Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Dandy


__ADS_3

"Ehem," suara deheman Miko mengejutkan Danu dan Fiby, spontan Danu melepaskan ciumannya dari bibir Fiby dengan berat hati, sementara Fiby segera menyembunyikan wajahnya di dada Danu.


"Aha, Kak Miko, hehe," sapa Danu sambil memeluk Fiby.


"Sebelah ruangan Rara ada ruangan kosong, bisa kalian pakai buat make out lho," goda Miko sambil melenggang masuk ke dalam ruang rawat Diandra.


Fiby merasa malu setengah mati, ingin rasanya mengubur diri dalam-dalam di lubang kelinci. Sementara Danu hanya bisa tertawa sumbang menanggapi godaan Miko.


"Kita masuk? Mau ketemu Rara?" tanya Danu dengan suara lembutnya. Perlu diketahui sifat keras dan dingin Danu akan menguap di hadapan Diandra dan Fiby dan itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan para sahabatnya.


"A-aku malu," jawab Fiby gugup.


"Nggak apa-apa, kamu kenal Kak Miko juga kan?" sahut Danu sambil merapikan rambut Fiby yang sedikit berantakan.


"Kenal, kan tunangannya Kak Lisa," jawab Fiby.


"Jadi ya nggak masalah kan? Lagian sudah sama-sama dewasa, wajarlah kalau kita seperti tadi, namanya juga kangen, kan?" goda Danu sambil mengedipkan sebelah matanya lalu mencuri ciun di bibir Fiby.


"Dandy aaah," gerutu Fiby kesal, wajahnya memerah malu, apalagi tanpa sadar mulitnya mengeluarkan panggilan sayangnya pada Danu yang dulu hanya bisa dia serukan di dalam hati.


"Dandy?" tanya Danu sambil menyeringai lebar.


"A-aku masuk!" ucap Fiby gugup, buru-buru dia melangkah ke arah pintu dan membukanya.


Danu hanya terkekeh geli, Fiby memang menggemaskan, sama seperti Diandra tapi gemasnya pada Fiby disertai getaran aneh dan juga gejolak gairah antara pria dan wanita.


Danu melangkah mengikuti Fiby masuk, di dalam dia melihat Fiby dan Diandra berpelukan dan menangis haru melepas rindu. Hati Danu menghangat, akhirnya setelah 10 tahin pelarian dan bersembunyi, kini dia bisa bertemu dengan para sahabat dan orang terkasihnya satu persatu. Harapannya hanya satu, terbebas dari perasaan was-was dan terancam.


"Ade mungil udah segede ini, Ya Tuhan.... Mana cantik banget gini, pasti yang bisa dapatkan ade jadi lelaki paling beruntung," puji Fiby sembari menghapus air mata di pipi Diandra, lalu mencium pipinya.


"Jelaslah, adikku... Sudah ciuminnya Iby, sebelum ada yang kebakar api cemburu," seru Danu sambil melirik Bayu yang sudah memasang wajah tak bersahabat.


"Eh, ade sudah ada yang punya? Siapa? Kenalin ke kakak dong," Fiby memberondong Diandra dengan pertanyaan, Diandra hanya tersenyum malu-malu.


"Sudah kangen-kangenannya?" tanya Bayu kesal, "Kalau sudah, minggir sana," sambung Bayu sambil meraih wajah Diandra lalu mengusap wajahnya memakai tissue, membersihkan bekas lipstick Fiby yang menempel di pipi.


Fiby terpana melihat sikap Bayu, Dimas dan Tiana terkekeh geli, sementara Danu dan Miko hanya mendengus sebal.


"You... You...." Fiby menatap Bayu dan Diandra bergantian.


"Ck.... Iya! Sana.... Sana..." sahut Bayu kesal sambil mengibadkan tangannya menyuruh Fiby menyingkir.


"Dan.... Itu.... Mereka...." Fiby tergagap karena shock.

__ADS_1


"Nggak usah shock, namanya cinta mau gimana lagi?" sahut Danu santai sambil melambaikan tangannya agar Fiby duduk di sampingnya.


"Tapi itu... Har...." kata-kata Fiby terputus saat Danu, Dimas dan Miko memberikan isyarat padanya untuk diam.


Fiby menurut dan segera duduk di sebelah Danu.


"Jangan singgung masalah Haryo di depan Rara," bisik Danu dan diangguki Miko.


"Kenapa?" tanya Fiby penasaran.


""Psychological effect, jelasnya kenapa nanti biar Danu jelasin, saat ini jangan bicarakan Haryo dan keluarganya di depan Rara," jawab Miko dan Fiby hanya mengangguk paham.


"Kakak nggak nyusul Kak Tora?" tanya Danu pada Miko.


"Nanti, lagian papanya lagi ada di sana, aku malas ketemu sama si tua dan anak perempuannya," jawab Miko sambil mengunyah pisang yang dia ambil dari meja.


"Ra, kakak minta pisangnya ya, lapar," ucap Miko dengan mulut penuh pisang.


"Makan aja kak, atau mau Rara pesankan makanan?" tanya Diandra.


"Nggak usah, aku cuma kelaparan, habis operasi 4 jam tadi, gara-gara dokter yang harusnya bantu malah nglayap entah kemana, eh taunya nongkrong di sini," jawab Miko menyindir Dimas yang hanya nyengir kuda


Seharusnya Dimas membantunya melakukan operasi penasangan platina pada rusuk seorang korban kecelakaan lalu lintas, tapi Dimas malah mengikuti rapat dewan direksi rumah sakit dan setelah selesai dia lupa kalau harus membantu Miko, malah dia mengobrol dengan kepala dewan direksi sampai lupa waktu, dan selepasnya dia segera ke ruangan Diandra.


Tiana memukul punggung suaminya dengan gemas.


"Minta maaf sana!" perintah Tiana kesal.


"Iya.... Iya..." sahut Dimas bersungut-sungut.


Dimas menghampiri Miko dan saat dia akan membuka mulut untuk meminta maaf, Miko membuka suara terlebih dahulu.


"Permintaan maafmu akan kuterima, dengan syarat, President Room Hyatt Hotel di Bali selama 6 hari," ucap Miko acuh tak acuh.


"What???? Yang bener aja kak, habis gaji sebulan, anak istriku makan apa?" protes Dimas.


"Nasi," jawab Tiana dan Miko bersamaan membuat orang yang ada di ruangan Diandra tertawa geli.


"Sayaaaang...." rengek Dimas pada Tiana, namun Tiana tak menanggapinya dia sibuk mengupas apel untuk Diandra.


"Deal?" tanya Miko memaksa.


"Keberatan to kak," protes Dimas.

__ADS_1


"Kalau gitu gantikan shiftku dan jadwal praktik poliklinikku selama 6 bulan, deal?" ucap Miko mengajukan penawaran yang sama sekali tidak menguntungkan, menggantikan jadwal shift dan jadwal praktik poliklinik sama saja memintanya tinggal di rumah sakit selamanya.


"Haish, aku akan minta Kak Lisa membatalkan pernikahan kakak," ancam Dimas.


"Coba saja," sahut Miko sambil mengeluarkan set scalpel ( pisau bedah ) dari saku dalam jas dokternya.


Dimas bergidik ngeri, dia memang nggak bisa melawan kekejaman calon kakak iparnya.


"Iya deh iya, Hyatt 6 hari, president suite," ucap Dimas setengah hati, lebih baik merelakan gajinya sebulan dibanding waktu untuk bersama anak istrinya.


Lagi pula dia masih ada pemasukan lain dari klinik pribadinya yang tak kalah jumlahnya dari gajinya di rumah sakit.


"Ok, waktunya seminggu lagi, dan ingat, selama aku di Bali bersama Lisa kau harus mengisi jadwal ku dan menggantikan shiftku, hahahahaha...." ucap Miko sambil mengeluarkan tawa jahatnya.


"WHAT????" pekik Dimas tak percaya, sementara Miko semakin tergelak.


"Kak Tia, emang Kak Dimas sama Kak Miko selalu gitu ya?" tanya Diandra setengah berbisik pada Tiana.


"Iya de, sudah biasa, kaya kucing sama anjing," jawab Tiana santai, dia sudah biasa melihat keributan duo calon ipar itu, dan Dimas tidak pernah sekalupun menang melawan Miko.


"Hhehehehe.... lucu ya mereka," kekeh Diandra.


"Apanya yang lucu sih, lucuan juga Cak Lontong," sahut Bayu kesal.


"Dih, Bay.... Gitu aja lu jealous? Yang bener aja deh," sindir Tiana seraya terkekeh geli.


"Cih..." Bayu berdecih kesal.


Miko bangkit dari duduknya dan menghampiri Diandra.


"Ra, besok kakak akan datang pagi saat badan kamu dibasuh, nanti kakak yang akan basuh...." ucap Miko tapi terpotong oleh Bayu, "Apa???? Enak saja kak, nggak bisa!!!" gertak Bayu kesal.


"Ck, ni bocah.... Dengar dulu aku selesai ngomong bisa?" omel Miko.


"Nggak bisa!!!" sahut Bayu kesal.


Miko melotot tajam ke arah Bayu dan Bayu membalasnya dengan sengit.


"Heih, dengar Kak Miko dulu sih, Big Bun, emosi wae bawaannya," gerutu Diandra sambil meremas tangan Bayu.


"Nah.... Rara bisa lebih waras dibanding kamu ternyata," sindir Miko, "Besok kalau pacarmu ini nggak memperbolehkan aku membasuh punggung biar dia saja, aku cuma butuh foto.... Kau tahu maksudku kan Ra?" tanya Miko setelah menjelaskan panjang lebar.


"Oh, Rara tahu kak, jadi Kak Danu juga?" sahut Diandra.

__ADS_1


"Yups, dan aku akan segera membuat salinan agar kalian bisa segera bergerak, situasinya agak gawat," jelas Miko membuat Diandra tegang.


"Kamu tenang saja, semua akan segera baik-baik saja," Miko mengusap kepala Diandra dengan lembut, lalu Diandra menyandarkan kepalanya di dada Bayu untuk mencari ketenangan.


__ADS_2