
"Benarkah? Kau sudah menemukan dimana mereka tinggal?" tanya Suwito dengan bersemangat.
"Hanya pasangan tua Sasmita, dua keponakanmu sepertinya tidak tinggal bersama mereka," jawab Jack, tangan kanan Kentaro, dia ditugaskan untuk menemui Suwito di sebuah private room di Hotel Z, dia sekaligus akan menemui Sinta, untuk menghiburnya.
"Lalu apa yang kau dapatkan?" tanya Suwito sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Tak ada," jawab Jack masa bodoh.
"Dasar tak beguna!!!" bentak Suwito sambil menggebrak meja.
"Heh.... Berani kau berulah? Kau pikir siapa dirimu sekarang ini? Perusahaan sudah diambang kebangkrutan, terlilit utang piutang, bahkan nama baik keluarga besarmu pun tercoreng karena kelakuan anak perempuanmu, tapi kamu masih mau berulah? Mengacalah dulu tuan," ejek Jack menanggapi bentakan Suwito.
Mendengar ejekan Jack, Suwito hanya bisa melotot pada Jack.
"Kalau bukan karena kebodohan kalian merekam kegiatan kalian, nama baik kami tak akan seperti ini," ucap Suwito membela diri.
"Hahahahaha.... Rekaman itu bukan aku atau teman-temanku yang merekam, tapi anak perempuanmu sendiri," sahut Jack sambil tergelak.
"Apa???" teriak Suwito kaget.
"Hahahaha.... Tidak aneh sebetulnya, anak perempuanmu itu pecandu *** dan suka merekam kegiatannya untuk dia nikmati sendiri. Sebetulnya dia sudah tak terlalu menggigit, mengingat banyaknya lelaki yang sudah menidurinya, tapi karena dia suka melakukan sesuatu yang baru dan menantang, kami senang bermain dengannya, terlebih lagi gratis, kami tak perlu membayar, hahahahaha...." gelak Jack keras, Suwito mengepalkan tangannya untuk menahan marah, karena dia tahu, marahpun percuma, karena Sinta memang sudah rusak, bahkan karena seringnya bermain lelaki dia sudah beberapa kali melakukan operasi pemulihan keperawanan, dia hanya bisa menahan diri untuk tidak mengamuk pada Jack, karena dia masih memerlukan pertolongan dari organisasi Furainoduragon.
Suwito menarik nafas panjang beberapa kali sampai emosinya stabil.
__ADS_1
"Papa dalam waktu satu bulan kalian bisa menemukan keberadaan mereka?" tanya Suwito yang kembali menyalakan rokoknya.
"Mungkin.... Tergantung perintah Boss," jawab Jack sambil memainkan gelas red wine di tangannya.
"Temukan mereka segera, kunci warisan kekayaan keluarga Perwita ada pada mereka, ikuti saja terus kedua orang tua itu, pasti mereka akan menemui kedua cucunya," saran Suwito.
"Hah.... Tanpa kau suruh pun kami sudah melakukannya. Apa kau tahu kalau mereka dikawal oleh guard pasukan khusus? Entah dari mana mereka mempunyai kemampuan menyewa pengawal pribadi dari pasukan khusus," gerutu Jack.
"Pasti anak buah Wira," tebak Suwito.
"Apa kau lupa saat kita merekayasa kecelakaan Wira, kita juga menghancurkan security guard milik adikmu itu?" tanya Jack setengah meledek.
"Hmmm.... Mungkin anak lelaki sialan itu, sudah memiliki uang untuk bisa menyewa mereka," jawab Suwito rafu.
"Sorry, aku harus segera menemui putrimu, dia sudah berisik meminta untuk segera dipuaskan," Jack bangkit dari duduknya dan bergegas melangkah keluar dari private room Hotel Z.
Suwito mendengus kesal, dia heran dengan Sinta, video dan fotonya sudah menyebar krmana-mana tapi dia sama sekali tak jera, malah makin menjadi. Malam ini pun dia mengundang Jack dan beberapa temannya dari Furainoduragon untuk sekedar memuaskan hasratnya dan melepaskan stressnya.
Like father like daughter, cara pelepasan stress mereka pun sama, ***.
Suwito meraih ponselnya dan menekan nomor sekretarisnya.
'Ya pak, ada yang bisa Lilis bantu?' tanya Lilis, sekretaris Suwito.
__ADS_1
'Hotel Z, room 3111, puaskan aku,' jawab Suwito yang langsung memutus panggilannya.
Lilis yang masih berada di kantor Perwita Corporation, segera berkemas dan touch up make upnya serta menyemprotkan parfum Diornya ke pusat-pusat nadi, kemudian dengan langkah meliuk-liuk dia keluar dari ruangannya untuk segera menuju Hotrl Z dan memuaskan hasrat Suwito.
●○●○●○●○●○
"Aku pergi dulu," pamit Tora, dia akan menuju kediaman Kentaro untuk memenuhi undangan Kentaro, dikecupnya kening dan kedua pipi Diandra.
"Aku akan menyusul, aku ada operasi pukul 15:20 nanti," seru Miko, setelah berpamitan pada Diandra, Miko bergegas keluar menuju ruangannya untuk mempelajari ulang kasus pasiennya.
Sementara Dimas sudah berada di klinik orthopedi karena hari ini jadwal dia praktik.
"Ade, kakak mau ke rumah Kakek Cokro dulu ya, nanti kalau sudah selesai kakak balik sini lagi, baik-baik sama Bayu, ya," pamit Danu seraya mengecup kening Diandra.
"Kakak nggak cape? Kalau Kak Bayu cape, pulang aja nggak apa-apa, Rara sama perawat bisa kok," tanya Diandra saat melihat wajah sayu Bayu.
"Gampang, nanti kalau kakak cape kakak bisa tidur di ranjang tambahan itu," jawab Bayu sambil menunjuk addition bed yang berada di samping ranjang perawaran Diandra.
Haryo yang melihat interaksi mereka berdua merasa cemburu tapi juga hopeless.
"Aku pamit pulang dulu Dira, istirahat yang cukup dan lekas sembuh ya," pamit Haryo, tangannya terulur mengusap puncak kepala Diandra. Tubuh Diandra terjengkit karena kaget, wajahnya berubah masam, Haryo terluka melihat ekspresi Diandra yang terlihat buruk.
"Kami pergi dulu, jaga baik-baik sepupuku, tau!" perintah Tora sebelum melangkah pergi diikuti Danu dan Haryo.
__ADS_1