Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Love Confession and First Kisses


__ADS_3

Sepuluh menit sebelum makan siang, Bayu sudah memesankan makanan untuk Diandra. Dia meminta Haryo untuk berangkat ke cafe tempat mereka janjian makan siang terlebih dahulu, karena mau mengantar makanan langsung untuk Diandra. Awalnya Bayu meminta Haryo yang mengantar, tapi Haryo tidak mau, karena takut Diandra tambah membencinya.


Sementara itu di Departemen HSE, Diandra mengirim pesan pada Hana, meminta maaf dan memberitahukan kalau dia tidak bisa ke kantin karena lututnya nyeri kalau dibuat banyak berjalan. Hana yang mengetahui kejadian kemarin membalas kalau dia akan makan siang bersama yang lain dulu untuk beberapa hari sampai Diandra bisa leluasa menggerakkan lututnya.


Sepuluh menit waktu berlalu setelah tanda istirahat makan siang berbunyi. Ruang kantor Departemen HSE sangat sepi. Hanya tinggal Diandra seorang di dalam ruangan sedang mengetik proposal yang diminta atasannya untuk dia kerjakan.


CKLAK!!!


Tiba-tiba terdengar pintu ruangan kantor tebuka.


"Ra... Sayang, makan dulu!" Bayu masuk sambil membawakan beberapa kotak makanan.


"Ah, Kak... Kak Bayu!" sahut Diandra gugup.


Bayu sampai di meja kerja Diandra.


"Makan di sini atau di pantry?" tanya Bayu.


"Di pantry saja kak!" jawab Diandra sambil bangkit dari duduknya.


"Tunggu di sini dulu!" Bayu melangkah ke arah pantry dan menyusun rapi makanan di atas meja pantry, setelah itu dia kem bali ke meja kerja Diandra , membantunya berjalan menuju pantry.


"Rara bisa jalan sendiri lho kak!" gumam Diandra.


"Sekarang kakak bantu dulu, nanti habis makan jalan sendiri, karena kakak mau menemui kakakmu sebentar lagi." balas Bayu.


"Rara tau!" sahut Diandra.


Sesampainya di pantry, Bayu membantu Diandra duduk di bangku yang ada di pantry. Setelah terduduk, Diandra tidak melepaskan tangan kanannya dari bahu Bayu, tetapi malah mengalungkan kedua tangannya ke leher Bayu.


Bayu tercekat, kaget dengan sikap Diandra.


"Ra.... Ada apa?" tanya Bayu, jantungnya berdetak kencang karena wajah mereka yang sangat dekat.


"Kak Bayu, kakak tau kan kalau Rara suka kakak?" tanya Diandra dengan suara serak yang terdengar sexy di telinga Bayu.


"Ra..." Bayu merasa gugup, dia tidak boleh menuruti keinginan hatinya untuk menjawab 'IYA' dan menerkam bibir ranum Diandra.


"Rara suka kakak, walau baru beberapa hari kita bertemu lagi, tapi Rara suka kakak. Rara tau kalau disini karyawan tidak boleh berpacaran dengan karyawan yang lain, tapi karena Rara tau kalau kakak nggak pernah memandang Rara sebagai wanita, jadi Rara beranikan diri bilang tentang perasaan Rara kepad Kak BayBay." ungkap Diandra dengan suara bergetar.


"Rara menyukai Kak Bayu, maafkan Rara!" sambung Diandra seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu dan dengan perlahan, Diandra menempelkan bibirnya yang gemetar ke bibir Bayu.


Sentuhan bibir Diandra yang begitu lembut bagai mengalirkan tegangan listrik berjuta volt ke dalam tubuh Bayu, tangan kanannya yang menumpu di atas meja mengepal, menahan hasrat yang dia pendam mati-matian.


"Rara nggak berharap kakak membalas perasaan Rara, karena Rara hanya ingin kakak tau, kalau Rara mencintai Kak Bayu!" bisik Diandra dengan sedikit menjauhkan bibirnya dari bibir Bayu, dan saat itulah pertahanan Bayu runtuh.


Tangan kirinya merengkuh tengkuk Diandra, menarik wajahnya mendekat lalu dengan lembut, Bayu ******* bibir Diandra yang berwana peach segar. Lidahnya bermain di bibir Diandra dan menyeruak masuk ke dalam mulut Diandra, lidah mereka saling bertaut, hanya terdengar suara nafas dan cecapan bibir mereka.


Setelah dirasa sama-sama memerlukan oksigen, Bayu menghentikan ciumannya. Dengan nafas memburu, mereka saling menatap lekat.


"I love you Ra... I really do... Tapi kita tidak mungkin bersama, kau tak mungkin kumiliki, jadi selama ini aku hanya bisa mencitaimu dalam diam." bisik Bayu.

__ADS_1


Wajah Diandra memerah, matanya sayu menahan sesuatu yang bergolak dalam dirinya.


"A-apakah karena peraturan perusahaan?" tanya Diandra lirih.


"Bukan, sayang... Kakak tak bisa memberitahumu sekarang!" jawab Bayu, matanya menatap sedih ke arah Diandra, ingin sekali dia menguasai Diandra, hanya untuknya, tapi tidak bisa.


"Rara akan mencari pekerjaan lain, keluar daru perusahaan ini, jadi kita...." ucap Diandra buru-buru, tapi Bayu memotong perkataannya.


"Saat inj, tempat paling aman untuk bekerja adalah di sini, alasan kenapa kakak tak boleh memiliki Rara, suatu saat Rara akan tahu." potong Bayu.


"Yang perlu Rara tau adalah bahwa aku, Bayu, sangat mencintaimu!" Bayu merengkuh kembali tengkuk Diandra dan memagut lembut bibirnya beberapa saat sebelum benar-benar melepasnya.


"Makanlah! Maaf, kakak tidak bisa temani kamu hari ini. Kakak janji, nanti sore kakak antar Rara pulang, OK?!" Bayu mengusap lembut pipi Diandra lalu mengecupnya.


"Baik-baik ya, makannya dihabiskan ya... Kakak pergi dulu ya sayang!" Bayu mengecup ringan bibir Diandra sekali lagi, dan dengan berat hati, Bayu meninggalkan Diandra seorang diri.


"Bye sayang!" pamit Bayu sebelum menutup pintu.


"Bye kak... Hati-hati!" jantung Diandra berdegup kencang mendengar kata 'sayang' keluar dari mulut Bayu.


Setelah Bayu menutup pintu pantry, Diandra termenung sendiri di sana. Diandra mengusap pelan bibirnya, masih dia rasakan lembutnya bibir Bayu saat menciumnya tadi, aroma mint segar masih samar tecium di hidung Diandra.


Wajahnya memerah mengingat ciuman Bayu padanya, tapi sesaat kemudian, mendung menggantung di matanya teringat perkataan Bayu.


"I love you Ra... I really do... Tapi kita tidak mungkin bersama, kau tak mungkin kumiliki, jadi selama ini aku hanya bisa mencitaimu dalam diam."


Kenapa? Apa alasannya?


Diandra menghela nafas panjang, perlahan dia membuka satu persatu box makanan yang dibawakan Bayu. Diandra berkaca-kaca melihat isi masing-masing kotak.


"Terima kasih kak Bayu." gumam Diandra, perlahan menyuapkan makanan ke mulutnya.


Diandra teringat sesuatu, dia meraih ponselnya di meja, lalu mengirim pesan pada Bayu.


"Terima kasih banyak Kak BayBay.... Rara suka makanannya!"


Bayu yang berada di dalam mobil, tengah melamun, mengingat kejadian di pantry tadi, ada rasa bahagia dan juga bersalah. Bahagia karena perasaannya bersambut dengan perasaan Diandra, bersalah karena Diandra sydah dijodohkan dengan Haryo, walau mereka belum bertunangan dengan resmi dan pihak keluarga Diandra belum mengetahui perihal itu.


Bayu menghembuskan nafas kasar, lalu perlahan dia meraba bibirnya, rasa manis dan lembutnya bibir Diandra masih terasa, aroma peach dan mint segar masih menari di dalam mulutnya. Bayu tersenyum pahit.... Setidaknya, sampai Diandra resmi bertunangan dengan Haryo, dia akan berusaha memperlakukan Diandra sebagai kekasihnya, walau hanya dalam diam.


TRING


Ponsel Bayu berbunyi, dilihatnya ada 3 pesan notifikasi di sana.


Dua di antaranya dari Haryo dan satu dari Diandra. Bayu tersenyum membaca pesan Diandra. Dengan cepat Bayu menulis balasan.


"Sama-sama, makan yang banyak ya sayang!" balas Bayu.


"Sayang kak?" Diandra mengirim perranyaan.


"Iya, sayang... Karena kakak sayang Rara." balas Bayu.

__ADS_1


Bayu menunggu balasan Diandra, tapi Diandra tidak kuncung mengetik balasan. Bayu memutuskan membaca pesan Haryo.


"Bay, buruan, sudah pada kumpul!"


"Mau makan apa, sekalian pesan?!" bunyi pesan Haryo.


"5 menit sampai, pesankan sama saja!" balas Bayu.


Lalu Bayu membuka kembali chatnya dengan Diandra, masih belum ada balasan. Dahinya mengernyit, lalu dia memutuskan menelepon Diandra.


"Halo, Rara... Kenapa nggak balas pesan kakak?" tanya Bayu.


"..." sunyi, Diandra terdiam gugup.


"Rara... ada apa?" tanya Bayu cemas.


"Ra-Rara malu kak... Deg-degan, kak Bay panggil sayang" gumam Diandra lirih.


"Ya ampun Raaa.... hahahaha... Kakak udah khawatir ternyata malu aja.... Kan kakak memang sayang Rara, cuma Raranya aja yang nggak pernah mandang aku, karena aku gendut, Rara lebih suka Haryo, kan?" goda Bayu.


"Enggak, Rara dulu sering sama kak Ahryo karrna dia mau main boneka dan masak-masak, kalau Kak Bay sama kak Danu kan nggak pernah mau!" jawab Diandra panik.


"Oh gitu ya? Bukan karena kakak gendut dan jelek?" goda Bayu lagi.


"Enggak, kakak manis kok, Demi Tuhan!" jawab Diandra hampir menangis.


"Hehehehe... iya, kakak percaya. Cepat dihabiskan makannya ya, kakak sudah sampai di tempat janjian, baik-baik kerja ya, sayang." ucap Bayu dengan suara lembut.


"Iya kak, salam buat Mas Dimas." balas Diandra.


"Dimas aja? Haryo?" tanya Bayu.


"Nggak, Mas Dim aja. Bye kak Bay."


"Bye sayang, love you!" bisik Bayu langsung menutup teleponnya.


Diandra merasa jantungnya melompat keluar, ah.... Kak Bayu bikin jantungnya olah raga terus...


Bayu turun dari mobilnya setelah menghapus sisa lipstick Diandra yang tadi sengaja tidak dihapusnya, karena masih ingin mengenang momen di pantry tadi.


Di dalam cafe, Haryo, Danu dan Dimas tengah mengobrol sambil menunggu kedatangan Bayu dan pesanan mereka.


"Dan, kamu nggak ada rencana buat ambil balik hak kamu dan Dira?" tanya Haryo.


"Belim kepikiran Yo, yang jadi prioritasku itu mengungkap kematian ayah dan ibu. Walau jelas itu perbuatan pakde, tapi kami sama sekali tak ada bukti. Karena dilihat dari olah TKP dan hasil forensik, semua terlihat tak wajar." jawab Danu, tampak kemarahan dan kesedihan di matanya.


"Juli 2008 ya?" tanya Dimas.


"Jumat, 4 Juli 2008, pukul 22:35." jawab Danu.


"Polres mana yang menangani?" Haryo melirik arlojinya.

__ADS_1


"Polres Klaten!" jawab Danu.


"Hey, sorry lama nunggu! Antar makanan buat Rara dulu tadi." Bayu datang dan langsung duduk di antara Danu dan Haryo.


__ADS_2