Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Flashback 03 ( Rencana Tora dan Sinta )


__ADS_3

Sementara itu di rumah keluarga Perwita, tampak Suwito tengah berada di ruang keluarga bersama istrinya, Linda, kedua orang anaknya, Tora ( 20tahun ) dan Sinta ( 16 tahun ), dan juga sang adik, Bagyo dan istrinya, Titik.


Wajah mereka tampak tegang, Suwito baru saja menerima telepon dari salah seorang bawahannya, yang memberikan informasi yang di dapat dari memata-matai pengacara kepercayaan ayahnya dan adiknya yang telah meninggal, Suryo.


"Apa-apaan ini, kenapa wasiat dari si tua itu bisa disimpan di tempat tersembunyi yang hanya diketahui Suryo? Dan bisa-bisanya si tua itu menjodohkan anak bungsu Suryo dengan cucu pertama keluarga Wicaksono?? Sudah jadi bangkai saja masih bikin repot!!!" ucap Suwito geram.


"Maksud papa, kakek menjodohkan Diandra dengan mas Haryo?" pekik Sinta kaget. Dia begitu tergila-gila pada Haryo, lelaki keturunan ningrat berwajah tampan, blasteran Jawa dan Jawa-Belanda.


"Kita harus bisa menemukan surat wasiat itu dan menggantinya!" gumam Suwito.


"Papa, jawab, Mas Haryo dijodohkan sama anak udik itu?" bentak Sinta emosi karena pertanyaannya diabaikan.


"Siapa kamu berani membentak papa? ??" hardik Suwito kepada putrinya.


"Haish, pa.... Sinta kan cuma tanya, dijawab aja kan gampang pa!" bela Tora sambil merangkul adiknya.


"Iya, dia dijodohkan sama sepupumu, mau apa kamu?" tanya Suwito geram.


"Nggak boleh, yang harus jadi istri mas Haryo itu aku, bikam anak udik itu!" pekik Sinta.


"Kamu bisa apa? Itu perjanjian antara kakekmu dengan Tuan Besar Wicaksono, nggak bisa dirubah, kecuali Diandra mati!" bentak Suwito.


Mata Sinta berbinar, dia menyikut kakaknya.


"Hah... aku tau, biar aku atur !" bisik Tora dengan seringai jahatnya.


Suwito menatap kedua orang anaknya.


"Lakukan dengan rapi, tanpa jejak, jangan membuat keluarga jatuh dalam masalah!" ancam Suwito pada kedua anaknya.


"Heh, beres pa...!" Tora mengacungkan jempolnya. Akhirnya, tiba saatnya aku bisa menjamah sepupu kecilku yang menggiurkan. Batin Tora.

__ADS_1


Kembali ke kediaman keluarga Sasmita, Wira masih berbincang dengan kakek Broto.


"Saya akan segera menyiapkan tempat yang aman untuk tuan sekeluarga, tapi mungkin tidak di dalam kota." Wira berkata dengan serius, tangannya sibuk mengetik pesan Blackberry Messenger dan segera mengirimnya ke anak buah kepercayaannya.


"Apapun yang terbaik untuk anak-anak. Tapi semalam, kata Rara, saat Prabu menelepon, suaranya seperti orang sehabis berlari dan terkesan terburu-buru." ungkap Kakek Broto.


"Gawat!" gumam Wira, dia langsung mencari kontak Prabu dan segera menghubunginya.


Tak menunggu lama, setelah tersambung, Prabu mengangkat teleponnya.


"Wira, cepat selamatkan Tuan dan Nona Muda, aku mungkin tak bisa bertahan terlalu lama, istriku sudah berada di tempat yang aman, sedangkan aku tak bisa meninggalkan kota ini karena amanah Tuan Suryo, jadi, seandainya terjadi sesuatu padaku, tolong jaga Tuan dan Nona Muda." pinta Prabu, tanpa memberi kesempatan Wira berbicara.


"Kau di mana? Akan ku kirim anak buahku kesana." tanya Wira cemas, satu tangannya mengetik pesan di ponsel yang lain.


"Ah, aku di desa P, seandainya anak buahmu datang mungkin sudah terlambat, aku sudah kirim koordinatnya melalui sms. Anak buah Suwito sudah memasuki desa ini, berhati-hatilah, Suwito dan Bagyo menyewa sekelompok orang untuk mencelakakan Tuan dan Nona Muda, karena ada wasiat dari almarhum Tuan Suryo dan juga almarhum Tuan Besar Asdi yang belum mereka temukan tentang ahli waris sah dari semua aset keluarga Perwita. Aku harus segera pergi, nomor ini kedepannya tidak akan bisa dihubungi lagi. Kalau aku selamat, suatu hari pasti aku akan menemuimu, tolong titip kau lindungi istriku dan keluargaku, brother!" Prabu memutus sambungan teleponnya.


"Prabu... brother!!!" panggil Wira cemas, buru-buru dia menelepon subordinatnya dan memberikan koordinat yang sempat Prabu kirimkan padanya, dalam hati dia berdoa agar Prabu bisa lolos dari kaki tangan Suwito dan Bagyo.


"Sekolah Tuan dan Nona Muda akan dimulai minggu depan, sementara jangan biarkan mereka berdua melangkahkan kaki ke luar rumah tanpa anda ataupun nyonya. Saya belum bisa memberikan pengawalan, karena kendali berada di tangan Suwito dan Bagyo. Saya pamit, tuan!" pesan Wira, setelah itu dengan cepat dia menghilang dengan mobilnya.


Kakek Broto termenung, Nenek Sundari yang menyadari gelagat aneh suaminya segera menghampiri.


"Pak, ada apa?" tanya Nenek Sundari.


"Kita segera pindah, hal buruk mungkin akan terjadi pada anak-anak, Wira akan mencarikan tempat yang aman untuk kita, berkemaslah, katakan pada anak-anak, kita pindah ke dekat sekolah mereka!" pinta Kakek Broto.


"Ada apa lagi ini, baru juga kemarin Suryo dan Rianti dimakamkan, anak-anak sydah diusir, dikeluarkan dari sekolah, dan sekarang kita pun harus pindah? Apa lagi yang Suwito dan Bagyo mau?" tanya Nenek Sundari, bibirnya bergetar menahan emosi.


"Sudahlah, nanti aku ceritakan padamu, mulailah berkemas, kita bawa barang penting saja, kita jual rumah ini beserta isinya." ucap Kakek Broto dengan berat hati.


"Tapi pak, di rumah ini kita membesarkan Rianti, banyak kenangan yang tertinggal di rumah ini!" isak Nenek Sundari.

__ADS_1


"Jika sudah aman, kita bisa membeli kembali rumah ini, sekarang keamanan dan keselamatan anak-anaklah yang lebih utama, kau tak ingin kan, kedua cucu kita tertimpa bahaya?" bujuk Kakek Broto, sebetulnya dia pun tak rela melepas rumah ini, rumah yang sudah lebih dari 40 tahun dia tinggali, rumah yang dulu hanya berupa rumah papan kecil, sekarang menjadi rumah permanen bernuansa oriental yang indah, penuh dengan kenangan suka duka mereka menjalani kehidupan berumah tangga.


"Baiklah, aku akan berkemas." sahut Nenek Sundari pasrah.


"Aku akan ke toko dulu, membereskan segala sesuatu, setidaknya stock toko harus habis sebelum kita menjual toko kita juga." ucap Kakek Broto. " Tetaplah di rumah bersama anak-anak, jangan biarkan mereka keluar rumah walau hanya di teras!" sambung Kakek Broto yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nenek Sundari.


Sementara itu di sebuah ruangan kecil di dalam rumah di sudut gang kumuh, tampak seorang pemuda berwajah lumayan tampan sedang berbincang dengan seorang pria tampan dengan luka di pelipis kanannya, sedangkan di sudut ruangan tampak seorang gadis sedang bercumbu mesra dengan seorang pria berperawakan kekar dan berambut gondrong, walau tampan, penampilan pria itu terlihat seperti gelandangan. Mereka saling memagut, meraba, menjilat dan mendesah. Sang pemuda merasa jengah.


"Sinta, jaga kelakuanmu!!! Masuklah kamar dan bersetubuhlah di sana, memuakkan!!" bentak sang pemuda yang tak lain adalah Tora, sedangkan sang gadis adalah Sinta, adiknya.


Sinta tak menjawab, dia masih asyik menggoyang pinggulnya seperti kesetanan, tak peduli kakaknya melihat kegilaannya. Erangan dan ******* mereka memenuhi seluruh penjuru rumah yang tak kedap suara.


"Pelankan suara kalian, Jack dan bawa Sinta ke kamar!" perintah lelaki dengan luka di pelipisnya.


"Ck... oke bos!" jawab lelaki gondrong bernama Jack sambil berdiri dan menggendong Sinta.


"Haish... akhirnya!" dengus Tora.


"Kamu ingin main juga? Aku bisa panggilkan beberapa gadis yang bisa menemanimu menghabiskan malam." pria yang Jack panggil sebagai Bos, menawarkan gadis pada Tora.


"Aku nggak sembarangan mainin ************, aku pilih-pilih. Aku lebih suka gadis perawan yang polos dan belum matang!" jawab Tora, matanya menerawang jauh membayangkan sepupu kecilnya yang manis dan imut.


"Hah, kau punya selera yang aneh!" gumam si Bos. "Ada keperluan apa kau kemari? Jangan bilang kau hanya mengantar adikmu untuk memberi makan selangkangannya!" tambahnya.


Belum lagi Tora menjawab, terdengar pekikan Sinta dari dalam kamar yang terletak di depan ruangan tempat mereka berbicara, tak lama setelahnya menyusul erangan Jack dengan kerasnya.


"THAT *****!!!" teriak Tora frustasi.


"Hehehehehe... katakan saja kalau libidomu naik, aku bisa panggilkan seseorang buat menemanimu!" kekeh pria berjulukan Bos.


"No, back to the business.... Aku minta bantuanmu menculik seorang anak!" ucap Tora, "Bayaran di muka 100 dan setelah beres 200, deal?" tambah Tora seraya menyodorkan selembar cek bertuliskan 100.000.000 rupiah.

__ADS_1


__ADS_2