Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Perjodohan


__ADS_3

Diandra memasuki ruangan HSE yang masih sepi, hanya ada beberapa orang karyawan yang sudah datang.


"Selamat pagi!" sapa Diandra ramah.


"Selamat pagi Di!" sahut mereka hampir bersamaan.


"Mruput* Di? tanya seorang karyawan bernama Yoko.


"Iya mas Yo, nebeng kakak tadi jadinya ya awal gini." jawab Diandra sembari melangkahkan kakinya ke arah cubiclenya.


"Rumahmu mana to? Aku antar jemput aja mau?" seloroh karyawan berwajah oriental dan manis bernama Benny.


"Hahahahaha... jauh banget rumahku, di luar jangkauan Ko Benny lah." jawab Diandra sambil tergelak lalu meletakkan tasnya di bawah meja dan menyapa Rudi.


"Pagi Kak Rudi." sapa Diandra.


"Pa-pagi Diandra." balas Rudi yang berwajah manis khas Jawa sambil tesipu malu.


Diandra melangkah ke arah pantri dan membuat 14 cangkir kopi susu, lalu meletakkannya di masing-masing cubicle teman-teman sekantornya yang satu per satu mulai berdatangan.


"Waaaaah.... Bahagianya punya teman sekantor yang pengertian begini!" celetuk seorang bernama Wisnu.


"Iya, angin segar Departemen HSE, sudah cantik, sopan, pengertian lagi... Cucok banget deh piligan Pak Fahri!" Yoko menambahkan disambut acungan jempol rekan-rekannya yang membuat Diandra salah tingkah, menyesal sudah membuatkan kopi buat rekan kerjanya, maksud hati cuma sekedar membantu, tapi malah dipuji-puji.


"Sudah... Sudah... Jangan bikin Diandra canggung, bilang saja terima kasih!" potong Pak Fahri. "Tapi Diandra itu bukan pilihan saya lho, murni hasil seleksi" tambah Pak Fahri.


Diandra menunduk malu dan berjalan ke arah cubiclenya lalu dia meletakkan cangkir kopi di meja Rudi dan mejanya.


" Terima kasih Di..." ucap Rudi.


"Sama-sama Kak Rudi." Diandra duduk di kursinya dan mulai menyibukkam diri melanjutkan pekerjaannya yang kemarin.


TRING


Ponsel Diandra berbunyi, dilihatnya sekilas nampak ada pesan dari Bayu. Dibukanya pesan itu dan Diandra terkekeh dalam hati.


"Rara ku yang imut-imut, katanya mau kasih nomor Danu? Aku nungguin 40 hari 40 malam kok nggak dikasih-kasih?"


Lebay kan ya? Belum juga 30 menit.


"Dih kak, geli banget deh bahasanya bikin Rara merinding, nih nomor Kak Danu!"


Diandra lalu mengirimkan nomor ponsel Danu kepada Bayu.


"*Terima kasih Rara ku... Nanti istirahat siang aku jemput ya, kita makan siang sama-sama."


"Rara bawa bekal kak, di kantin makan bekal bawaan dari rumah boleh ga sih?"


"Boleeeeh... Apa aja boleh, apa sih yang ga boleh buat Rara?"

__ADS_1


"Hiiiiy.... Bahasamu lho kak... Udah ah, Rara kerja lagi, selamat bekerja Kak BayBay."


Diandra mengakhiri chatnya lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya.


Sementara itu di ruang Sekretaris Khusus, tampak Bayu yang senyum-senyum memandangi chatnya dengan Diandra. Panggilan Kak BayBay yang sudah hampir 10 tahun ini tidak dia dengar, akhirnya kembali didengarnya. Gadis kecil yang selalu berlarian mengikuti kemanapun dia, Danu dan Haryo melangkah. Dengan memakai celana overall dan rambut kuncir kudanya sambil membawa boneka kain buatan Tante Rianti. Sekarang sudah dewasa dan menjelma menjadi gadis yang cantik, sopan dan pintar.


Seandainya Haryo tahu kalau Diandra ini adalah Diandra yang kami cari selama sepuluh tahun ini, gimana reaksinya ya?


Hari ini Haryo akan datang setelah makan siang, karena harus menjemput kedua orang tuanya dari bandara, mereka baru pulang dari mengunjungi sang kakak yang berada di Jepang. Jadi Bayu memutuskan untuk memberi tahu Haryo nanti setelah dia datang.


Rencananya hari ini dia ingin mengajak Danu, Diandra dan Haryo untuk sekedar makan malam bersama sebagai pelepas rindu.


Pagi tanpa adanya Haryo adalah pagi yang harus dinikmati, karena Bayu bisa sedikit bersantai, maka diputuskannya untuk menghubungi Danu.


"Hey, Dan.... Malam ini kita makan malam bareng yuk, temu kangen, Haryo pasti senang banget ketemu kamu."


Bayu mengirimkan pesan WhatsApp kepada Danu.


"Boleh, di mana? Aku antar Rara balik dulu ya!"


"Jangan, ajak Rara sekalian, Haryo pasti senang tuh kalau tau Rara yang kerja di sini adalah Rara yang selama ini kita cari juga selain kamu."


"Tapi Rara bilang dia sekarang jadi Muka Batu. Apaan sih artinya?"


"Hahahahahaha.... Tanya Rara sendiri lah! Memang Haryo berubah sekarang Dan, nakutin, gampang emosi. Tapi Rara kelihatannya jengkel banget sama Haryo, kemarin aja adu mulut tapi Haryo kalah telak!"


"Ya udah, sambung nanti makan malam ya Dan, di tempat biasa kita sering kumpul dulu ya."


"Boleh, tapi jam kerjaku sampai jam 05:30."


"Ok lah, aku tunggu di sana ya? Biar Rara nanti bareng aku aja."


"Jangan aneh-aneh ke Rara ya! Awas aja kalau Rara sampai ilang 1 helai rambut aja!"


"Ya ampun, segitunya.... Iya iya... Adikmu ya adikku juga, kecuali kamu ikhlaskan dia buat kuperistri, hehehehe."


"MIMPI!!!"


"Hahahahahaha.... see you tonight bro!"


Bayu mengakhiri chatnya dengan Danu setelah mendapat balasan emoji thumb up dari Danu. Dan Bayu pun mulai menyibukkan dirinya dengan setumpuk pekerjaan di hadapannya.


Sementara itu di area penjemputan di dalam bandara YIA, Haryo tampak memandangi ponselnya. Di layar terlihat foto seorang pemuda berwajah tampan dengan garis rahang yang tegas dan seorang gadis kecil dengan rambut panjang yang dikuncir kuda tersenyum lebar.


"Kemana kalian pergi... Danu... Dira..." berkali-kali diusapnya foto itu. Lalu tampak sesuatu menggelitik pikirannya.


"Senyum Dira dan Diandra terlihat sama, garis bibir dan lesung pipitnya pun sama persis... Tidak hanya nama, bahkan senyumnyapun mirip... Apa kebetulan itu memang ada?" Haryo kembali termenung, sampai tiba-tiba dia dikejutkan oleh sentuhan dan suara seorang wanita yang paling dia benci di muka bumi ini.


"Hai, Mas Haryo.... Jemput om dan tante ya? Kebetulan banget ya, aku juga mau jemput papa mama. Aku kangen lho mas, beberapa kali aku ke rumah tapi nggak ketemu sama Mas Haryo." ucap manja Sinta Dewi Perwita, sambil bergelayut manja di lengan Haryo.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku, menjijikkan!" Haryo meraih tangan Sinta dan memelintirnya dengan kasar sampai Sinta menjerit kesakitan dan menjadi perhatian para pengunjung bandara.


"Auw mas, sakit.... Lepasin!" pekik Sinta hampir menangis.


Haryo membuang kasar tangan Sinta sampai Sinta terhuyun mundur beberapa langkah, lalu Haryo bergegas menuju toilet untuk mencuci tangannya. Sinta mengusap tangannya yang terasa sakit seperti terbakar, tampak bekas kelima jari Haryo melingkar di pergelangan tangannya, menandakan betapa kuatnya cengkeraman tangan Haryo.


"Awas saja kau mas, sebentar lagi kau akan jadi milikku dan tak akan ada lagi alasan kau menolakku!" desis Sinta menahan marah dan malu.


Di dalam toilet pria, Haryo mencuci tangannya menggunakan sabun beberapa kali dan melap bekas sentuhan Sinta dengan sapu tangannya, lalu dengan jengkel dia membuang sapu tangannya ke dalam tempat sampah di dalam toilet. Buru-buru dia melepas jasnya, dan jas malang itupun berakhir menyedihkan di dalam tempat sampah.


"Cih... menjijikkan!" serunya seraya melangkahkan kaki keluar dari toilet pria.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dan tampak di layar kalau ID pemanggil adalah mamanya.


"Ya Ma?" sapa Haryo setelah mengangkat teleponnya.


"Kamu di mana, nak? Mama sama papa sudah di luar ini, sama Om dan Tante Perwita, ada Sinta juga, tapi kamu kok nggak ada." suara sang mama yang emosi langsung menyerang telinga Haryo


"Toilet!" jawab Haryo singkat.


"Ya udah cepat ke sini, kita sekalian temu keluarga saja buat bahas pernikahanmu sama Sinta!" titah sang mama, Ratri Wicaksono.


"Mama pulang sama mereka saja, Haryo banyak kerjaan, harus meeting jam 10:00 ini, bye ma!" jawab Haryo yang langsung memutuskan panggilan telepon mamanya.


Haryo bergegas menuju mobilnya dan melajukannya dengan cepat kembali ke kantor, walau sebetulnya tak ada jadwal apapun hari ini, tapi lebih baik dia kembali ke kantor daripada harus berkumpul dengan keluarga Sinta dan membahas pernikahan mereka berdua.


Entah apa yang ada di pikiran mama dan papanya. Kakeknya, Raden Mas Cokro Wicaksono, dulu pernah membuat perjanjian dengan kakek Asdi Perwita, yang menjodohkan Haryo dengan cucu perempuan kesayangan Kakek Asdi, Diandra Ayu Perwita, tapi karena Diandra menghilang, untuk melaksanakan janji dari Kakek Cokro dan almarhum kakek Asdi, keluarga Perwita yang sekarang dikepalai oleh Suwito Perwita, mengajukan Sinta sebagai pengganti Diandra.


Haryo yang tidak menyukai keluarga Suwito dan juga anak-anaknya, menolak keras, dia hanya akan menikah dengan Diandra, dan karena itulah dia mati-matian mencari jejak Danu dan Diandra, selain karena jalinan persahabatan dengan Danu, Haryo juga menyayangi Diandra sejak dia masih kecil dulu. Anak manis yang sederhana dan tidak banyak tingkah. Sedangkan Sinta adalah gadis liar yang manja, suka bersolek, pesta dan menghamburkan uang. Memikirkan saja sudah membuat Haryo jijik. Beruntung sang kakek mendukung keputusan Haryo untuk mencari Diandra sampai ketemu, dan menikahinya kelak.


Namun entah mengapa, mama dan papanya, Ratri Wicaksono dan Dewo Wicaksono, menyetujui usul dari Suwito untuk mengganti Diandra dengan Santi.


Di area penjemputan penumpang, tampak Ratri uring-uringan karena anak semata wayangnya memutuskan sambungan telepon sepihak dan menolak perintahnya.


"Anak itu apa maunya sih? Sama mama ga ada sopan-sopannya, diajak bicara masalah pernikahan malah balik ke kantor!!!" Omel Ratri.


"Mas Haryo mungkin baru sibuk, Tante Ratri, lain kali saja kita bicaranya nggak apa-apa kok tante..." bujuk Sinta yang sejatinya menahan marah di dadanya.


"Maafin Haryo ya Sin, dia keras kepala banget, masih aja cari Diandra yang ga tau dimananya, padahal di sini ada wanita cantik dan baik yang rela jadi istrinya." hibur Ratri seraya mengelus punggung Sinta.


"Iya, Sinta nggak apa-apa kok tante..." Sinta memberikan senyum palsunya.


"Kalau gitu kita pulang sama-sama sekalian makan siang?" Suwito buka suara.


"Iya, mumpung ngumpul gini, kita sekalian makan siang saja!" sambung Mariana, istri Suwito.


"Boleh!" jawab Dewo.


Akhirnya dengan menggunakan mobil keluarga milik keluarga Perwita, mereka berlima meninggalkan bandara.

__ADS_1


__ADS_2