnya dengan senyuman di bibirnya.
"Hai Diandra, masih ingat saya?" sapa Miko seranya sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Diandra.
Diandra menatapnya ragu, wajahnya seperti pernah dia lihat dulu, tapi dia tak ingat di mana dan kapan. Diandra menggeleng lemah.
Miko tersenyum lalu mengusap kepala Diandra dengan lembut.
"Wajar kalau tak ingat, saat itu kamu setengah sadar saat kita pertama bertemu," ucap Miko ramah, "Aku sahabat Tora yang merawatmu 10 tahun yang lalu," Miko memperkenalkan dirinya pada Diandra, namun tanggapan Diandra sedikit membuatnya memundurkan tubuhnya ke belakang.
Diandra menatapnya dengan sedikit rasa takut dan waspada.
"Jangan takut, saya nggak akan berbuat jahat padamu," ucap Miko sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Maaf, Rara masih agak trauma dengan kejadian 10 tahun lalu," jelas Danu.
"It's ok, saya tau, nggak masalah kok." sahut Miko.
"Rara ikut kak Dimas dulu ya buat diperiksa," ajak Dimas sambil mengambil alih kursi roda Diandra dan mendorongnya masuk ke ruang radiologi meninggalkan Danu, Bayu dan Miko di ruang tunggu.
__ADS_1