Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Flashback 06 ( Rara Takut, Kak Tora.... Rara ingin pulang )


__ADS_3

Setelah tak sadarkan diri selama hampir 3 jam, akhirnya Diandra menggerak-gerakkan tangannya perlahan. Tora yang selalu duduk di kursi di samping ranjang langsung bangkit dan berlutut di sebelah ranjang.


"Rara.... Ade...." panggil Tora dengan lembut.


Tubuh Diandra bergerak perlahan, namun tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, isakan dan rintihan keluar dari mulutnya.


"Jangaaaan.... Lepaskan aku.... Tolong lepaskan aku.... Jangan sentuh.... Tolong..... Tidak..... Tidak.... Tidaaaaaaaaaak" Diandra merintih pelan, namun diujung rintihannya Diandra memekik keras yang mengejutkan Tora.


"Rara.... Ade.... Ade.... " Tora memanggil nama Diandra berulang kali sambil menepuk pelan pipi Diandra beberapa kali.


Perlahan Diandra membuka matanya, melihat samar wajah pria yang berjarak begitu dekat dengan wajahnya, Diandra tambah menjerit dengan histeris.


"Aaaaaaah..... Tidaaaaak.... Jangan.... Jangan.... aku mohon...." jerit Diandra disela tangisnya.


Hati Tora terasa seperti diremas-remas. Dia memegang bahu Diandra.

__ADS_1


"Ade.... Sayang.... Ini kakak... Kak Tora, ade tenang ya.... ini ada kakak!" bujuk Tora menenangkan Diandra.


Diandra terisak, namun sudah tidak menjerit histeris, dia memandangi wajah Tora, seakan tak percaya.


"Kakak? Kak Tora?" gumam Diandra tak percaya.


"Iya, ini Kak Tora, sayang.... tenang ya de, ada kakak di sini!" bujuk Tora penuh kasih sayang.


Diandra menatap Tora, air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya, nafasnya terengah karena tangisannya.


"Kakaaaaaaaaak.... Tolong Rara, lelaki itu pegang-pegang dada ade, cium-cium ade.... Ade takut kak!" pekik Diandra seraya menghambur ke pelukan Tora.


Tora memeluk erat tubuh Diandra, mengusap perlahan punggungnya dan mengecup lembut kening Diandra.


"Maafkan kakak, Ra.... Seharusnya tidak seperti ini, maafkan kakak.... Maafkan kakak...." gumam Tora sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Diandra.

__ADS_1


"Rara takut kak.... Ade pengen pulang kak..." isak Diandra. Tora didera rasa bersalah yang teramat besar, seandainya dia tak meminta Kenta menculik Diandra, maka Diandra tak akan mengalami pelecehan sexual yang dilakukan Bram. Kalau saja dia tak menuruti kehendak adiknya, Sinta, yang ingin melenyapkan Diandra, kalau saja dia tidak terlalu serakah ingin memiliki Diandra seutuhnya. Tora tahu kalau dia memiliki penyimpangan sexual, menyukai gadis di bawah umur, walau rasa itu timbul terhadap Diandra, adik sepupunya. Dia berulang kali mengunjungi psikiater untuk berkonsultasi tentang kelainannya ini, tetapi semakin dia berusaha menyembuhkan kelainannya, semakin besar pula hasrat Tora untuk memiliki Diandra seutuhnya, hati dan tubuhnya.


Tujuan awalnya menculik Diandra, selain membantu Sinta mencegah pertunangan Diandra dengan Haryo, Tora juga ingin menyalurkan hasratnya terhadap Diandra, dengan demikian Diandra akan menjadi miliknya, seutuhnya. Namun melihat kondisi Diandra sekarang, Tora tidak tega, rasa bersalah membelenggunya.


"Iya Ra, nanti kita pulang, Rara istirahat dulu di sini, ya?!" bujuk Tora.


"Rara nggak mau kak, Rara takut orang itu datang lagi.... Kenapa Rara dibawa ke sini, kak?! Ade mau pulang, Kak Tora!" Diandra membenamkan wajahnya di dada bidang Tora, nafas Diandra menyapu hangat dada Tora, menimbulkan desiran aneh di seluruh tubuh Tora. Susah payah, Tora menahan diri, seingin apapun dirinya atas tubuh Diandra, dia tak mau sepupunya itu takut padanya.


"Istirahat dulu, Ra! Ada kakak jaga ade di sini, nggak akan ada yang berani jahat ke ade lagi!" bujuk Tora sambil mengusap-usap lembut punggung Diandra.


Perlahan, isakan Diandra melemah dan akhirnya berhenti, seiring dengan terlelapnya Diandra di dalam pelukan Tora.


'Maafkan kakak, sayang.... Karena keegoisan dan hasrat kakak, kamu jadi harus mengalami hal seperti ini.... Maafkan kakak ya sayang.... Jika suatu saat nanti kau mengetahui siapa dalang di balik semua ini, akankah kau tetap menganggapku sebagai sepupu kesayanganmu? Kakak mohon, jangan benci kakak, karena kakak tak sanggup hidup jika harus kau benci' Tora terisak lirih, hatinya terasa tercabik melihat keadaan sepupu kesayangannya.


Haruskah keluarga besar Perwita terpecah hanya karena warisan? Haruskah dia dan Diandra menjadi musuh? Haruskah hubungan persaudaraannya dengan Danu dan Diandra terkoyak karena harta? Akankah nantinya kedua sepupunya itu membencinya saat tau dia adalah dalang di balik penculikan Diandra?

__ADS_1


Tora tergugu.... Sesungguhnya dia sama sekali tak menginginkan harta apapun warisan kakek Asdi Perwita, tapi entah mengapa, sang papa, Suwito, sangat terobsesi dengan harta itu, begitupun dengan mamanya dan juga adiknya. Mereka bertiga, ditambah keluarga paman keduanya, sama-sama sangat terobsesi untuk bisa menguasai seluruh harta keluarga Perwita.


Tora merebahkan tubuh Diandra di atas ranjang, setelah menyelimutinya, Tora berniat keluar menemui Kenta, tapi Diandra tak mau melepas pegangan tangannya di anak baju yang Tora pakai, jadi mau tak mau, Tora ikut berbaring di sebelah Diandra dan memeluk tubuh Diandra dengan erat.


__ADS_2