
Sinta tercengang mendengar kata-kata calon mertuanya dan kebingungan saat melihat Ratri pergi meninggalkannya dan Mariana.
"Tante.... Tante Ratri, ini salah paham," teriak Sinta yang berusaha mengejar Ratri, namun karena dia memakai stiletto 12cm, dia tak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh sebelum dapat menuruni teras perusahaan Wicaksono.
Sinta hanya bisa menatap mobil yang ditumpangi Ratri pergi meninggalkannya dan mamanya. Dengan tatapan membunuh Sinta menoleh dan menatap Mariana yang berdiri bengong karena perkataan tajam Ratri, dia cemas dan juga takut, kalau pertunangan Sinta dan Haryo dibatalkan sudah pasti akan berdampak pada perusahaan keluarga Perwita yang selama 10 tahun ini naik turun tak menentu setelah iparnya Suryo dan Rianti meninggal. Suaminya, Suwito, walau berambisi besar tapi dia tak memiliki kemampuan dalam mengelola perusahaan, jika bukan karena perjanjian pernikahan yang dibuat oleh para tetua, sudah tentu perusahaan keluarga Perwita gulung tikar. Tapi dengan mengajukan Sinta sebagai pengganti Diandra 7 tahun lalu, Raden Dewo Wicaksono, ayah Haryo, bersedia membantu menstabilkan kondisi perusahaan keluarga Perwita, tapi jika pertunangan ini dibatalkan, maka sudah pasti bantuan akan ditarik dan tentunya akan menyebabkan penimbunan utang perusahaan yang sangat besar. Mariana gemetaran karenanya.
Namun lamunan Mariana pecah tatkala seseorang menarik lengannya dengan kasar, tubuh gempal Mariana tersentak ke belakang. Dia menoleh dan bersiap untuk marah, tetapi saat mengetahui yang menarik tangannya adalah putrinya, Mariana meredakan emosinya.
"Mama sudah gila? Bisa-bisanya mama berkata seperti itu tentang Mas Haryo dan orang tuanya?! Lihatlah sekarang, Tante Ratri marah, kalau sampai pejodohan gagal, jangan harap Sinta akan memaafkan mama!" bentak Sinta kesal.
"Kamu menyalahkan mama? Kau sendiri tidak menyangkal semua perkataan mama, kau diam saja bahkan ikut memaki kedua jongos rendahan itu!" balas Mariana seraya menunjuk ke arah Yadi dan Joko dengan jari gempalnya.
"Pokoknya Sinta nggak mau tau, sudah sejauh ini dan tinggal lusa acara pertunangan kami, kalau sampai batal, mama lihat sendiri akibatnya," Sinta kembali berteriak mengancam Mariana, dan Mariana merasa tidak terima dengan perlakuan Sinta, anaknya sendiri. Mareka berdua terus bertengkar dengan suara yang sangat keras, sampai menarik perhatian beberapa karyawan perusahaan yang kebetulan sedang melintas di lobby karena hendak makan siang di luar, bahkan beberapa client perusahaan pun terpaksa berdiri menyaksikan keributan itu karena mereka berdua berdiri tepat di depan pintu masuk perusahaan.
Yadi dan Joko bukannya tidak berusaha menghentikan mereka berdua, Yadi dan Joko meminta mereka menyelesaikan masalah di tempat lain, tetapi malah wajah Yadi terkena hantaman tas bermerk berharga puluhan juta milik Sinta, yang menyebabkan wajah Yadi memar dan terluka.
Merasa kewalahan, pihak receptionist menghubungi Ari dan meminta Ari turun ke bawah mengatasi masalah yang mulai di luar kendali. Dan untuk mencegah terjadinya suatu yang tidak diharapkan, Ari meminta bantuan dari pihak kepolisian setempat.
__ADS_1
Akhirnya Sinta dan Mariana diamankan pihak kepolisian dan dibawa untuk penyidikan lebih lanjut.
Hal ini jelas membuat Sinta semakin murka, dia memanggil pengacara keluarga dan memintanya membebaskan dirinya dan juga sang mama dengan jaminan.
Dan sekarang, disinilah mereka berdua, di rumah kediaman keluarga besar Perwita, tengah bertengkar hebat, dan Sinta memporak porandakan isi ruang keluarga.
Para pelayan keluarga Perwita hanya menghela nafas lelah, sudah jadi kebiasaan kalau nona manja mereka mengamuk, seluruh isi rumah akan berantakan dan banyak barang pecah berserakan, bahkan tak jarang ada pelayan yang tanpa sengaja terkena lemparan benda dari tangan Sinta.
Suwito yang baru pulang dan mendapati rumah bagai kapal pecah membentak Sinta dengan keras.
"Apa yang kau lakukan lagi sekarang? Apa kau pikir barang yang kau rusak ini tidak dibeli dengan uang? Bisakah tanganmu kau gunakan untuk melakukan sesuatu yang berguna? Kalau sudah bosan memiliki tangan, aku akan suruh Kenta memotong tanganmu agar dijadikannya koleksi untuk dipajang di markasnya!!!" suara Suwito menggema keras memenuhi ruangan, nyali Sinta langsung menciut.
"Apa yang sudag kau lakukan, Mariana?" tanya Suwito sambil menatap tajam ke arah istrinya yang gemetar ketakutan. Tak ada yang tak tahu kalau Suwito gemar bermain tangan jika dia sedang marah.
Dengan suara bergetar Mariana menjelaskan semua kejadian yang terjadi di PT. WICAKSONO WORLD siang tadi. Mendengar penjelasan istrinya wajah Suwito menggelap, nafasnya memburu, menandakan dia benar-benar marah.
Suwito beranjak dari duduknya dan menghampiri Mariana yang duduk di sofa di seberangnya, lalu sekuat tenaga Suwito melayangkan tangannya dan memukul pipu Mariana.
__ADS_1
PUAAAAK!!!!
Suara pukulan itu nyaring terdengar, wajah Mariana sampai menoleh miring ke samping, kepalanya pening dan telinganya berdengung keras, bibirnya sobek mengeluarkan darah segar.
"Kau tau betapa pentingnya perjodohan ini? Tanpa perjodohan antara Sinta dan Haryo, kita akan kehilangan sokongan dana dari keluarga Wicaksono!" bentak Suwito, dia benar-benar marah kepada istrinya yang bodoh, "Entah apa yang kau bisa selain belanja, makan dan tidur? Melihat wujudmu saja sudah bikin aku muak, ditambah kebodohanmu yang semakin bertambah!" sambung Suwito dengan kejam.
"Maafkan aku, mas.... Aku emosi karena perlakuan dua orang security di perusahaan itu, mereka sama sekali tidak menghormatiku dan Sinta," ucap Mariana membela diro di sela tangisnya.
"Kalau kau pintar, kau bisa mengajak Sinta menunggu Ratri di mobil, tak perlu memaksa masuk. Kalian dilarang maduk juga karena ketololan Sinta yang mencari gara-gara dengan Haryo terlebih dahulu," bentak Suwito sambil menunjuk Sinta dengan telunjuknya, Sinta tertunduk karena takut, Suwito benar-benar murka.
"Bagaimana aku bisa hidup dengan dikelilingi orang tolol dan idiot macam kalian berdua?" seru Suwito sambil membalik meja marmer yang berada di depannya, lalu dia melangkah menuju anak tangga dan berhenti tepat di depannya.
"Bersihkan diri kalian, 5 menit lagi kita berangkat ke kediaman Wicaksono, bereskan masalah ini dan jangan mengacaukannya lagi!" ancam Suwito.
Mariana dan Sinta buru-buru bangkit dari sofa dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar mereka masing-masing untuk membersihlan diri dan bersiap. Lima menit kemudian, mereka bertiga bertolak menuju kediaman keluarga Wicaksono dengan mengendarai Audi Q5 warna hijau metallic.
Ketegangan menyelimuti suasana di dalam mobil mewah itu, Mariana merasa gugup dan juga cemas, sementara Sinta sangat ketakutan dengan ancaman pembatalan pertunangannya dengan Haryo, lelaki idamannya, yang demi Haryo dia rela melakukan perubahan di wajahnya agar terlihat mirip Diandra. Sementara Suwito lebih mencemaskan pencabutan sokongan dana dari keluarga Wicaksono dan bayangan harus menanggung utang perusahaan yang begitu besar membuatnya bergidik ngeri jika nanti perusahaan peninggalan sang ayah bangkrut, tentu semua kesenangan yang bisa dirasakan Suwito akan lenyap, termasuk kesenangannya mencari wanita yang bisa ditiduri dan memberinya kepuasan, karena dia sudah tidak tertarik lagi dengan Mariana yang bertubuh gempal dengan lipatan lemak yang rata di seluruh tubuhnya, ditambah wajahnya yang memang tidak cantik.
__ADS_1
Suwito melirik istrinya dan langsung merasa mual, kalau bukan menuruti perjodohan, dia pasti tidak akan menikahi Mariana, dia akan memilih wanita yang lebih cantik, berkelas dan pintar, bukan Mariana yang berwajah pas-pasan dan berotak tumpul, walau dia dari keluarga yang terpandang kala itu. Suwito mendengus kasar, his wife really is an eyesore.